I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 127



Di dalam Masjid, tampak semua orang menunggu kedatangan Zayn yang katanya sedang dalam perjalanan dan akan sampai sebentar lagi.


Beberapa waktu menunggu akhirnya rombongan mobil Zayn yang di dalamnya hanya ada Zayn, tuan Robert, asisten Rico dan juga supir. Sedangkan Nyonya Lenny berangkat bersama Abi dan juga Angel, mereka sudah sampai terlebih dahulu. Namun, Abi terpaksa harus kembali karena cincin pernikahan kakaknya tertinggal karena kecerobohannya sendiri.


“Pah, Atta gugup sekali,” lirih Zayn dan hal tersebut sangat di maklumi karena sebentar lagi ia akan mengucapkan janji pada Tuhan di hadapan banyak orang.


“Tak apa. Tenangkan dirimu dan hanya lihatlah calon istrimu seorang jangan pikirkan kami. Itu yang dulu papah lakukan saat menikahi ibumu, mungkin kau juga bisa menggunakan cara itu.” Ujar tuan Robert.


“Apa bisa begitu?”


“Mungkin saja,” jawaban singkat tuan Robert tersebut membuat Zayn menghela nafasnya pelan.


“Itu sama sekali tak membantu, Pah!” gerutu Zayn yang justru hal tersebut membuat tuan Robert tertawa.


“Jangan terlalu serius, nak. Kau akan sangat tegang jika terus-terusan larut dalam perasan mu. Maka bercandalah sedikit.” Tukas tuan Robert dan itu memang di benarkan oleh Zayn, karena ia merasa kini kegugupannya sedikit berkurang. Namun, entah kenapa ia merasakan perasaan yang aneh dan itu terjadi sejak dua hari yang lalu. Sudah Zayn pastikan itu bukanlah kecemasan karena akan melakukan ijab Kabul, namun ia merasa sesuatu yang besar akan terjadi hari ini.


“Hei, nak! Apa kau melamun?” Tuan Robert menyentuh pelan bahu Zayn hingga membuatnya tersentak dan kembali tersadar dari lamunan.


“Hmm.. ada sesuatu yang menganggu fikiran Atta, pah!” keluh Zayn membuat tuan Robert mengrenyitkan dahinya tak mengerti.


“Apa itu?”


“Atta tak tahu pasti itu apa, tapi… jika sesuatu yang buruk terjadi pada Atta nanti..”


“Kamu ini bicara apa? Tidak akan terjadi hal yang buruk. Kau akan menikah, itu adalah hal yang baik dan kau nanti-nantikan bukan? Lalu kenapa kau berbicara tak jelas seperti itu!” ujar Tuan Robert sedikit kesal karena ucapan Zayn yang seolah-olah akan membatalkan pernikahannya.


“Entahlah, tapi.. Ata merasa Tasya bukan lah jodoh Atta di sini, tapi Atta berharap di kehidupan selanjutnya Atta berjodoh dengannya.” Zayn menghela nafasnya dalam dan tertunduk dengan pundak yang sedikit turun, seolah ia tengah memikul beban yang berat.


“Jika memang apa yang Atta takutkan ini terjadi.. tolong bujuk Abi agar mau mengantikan Atta menjaga Tasya. Tasya adalah nafas Atta, jadi Atta mohon buat dia selalu bahagia dan katakan padanya jangan menangisi laki-laki seperti Atta.. nanti!”


“Kamu ngomong apa sih?”


“Sudah sampai, ayo kita turun Pah?” Ucap Zayn memotong percakapan membingungkan tersebut.


Zayn keluar dari dalam mobil meninggalkan Tuan Robert dan Rico yang masih tak mengerti apa yang baru saja Zayn ucapkan. Namun merekapun tak bisa berlama-lama larut dalam fikiran masing-masing karena banyak orang yang sedang menunggu.


Tuan Robert menyusul Zayn dan berdiri di sisi sebelah kanannya. Sedangkan Rico melakukan hal yang sama, ia berdiri di sisi kiri Zayn. Paman Zayn sudah berdiri di depan pintu Masjid menunggu kedatangan mereka bersama Ayah Tasya yang berdiri di sampingnya.


Ayah Tasya menatap Zayn dengan sorot mata yang sulit di artikan. Ada ketidak relaan putri satu-satunya harus bersanding dengan Zayn, namun ia tak bisa melawan karena janin yang ada di dalam rahim Tasya butuh kasih sayang orang tua yang lengkap.


Ketika Zayn hendak tiba di pintu masuk, tak ada yang menyadari jika ada sinar merah kecil yang berada tepat di punggung Zayn sebelah kiri. Orang-orang sibuk memperhatikan dan mengbadikan ekspresi Zayn. Hingga tiba-tiba sebuah suara membuat semua orang memekik takut sekaligus panik.


“Ada bom!”


“Ada bom!”


Teriakan serupa saling bersahut-sahutan membuat semua orang lari tunggang langgang mencari jalan keluar dan berlari sejauh mungkin dari lokasi tersebut. Kebingungan jelas terlihat di wajah keluarga inti kedua calon mempelai. Belum sempat mereka tersadar dari keterkejutan tersebut, tiba-tiba paman Zayn melihat keponakannya tersentak dan jatuh tersungkur dengan darah yang mengalir membasahi kemeja putihnya di bagian punggung. Sontak hal tersebut membuat semua orang bertambah histeris.


Akibat dorongan orang-orang,Tuan Robert terpisah dengan Zayn dan tak bisa menolong anak sambungnya tersebut. Sedangkan Rico degan sigap memeriksa keadaan dan mencari tahu apa yang terjadi sejak teriakan pertama, otomatis mereka terpisah dengan Zayn dan meninggalkannya sendirian. Beruntungnya paman Zayn sigap dan menghampiri keponakan kesayangannya.


Ketegangan orang-orang semakin nyata saat tanah yang mereka pijak bergetar dan di susul dengan ledakan yang begitu dahsyat hingga membuat bangunan tersebut hancur seketika.


Bbbuuummmmm…


Debu beterbangan meghalangi pengelihatan semua orang. Tak tahu apa yang terjadi pada orang-orang yang masih di dalam sana namun suasana kepanikan begitu terasa.


Suara sirine ambulance dan mobil polisi bersahut-sahutan dengan tangisan ketakutan dan jerit kesakitan orang-orang . Dan salah satu yang menjadi korban adalah…


Ia terkapar dengan darah yang mengenang dan beberapa tumpukan puing-puing bangunan di atas tubuhnya. Di sana juga ada Angel, Nyonya dan tuan Herold, paman Zayn dan Ayah Tasya yang tak sadarkan diri akibat ledakan dari bom tersebut.


Pernikahan yang di impikan Zayn ternyata berakhir dengan berantakan dan tak sesuai rencana, belum lagi dengan korban yang tak sedikit. Dan peristiwa tersebut tentu tak akan mudah terlupakan begitu saja untuk Zayn dan Tasya bahkan untuk orang-orang yag sudah menjadi korban.


Di tempat lain, tepatnya di tempat dua orang misterius berpakaian serba hitam, mereka sedang tertawa dan merayakan keberhasilan mereka dengan singkat. Karena perayaan yang sebenarnya ada di markas besar bersama bos mereka.


“Misi selesai!”


“Ayo kita kembali! Kita harus merayakannya bersama bos!”


Mereka segera beranjak dari tempat pengintaian yang berada di balkon bangunan tersebut dan hendak keluar. Namun saat melewati tangga, mereka terkejut karena seorang pria gagah dengan tatapan mata yang tajam sedang menatap mereka dengan dingin di ujung tangga. Di belakang pria tersebut ada beberapa anggota kepolisian yang sedang menodongkan senjata ke arah mereka.


“Berani kalian merusak hari bahagia kakakku!” geram pria tersebut yang tak lain adalah Abi.


“Berani mengusikku, artinya mati!” Tukas Abi dengan mata yang berkilat marah.


Dua orang misterius itu sedikit gentar, namun jarak antara mereka dan Abi cukup jauh hingga menguntungkan mereka untuk melarikan diri. Mereka sungguh tak menyangka jika ternyata pekerjaan mereka di ketahui secepat ini oleh orang lain dan parahnya orang itu adalah Abidzard.


“Hei! Jangan coba-coba kabur!” teriak Abi saat melihat orang tersebut lari. Tanpa pikir panjang, seorang polisi membidik kaki mereka dan…


Dor..


Tembakan pertama meleset, namun para polisi tak tinggal diam, mereka kembali menembaki dua orang tersebut hingga terjadi saling tembak antara kubu dua orang misterius dan para polisi. Sedangkan Abi sudah menyingkir karena ia tak ingin terjerat hukum di saat keluarganya membutuhkanAbi.


Dorr..


Tembakan kesekian kalinya akhirnya bisa bersarang tepat di kaki salah satu dari mereka hingga membuat orang tersebut tersungkur.


Dorr..


Di susul tembakan berikutnya yang juga tepat mengenai kaki penjahat satunya lagi. Mereka berdua pun akhirnya dapat di ringkus dan kasus tersebut langsung di tangani pihak berwajib.


Kini Abi sedang berada di rumah sakit dimana keluarganya sedang dirawat. Hati Abi seketika hancur untuk kesekian kalinya saat melihat pemandangan tragis yang menimpa keluarganya.


Seandainya ia sadar lebih awal mungkin hal seperti ini tak akan terjadi.


Sejak melihat juntaian seperti kabel disalah satu tamu yang menabrak bahunya membuat Abi curiga. Ia meminta bantuan Rayyan untuk meretas semua CCTV yang ada di lokasi pernikahan kakaknya dan ia menemukan kejanggalan tersebut. Oleh sebab itu, Abi bisa berada di tempat pengintaian para penjahat.


“Alhamdulilah, tuan dan nyonya Herold tak mengalami luka serius, begitu juga dengan yang lainnya. Hanya saja tuan Zayn..” jelas salah satu dokter yang menangani keluarga Abi dan Tasya ketika baru saja selesai melakukan pertolongan pertama. Penjelasannya masih mengantung hingga membuat Tasya, Abi, bibi Zayn, ibu Tasya serta Rizky dan orang tua Rizky merasa sangat cemas


“Kenapa dengan Atta, dok?” tanya Tasya dengan suara yang bergetar. Kesedihan jelas terlihat dari wajah cantiknya. Ia sangat menghawatrkan Zayn, hingga tak memikirkan keadannya. Tasya masih mengenakan gaun pengantin karena begitu mendengar ledakan dan mendengar keadaan keluarganya terutama calon suaminya ia langsung berangkat ke rumah sakit.


“Mohon maaf, tuan Zayn sekarang sedang kritis karena sebuah peluru hampir mengenai jantungnya!”


.


.


.


.


Bersambung….