I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 47



Cinta itu ibarat jalan tol... Mulus, tapi adakalanya berlubang dan menikung. Mungkin seperti itulah yang terjadi pada kisah cinta Zayn dan Tasya. Entah kenapa gelombang seperti selalu menerjang keduanya. Sama seperti ombak di pantai yang sedang Zayn tatap.


Satu jam sudah Tasya pergi bersama sepupunya, ia tidak bisa ikut walau ingin. Karena kepulangan Tasya kali ini bukan untuk liburan atau sekedar melepas penat, seperti biasanya. Kali ini Tasya ingin menyelesaikan masalahnya dengan Daniel, dan Zayn sama sekali tidak berhak ikut campur.


Jadi, ia masih di sini hingga sebuah pesan menyadarkannya dari lamunan.


Ting ..


"Apa semuanya baik-baik saja? Zayn.. Ibu bilang Lo jangan lupa nengokin Budhe. Jangan lupa juga mampir ke rumahnya!" Itu adalah pesan dari sepupunya.


Hampir saja Zayn melupakan tujuan lainnya ia pergi ke tempat itu. Zayn adalah pemuda yang besar di sebuah desa yang sama dengan Tasya, bersama dengan bibinya yang di panggil Ibu. Sayangnya, ibu Zayn sudah menyusul sang paman. Pergi untuk selama-lamanya meninggalkan nya sendiri.


Hari ini, ia berjanji ingin menyinggahi mahkam tantenya itu, tapi karena banyaknya masalah dengan cintanya ia malah melupakan hal tersebut. Zayn akhirnya meminta izin pada Abi untuk memisahkan dirinya dengan rombongan saat pulang nanti.


Siang nanti, rombongan Herold Grup itu akan kembali ke Jakarta.


"Kau berasal dari sini, Zayn?" Ujar Abi, saat Zayn meminta izin padanya.


"Iya tuan"


"Baiklah, yang penting besok kamu tak boleh terlambat apa lagi izin tidak masuk kerja" Tukas Abi dan di balas anggukan kepala oleh nya. Setelah itu Zayn pamit dan mengemasi barang-barangnya yang tidak banyak.


Semalam, saat Zayn keluar dari kamar Tasya ia langsung meminta maaf pada rekan-rekan nya begitu juga Daniel yang sudah meminta maaf karena sudah menganggu ketenangan pengunjungnya. Masalah clear dengan mudah, karena memang tidak ada yang di rugikan.


Zayn pulang mengunakan Bus, dan di lanjutkan dengan ojek hingga di sinilah ia berada. Sebuah bangunan yang nampak usang, bahkan hampir roboh karena lama di tinggalkan dan tidak di rawat.


Bangunan yang hanya terbuat dari anyaman bambu dan beratapkan genteng dengan banyak lubang itu, tampak sangat kotor. Rumput-rumput liar tumbuh dengan subur di luar dan dalam rumahnya. Zayn menatap setiap sudut rumah tersebut dengan hati yang pilu. Teringat betapa dulu ia sangat bahagia di hujani kasih sayang oleh almarhumah ibunya, tapi sekarang semua hanya tinggal kenangan.


Zayn masuk ke sebuah kamar, di mana dulu ia suka sekali merebahkan kepalanya di paha sang ibu kemudian ia akan terlelap di pangkuan wanita hebatnya. Setetes cairan bening lolos dari pelupuk matanya, kala mengingat hal itu.


Zayn berjalan ke arah jendela di dalam kamar itu, jendela yang juga terbuat dari bambu yang hanya di tutupi tirai usang. Matahari yang masih bertengger dengan nyaman di tengah langit itu, membuat cahaya nya masuk ke dalam kamar yang sudah sangat kotor, lembab dan juga... Menyeramkan.


Zayn kemudian meletakkan tasnya di ranjang yang biasa di gunakan wanita hebatnya. Inginnya sih ikut duduk tapi ia takut ranjang itu akan ambruk nantinya kalau ia duduki. Jadi, hanya barang bawaannya saja yang ia letakkan di sana. Karena, tidak mungkin ia letakan di lantai beralaskan semen karena sudah kotor.


Karena hari semakin siang, ia kemudian pergi ke tempat pemakaman umum dengan berjalan kaki. Jarak yang tidak terlalu jauh hingga ia memutuskan untuk berjalan, sekalian melihat-lihat desanya yang sudah banyak perubahan itu.


Di sepanjang perjalanannya, ia bertemu dengan beberapa orang yang baru saja pulang dari sawah. Mayoritas utama warga desanya adalah petani, maka tak heran jika saat pagi hari, tengah hari, dan juga sore banyak orang berlalu lalang dengan pakaian yang terlihat kotor, baju dinas saat menggarap sawah. Apalagi jika musim panen dan musim tanam.


"Siang, pak! Baru pulang"


"Siang, Bu!"


Dan berapa kali kalimat sapaan nya saat bertemu dengan warga terlontar. Sebagian ada yang mengenalinya tapi tak sedikit pula yang tak mengenalnya. Wajar saja ia sudah bertahun-tahun lamanya tidak pulang kampung.


Tiba di mahkam ibunya, ia sedikit mengernyitkan dahi nya heran saat melihat pusara ibunya di penuhi dengan taburan bunga. Seperti ada yang baru saja datang. Tapi, Zayn tak ambil pusing. Ia berjongkok di samping batu nisan ibunya, dan mulai menghantarkan doa untuk sang ibu.


"Bu, Atta.. Datang... Maafkan Atta yang tidak pernah datang merawat rumah terakhir ibu. Tapi, Atta tidak pernah lupa untuk mengirimkan ibu doa. Semoga ibu di sana bahagia dan bisa berkumpul dengan paman"


"Bu, Atta.. Sudah menemukannya... Cinta Atta ia sudah kembali.. tapi, kenapa semesta tidak pernah berpihak pada kisah kami? Lagi-lagi cinta kami di uji. Apa rasa Atta selama ini tak cukup kah untuk bisa menuai bahagia bersamanya? Bu, Atta percaya ibu orang baik... Orang bilang doa orang baik itu akan di ijabah.. Jika iya, Atta mohon doa kan Atta di sini untuk bisa bersama dengan Tasya. Atta sangat mencintainya".


Setelah mencurahkan perasaannya, Zayn pun memutar langkahnya untuk kembali ke rumah yang hendak roboh itu. Mungkin jika terjadi hujan badai rumah itu benar-benar akan roboh, untungnya saat ini cuaca sedang terik.


Krieeettt...


"Gue ngerasa lagi masuk rumah hantu" Gumamnya.


"Ini juga kenapa pintunya kaya mau lepas?"


"Apa gue perlu merenov nih rumah? Kayaknya gue harus rundingan dulu sama bibi" Gumamnya lagi dan melangkah menuju kamar di mana tas nya berada. Ia melihat-lihat isi kamar tersebut. Perabotan di rumah itu masih lengkap, karena barang mereka tidak ada yang bagus. Atta kecil bahkan tak punya televisi atau kompor gas jadi tak ada maling yang berminat untuk membobol ruang kosong itu.


"Dari dulu, gue selalu penasaran dengan isi lemari ini" gumamnya menatap sebuah lemari dari kayu yang semakin habis di makan rayap.


Karena penasaran Zayn pun memegang handel pintu lemari usang tersebut. Dulu ibunya tak pernah mau Zayn membuka lemari ini, bahkan saat ibunya sakit pun ia akan memaksakan bangun hanya sekedar mengambil sesuatu seperti baju atau koin. Hidup bertahun-tahun bersama ibunya belum pernah sekalipun Zayn membuka isi lemari ini, dan ibunya akan selalu marah walau Zayn hanya meminta izin untuk meletakan baju yang sudah mereka lipat barsama.


Zayn menelan Saliva dengan susah payah, nafas nya terasa sesak, keringat membasahi dahi, leher, dan punggungnya. Zayn sangat gugup sekarang, ia takut.. Takut jika ada sesuatu yang mengejutkan nya. Bukan hantu yang ia takutkan tapi lebih ke pada hewan. Ia takut saat membuka lemari tersebut hewan berbisa semacam ular muncul dan mematuknya, mengingat keadaan rumah yang sangat cocok untuk hewan melata sejenis ular ini untuk berkembangbiak.


Dengan perlahan ia membukanya. Pelan tapi pasti..


Krieeettt...


Ia menahan nafasnya, kala pintu sedikit terbuka. Hanya sedikit. Entah kenapa Zayn merasa sangat gugup. Jujur ini lebih tegang dari pada saat menghadapi guru BK saat kenakalan yang dulu dia lakukan saat SMA.


"Bismillahirrahmanirrahim... semoga ngga ada ular atau apapun di dalam sini" Gumanya dan dengan cepat ia tarik pintu tersebut hingga terbuka sepenuhnya, dan...


"Apa ini?" Gumamnya saat lemari sudah terbuka sepenuhnya. Ia hanya melihat sebuah kotak dari kayu terdapat sebuah ukiran dengan namanya di permukaan kotak tersebut. Tidak ada ular atau semacamnya.


"Ini buat gue?"Tanyanya entah pada siapa.


Masih dalam posisi berdiri, Zayn yang sudah di landa penasaran pun dengan tak sabar membuka kotak tersebut. Ia mengernyitkan dahi saat kotak itu sudah terbuka dan terlihatlah isi di dalamnya.


"Ini kan?"...


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


...----------------...


Holla hello Readers tercintah❤️❤️❤️ Jangan lupa tinggalkan jejak cinta kalian ya.. Masih sepi nih.. Di lempar jempol boleh banget apalagi kalau di lempar kopi sama bunga biar berhamburan juga Ranucha seneng pake banget.. beneran deh .. 😁😁


Bantu dukung karya receh Ranucha ini yan man teman.. 👍👍


Happy reading ❤️❤️❤️