
Masih di rumah sakit HR hospital, Rizky meregangkan otot-otot tangan dan lehernya yang terasa kaku. Setelah lebih dari enam jam ia berkutat dengan beberapa pasien. Sebagai dokter umum, macam-macam keluhan pasien yang ia tangani. Karena itu antrian pasiennya tak pernah sepi, bahkan saat di klinik pun hal yang sama setiap harinya terjadi.
"Dokter sudah mau pulang?" Tanya seorang suster yang menjadi asisten nya hari ini.
"Iya, sus. Sudah tak ada pasien lagi kan?" Ujar Rizky tersenyum lembut ke arah suster itu hingga membuatnya salah tingkah. Ah! ini lah yang membuat beberapa perawat wanita yang menjadi asisten Rizky betah berlama-lama dekat dengan dokter muda itu. Selain Rizky memang pemuda yang tampan dan menarik ia juga bersahaja. Maka tak heran jika banyak wanita tertarik padanya.
"Ti..Tidak ada, dok" Sahut suster itu gugup. Rizky mengangguk dan berpamitan padanya untuk pulang terlebih dahulu. Jangan lupakan senyuman yang menawan selalu ia tebarkan.
Rizky berjalan menuju kantin. Sebelum pulang ia ingin mengisi kembali energinya. Tiba-tiba ponselnya berdering tanda ada panggilan masuk. Ia pun merogoh saku celana panjangnya dan menjangkau ponsel yang sedari tadi berdering itu.
"Hmm" gumamnya saat ponsel itu ia tempelkan di daun telinganya.
(...)
"Sore"
(...)
"Iya, bawel!!"
(...) Tut..
panggilan pun berakhir, Rizky menatap ponselnya dan menggeleng kan kepalanya.
"Ngga sopan banget emang, makasih kek. Kalau bukan kakak gue, udah dari lama gue lempar Lo dari ujung Monas" Gerutunya sambil berjalan.
Yang menelfon Rizky tak lain adalah Tasya. Ia hanya menanyakan keadaan Zayn setelah mendapatkan apa yang ia ingin dengar, Tasya menutup panggilan begitu saja hingga membuat Rizky gemas.
Rizky tiba di kantin, suasana di sana sepi hanya ada beberapa perawat dan beberapa keluarga pasien. Ia memilih duduk di pojok kantin setelah sebelumnya memesan menu makan siang nya yang terlambat.
Sambil menunggu pesanannya, Rizky mencari kesibukan dengan bermain game online di ponselnya. Tak lama kemudian pesanannya pun tiba, ia menyimpan kembali ponselnya di saku celana panjangnya dan mulai menyantap makanan yang harumnya sudah membuat perutnya semakin berteriak meminta di isi.
Beberapa saat kemudian makanan yang ada di piringnya sudah berpindah tempat ke dalam perutnya. Ia segera beranjak untuk menuju kasir sebelum pulang. Namun baru saja ia berbalik badan, sebuah insiden tak terduga terjadi.
Seseorang menabraknya dan menumpahkan segelas jus jeruk ke bajunya. Tentu saja Rizky terkejut dengan hal tersebut, begitu juga dengan seorang wanita yang menumpahkan minumannya ke baju Rizky.
"Akhh!!! Minuman gue!!" Pekik wanita itu. Sedangkan Rizky sudah menetap wanita di depannya ini dengan nyalang. Bukannya meminta maaf wanita ini justru menghawatirkan minumannya.
"Hei!! Lo emang ngga punya mata ya? Dimana-mana selalu nabrak gue!" Keluh Rizky menahan geram. Sang wanita langsung menatap Rizky dengan tajam, sama sekali tak merasa bersalah.
"Seandainya gue ngga punya mata, gue lebih suka mengguyur kepala Lo itu dari pada cuma sekedar mengotori baju Lo!" Ujar wanita yang tak lain adalah Angel itu garang.
Kesal sekali rasanya, padahal ia sudah beberapa hari ini tak melihat laki-laki di depannya tapi justru kali ini di pertemukan kembali. Rasanya ia ingin sekali menendang laki-laki di depannya.
"Apa Lo bilang? Begini cara Lo berbicara dengan PACAR Lo sendiri?" Ujar Rizky kembali menekan kan kata "Pacar" Supaya wanita di depannya ini ingat status mereka, walupun Rizky tak serius.
"Ngarep banget yah Lo jadi pacar gue?" Ujar Angel remeh. Rizky hanya tersenyum menanggapi cibiran Angel, ia membungkuk kan badannya hingga wajah mereka sejajar. Postur tubuh Angel yang imut membuat Rizky harus melakukan hal tersebut.
"Yang berharap di sini itu kan elo, dan Lo masih punya hutang ke gue..." bisik Rizky menyeringai sambil memandang Angel dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan perlahan. Angel yang di pandangi seperti itu pun merasa risih dan juga kesal.
Bughhh
"Akhhhhhh!!!" Pekik Rizky sambil memegang kakinya yang baru saja di tendang oleh Angel. Karena kesal Angel tanpa segan menendang tulang kering Rizky hingga membuat pria itu menatapnya dengan sengit.
"Mata Lo itu tolong di kondisikan kalau ngga mau gue congkel" Ujarnya garang kemudian berlalu pergi meninggalkan Rizky yang tengah geram.
"Dasar gadis bar-bar!!!" Pekik Rizky hingga mengundang perhatian orang-orang yang ada di sana. Ia pun meninggalkan kantin dengan perasaan yang dongkol. Untuk kesekian kalinya ia di kerjai oleh gadis itu.
"Awas saja kalau ketemu lagi, ngga akan gue lepasin!!" Geramnya sambil meninju angin untuk melampiaskan rasa kesalnya.
.
.
.
Seorang pemuda yang di panggil tuan itu tersenyum menatap sang dokter. Rencananya tak lama lagi akan ia realisasikan. Ia pun sudah tak sabar untuk mengembalikan posisi yang seharusnya pada orang yang berhak dan itu adalah Kakak angkat nya.
Ya, pemuda itu adalah Abidzar Akhriz Herold. Ia sengaja datang kali ini ke rumah sakit milik keluarganya untuk melihat sendiri keadaan Zayn, walau ia hanya bisa memantau kondisi Zayn dari layar monitor yang menampilkan keseluruhan ruangan dimana Zayn di rawat. Karena, itu pula Abi bisa mendengar dengan jelas percakapan antara Zayn dan bibi Lisa, yang juga adalah bibinya.
"Sebentar lagi, kak" Gumamnya. Abi memberi isyarat untuk dokter itu keluar dari ruangannya setelah sebelumnya mengucapkan terimakasih. Abi kemudian meraih ponselnya dan menekan sebuah nomor.
"Persiapkan segalanya, aku ingin Minggu depan menjadi hari yang bersejarah dan mengesankan" Ujarnya setelah sambungan telpon tersambung.
.
.
Di kantor.. Tasya, Nakula, dan Disty sedang menikmati makan siang mereka. Kali ini hanya mereka bertiga karena Zayn masih terbaring lemah di rumah sakit.
Setelah Tasya menanyakan keadaan Zayn pada sepupunya ia baru bisa bernafas lega dan menikmati makan siangnya dengan tenang. Apalagi Rizky memberi tahunya jika Zayn sore ini bisa pulang. Tasya sedari tadi tak bisa konsentrasi dalam bekerja, untunglah tak ada pekerjaan yang terlalu terburu-buru.
"Nakul, makasih ya untung Lo tepat waktu bawa Zayn ke rumah sakit, kalau ngga gue ngga bisa bayangin apa yang bakal terjadi" Ucap Tasya tulus.
"Hm.. kebetulan dia ada di dekat tempat tinggal gue" Ujar Nakula santai. Disty mengangkat kepalanya menatap tasya dan Nakula bergantian.
"Jadi, gimana keadaan pak Zayn, Sya? Apa dia baik-baik saja? Bagaimana ceritanya dia bisa terjebak di mobil sendiri?" Tanya Disty beruntun. Sebenarnya ia pun sangat khawatir namun lagi-lagi ia harus menekan perasaan nya supaya Tasya tak curiga dan nantinya malah merusak persahabatan mereka.
"Ngga apa-apa, dia udah boleh pulang nanti sore. Kalau kenapa nya gue juga kurang tahu"
"Ya, gue juga ngga sempet nanya kenapa Pak Zayn bisa ada di parkiran gedung apartemen itu" Ujar Nakula di sela-sela kunyahan nya.
"Telen dulu makanan Lo itu, Nakul" Ucap Tasya dan hanya di balas cengiran oleh Nakula.
"Setahu gue semalam dia nganter temen perempuan nya yang habis kena begal. Kalo ngga salah namanya... Cellin" Ucapan Tasya seketika membuat Disty tersedak.
Uhuk..Uhuk...
Tentu saja hal itu membuat Nakula dan Tasya menatap aneh ke arah Disty. Karena tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba Disty tersedak padahal ia tak sedang makan atau minum karena makan siangnya sudah habis.
"Lo kenapa?" Tanya Nakula dan di angguki kepala oleh Tasya karena ia pun punya pertanyaan yang sama.
"Ngga apa-apa, gue cuma tersedak emang kenapa? Ada yang aneh?" Ujar Disty tenang.
"Engga sih, kita juga cuma nanya ajah" Ucap Tasya acuh. Waktu istirahat pun habis dan waktu mereka kembali ke ruangan masing-masing untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda.
.
.
.
.
.
Bersambung....
...----------------...
Holla hello Readers tercintah ❤️❤️❤️ jangan lupa kasih tanda cinta kalian ya dengan cara like, komen, dan gifnya jangan ketinggalan...
Ayo bantu dukung karya Ranucha ini...
Terimakasih yang sudah berkenan mampir ❤️❤️
Happy reading all ❤️❤️❤️
☕☕🌹💐👍