
Author pov
"Aku mencintaimu, Tasya. Tolong aku!" Pinta Zayn sendu. Ia merasakan nafasnya begitu sesak. Seluruh tubuhnya terasa begitu panas dan ia merasa jantungnya berdebar tak karuan. Perasaan yang begitu menyiksa bahkan otaknya tak bisa mengendalikan gerak tubuhnya. Yang lebih membuatnya tersiksa adalah gairahya yang tiba-tiba muncul dan sulit di redam.
"A.. Apa sih, Ta? Tolo.. Emphh," Ucapan Tasya terhenti karena tiba-tiba Zayn menyerang bibir tipis milik Tasya dengan begitu brutal. Ini tidak seperti Zayn, ia tak akan pernah melakukan hal seperti itu. Apalagi pada orang yang benar-benar dia cinta, Zayn akan menjaga dengan sepenuh hati cintanya agar tak terluka. Tapi, malam ini Zayn merasa ada yang tak beres dengan tubuhnya, namun ia sama sekali tak bisa membendungnya. Ia butuh penuntasan dan hanya Tasya yang ingin ia mintai bantuan tersebut.
Karena saking terkejutnya dengan perlakuan Zayn, Tasya memukul-mukul dada Zayn berharap laki-laki itu tersadar dari apa yang di sedang di lakukannya. Radar kepolosannya mengatakan akan terjadi hal yang buruk membuat tubuh Tasya yang tadinya mematung kini bereaksi untuk melawan Zayn.
Namun, apalah daya tenaga seorang wanita di hadapan laki-laki yang sedang di kuasai hawa naf*u belum lagi dengan kaki yang cidera, perlawanannya tak berarti apa-apa. Usaha Tasya gagal dan malah membuat Zayn semakin bringas, ia mengapai dua aset yang tersembunyi dan mempermainkannya dengan brutal pula. Tak menyerah, Tasya pun mengigit bibir Zayn hingga membuat benda itu seketika mengeluarkan darah.
Zayn meringis merasakan nyeri, tapi itu tak berarti apa-apa justru penolakan Tasya ini yang membuat Zayn semakin menggila. Zayn tak menghiraukan rintihan kesakitan dan air mata Tasya. Hingga malam itu Zayn melakukan pagelaran wayang dengan Tasya yang bertema 'Menembus Puncak Nirwana' dan ini adalah pagelaran pertama mereka. Untuk sampai ke sana, Zayn harus menyusuri bukit kembar dan meneguk sumber kehidupan yang terpampang indah di depan matanya. Namun ternyata sumbernya mengering. Tak hanya itu, Zayn pun harus menyusuri hutan untuk mencari biji kacang yang tersimpan di ujung goa. Entah biji kacang hijau, kacang tanah, atau justru kacang mede hanya Zayn lah yang tahu.
Dalam pendakiannya itu, Zayn mendengar suara-suara indah yang keluar dari bibir Tasya, hal itu membuat Zayn semakin semangat mengobrak abrik goa dan mendekati Puncak Nirwananya. Kerja keras Zayn pun membuahkan hasil, meski bermandikan keringat tapi pagelarannya berjalan dengan sukses.
Zayn merebahkan dirinya di samping Tasya dan memeluk kekasihnya itu dari belakang. "Maafkan aku, sayang. Aku berjanji akan menikahimu. Pasti, kau bisa membunuhku jika aku mengingkarinya.
Cup..
Selamat malam, sayang," Zayn berbisik di telinga Tasya dan meninggalkan kecupan di pelipis Tasya. Setelah itu perlahan nafas Zayn mulai teratur dan dengkuran halus terdengar menandakan ia sudah terlelap sambil memeluk tubuh polos Tasya dari belakang.
Tanpa Zayn sadari air mata Tasya menetes begitu deras. Ia merasakan sakit yang begitu dalam. Menyesal karena mengiyakan ajakan Zayn untuk tinggal di sana, menyesal karena begitu percaya pada sosok laki-laki yang katanya akan membahagiakannya tapi nyatanya dia lah yang paling dalam menorehkan luka. Bukan hanya seluruh tubuhnya yang terasa sakit tapi hatinya pun tak kalah remuknya.
Jika Zayn berhasil terbang ke Nirwana, Tasya justru seperti terhempas ke lembah paling dalam dan kelam. Dunianya hancur karena apa yang selama ini ia jaga malah di renggut begitu saja oleh sosok pemuda yang Tasya fikir akan melindunginya.
"Kenapa kamu begitu tega, Atta? Aku sangat mempercayaimu, tapi kenapa selalu kau kecewakan aku. Selama ini aku masih cukup sabar, tapi kali ini kamu sudah sangat keterlaluan." Tasya menahan isak tangisnya. Perlahan ia menyingkirkan tangan Zayn yang melingkar di perutnya.
Tasya ingin merendam dirinya di bathtub dan menguyur seluruh tubuhnya, berharap kesedihan dan kesakitannya hilang bersama guyuran air shower yang menghujani tubuhnya. Dengan menahan sakit pada seluruh tubuhnya itu, terutama kaki dan di antara pangkal pahanya, Tasya berjalan dengan tertatih-tatih. Ia merasa sakit, tapi rasa sakit di hatinya lebih dalam dari pada hanya sekedar luka fisik.
Tasya tiba di kamar mandi dan menangis sekencang-kencangnya di sana. Harapan yang begitu tinggi, impian yang begitu indah kini hancur dan terhempas begitu saja. Ia terduduk di lantai kamar mandi menangis, dan hanya menangis yang bisa ia lakukan.
"Ya Allah, ampuni perbuatan hamba. Ampuni dosa hamba. Sungguh hamba menyesal, hamba merasa kotor dan hina.
Ya Allah, ini rasanya sakit sekali. Berilah hamba-Mu ini ampunan Ya Allah. Sungguh hamba tak ingin ini semua terjadi, ampuni hamba Ya Allah...." Tasya terisak dan hanya bisa memohon ampunan pada Sang Pencipta. Ia tak tahu apa yang akan ia lalukan kedepannya. Ia takut mendapatkan kemurkaan orang tuanya jika tahu anak gadisnya telah ternoda tapi ia lebih takut lagi jika Tuhan nya tak mau menerima sujudnya.
Tasya menyabuni seluruh tubuhnya dengan sabun berkali-kali, menggosok tanda yang Zayn berikan, berharap itu akan membuat dosanya berkurang. Tapi, sekeras apapun usaha Tasya, tanda itu tak hilang justru kulitnya mulai terluka akibat gosokan yang begitu kuat.
"Arrrggggg!!" Teriak Tasya frustasi. Tapi, sekencang apa pun teriakan itu, Zayn tak terusik dalam tidurnya.
Hampir 4 jam Tasya membersihkan tubuhnya tapi ia tak kunjung merasa bersih, akhirnya Tasya memutuskan untuk keluar kamar mandi. Wajah Tasya sudah memucat dan bibirnya pun membiru karena begitu lama berendam di air dingin.
Air matanya kembali berjatuhan namun buru-buru ia pergi dari sana meninggalkan kursi rodanya dan malah bejalan dengan berpegangan pada dinding...
Keesokan harinya Zayn terbangun karena ponselnya yang terus berbunyi. Dengan mata masih terpejam ia mengapai-gapai nakas tapi benda yang di carinya tak kunjung di jangkaunya, akhirnya dengan malas ia membuka sedikit matanya dan melihat ponselnya ada di lantai.
Zayn ingin mengangkat panggilan itu, tapi panggilan yang entah dari siapa itu sudah lebih dulu berakhir.
"Ahh Shhh, kepala gue pusing banget," keluhnya sambil mencoba untuk duduk perlahan sambil memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Selimut yang tadinya menutupi tubuhnya sampai leher pun merosot dan terlihat lah dada bidang dan perut kotak-kotaknya yang banyak sekali bekas cakaran dan gigitan hingga terlihat membiru.
"Loh, ini bukan kamar gue," ujarnya lagi sambil mengedarkan pandangan menyapu sekeliling kamar tersebut dan pandangannya terhenti pada kursi roda yang ada di samping nakas, lebih tepatnya di depan lemari. Seketika itu juga matanya membola ketika potongan-potongan kejadian tadi malam mulai bermunculan di dalam kepalanya.
"Astaga! Tasya!" Zayn tersentak dan buru-buru menyibakan selimut, saat itu ia menyadari jika dirinya masih telanjang bulat. Zayn semakin tersentak saat melihat bercak darah di atas sparainya.
Melihat hal itu nafas Zayn tiba-tiba terasa tercekat. Dia telah melakukan kesalahan fatal dan lagi-lagi mengingkari janjinya bahkan kali ini lebih parah.
"Tasya, maafkan aku!" pekik Zayn saat membuka pintu kamar mandi. Ia masih berfikir Tasya ada di sana, namun kenyataan yang di lihatnya membuat Zayn lemas seketika. Kosong, kamar mandi itu kosong. Pandangan Zayn mulai menggabur karena air mata yang mengenang. Sungguh Zayn sangat menyesal. Jika tahu akhirnya akan seperti ini Zayn tak akan mau untuk menemui Celin malam tadi.
Zayn kemudian segera beranjak untuk meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Tasya, tapi sayang nomornya tak lagi aktif. Ia semakin merasa frustasi bahkan ia sama sekali tak mempedulikan penampilannya yang masih telanjang bulat.
"Kamu dimana, sayang? Kenapa nomor mu tak aktif? Arrggg!! Celin sialan!" Maki Zayn benar-benar frustasi. Ia kemudian menyambar kunci mobilnya yang tergeletak di lantai. Zayn ingin mencari Tasya tapi begitu melewati cermin ia menyadari tubuhnya masih polos.
"Damn it!"
.
.
.
.
.
Bersambung...
...----------------...
🤧 Kan lu ingkar janji, Zayn. Gue kecewa!