I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 84



Keesokan harinya semua berjalan seperti biasanya. Zayn masih berkutat dengan tumpukan berbagai macam dokumen di mejanya. Yang membuat pagi ini terasa berbeda adalah ketika sang Presdir yang datang menemui Zayn secara langsung.


Seperti hari kemarin, kali ini pun Zayn mendapatkan titipan bekal dari ibunya dan tentu saja di berikan secara langsung oleh Abi. Namun, lagi-lagi langkah Abi harus terhenti untuk mendengarkan sapaan dari sekertaris Zayn. Siapa lagi jika bukan Tasya.


"Selamat pagi, tuan" Sapa Tasya ramah sambil menampilkan senyum cerianya saat Abi baru saja ingin menarik handel pintu ruangan Zayn. Walau enggan tapi Abi pun membalas sapaan Tasya dengan menganggukkan kepalanya singkat.


"Bentar lagi drama akan di mulai! Haaahh!" Keluh Abi yang pasti hanya bisa ia ucapkan di dalam hatinya.


"Mau apa?" Ketus Abi. Membuat Tasya cemberut karena sapaan nya di jawab sedingin itu. "Ih tuan kenapa sih marah-marah mulu kalau ketemu saya? Emangnya saya salah apa?" Ujar Tasya kesal namun sesaat kemudian pandangan nya beralih pada paper bag yang di tenteng Abi. Kemarin saat Abi menyerahkan bekal Zayn, Tasya sedang tak ada di ruangannya jadi ia tak tahu sejak kemarin Abi memberikan Zayn bekal.


"Itu apa tuan? Untuk si Kakak ya? Cieee yang sekarang punya kakak.. Jadi sekarang saya kakak ipar dong? Aseekk!" Ujar Tasya girang membuat Abi memutar bola matanya malas. Satu hal yang membuat Abi tak habis pikir tentang karyawannya yang satu ini, yaitu tingkat kepercayaan diri Tasya yang selalu membuat Abi geleng-geleng kepala. Tak jarang ia pun sering di buat pusing dengan ocehan gadis yang mengaku kakak iparnya ini. Namun, tetap saja Abi meladeni ocehan dari Tasya.


"Bukan urusan mu! Apa kamu tak punya pekerjaan lain selain mengurusi urusan saya!" Ujar Abi ketus. Tasya melirikkan bola matanya keatas sambil menggerak-gerakkan bibirnya lucu, ia tengah mengingat beberapa pekerjaan nya.


"Ada sih sebenarnya.." Ucapnya kemudian setelah cukup lama terdiam. "Pekerjaan saya.. ya apalagi jika bukan menganggu calon adik ipar. Hehehehe" Lanjutnya membuat Abi menghela nafasnya kesal.


"Kamu ini sebenarnya dari spesies manusia mana? Kenapa hidup mu itu tak jelas sekali, Nem?"


"Manusia paling langka yang hanya mencintai anda tuan" Ujar Tasya cengengesan tak jelas membuat Abi begidig ngeri.


Tasya baru saja ingin membuka mulutnya siap untuk mengucapkan kata selanjutnya, tapi tiba-tiba pintu ruangan Zayn di buka dari dalam membuat dua orang yang sedang mengobrol itu menoleh serentak pada sosok pria berwajah datar pemilik ruangan.


"Apa kalian tidak punya pekerjaan lain selain mengobrol di depan ruangan saya?" Ujar Zayn datar sedatar wajahnya saat ini.


Zayn sudah berdiri di balik pintu sejak mendengar sapaan dari Tasya untuk Abi. Tapi entah kenapa ia urung membukanya, Zayn justru menguping percakapan dari dua orang di depannya. Dan ia pun merasa kesal saat lagi-lagi kekasihnya itu berbicara seenaknya seperti itu pada laki-laki lain di depan nya pula. Walau Tasya menyadarinya, tapi tepat saja Zayn merasa cemburu. Lagi-lagi Abi, kenapa harus Abi? Itulah yang membuat Zayn kesal. Ia merasa tak percaya diri jika harus di bandingkan dengan Abi.


"Ini!" Ucap Abi tanpa menghiraukan mimik wajah Zayn yang terlihat kesal. "Mamah menitipkan makan siang untuk kakak lagi. Walau tak suka tolong kakak terima" Ujar Abi lagi saat Zayn sama sekali tak bergeming.


"Kenapa anda repot-repot, tuan? Kenapa tidak suruh saja asisten anda mengantarkan nya pada saya? Apa anda sengaja mencari perhatian dari sekertaris saya?" Ucapan Zayn berhasil membuat mulut Abi dan Tasya mengangga tak percaya. Abi segera menoleh ke samping di mana Tasya berdiri di sana.


"Aku? nyari perhatian dia?" Ujar Abi menunjuk dirinya dan juga Tasya bergantian dengan wajah heran. Sesaat kemudian ia menyemburkan tawanya.


"Huahahaha.. Aduh, kak! Ngga usah ngelawak lah. Kayak ngga anda perempuan yang waras aja!" Ujar Abi masih terkekeh ia bahkan sampai mengeluarkan air mata dari sudut matanya. Sedangkan Tasya sudah menekuk wajahnya saat mendengar ucapan Abi yang mengatakan jika dirinya itu tak waras walau tidak secara langsung. Walau tak benar-benar kesal, karena ucapan Abi sama sekali tak pernah Tasya masukan ke dalam hati.


"Jadi maksud kamu, Tasya itu ngga waras, hah!!" Sentak Zayn tak terima kekasihnya di bilang tak waras oleh orang lain. Ucapan Zayn itu berhasil membuat Abi berhenti tertawa. Sejak tahu jika Abi adalah Adiknya, Zayn memang tak terlalu canggung pada Abi.


"Hem gimana bilangnya ya?" Gumam Abi sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuk di dagunya. "Sudahlah! kalau Kakak cemburu cepat nikahi Inem jangan kelamaan di anggurin. Ini! Aku mau ke ruanganku dulu." Ujar Abi lagi memilih tak ingin memperpanjang masalah dengan Zayn hanya gara-gara wanita, apalagi wanita itu adalah Tasya. Setelah paper bag itu di terima oleh Zayn, ia pun berlalu dari sana untuk kembali ke ruangannya.


"Tadi aku belum selesai bicara, Atta!" Ujar Tasya yang peka jika saat ini Atta nya sedang kesal padanya. "Kamu itu suka sekali buat aku kesal. Sayang." keluh Zayn lemah. Karena ia sama sekali tidak bisa marah dengan Tasya, Zayn hanya bisa memijat pelan pangkal hidungnya.


"Tadi tuh aku mau bilang.. Itu dulu, sekarang saya cinta mati sama Atta. Gitu, eh kamu malah keburu nongol." Ucap Tasya membuat Zayn tersenyum tipis bahkan sangat tipis.


"Bohong! kalau aku mati palingan kamu nyari lagi yang baru!" Ketus Zayn menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya sedang berbunga-bunga.


"Loh kok kamu tahu sih? Kalau kamu mati duluan aku tadinya mau minta tuan Abi buat gantiin kamu jadi imam aku." Tukas Tasya lempeng membuat Zayn mendelik kesal.


"Anastasya Putri!!!" Kesal Zayn yang hanya di balas kekehan oleh Tasya sambil berjalan kembali ke ruangannya meninggalkan Zayn yang menatapnya horor. Tapi, agaknya Tasya tak peduli karena gadis itu justru sudah duduk manis dan mulai kembali sibuk bekerja.


****


Di kantin saat makan siang Tasya, Zayn, Nakula, dan Disty seperti biasa duduk di meja yang sama. Posisi Tasya berhadapan dengan Zayn dan Nakula berhadapan dengan Disty.


"Ya, soalnya aku belum siap.. Lagi pula aku kan masih sibuk untuk memperjuangkan masa depan kita." Tukas Zayn mantap sambil melanjutkan makannya. Nakula dan Disty yang tak mengerti apa yang sedang di bicarakan oleh sepasang kekasih itu membuat keduanya menatap Tasya dan Zayn dengan bingung.


"Kalian ngomongin apa sih?" Tanya Disty bingung sekaligus ingin tahu. Dia berfikir, siapa tahu ia bisa mendapatkan informasi yang bisa di laporkan pada sekutunya. Sampai sekarang Disty memang belum sadar jika sebenarnya rahasianya sudah di ketahui oleh Tasya. Baik Tasya maupun Disty masih sama-sama berakting seperti biasanya hingga tidak ada yang menyadari jika keduanya tengah mengatur strategi nya masing-masing.


Jika diumpamakan dengan saling menyimpan racun di tangan mereka atau saling menikam di belakang, rasanya itu terlalu berlebihan. Karena Tasya dan Disty tak sedang berperang. Disty hanya bertugas memberikan informasi dan di balas sebuah imbalan yang sudah di sepakati sebelumnya. Sedangkan Tasya, dia hanya ingin menangkap basah keterlibatan Disty dan meminta penjelasan darinya tak lebih.


"Oh kalian pasti tidak akan menyangka ini!" Ujar Tasya antusias. Ia sengaja memberikan umpan yang besar agar targetnya termakan jebakannya.


"Atta itu.. maksud ku Zayn itu ternyata satu ibu loh dengan Tuan Abi, dan kemari Atta di tawari naik jabatan tapi dia malah menolaknya." Ujar Tasya membuat Disty dan Nakula mengangga tak percaya.


"Bo'ong pasti kan Lo? Ngga mungkin lah!" Ujar Nakula kemudian memperhatikan Zayn dari atas sampai bawah seolah tengah memindai pemuda itu. Nakula mencoba melihat apa ada kemiripan dalam diri Zayn dengan anak pemilik perusahaan.


"Iya, Lo bo'ong kan? Gimana ceritanya? Kalian jangan ngaku-ngaku deh nanti ada yang denger bisa bikin geger satu kantor!" Ujar Disty tak percaya.


"Kita ngga bohong. Beneran! kalau kalian ngga percaya tanya sendiri aja sama Tuan Abi. Itu, Atta makan masakan nyonya Herold." Ujar Tasya lagi dan di angguki oleh Zayn. Sebenarnya Zayn tak ingin identitas nya sebagai anak tiri dari tuan Herold itu di ketahui oleh publik. Ia tak ingin di sebut memanfaatkan keadaan untuk membuat orang-orang menghormati nya. Tapi, jika Tasya sudah berucap ia bisa apa?.


"Wahh.. Berita besar ini! Harus di share!" Pekik Disty langsung membuka ponselnya dan hendak mengunggah fakta tersebut di grup rumpinya. Tapi, gerakan tangan Disty terhenti saat Zayn menyentuh tangannya. Sontak saja sentuhan yang Zayn berikan di tangannya membuat debaran jantung Disty semakin tak terkendali. Jika, ia tak mengingat ada Tasya di sampingnya sudah pasti Disty akan melompat kegirangan tapi ia tak bisa melakukan itu. Sebisa mungkin Disty berusaha agar pipinya tak merona. Dan memang berhasil! Disty berhasil menguasai dirinya hingga kini ia tampak biasa saja.


"Jagan ya! gue ngga mau orang-orang tahu yang sebenarnya. Gue terbuka sama kalian karena sudah menganggap Lo dan Nakula adalah saudara gue. Jadi gue ngga masalah terbuka dengan kalian. Tapi, please jangan Lo kasih tau siapapun tentang gue!" Ucap Zayn lembut pada Disty. Zayn bahkan menatap dalam manik mata Disty dan masih menggenggam tangan Disty saat mengatakan hal itu membuat Disty merona. Walau sudah berusaha untuk mengendalikan dirinya tapi tetap saja hatinya tak bisa bohong. Ia begitu terkesima dengan sosok Zayn.


Menyadari semburat warna merah di pipi Disty membuat Zayn tersadar dengan apa yang baru saja ia lakukan. Dengan panik ia melihat ke arah Tasya dan ia menelan salivanya dengan susah payah saat menyadari tatapan Tasya yang seperti ingin menelannya hidup-hidup.


Bagiamana bisa Zayn menyentuh wanita lain di depan matanya sendiri. Apa dia lupa jika hati Tasya harus di jaganya. Sudah dua kali Zayn menyentuh wanita di depan matanya. Pertama saat Zayn membalas pelukan Cellin dan sekarang di depan matanya ia malah menggenggam tangan Disty dan berkata selembut itu!. Jika saja Tasya bukan sedang berada dalam misi sudah bisa di pastikan jika Zayn saat ini tak baik-baik saja.


"Kamu beruntung, Ta!" Gumam Tasya dalam hatinya sambil menatap tajam Zayn. Tangannya sudah terkepal kuat di bawah meja untuk meluapkan emosinya.


"Ma mpus gue.. Pasti dia bakal mogok bicara lagi nih sama gue!" Keluh Zayn dalam hatinya.


.


.


.


.


.


Bersambung...


...----------------...


😏 Ayo lah sekali-kali kalian tuh ribut yang gede ngapa? Masa berantem cuma diem-dieman doang! kan ngga asik!


😰 Nucha jangan ngomporin ngapa.. Kan udah gue kasih kopi kemaren..


Holla hello Readers tercintah ❤️❤️❤️ jangan lupa lemparin Nucha jempol sama gifnya yah 🌷☕ Lophe you phlen untuk kalian yang udah ngikutin kisah Tasya ini.. 🤗🤗 Terimakasih..


Happy reading all ❤️❤️