I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 77



Sabtu pagi di taman kota sudah di penuhi oleh banyaknya manusia yang sedang melakukan berbagai olahraga seperti Jogging, ada pula kumpulan ibu-ibu yang terlihat asik bersenam di tengah taman. Tak sedikit pula pasangan muda mudi yang duduk santai di atas rumput sambil melihat orang-orang yang sedang melakukan aktivitas mereka masing-masing.


Diantara banyaknya orang-orang tersebut, Zayn dan Tasya pun tengah melakukan pemanasan untuk bergabung bersama yang lain. Saat Zayn mengantar Tasya pulang kantor tadi malam, ia mengajak Tasya untuk Jogging dan di sinilah mereka kini berada.


Sejak Tasya menjalin hubungan dengan Zayn, ia tak lagi menghabiskan waktu akhir pekannya dengan aktivitas yang tak bermanfaat seperti yang bisa dia lakukan. Kini dimana ada Tasya di situ pula akan ada Zayn. Pasangan yang sudah lama tak berjumpa itu benar-benar tak pernah menyia-nyiakan kesempatan.


"Sepertinya sudah cukup panas, yank! ayo kita mulai mengukur seberapa luas taman ini!" Ajak Zayn dan di angguki kepala oleh Tasya.


"Let's go!!" Seru Tasya semangat dan lebih dulu berlari di depan Zayn, sedangkan Zayn hanya tersenyum dan ikut bergabung bersama yang lainnya.


Beberapa saat kemudian, Tasya yang tadi terlihat semangat kini sudah mendudukkan dirinya di tengah jalur untuk orang-orang lari. Nafasnya terlihat tak beraturan. Maklum saja, Tasya tak pernah berolahraga sebelumnya jadi ia tidak kuat untuk berlari lebih lama lagi. Berbeda dengan Zayn yang masih tampak segar bugar belum terlihat tanda-tanda kelelahan. Karena ia tak pernah absen untuk berolah raga walaupun itu hanya sekedar berlari keliling komplek perumahan nya.


"Lah, yank.. Ayo dong bangun belum ada setengah putaran ini!" Ujar Zayn saat sudah berdiri di samping Tasya sedangkan Tasya yang merasa di ejek pun tak menghiraukan ucapan Zayn.


"Hah.. Kita istirahat dulu.. Hah.. Ya? Aku Hah.. Udah ngga kuat" keluh Tasya dengan nafas yang masih belum stabil. Ia tak peduli jika saat ini mereka sudah menjadi pusat perhatian. Yang ia mau hanya beberapa teguk air, karena tenggorokan nya terasa kering sekali.


Zayn yang melihat keadaan kekasihnya itu di buat gemas sekaligus kasian. Apalagi keadaan Tasya yang sudah bermandikan keringat wajahnya pun terlihat pucat saat ini. Ia jadi tak tega ingin memaksakan kekasihnya itu untuk kembali menemaninya.


"Dasar pemalas! Lain kali aku akan membiasakan dirimu supaya rajin olahraga. Kerjaan kamu yang hanya rebahan itu sungguh ngga ada manfaatnya, sayang.. Yang ada kebiasaan burukmu itu malah nimbun lemak di perut kamu itu. Terus kamu nanti jadi bulat kaya bola, mau?" Ujar Zayn membuat Tasya dongkol akut. Bagaimana bisa kekasih nya itu mengatainya malas dan malah menakut-nakuti nya seperti itu. Walau itu memang benar tapi kan tetap saja Tasya tak suka kejujuran yang baru saja Zayn ucapkan.


Karena merasa kesal, Tasya kemudian bangkit dan kembali berlari kecil dengan wajahnya yang di tekuk tanpa menghiraukan seruan dari Zayn. Bagaikan mendapatkan sebuah kekuatan, Tasya bisa mengelilingi lapangan sebanyak tiga kali putaran, tanpa berhenti.


"Yank! katanya tadi capek?" Tanya Zayn ketika melihat Tasya kembali berlari namun pertanyaannya tak mendapatkan jawaban dari Tasya.


"Yank... Lihat deh! ibu-ibu itu pakaian nya nyentrik banget" Seru Zayn saat melihat ibu-ibu anggota senam aerobik yang mengenakan baju kaos berwarna kuning stabilo dan di padukan dengan celana training berwarna hijau tua. Tak ketinggalan ibu itu juga memakai sepatu olahraga berwarna merah terang. Tapi, Tasya sama sekali tak tertarik untuk melihat nya walaupun hanya sekedar melirik.


"Yank.. kita istirahat sebentar yuk!"


"Yank, kamu ngambek ya?"


"Yank.. jawab dong.. kok diem aja sih? kamu kesambet ya?"


Zayn sedari tadi sudah berusaha untuk mengajak Tasya berbicara dan mengajak gadis itu istirahat tapi sama sekali tak di hiraukan. Sadar ucapannya sudah menyinggung perasaan Tasya, Zayn pun tanpa aba-aba menggendong Tasya ala bridal style hingga membuat Tasya memekik karena terkejut.


"Turunkan aku, Atta! Kau gila ya? Turunkan Aku sekarang!! Atta!!" Pekik Tasya hingga membuat beberapa pasang mata memperhatikan mereka.


"Stt... Jangan teriak-teriak seperti itu, yank. Lihat! Orang-orang melihat ke sini. Apa kamu tidak malu? Aku sih biasa aja." Ucapan Zayn memang benar dan hal itu membuat wajah Tasya memerah karena malu sekaligus kesal. Tanpa sadar ia memukul da da Zayn dengan emosi yang tidak bisa lagi di tahan.


"Kamu apa-apaan sih, Ta? Kenapa aku pakai di gendong segala?" Keluh Tasya lagi yang sudah tak memberontak dalam dekapan Zayn. Saat ini justru ia telah mengalungkan tangannya di leher pemuda itu dan memandangi wajah Zayn.


Berada di jarak sedekat ini membuat jantung Tasya berdetak dengan tak normal. Begitu pula yang di rasakan oleh Zayn, bahkan Tasya bisa mendengar dengan jelas suara detak jantung Zayn. Tanpa sadar Tasya pun mendekatkan telinganya dengan da da Zayn dan memejamkan matanya menikmati alunan merdu dari jantungnya dan jantung Zayn.


"Aku memang sudah gila, sayang. Aku sungguh tergila-gila padamu. Aku tak bisa membayangkan apa jadinya diriku tanpa mu." Ucapan Zayn berhasil membuat pipi Tasya semakin merona dan hal itu sangat Zayn sukai. Tasya bahakan lupa dengan aksi pura-pura ngambeknya karena begitu terkesima dengan sosok Zayn yang saat ini terlihat begitu gagah.


"Kita sudah sampai!" ketika mereka sudah tiba di tempat yang Zayn tuju barulah Tasya di turunkan dari dekapannya. Sebenarnya Zayn merasa sedikit pegal di area tangannya, tapi ia tak ingin menyinggung perasaan kekasihnya lagi jika Tasya memang cukup berat hingga membuatnya kepayahan.


Tasya memperhatikan sekeliling nya, rupanya Zayn membawa Tasya duduk di antara pedagang kaki lima yang menjual berbagai macam jajanan anak kecil. Melihat hal itu membuat mata Tasya berbinar senang. Namun, wajah yang tadinya terlihat antusias itu seketika berubah dengan ekspresi datar kala Zayn hanya memberinya air putih dan juga burger murah meriah. Padahal Tasya ingin sekali membeli satu persatu jualan mereka semua tapi ternyata keinginannya itu harus pupus kala Zayn tak memberinya izin.


"Tidak!! kamu hanya boleh makan makanan rendah lemak seperti itu, ingat kebiasaan burukmu itu harus perlahan di ubah!" Ucap Zayn tegas hingga membuat Tasya mencebikan bibirnya kesal.


"Bilang aja kalau kamu itu ngga sanggup kan jajanin aku? Ngga usah pake alesan ngerubah kebiasaan buruk segala!" Ketus Tasya, ia kemudian mengigit Burger low budget dengan kasar bak seekor serigala yang mengoyak daging santapannya. Hal itu membuat Zayn terkekeh geli.


"Ya.. Jangan di perjelas gitu lah sayang.. Aku kan malu" Ujar Zayn masih tersenyum. Sebenarnya bukan tak mampu beli tapi kan mereka baru saja selesai berolahraga.


"Kenapa juga aku harus punya pacar yang pelitnya luar biasa kaya kamu gini, padahal..." Keluh Tasya masih asik mengunyah Burger itu. "Padahal... dulu meskipun kami ngga pacaran tapi... Abi jauh lebih pengertian" Ucap Tasya kemudian setelah sebelumnya menggantung ucapannya hingga membuat Zayn di buat penasaran dan kini hatinya sungguh dongkol akut saat dengan sangat jelas Tasya membandingkan dirinya dengan laki-laki lain, lagi.


Tanpa basa-basi, Zayn kemudian berdiri dan beralih pada pedagang kaki lima untuk membeli satu persatu makanan yang mereka jual, hingga kini di depan Tasya berjajar aneka makanan. Tentu saja senyum penuh kemenangan terbit di bibir Tasya. Akhirnya ia berhasil mengunakan jurus terakhir untuk membuat Zayn mengabulkan permintaan nya. Sedangkan Zayn masih di rundung kedongkolan luar biasa.


"Untung sayang.." Keluh Zayn sambil mengusap dadanya membuat senyum Tasya makin lebar, selebar daun pisang.


.


.


.


.


.


Bersambung....