
Zayn Pov
Ibu...
Satu kata yang berhasil membuat perasaanku tak menentu. Jujur aku bingung harus bagaimana sekarang aku berekspresi. Aku hanya bisa mematung dengan posisi yang masih terduduk di lantai. Ia pun melakukan hal yang sama, wanita ini masih memelukku dengan erat seolah takut akan kehilanganku lagi.
Tapi apakah benar dia ibuku?
Aku mengurai dekapan tangannya di perutku dan memutar kepalaku ke belakang untuk melihat sosok wanita yang mengaku sebagai ibuku. kulihat wanita ini masih tertunduk dan pundaknya tampak naik turun. Ia masih terisak dan perlahan mulai mengangkat wajahnya. Mata, hidungnya memerah dan pipinya sudah basah oleh air mata, mungkin.
Pandangan kami bertemu dan ketika aku melihat wajahnya, sekelebat bayangan yang amat menyakitkan itu kembali terlintas.
Benar! dia memang ibuku, hanya saja dia terlihat lebih terawat saat ini. Ya, itu jelas saja karena memang dia adalah istri dari pengusaha terkenal, tentu dia akan menjaga penampilannya. Tidak seperti saat dia masih menjadi ibuku. Maksudku saat kami masih bersama.
Aku yakin dia pasti yang orang-orang panggil dengan sebutan nyonya Herold. Tapi itu artinya aku dan tuan Abi, kami.. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling mencari di mana orang-orang, kenapa hanya aku dan wanita ini di sini?
"Nak.." Suaranya terdengar bergetar. Ia menatapku lekat, tangannya terulur menyentuh wajahku. Tapi, aku masih mematung tak tahu apa yang harus ku katakan atau ku lakukan.
Lagi-lagi saat itu kembali terlintas di pikiranku. Saat di mana dengan teganya ia meninggalkanku bersama dengan orang lain. Walau ibu Lusi adalah saudaranya, tapi tetap saja hal itu sangat melukaiku.
"Kamu memang anak ku.. Aku bisa merasakannya.. Di sini.." Ucapnya masih dengan nada bergetar ia menunjuk ke arah dadanya. "Di sini, aku bisa merasakannya." Tukasnya.
Dan dia memang benar, walau aku coba untuk melupakannya tapi tetap saja dia tak akan bisa terhapus dari ingtanku. Bahkan sejak foto-foto itu di tampilkan pun aku tahu kalau wanita di foto itu adalah dia.. Dia yang saat ini masih memandangiku dengan tatapan sendunya.
"Maafkan ibu.. Nak.. Ibu.. Hiks.. Hiks.." Ia tak bisa meneruskan kata-katanya karena kini air mata lah yang turun dan membasahi wajahnya.
Aku menatapnya datar, merasakan sakit nya hati ini yang dulu ia torehkan. Rasa sakit ini membuatku tak bisa menyebutnya... Ibu..
"Kenapa?" Tanyaku datar membuatnya kembali memandangiku masih dengan wajah yang bercucuran air mata. Jujur, melihat air matanya itu rasanya aku tak tega dan tak rela wanita di hadapanku menangis seperti ini. Tapi, aku tak bisa mengatakannya. Seluruh tubuhku terasa kaku.
"Kenapa.. kenapa baru sekarang anda mencari saya? Tidakkah anda tahu.. Betapa sulitnya saya saat itu?" Ucapku menahan gejolak yang kurasakan di dada. Aku kecewa, tapi aku pun merasa bahagia di waktu yang bersamaan karena akhirnya aku menemukannya, wanita yang sudah melahirkanku.
Mendengar ucapanku, seketika membuatnya kembali mengerang tangis. Kali ini tangisnya terdengar memilukan, hingga aku pun ikut menangis bersamanya. Padahal sungguh, aku sama sekali tak ingin mengeluarkan air mata di depannya.
"Maafkan Ibu nak, ibu terpaksa meninggalkanmu pada Mbak Lusi. Karena pada saat itu keadaannya sungguh rumit." ucapnya menjelaskan membuatku tertunduk sedih dan kecewa.
Jika saja aku tak membutuhkannya saat ini, aku pasti tak akan mau untuk bertatap muka selama ini dengannya. Setidaknya seperti itulah yang dipikirkan oleh otakku, tapi hatiku berkata lain. Aku ingin memeluknya dengan erat dan tak membiarkannya beranjak kemudian meninggalkanku lagi.
"Apapun itu saya.. sangat kecewa. Anda wanita yang melahirkan saya, harusnya anda tahu seperti apa remuknya hati ini kala anda berbalik badan dan pergi begitu saja meninggalkan saya... Tanpa mau melihat kembali kebelakang.." Ujarku sekuat tenaga menahan emosi yang mulai menguasai otakku.
"Taukah anda.. Setiap hari saya selalu duduk di depan rumah berharap anda akan datang dan menjemput saya.. Bertahun-tahun saya selalu menunggu anda.. Tapi apa? Apa yang anda lakukan? Harapan saya pupus tak berbekas." Lanjutku membuatnya kian terisak.
"Nak.."
"Apa anda tahu rasanya melihat anak-anak lain bermain bersama dengan orang tua mereka? Anda tahu rasanya saat melihat anak-anak lain di suapi makan oleh tangan ibu mereka? Anda tahu rasanya saat saya kedinginan merindukan pelukan hangat anda? Apa anda tahu rasanya menyaksikan kebahagian teman-teman saya saat orang tuanya memuji nilai dan tindakan mereka yang baik? Apa anda tahu seperti apa rasanya itu semua?" Da da ku mulai naik turun karena tersulut emosi.
"Bertahun-tahun saya menantikan kehadiran anda.. Bertahun-tahun saya merindukan anda.. Bertahun-tahun saya berjuang... Melupakan anda. Tapi, semua usaha saya gagal.." Air mataku sudah mengalir deras membasahi pipiku. Aku mencengkram da daku sendiri yang tiba-tiba terasa sesak.
Aku tak lagi bisa menahan emosiku. Tak lagi ku pedulikan dosa karena telah melukai perasaan kunci surgaku. Apa boleh buat, emosiku akan selalu muncul dan tak terkendali kala kembali teringat saat terakhir kali wanita di depan ku ini pergi. Walau saat itu aku baru berusia dua tahun tapi aku sama sekali tak bisa melupakan kenangan menyakitkan itu. Bahkan tak jarang aku pun memimpikannya hingga aku akan kesulitan tidur.
Di tinggalkan oleh orang yang kita anggap sangat berarti dalam hidup kita adalah sesuatu hal yang sangat menyakitkan. Dan itu memang benar, aku pun merasakannya.
"Tidak.. Nak.. Jangan lupakan ibu. Maafkan ibu karena sudah membuatmu terluka begitu dalam... Ibu.. Ibu saat itu tak berdaya.." Ujarnya memohon dan kembali mendekapku, membuatku semakin terisak. Aku menagis dalam pelukannya, pelukan yang begitu ku rindukan.
Kami saling menumpahkan air mata karena hanya itu yang bisa kami lakuakan saat kata-kata tak mampu lagi terucap. Tolong jangan katakan aku laki-laki cengeng karena air mata ini. Aku hanya ingin menumpahkan perasaan ku saat ini.
"Maafkan ibu, nak.. Sungguh ibu menyesal. Maafkan ibu" Ucap wanita ini lagi dan kali ini aku tak ingin menahannya. Aku tak mau lagi sembunyi di balik sikap dingin dan ketusku.. Karena aku pun sesungguhnya merindukan mu..
"Ibu..." Ucapku lirih di pundaknya membuat ia tersentak. Ia kemudian melepas dekapannya dan memandangiku dengan mata yang berbinar, ia menilik wajahku dengan senyum yang tergambar jelas di wajahnya.
"Apa, nak? Apa kamu bilang barusan? Coba ulangi lagi, ibu tadi tidak mendengarnya." Ucapnya dengan wajah yang berbinar.
"Jangan.. Tinggalkan.. Atta lagi.. Ibu" Ucapku lirih membuatnya tersenyum senang, ia mencangkup kedua pipiku dan mulai menci umi seluruh wajahku kecuali bi bir. Apa yang dia lakuakan... Maksudku apa yang ibu lakukan membuatku geli sekaligus malu. Karena aku bukan lagi anak kecil yang bisa ia ci umi seperti itu.
"Hentikan aku malu.. Bu" Keluhku sambil menarik kepalaku supaya menjauh sedikit dari wajahku. Bukannya tersinggung ibu justru tersenyum sambil mengucapkan maaf. Ibu kembali memelukku dan kali ini aku membalas pelukannya dan memejamkan mataku menikmati sentuhan yang selama ini ku rindukan.
Ternyata berdamai dengan masa lalu membuat perasaanku menjadi lebih ringan.
"Terimakasih Ya Allah, telah Engkau izinkan hamba bertemu kembali dengan ibu.. Dan ampuni hamba telah melukai perasaanya" Do'aku dalam hati.
Saat aku masih menikmati momen yang membahagiakan ini, tiba-tiba aku merasakan tubuhku kembali di dekap oleh seseorang dari belakang dan sebuah tangan yang menepuk pundakku.
Aku membuka mataku dan pandangan pertama yang ku lihat adalah wajah tegas nan mempesona dari tuan Robert walau usianya tak lagi muda. Ia menatapku dan tersenyum lembut. Aku kemudian menengok kebelakang melihat siapa yang sedang mendekapku, dan senyuman tulus kembali ku dapatkan dari Tuan Abi.
"Selamat datang di keluarga Herold, Nak.." Ucap tuan Robert membuatku terkejut. Aku kemudian melihat ke arah ibuku, ia menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
"Selamat datang, kak.." Ucap tuan Abi yang lagi-lagi membuatku terkejut sesaat kemudian aku kembali menagis namun dengan sigap ibu menghapus air mata ku dan menggelengkan kepalanya seolah melarangku untuk menumpahkan lebih banyak air mata.
Ternyata seperti ini ya rasanya punya sebuah keluarga sendiri. Dimana ada ibu, Ayah, dan aku juga rupanya mempunyai seorang adik yang hebat.
Aku melepas pelukan meraka dan memandanginya satu persatu dengan senyuman haru.
"Terimakasih..."
.
.
.
.
.
Bersambung...
...----------------...
🥺 ngga ada yang mau peluk Nucha kah??
🤪No! Nucha dilarang ganggu!!
😭 Abi.. Zayn jahat sekaleee...
😒 Kagak usah lebay.. Nih gua kasih bunga aja ya.⚘⚘⚘ Cup.. Cup.. Cup..
Holla Hello Readers tercintah ❤❤❤ jangan lupa lemparin Nucha like, Bunga, sama kopinya yah.. Terimakasih untuk kalian yang sudah mengikuti cerita Tasya sampai saat ini.. Lophe You pul untuk kalian semua ❤❤
Happy reading All 🤗🤗🤗