
Zayn Pov
Aku sungguh tidak menyangka akan melihat hal seperti itu pagi ini. Niat hati ingin mengajaknya jalan berdua justru pemandangan yang menyesakkan dada yang ku dapati.
Saat ini aku sedang berada di dalam mobil ku. Mobil yang sebenarnya fasilitas dari kantor atas jabatan Manajer Pemasaran ku waktu itu. Walau di jabatan ku yang sekarang aku telah di fasilitasi Mobil yang lain dan sebuah rumah namun aku belum mau mengambilnya.
"Arghhhhhh." Aku berteriak sekencang yang ku bisa di dalam mobil. Aku belum menjalankan mobil ini. Aku masih berada di depan gerbang gedung kost tempat tinggal Sasya.
Hah Sasya, gadis itu benar-benar membuat ku tak waras. Bertahun-tahun aku mencarinya, tak lelah dan tak pernah berputus asa walau banyak dari teman-teman ku yang menawarkan ratusan wanita tak pernah sekalipun aku berpaling. Tapi dia?.
"Kenapa kamu mudah sekali melupakan ku Sya? apa aku salah jika aku menginginkan kan mu? apa aku terlalu lama menemukan mu? hingga kamu tak sabar dan memilih yang lain?"
"Kamu sungguh membuat ku Gila!"
Puas menggerutu kemudian aku lajukan kendaraan ku membelah jalanan yang cukup padat meski ini adalah hari Sabtu. Walau padat namun karena rasa kecewa dan amarah yang menguasai membuat ku melajukan kendaraan ini dengan kecepatan cukup kencang.
Aku tidak peduli apa aku mengganggu pengguna jalan yang lain, yang ku tahu saat ini aku butuh pelampiasan untuk mengurangi sesak yang tiba-tiba muncul.
"Arghhh!"
Aku kembali berteriak dan melampiaskan kekesalan ku dengan memukul-mukul stir mobil dan tanpa sadar aku pun menginjak pedal gas semakin dalam, membuat mobil ini melesat dengan kecepatan yang semakin tinggi.
Aku benar-benar kecewa pada diri ku ketika menyadari bahwa aku melupakan suatu hal yang penting. Aku melupakan jika wanita memerlukan kepastian bukan sekedar janji yang manis namun tanpa pembuktian.
"BOD*H!!!!" Teriak ku. Lagi-lagi hanya ini yang bisa ku lakukan. Aku terlalu kalut hingga tak menyadari jika aku terlalu dalam menginjak pedal gas dan pada akhirnya...
Ckiiiittttt
Suara decitan ban yang bergesekan dengan aspal memecah kebisingan di jalanan pagi ini. Karena terlalu kalut, aku tidak menyadari ada seekor kucing yang melintas Reflek aku menginjak Rem dan membanting stir ke sebelah kiri. Beruntung aku tidak sampai mengalami kecelakaan, hanya sedikit benturan dengan pagar pembatas jalan dan membuat mobil ini lecet.
Untuk sesaat aku merasa jantung ku berdetak sangat kencang, nafasku pun tersengal-sengal.
"Hah..."
Aku mendesah, mencerna apa yang baru saja terjadi. Aku masih sangat syok. Aku yakin wajah ku pasti sekarang memucat.
Orang-orang mulai mendekat, mengetuk kaca sembari meneriaki ku menanyakan keadaan ku. Tapi sungguh, suara beberapa orang itu terdengar samar di telinga ku yang masih mematung ini.
"Tuan.. Tuan.. Anda baik-baik saja?"
"Buka pintunya, Tuan!"
"Anda mendengar kami, Tuan?"
Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan serupa yang mulai terdengar.
Kesadaran ku perlahan kembali. Setelah menenangkan debaran jantung yang terus memacu, aku mulai kembali tenang. Ku yakinkan warga yang terlihat khawatir bahwa aku baik-baik saja,mereka pun perlahan membubarkan diri.
Huft!! gara-gara patah hati, hampir saja aku patah tulang. Ck!.
.
.
.
Zayn Pov end
.
.
.
*Kembali ke keadaan saat Zayn berlalu begitu saja dari hadapan Tasya....
"Lo kenal Sya?" Aku mengalihkan pandanganku yang semula melihat punggung pak Zayn yang berjalan turun ke bawah pada pria yang tampak acak-acakan.
Aku geleng-geleng kepala melihat kelakuan dokter satu ini. Benar-benar tak mencerminkan sosok dokter yang bersih dan rapih.
"Ck!! atasan gue!"
Setelah mengucapkan kalimat singkat padanya aku menerobos masuk dan sedikit menyenggol pundaknya, itu karena dia yang masih betah berdiri di bingkai pintu. Padahal aku hanya menyenggolnya sedikit tapi karena dia baru bangun tidur jadi tenaganya belum terkumpul membuatnya terhenyung ke belakang nyaris terjungkal.
Dia memicingkan matanya menatap ku sebal.
"Heh!! sama yang lebih tua tuh sopan dikit!!" katanya ketus.
Aku pun memandangnya remeh.
"Pake tuh baju! malu-maluin buka pintu pake kolor doang!" ujar ku ketus tanpa menatapnya. Aku masih sibuk memakai serangkaian perawatan pagi hari pada wajah ku.
"Ini juga karena Lo tau ngga! punya kamar kok panas banget. ngga ada AC atau minimal kipas angin lah. Miskin banget sih Lo!" gerutunya.
Ya, kamar ku memang belum di isi pendingin ruangan atau yang sejenisnya. Maklum kemarin kan baru jadi pengangguran, yang punya kostan pun tak menyediakan fasilitas apa-apa selain kamar yang lapang.
"Tuh kan ada kipas, kipas manual." sahutku sembari menunjuk kardus mie instan yang sudah di sobek membentuk persegi dengan lirikan mata.
"Lagian kemarin-kemarin ngga ada lo ni kamar biasa aja ngga panas-panas banget. kayaknya lo kebanyakan dosa, makannya ni kamar jadi panas." Lanjutku santai.
"Sembarangan kalo ngomong! yang ada lo tuh yang banyak dosa!" Ujarnya sembari menoyor kepala ku membuat lip glos yang sedang ku pakai berantakan hingga mengenai pipi kanan ku.
"Aaaaah Rizky!"
"Lo tuh bener-bener ya! keluar ngga Lo!!!"
Aku kesal, benar-benar kesal. Make up yang sedang ku poles justru menjadi berantakan karena ulahnya. Memang dasar sepupu ngga ada akhlak, dia malah terbahak melihat pipiku yang berubah pink.
Dia adalah Rizky Rahardian Pratama seorang dokter usianya dua tahun lebih tua dariku. Dia adalah adik sepupu ku. Sedari kecil aku selalu menghabiskan waktu bersama nya. Dia selalu mengusili ku di setiap kesempatan namun kami saling menyayangi. Itulah sebabnya kenapa ia terus mengikutiku, ia begitu menghawatirkan ku. Ia tahu aku sama sekali tak memberitahu keluarga kami dimana kini aku berada karena suatu hal membuat ku memilih kabur.
Meski namanya kabur namun aku selalu memberi kabar pada orang tua ku bahwa anak gadisnya ini baik-baik saja. Semua hal ku ceritakan pada Rizky karena itu ia tahu dimana aku kini berada dan hanya dia lah yang mengetahui hal ini.
"Nyari sarapan sana Lo, dari pada berisik!"
"Lah Lo yang dari tadi berisik, Abdul! gue ngga ada duit belum gajian!"
"Yah tau deh yang mantan pengangguran." cibirnya malah meledek ku.
"Ck! ya udah sini bagi duit!"
"Malah malak bukannya mikir!" Walaupun ia tampak menggerutu namun tetap saja ia memberi ku selembar uang berwarna merah.
Aku berjalan dengan semangat menuruni anak tangga. Itu karena kembalian dari membeli sarapan nanti jatah ongkir ku, kan lumayan buat beli es teh.
"Apaan tuh?" gumam ku pelan.
Saat menuruni tangga lantai dua, aku melihat seseorang tergeletak di sana. Buru-buru aku menghampiri orang tersebut takut hal yang tidak di inginkan terjadi.
Hari ini entah kenapa gedung ini terasa sangat sepi padahal biasanya setiap akhir pekan pasti selalu rame dengan suara-suara aneh dari beberapa kamar. Entah itu pagi, siang, sore, apalagi malam tapi sekarang kemana orang-orang ini pergi hingga tak menyadari ada yang tak sadarkan diri di sini.
"Loh!."
Saat sudah berada di samping nya, aku terkejut menyadari jika orang yang pingsan ini adalah tetangga ku.
"Loh, bude!"
"Bude kenapa? bangun bude?"
"Duh mana kamarnya di samping kamar gue lagi, gimana caranya gue bawa bude ke atas?"
Aku menggerutu tak tahu apa yang harus ku lakukan. Apalagi bude yang ku tahu namanya adalah bude Tina ini belum juga bangun padahal sudah ku teriaki. Aku tak mungkin membawanya naik ke atas sendirian. Bukan maksud ingin Body shaming, tapi aku tak akan sanggup membawanya ke kamarnya karena budhe Tina memiliki bentuk badan jauh di atasku.
Karena panik, aku bahkan tak sadar jika aku punya sepupu laki-laki di kamar ku, di tambah dokter pula. Beruntung ada seorang pemuda yang keluar dari salah satu kamar di lantai dua ini, gegas ku mintai tolong untuk membawa bude ke atas.
"Dia ngga apa-apa hanya terlalu lelah, sebentar lagi juga sadar." Ujar Rizky begitu ia selesai memeriksa bude.
Di kamarnya bude Tina tinggal bersama keponakannya yang bernama Kak Sarah. Namun karena Kak Sarah masih bekerja di perusahaan yang cukup jauh dari sini jadi aku membawa bude ke kamar ku dan langsung mendapat penanganan dari Rizky.
"Lo yakin cuma kecapean? kenapa bude lama sekali belum juga bangun?"
"Untuk diagnosa awal gue sih emang cuma kecapean, tapi gue pun sebenarnya kurang yakin. Sebaiknya saat keponakan nya pulang nanti, segera bawa ke rumah sakit supaya lebih jelas." Ujarnya.
Aku memandangi Rizky tak berkedip membuatnya bingung dan mengangkat satu alisnya seoalah bertanya kenapa tapi tak mengeluarkan satu kata pun. "Lo dah kaya dokter aja deh, makasih ya." ujarku pada akhirnya.
"Gue kan emang dokter, Ucup!"
"Nih resep obatnya! Sono Lo tebus dulu di apotik. jangan banyak omong!" Ia menyerahkan selembar kertas dengan tulisan yang tak ku mengerti.
"Biasa aja kali. ngga usah marah-marah! bisa serangan jantung pasien lo kalo dokter nya modelan kayak Lo gini!"
.
.
.
Bersambung...