I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 104



Tasya pov


Dalam ruangan bernuansa coklat dan hitam ini aku termenung. Tak ada yang sedang ku fikirkan hanya ingin termenung saja, karena bingung apa yang akan ku lakukan. Dengan kondisi kaki yang masih di gips, berjalan pun harus menggunakan bantuan kursi roda membuat ruang gerakku begitu terbatas.


Berada di ruang seluas ini sendirian membuatku merasa bosan. Aku sudah bermain medsos, membaca novel, bahkan menganggu Rizky pun sudah. Tapi tetap saja aku masih merasa bosan.


Lagi pula aku heran dengan Zayn, bisa-bisanya dia memaksa ku untuk tinggal di apartemennya tapi malah di tinggal begini. Apa sebenarnya dia itu ingin pamer jika sudah punya hunian sendiri? Aku masih kesal dengannya masalah foto kemarin. Dia bilang hari ini ingin memberiku bukti tapi kenyataanya dia justru tak akan pulang dan malah meminta Rizky menjaga ku. Kalau tahu seperti ini kan lebih baik aku di kostan saja. Meski pun sempit tapi di sana selalu ramai tidak seperti di sini. Membuatku ketakuatan saja.


"Aduh pengen pip*s lagi." keluhku sambil berusaha menggapai kursi roda. Ini lah yang membuatku sungguh tersiksa hanya sekedar buang air kecil pun aku harus mengeluarkan tenaga yang begitu banyak.


"Kapan ya, kira-kira gue bisa kembali bergerak bebas,"


Dengan bersusah payah akhirnya aku bisa bernafas lega setelah berhasil keluar dari kamar mandi. Sebenarnya aku bukan tak bisa berjalan, hanya saja rasanya benar-benar sakit meski aku hanya mencoba satu langkah saja.


Karena bosan, aku ingin berkeliling mencari sesuatu yang mungkin bisa menghilangkan kejenuhan ini.


"Harusnya kemarin gue minta ganti rugi sama asisten Rico. Ck! gue sama sekali nggak kepikiran. Padahal gajinya pasti besar tuh. Lumayan kan buat beli cilok," Gerutuku sambil menggasak banyak cemilan dari kulkas milik Zayn. Biar saja uang nya habis untuk beli bahan makanannya lagi, siapa suruh meninggalkan aku sendirian di huniannya yang sepi ini.


"Lihat saja, gue bikin bangkrut sekalian!" gerutuku kesal.


Ting.. Tong.. Ting.. Tong..


Di tengah dumelanku, bel pintu terdengar membuatku mengrenyitkan dahi. Menerka siapa yang kira-kira datang bertamu, Zayn bilang dia baru tiga hari ini menempati apartemennya jadi, apa dia sudah punya tetangga? Bukannya dia juga tak punya banyak teman?


"Ah, mungkin itu Iky. Jam prakteknya pasti sudah selesai,"


Aku pun membuka pintu itu dengan cukup kesulitan, ruang gerak ku benar-benar terbatas. Begitu pintu terbuka, aku cukup terkejut dengan seseorang yang menekan bel pintu. Tapi, mengingat dia adalah saudara Zayn aku tak heran jika tuan Abi berkunjung ke sini.


"Loh, Inem? Kamu di sini?" tanya tuan Abi terkejut.


"Seperti yang tuan lihat,"


"Apa kalian tinggal di sini semalam, bersama dan hanya berdua?" Tanyanya lagi sambil memandangiku dengan raut penuh tanda tanya. Biasanya saat kami berbicara kami terlihat sejajar, kini ia harus menunduk karena aku masih duduk di kursi roda.


"Ya, mau bagaimana lagi. Dia memaksa. Oh iya, silahkan masuk, tuan. Tapi, Atta sedang tak ada di sini, entah kemana dia pergi tapi malam ini katanya dia tak pulang," Jelasku sambil mandorong rodaku tapi dengan sigap tuan Abi malah mendorong kursi rodaku tanpa meminta izin lebih dulu dan aku pun membiarkan apa yang dia lakukan.


"Terimakasih." Ucapku saat kami tiba di ruang tamu lebih tepatnya setelah tuan Abi duduk di sofa. Tumben sekali dia datang sendiri, biasanya asisten Rico selalu mengikutinya bak ekor tuan Abi.


"Sebenarnya, aku datang ke sini ingin berbicara dengan Kakak. Tapi kalau dia tak ada, ya sudah besok saja. Lalu kau di sini sendirian?" Tanya tuan Abi dan ku balas angukan kepala.


"Oh, tuan mau minum apa? Biar saya ambilkan," tawarku namun ia segera menolak.


"Tak perlu. Nanti aku bisa ambil sendiri. Bagaimana keadaanmu, Nem?"


"Ya seperti yng tuan liat. Sedikit lebih baik, tapi masih sakit untuk berjalan." Jelasku sambil memperlihatkan kaki kiriku yang di gips.


"Sekali lagi aku minta maaf. Sudah membuat mu seperti ini." Ujar tuan Abi. Lagi-lagi dia yang minta maaf bukannya yang menabrakku asisten Rico tapi dia sama sekali tak menampakkan batang hidungnya sejak pertama kali aku membuka mata. Dasar tidak bertanggung jawab.


"Tak masalah. Tapi seharusnya saya punya hak untuk minta ganti rugi kan, tuan? Saya harus terus duduk di sini loh. Mau apa-apa juga susah," keluhku dengan muka yang ku buat semelas mungkin.


"Memang kau mau ganti rugi berapa? Kemarin kan saya sudah bayar biaya rumah sakit full,"


"Ck! Masa cuma rumah sakit doang, tuan. Lagian itu kan buat para dokter dan perawat saya sendiri masih belum sembuh."


"Terus kamu mau apa?"


Aku tersenyum begitu manis mendengar ucapannya. Ini dia yang ku tunggu-tunggu.


"Apa tuan tak keberatan jika saya ingin satu hari ini anda menemani saya jalan-jalan?" Tanyaku penuh harap. Bukannya aku kegatelan atau apalah itu namanya. Tapi, hanya tuan Abi saja yang ku kenal. Kalian kan tahu sendiri temanku hanya Disty dan Nakula. Tapi mereka katanya sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya minggu depan.


Oke! Kembali lagi tentang tuan Abi.


Setelah terdiam beberapa saat, akihirnya tuan Abi menyanggupi permintaanku. "Baiklah, tapi kau ingin kemana?" Aku tentu saja tersenyum begitu lebar, inginnya sih loncat-loncat gitu tapi tak bisa. Jadi, ya sudahlah.


"Ayo kita ke taman di samping apartemen ini, tuan. Saya ingin menghirup udara segar, sejak tiga hari yang lalu saya hanya dia atas tempat tidur," Dan pada akhirnya tuan Abi mendorong kursi rodaku dan membawa ku ke taman seperti permintaan ku.


Tak hanya itu, tuan Abi benar-benar menuruti semua permintaanku. Dari mulai, memfotoku di taman, memasak makan siang, bahkan menemaniku menonton film sampai Rizky datang baru Tuan Abi pamit pulang.


****


Keesokan harinya, pagi-pagi telingaku rasanya panas karena Rizky yang selalu mengoceh tentang apa yang ku lakukan. Aku tak boleh banyak bergerak, tak boleh makan terlambat dan dia juga memaksa ku untuk meminum obat padahal aku paling anti sekali dengan yang namanya obat, apalagi obat dengan bentuk syrup. Bukannya aku tidak bisa atau tak menyukainya hanya saja aku begitu malas untuk menelannya.


"Lo itu harus rajin minum obatnya, Sya. Gimana mau cepet sembuh kalau minum obat aja ogah-ogahan. Lo pikir ini iklan, yang cuma di tunjukin botolnya tapi sakitnya langsung kabur?" gerutu Rizky saat kami baru saja selesai sarapan.


"Berisik, Ky!" sahutku acuh tak acuh dan dia balas dengan decakan lidah.


"Lo tuh kalo di bilangin emang susah. Pasti kemarin lo nggak minum obatnya kan? Ngaku!?" Katanya sambil melotot tapi aku sama sekali tidak takut.


"Dah lah serah lo aja. Kapan pacar lo pulang?"


"Ngga tau, mungkin nanti malem," sahutku cepat karena memang aku masih kesal dengan Zayn yang sama sekali tak memberiku kabar. Sebenarnya kemana anak itu pergi? Apa mencari bukti selama itu? Atau justru dia sedang bersenang-senang dengan Celin? Tidak! Zayn tidak mungkin kayak gitu kan? Ya, aku yakin, dia pasti tak akan berani berbuat yang tidak-tidak.


"Ya udah, gue mau berangkat." Rizky beranjak dari duduknya tapi baru berjalan satu langkah ia menghentikan langkahnya karena menyadari raut wajahku yang memelas. Aku tak mau di tinggal sendirian, selain bosan aku juga sebenarnya sedikit takut.


"Gue ada banyak pasien hari ini, jadi lo ngga usah aneh-aneh!" tegasnya dan aku pun tak bisa berbuat apa-apa.


Lagi-lagi aku sendirian..


Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, matahari pun sudah berganti dengan bulan dan bintang. Tepat pukul sembilan malam, Zayn pulang dan menghampiriku di kamar. Aku senang karena bisa melihatnya lagi dan sejujurnya aku merindukannya. Namun, aku merasa ada yang aneh dengan Zayn malam ini. Wajahnya terlihat memerah pun nafasnya yang tersenggal-senggal seperti habis lari maraton.


Zayn mendekatiku dan mencium keningku. "Kamu kenapa, Ta?" tanyaku heran saat dia menyatukan kening kami. Aku bisa merasakan nafasnya yang terasa hangat menerpa kulit wajahku.


"Sayang, aku sangat mencintaimu," Ucapnya begitu sendu sambil membelai pipiku. Jujur di perlakukan Zayn semanis ini membuat bulu kudukku rasanya meremang dan ku rasa jantungku tak baik-baik saja sekarang. Ku harap wajahku tak memerah karena perlakuannya ini.


"Kamu kenapa, Ta? Apa yang terjadi?" meski aku merasa begitu gugup tapi perubahan Zayn yang mendadak jadi sendu seperti ini lebih menarik perahatianku.


"Aku sangat mencintaimu, Sya. Kamu tahu itu kan? Aku tak sanggup jika harus berpisah denganmu, sungguh," ucapnya lagi masih di posisi yang sama tapi belaian tangannya di pipiku kini beralih menyentuh bibirku dan aku merasa sedikit usapan di sana.


Oh Tuhan, rasanya aku benar-benar gugup sekarang bahkan untuk bernafas saja rasanya begitu sesak. Aku ingin menepis tangannya tapi entah kenapa tubuhku rasanya begitu kaku.


"I.. Iya aku tahu. Kenapa sih?" Ucapku dengan susah payah dan kini aku merasa kan panas di sekitar wajahku.


"Aku mencintaimu, Tasya. Tolong aku!"


.


.


.


.


.


Bersambung...