I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 60



Di sebuah ruangan bernuansa putih itu, seorang laki-laki yang tak lain adalah Zayn sedang terbaring lemah di rumah sakit. Sepeninggalan Nakula tadi, paman dan bibinya lah yang saat ini menemaninya. Ia pun sudah sadarkan diri.


Dokter yang menangani nya bilang, Zayn hanya kekurangan oksigen hingga membuatnya lemas dan jatuh pingsan. Itu terjadi karena ia terkunci lebih dari delapan jam di dalam mobil tanpa menyalakan AC atau membuka sedikit jendela kaca hingga sirkulasi udara tak ada. Beruntung nya, Zayn yang saat itu sedang dalam keadaan yang lemah di ketahui oleh orang-orang.


Paman dan bibinya sangat panik, karena Zayn sedari semalam memang tak mengabari mereka. Dan ternyata kecemasan paman dan bibinya benar, Zayn sedang tak baik-baik saja. Namun, pertanyaannya kini adalah..


"Kenapa kamu bisa ada di sana, dan dalam keadaan seperti itu, Zyan?" Tanya bibi Lisa yang saat ini tengah menyuapi Zayn bubur ayam.


Zayn melirikkan bola matanya ke atas, mengingat apa yang terjadi semalam. Namun, ia tak menjawab. Zayn hanya mengepalkan tangannya di balik selimut. Ia tak ingin bibinya tahu kalau saat ini dia sedang kesal.


"Zayn... Ngga ingat, bi. Malam tadi Zayn habis mengantar teman Zayn yang saat itu baru saja di begal. Tapi, rasanya Zayn ngantuk banget jadi deh dari pada Zayn kenapa-kenapa di jalan, Zayn putusin tidur sebentar di mobil tapi lupa buka sedikit jendelanya jadi deh sekarang di sini." Ujar Zayn yang pastinya tak sepenuhnya berbohong. Ia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya terjadi. Cukup ia yang tahu.


"Kalau mengantuk, kenapa kamu ngga nginep di rumah teman kamu itu? Malah milih di mobil, kan kaya gini jadinya." Mendengar pertanyaan bibinya itu Zayn tersenyum lembut sebelum menjawab.


"Teman Zayn itu perempuan, bi. Dan dia tinggal sendiri di apartemen. Zayn ngga mungkin satu ruangan dengan perempuan yang bukan muhrim. Bisa-bisa Zayn bukan berakhir di rumah sakit malah jadinya di KUA." Lakarnya garing tak ingin membuat bibinya itu kepikiran.


"Bibi.. Kira temen kamu yang tadi itu, yang pakai kacamata."


"Yah, dia juga teman Zayn, tapi bukan dia yang Zayn tolong semalam."


Akhirnya bubur yang ada di mangkuk itu habis walau rasanya tak enak, tapi Zayn tak ingin membuat bibinya susah. Lagi pula ia hanya lemas bukannya demam atau yang semacamnya hingga membuat naf*u makannya berkurang. Jadi, masih bisa di paksakan masuk ke dalam perutnya.


Paman sudah berangkat ke sekolah sejak tadi. Paman hanya melihat sebentar keadaan Zayn. Setelah memastikan keadaannya baik-baik saja, paman meminta izin untuk berangkat mengajar.


Kini, hanya tinggal bibinya lah yang menemaninya. Jangan tanyakan dimana Aldo, karena saat ini sepupu Zayn itu sedang ada projek di luar pulau. Jadi, tak bisa menemani Zayn di rumah sakit.


"Minum obatnya yah?" Ucap bibi Lisa sambil menyodorkan beberapa pil obat yang baru saja di berikan perawat. Zayn menerima obat tersebut dan segera menelannya namun, begitu ia mendorong nya dengan air minum, pintu ruangannya di buka secara tiba-tiba oleh seseorang hingga membuatnya terkejut dan tersedak.


Uhuk..


"Atta...." Yah, yang membuka pintu dengan tak santai itu adalah Tasya. Ia sangat khawatir dengan keadaan Zayn. Walaupun sebenarnya ia masih kesal, tapi ya sudahlah kesalnya di pending dulu.


Bibi Lisa memandangi Tasya dengan lekat. Atta? Dari mana gadis ini tahu nama panggilan keponakannya saat masih kecil. Sedangkan dia sendiri tak lagi menyebutkan nama itu karena mengingatkan pada orang yang Zayn sayangi, dan itu membuat perasaan keponakannya terusik. Tapi, kenapa gadis ini memanggil Zayn seperti itu?.


"Atta, kamu baik-baik saja? Apanya yang sakit? Kenapa bisa ada di sini? Muka mu merah apa kamu demam?" Tasya menodong Zayn dengan berbagai pertanyaan ia bahkan tak menyadari kehadiran Bibi Lisa. Ia malah asik menangkup kedua pipi Zayn dan menengokkan nya kekanan dan kiri, untuk melihat apakah ada luka. Tak cukup puas Tasya bahkan mengangkat satu persatu tangan Zayn. Hal itu membuat Zayn terkekeh sendiri.


"Aku ngga apa-apa, sayang." Ucap Zayn sambil menyentuh tangan Tasya yang saat ini sedang mengangkat tangan kiri Zayn.


Sayang? Ucapan spontan Zayn yang memanggil wanita ini sebegitu manis dan betapa lembutnya Zayn berbicara padanya, membuat kedua mata bibi Lisa membulat sempurna. Apakah keponakannya ini sudah memiliki kekasih, sedangkan dia tahu Zayn sangat setia dengan masa lalunya. Lalu sekarang apa? Begitulah yang ada dalam fikirkan bibinya. Karena, ia belum mengetahui apapun tentang keduanya. Zayn sama sekali belum cerita apa-apa, mengingat hubungan mereka yang belum ada satu Minggu.


"Terus kenapa kamu bisa ada di sini? Kemana wanita itu?" Tasya mengedarkan pandangannya mencari sosok wanita semalam yang berhasil membuatnya resah. Tapi, justru sosok wanita yang lebih tua darinya lah yang ia lihat. Tasya pun baru menyadari kehadiran Bibi Lisa. Ia tersenyum canggung.


"Kenalkan ini Bibiku. Selama ini aku tinggal bersama bibi di sini." Ujar Zayn saat mengerti arti tatapan kekasihnya itu.


"Oh.. Maaf Tante saya ngga liat Tante tadi" Ucap Tasya malu, ia kemudian menyalami tangan bibi Lisa.


"Pacar? Lalu bagaimana dengan..." Bibi Lisa sengaja menggantung kalimatnya karena tak ingin membuat Tasya merasa sedih.


"Ini dia.. Tasya ini gadis yang selama ini Zayn tunggu." Bibi Lisa menutup mulutnya dengan kedua tangan. Terkejut dengan fakta yang baru saja Zayn ucapkan.


"Wah!! jadi ini wanita yang membuat mu menolak setiap wanita yang Bibi pilihkan?? Pantas saja Zayn susah move on, kamu begitu cantik ternyata." Pujian dari bibi Lisa membuat Tasya tersipu. Ah untunglah calon mertua nya ini tak begitu kejam seperti di sinetron yang ia baca. Mertua?.


"Dia memang cantik, Bi. Zayn bahkan jatuh cinta setiap hari padanya." Timpal Zayn sambil menggenggam tangan Tasya. Hal yang selalu ia lakukan saat bersama Tasya.


"Rupanya kamu benar-benar sudah jatuh cinta yah!"


"Oh, yank!! Aku harus berangkat ke kantor, kamu ngga apa-apa kan aku tinggal?" Tasya tersentak saat melihat jam yang ada di lengannya sudah menunjukan pukul tujuh tiga puluh. Itu artinya setengah jam lagi waktu bekerja di mulai.


"Aku ngga apa-apa, sayang. Kamu pergi aja, jangan sampai kamu kena potong gaji."


"Kamu mah mainnya kalo ngga potong gaji ya lembur. Ngga asik banget" Ujar Tasya cemberut hingga membuat Zayn terkekeh.


"Oh ya.. Tolong bilang terimakasih ke Nakula ya," Tasya menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Hem.. Hari ini wayang Nakula berubah jadi Gatot kaca, ya?" Tasya terkekeh mendengar ucapannya sendiri, kemudian ia berpamitan pada bibi Lisa dan juga Zayn. Ia harus tetap bekerja walaupun sebenarnya Tasya ingin menemani dan merawat Zayn, tapi masa ia harus bolos, sedangkan bosnya juga tidak masuk. Bisa-bisa pekerjaan nya semakin menumpuk nanti, lebih parahnya lagi bisa bisa dapat Surat cinta dari HRD nanti.


.


.


.


.


.


Bersambung...


...----------------...


😁 Dah lah segini dulu, lanjut besok lagi. Nucha tinggal ngopi dulu.. Tapi, mana ini kopinya??


Holla hello Readers tercintah ❤️❤️❤️ jangan lupa lemparin Nucha jempol, bunga, sama itu kopinya, yah...


Terimakasih sudah mampir...


Happy reading all ❤️❤️❤️