I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
BAB 113



"Kau dengar itu, Bi?" tanya Zayn terdengar antusias pada Abi yang sedang fokus mengemudi. Mereka baru saja meninggalkan rumah sakit karena orang tua Tasya ternyata sangat murka melihat kehadiran Zayn.


Mereka begitu terkejut saat mengetahui tentang kehamilan Tasya namun perginya gadis itu karena di usir oleh orang tuanya sendiri pun membuat Zayn tak kalah terkejutnya.


Zayn sangat yakin jika saat ini Tasya pasti sedang bersama sepupunya. Oleh karena itu kini mereka sedang dalam perjalanan kembali ke Jakarta.


"Ya, aku mendengarnya!" Sahut Abi terdengar malas. Dalam hatinya ia merasa kesal karena ternyata Tasya membawa sebagian dari diri kakaknya dan menghilang begitu saja. Hingga membuat kakaknya bagai mayat hidup.


Tapi dibalik rasa kesalnya, Abi tak bisa membohongi dirinya sendiri karena sekarang sudut hatinya merasa sakit saat berkali-kali ia menyaksikan sendiri bagaimana kedekatan Zayn dan Tasya. Apalagi ketika melihat sang kakak begitu terpuruk kehilangan Tasya, itu membuktikan bahwa cinta Zayn memang begitu besar pada wanita itu.


Sejujurnya Ia pun tak mengerti kenapa perasaan itu tiba-tiba ada meski berkali-kali ia coba menepis. Namun entah kenapa, sejak Tasya pergi ada sebuah ruang di hatinya yang terasa kosong. Apa boleh Abi simpulkan jika ini adalah sebuah rasa cinta dan bukan lagi rasa simpati pada karyawannya seperti biasa? Karena kalau boleh jujur Abi merindukan saat Tasya berkali-kali membuatnya naik darah. Sungguh Ia sangat kehilangan momen itu.


"Abidzar!!!" pekik Zayn kesal karena sudah dari tadi ia berbicara panjang lebar tapi rupanya Abi sama sekali tak mendengarkannya. Ia justru terlihat tenggelam dalam lamunannya sendiri. Untung saja mereka tak kenapa-kenapa karena Abi yang tak fokus membawa mobil.


"Apa!" jawab Abi singkat dan terdengar ketus.


"Kamu kenapa? Apa ada yang sedang kamu pikirkan?" meski kesal tapi Zayn mencoba memahami jika Abi mungkin lelah mengantarkannya ke sana kemari.


"Tidak ada! hanya masalah pekerjaan. Tadi Rico mengabariku jika ada satu klien kami yang sedikit rewel, mereka ingin aku yang melakukan presentasi." Kilah Abi dan tentu saja Zayn langsung percaya karena memang terdengar masuk akal. Padahal sesungguhnya Abi sedang menutupi hatinya yang terluka tanpa sempat merasakan Indahnya di cintai dan mencintai.


"Sesakit ini ternyata cinta bertepuk sebelah tangan. Kenapa Malaikat Cinta malah melepaskan anak panahnya pada hati yang salah, Tuhan. Jika mereka tak terikat dengan adanya anak pun aku tak mungkin bersaing dengan kakakku sendiri. Tolong hilangkan rasa ini, Tuhan aku sungguh tak ingin merasakannya! ini terlalu menyakitkan," gumam Abi dalam hatinya.


.


Jika Zay mendapatkan sedikit cahaya tentang hubungannya, berbeda dengan seorang pemuda yang seharusnya sedang berbahagia karena esok ia akan melepaskan masa lajangnya, tapi yang terjadi kini ia terlihat sangat kacau.


Daniel baru selesai bertemu dengan ayahnya dan mengatakan jika pernikahan mereka dibatalkan karena Tasya ternyata sudah mengandung benih dari rivalnya. Daniel begitu marah karena impiannya mendapatkan apem gagal dan Zayn berhasil menghancurkan segala rencana indahnya.


"Zayn b*engsek!" umpatnya sambil melemparkan barang-barang yang ada di kamarnya.


Prang...


Prang..


Kamar yang tadinya rapih seketika menjadi berantakan, bak sebuah kapal yang sedang bongkar muatan.


Keributan itu terdengar sampai ke lantai bawah, di mana para asisten rumah tangganya sedang bekerja. Bukan hal baru jika sang tuan muda akan membuat keributan seperti ini. Maka mereka yang sudah faham pun tak ada yang berani mendekat pada Daniel jika sang monster tengah mengamuk, salah-salah nanti mereka yang akan terkena imbasnya.


"B*engsek! Kalian lihat saja, aku akan membalaskan rasa sakit dan malu ini berkali-kali lipat. Terutama elo Zayn, tunggu hadiah dariku!!" ujar Daniel dengan kilatan penuh dendam dari tatapan matanya.


Daniel tak akan melupakan hari ini. Hari di mana dia dan keluarganya sudah dipermalukan oleh keluarga Tasya. Keluarga Wirasena yang terkenal Arogan itu tak akan melepaskan orang yang berani-beraninya bermain-main dengan mereka, terlebih keluarga Tasya yang sama sekali tak ada apa-apanya.


.


Di Jakarta, Tasya dan Rizky telah sampai di kostan saat jam menunjukkan pukul 09.00 malam.


"Lo istirahat aja, ya. Nggak baik ibu hamil bergadang. Masalah hari ini jangan lo fikirkan, paman dan bibi pasti hanya sedang emosi." ujar Rizky yang penuh perhatian pada Tasya saat dia membantu calon ibu itu berbaring di tempat tidurnya.


"Gue mau kerja, Ky!" Ucap Tasya tiba-tiba membuat Rizky tersentak.o31


"Lo masih lemah! Jangan dipaksa!" tolak Rizky. Ia tak mengizinkan Tasya bekerja kembali karena terlalu beresiko untuk ibu hamil. Apalagi di trimester pertama. Meski Tasya tak mengalami morning sickness seperti kebanyakan ibu hamil lainnya, tetap saja bekerja saat hamil terlalu beresiko dan Rizky tak mau sepupunya kenapa-napa.


"Gue harus kerja, Ky! Gimana nanti sama anak gue? Gimana nanti buat biaya lahirannya, pasti butuh dana yang nggak sedikit kan?" rupanya dari tadi Tasya termenung karena sedang memikirkan hal ini.


Rizky menghembuskan nafasnya pelan mencoba memahami Tasya, karena ibu hamil sangat sensitif maka ia harus berhati-hati saat berbicara dengannya.


"Kenapa lo nggak minta tanggung jawab Atta aja? dia berhak tahu, Sya!"


"Karena gue malu," lirih Tasya sambil menundukkan kepalanya. Dia merasa malu karena dia yang meninggalkan Zayn begitu saja.


Apa ia tak akan dicap buruk jika dia sendiri yang pergi tapi ternyata dia kembali dan tanpa tahu malu malah menuntut Zayn macam-macam? Apa yang akan orang-orang katakan tentang dirinya?


"Ya ampun, Sya! Lo malu sama siapa? Zayn pasti dengan senang hati bertanggung jawab sama lo!" ujar Rizky heran.


"Gue malu, gue takut! gimana kalau Zayn juga menolak bayi ini sepert Mamah sama ayah? gimana kalau dia malah menghina gue? Gimana kalau dia menolak bayi gue dan malah minta gue buat buang bayi ini? Hiks.. gimana kalau, hikss," Tasya terisak memikirkan kemungkinan yang ada di dalam kepalanya.


Mendengar sepupunya tiba-tiba terisak, Rizky segera membawa Tasya dalam dekapannya dan menenangkan sepupunya itu.


"Sttt.. Lo ngomong apaan sih!?" tanya Rizky sambil mengusap punggung Tasya yang bergetar. "Atta nggak akan mungkin kayak gitu, Sya. Atta itu sangat mencintai lo dia pasti bahagia dengan kabar ini. Lo nggak boleh berpikiran kayak gitu. Lo harus berpikiran positif supaya dedek bayi juga bahagia. Nggak usah mikir aneh-aneh!" tutur Rizky mencoba menenangkan Tasya.


"Tapi... tapi kalau itu benar gimana, Ky? Gue takut,"


"Sttt.. udah ya, Lo harus tidur! gue temenin lo di sini!" lebih baik mengalihkan pembicaraan itu kan daripada mendengar Tasya berbicara melantur tak jelas seperti ini.


Rizky kemudian membenahi selimut Tasya hingga menutupi leher wanita itu. Tak lupa ia juga membelai lembut sisi kepala Tasya agar sepupunya itu cepat terlelap. Dulu saat Tasya sedang sakit Rizky akan melakukan hal yang sama, mereka memang sedekat itu.


Kelopak mata Tasya perlahan tertutup, usapan Rizky memang membuatnya selalu nyaman.


"Tolong usap juga perutku, Ky!" pinta Tasya tiba-tiba dengan mata yang sudah terpejam.


Rizky terlihat ragu dan tak segera melakukan apa yang dipinta oleh sepupunya. Aneh sekali tiba-tiba Tasya meminta hal seperti itu. Apa ini adalah permintaan keponakannya?


"Ky, tolong usap perutku!" pinta Tasya lagi kini matanya kembali terbuka, ditambah sedikit nada rengekan, Rizky pun tak kuasa untuk tak menuruti apa yang Tasya pinta. Dan benar saja, tak lama kemudian deru nafas Tasya terdengar beraturan menandakan jika gadis itu sudah terlelap.


Rizky tersenyum melihat hal itu. Bukankah terlihat lucu? Tadi dia menangis terisak, tapi sekarang ia terlihat begitu damai dalam tidurnya.


"Lihatlah dirimu, Sya! mana wanita yang selalu ceria dan tangguh itu? Kenapa lo jadi manja dan cengeng kayak gini?" gumam Rizky pelan sambil tersenyum. Ia beralih ke perut Tasya dan mengajak calon keponakannya berbicara.


"Halo Baby! Tolong bantu Uncle jaga mamamu ya? sehat-sehat di dalam sana!" sekali lagi Rizky mengelus perut Tasya yang masih rata kemudian ia membetulkan selimut Tasya.


Rizky mengusap surai Tasya lembut dan mengup kening sepupunya sebelum meninggalkan kamar Tasya.


"Selamat tidur!" lirihnya.


Kasih sayang Rizky memang tak usah diragukan pada Tasya. Dia begitu menyayangi dan menjaga Tasya sepenuh hatinya, bahkan demi menemani Tasya ia melupakan kekasih hati yang berkali-kali menghubungi ponselnya.


"Oh astaga! pasti sekarang wanita itu sedang mengeluarkan tanduknya!" gumam Rizky saat melihat begitu banyak panggilan tak terjawab dari Angel.


Sebenarnya dia merasa lelah, tapi jika tidak menghubungi Angel sekarang, bisa-bisa dia marah padanya esok. Jadi Rizky putuskan untuk menghubungi Angel sebelum tidur.


Tut..


Panggilan tersambung dan beberapa saat kemudian, panggilan itu pun berubah menjadi suara seorang wanita yang mengisi hari dan hati dan juga gendang telinga Rizky.


"RIZKY RAHARDIAN PRATAMA!!!"


.


.


.


.


.


.


Bersambung....