
Keesokan harinya, saat matahari sudah berada di tengah langit. Zayn melajukan sepeda motornya ke alamat yang tertera di foto ibunya. Mobil Zayn masih berada di bengkel karena kaca bagian belakang nya di pecahkan oleh Nakula saat itu, jadi kini mobil nya sedang beristirahat dulu.
Butuh waktu kira-kira dua jam untuk sampai di sebuah rumah dengan pagar yang menjulang tinggi mengelilingi sebuah rumah berlantai dua. Namun, agaknya rumah itu sudah lama tak di tempati.
Terlihat dari tumbuhan liar yang tampak subur di halaman rumah tersebut. Tak jauh berbeda kondisinya dengan rumah peninggalan Ibu Lusi. Jadi, bisa di simpulkan bahwa rumah itu sudah lama tak di huni.
"****.. Gue kira ini bakal mudah!!" Umpat nya kesal. Tanpa masuk pun ia sudah bisa menebak tak ada kehidupan di dalamnya.
Merasa belum puas ia berkali-kali menyamakan alamat yang ada di foto dan juga yang ada di samping pagar tersebut. Tapi, memang sama. Ini memang alamatnya.
Lalu sekarang dimana orang tuanya itu tinggal?
Zayn terlihat kebingungan hingga menarik perhatian salah satu warga di sana yang kebetulan sedang lewat tak jauh dari Zayn berdiri.
Seorang bapak-bapak masih memakai sarung dan juga kaos yang sudah tampak kumal. Kepala bapak itu terlihat licin mengkilap, ia mempunyai perawakan yang tinggi dan sangar, namun perutnya terlihat maju ke depan bak wanita hamil tujuh bulan. Ia mendekati Zayn karena merasa asing dengan wajah nya.
"Cari siapa, Jang?" Zayn tersentak kaget, karena bapak tersebut bertanya tepat di belakang badannya dan ia juga tak menyadari kehadiran bapak-bapak itu.
"Huh.. Untung ngga merosot jantung saya, pak" Keluh Zayn sambil mengusap perutnya.
"Jantung kan di da da, Jang. kenapa malah yang di usap perutnya?" Tanya Bapak itu terkekeh karena merasa aneh dengan tingkah Zayn. Rupanya wajah tak mencerminkan kepribadian bapak ini. Di lihat dari mana pun si bapak terlihat seperti preman pasar yang sudah pensiun tapi, dari cara bicara dan gesture tubuh terlihat jika bapak itu orang yang ramah.
Zayn menunduk sesaat untuk melihat tangannya kemudian mendongakan kepala nya menatap sang bapak lagi dengan cengiran kuda di wajahnya.
"Oh.. Iya maksudnya mau ke da da" Zayn kemudian beralih mengusap-usap da da nya.
"Eh.. saya Zayn pak. Apa benar ini dulunya kediaman ibu Lenny?" Tanya Zayn sopan. Sejak bertemu dengan Tasya, Zayn jadi terlihat lebih ramah pada semua orang. Tak seperti dulu yang selalu mematutkan wajahnya.
"Ibu Lenny?" Ulang si bapak yang rupanya adalah ketua RT di daerah tersebut. Beruntung Zayn bisa langsung bertemu dengan Ketua RT tersebut dan bisa langsung bertanya tentang rumah itu.
Pak RT tampak mengernyit kan alis nya, tengah mengingat siapa pemilik rumah ini. Pak RT juga masih ragu dengan pemuda di depannya. Takutnya ada niat tak baik pada si pemilik rumah nantinya.
"Siapa kamu?" Tanya Pak RT, memastikan tujuan utama dari pemuda itu. Zayn yang paham maksud dari pertanyaan pak RT itu pun mengangguk dan tersenyum.
"Saya Zayn Pranata pak. 30 tahun lalu saya di titipkan pada kakak dari ibu Lenny di desa. Lusi namanya. 16 tahun kemudian suami ibu Lenny mencari keberadaan saya, tapi saya tak ada di tempat. Beliau lalu menitipkan saya sebuah foto dengan tulisan alamat rumah ini." Jelas Zayn singkat membuat Pak RT mengangguk faham.
"Jadi, saya datang ke sini untuk mencari beliau karena ada suatu urusan dengan ibu kandung saya" Tambah Zayn lagi tak lupa ia juga menyodorkan foto tersebut.
"Hm. Seingat bapak... Pemilik rumah ini sudah pindah sejak sepuluh tahun yang lalu. Tapi, setahu saya nama istri pemilik rumah ini Tina bukan Lenny, suaminya bernama tuan Robert mereka punya anak laki-laki bernama Aris" Tutur pak RT membuat Zayn terdiam.
Tina? Apa maksudnya ibunya itu sengaja menggunakan nama lain untuk bersosialisasi dengan warga sekitar? Bibi nya bilang terakhir bertemu dengan ibunya, sang ibu terlihat sangat tegang. Entah apa yang terjadi. Apa karena itu orang-orang memanggilnya Tina bukannya lenny? Tapi tuan Robert? Ia baru mendengar nama itu dan Aris? Jadi, ternyata dia punya adik tiri?.
"Apa bapak tahu kemana mereka tinggal?" Tanya Zayn penuh harap, namun harapannya harus pupus kala gelengan kepala dari pak RT menjadi jawabannya.
Zayn menghembuskan nafas nya pelan, kemudian ia segera meninggalkan tempat itu, tak lupa sebelumnya mengucapkan terimakasih pada pak RT.
Zayn melajukan kembali motornya, entah kemana ia akan pergi Zayn pun tak tahu. Ia masih bingung tak bisa menemukan titik terangnya.
"Kalau kaya gini caranya, kemana lagi gue harus pergi? Satu-satunya petunjuk hanya ada di alamat itu dan juga... Kalung?" Gumamnya dalam hati.
"Kalau ke rumah makan AB ngga mungkin kan lima belas tahun kemudian masih ada rekaman CCTV nya? Secara 3 bulan aja bisa otomatis ke hapus. Belum tentu juga gue dapat sesuatu yang penting selain wajah.. Jadi, gue rasa ke rumah makan AB bukan tujuan selanjutnya" Sambungnya masih dalam kondisi melamun .
"Jadi gue harus ke mana?" Dalam keadaan yang masih melamun Zayn tak sadar ada sebuah lubang di jalan yang ia lalui hingga akhirnya..
Brukkk...
Motor yang di kendarai Zayn hilang keseimbangan dan berakhir terjatuh di jalanan yang cukup sepi. Beruntung nya Zayn hanya mengalami luka ringan, dan hanya mengalami kecelakaan tunggal.
Berapa orang mulai berdatangan, mereka menanyakan kondisi Zayn begitu juga sebuah mobil yang berhenti untuk melihat keadaan Zayn.
Seorang wanita turun dari mobilnya dan berjalan dengan wajah yang khawatir dengan keadaan Zayn.
"Zayn.. Lo ngga apa-apa?" Tanya wanita itu yang tak lain adalah Cellin. Cellin tak sengaja melihat kerumunan orang-orang itu dan yang membuatnya terkejut adalah orang yang mengalami kecelakaan ternyata Zayn. Ia pun turun dan bergegas menghampiri pemuda itu.
Zayn yang merasa di panggil pun mendongakan wajahnya yang semula tertunduk untuk melihat luka di lututnya. Gesekan yang cukup kencang membuat celana panjang yang di pakainya sobek dan menggores lututnya.
"Cellin?" Ujar Zayn terkejut.
"Kebetulan kah atau apa? Lagi-lagi gue bertemu dengannya." Gumam Zayn dalam hati sambil terus manahan pandangan nya pada sosok wanita di depannya.
"Zayn.. Tunggu bentar, gue ada kotak P3K di mobil. Gue ambil dulu" Ucapnya dan tanpa menunggu jawaban dari Zayn, Cellin sudah lebih dulu pergi dari hadapannya.
"Ini asli atau palsu sebenarnya?. Jujur sejak kejadian kemarin gue ngerasa ada yang lain dari elo, Cell. Semoga dugaan gue salah" Gumamnya dalam hati sambil terus manahan pandangan nya pada Cellin yang sudah membuka pintu mobilnya.
"Kamu ngga apa-apa, dek?" Rupanya sedari tadi tidak hanya mereka berdua, ada beberapa bapak-bapak dan ibu-ibu yang memperhatikan interaksi antara Zayn dan juga Cellin.
"Saya ngga apa-apa pak, Bu. Terimakasih" Ujar Zayn tersenyum memberi keyakinan kalau dia tak apa-apa.
"Untung luka Lo ngga parah" gumam Cellin di sela-sela aktivitas nya membersihkan luka Zayn. Ia juga sebenarnya ingin memastikan kalau Zayn sebenarnya menyadari ulahnya kemarin atau tidak.
"Ya, terimakasih" Ujar Zayn sambil tersenyum. Cellin yang melihat itu pun ikut tersenyum. Dalam benaknya kini hanya ada dua kesimpulan.
Zayn masih memperlakukan nya seperti biasa itu artinya hanya ada dua kemungkinan. Yang pertama, Zayn sengaja bersikap biasa saja untuk mengorek informasi tentang kejadian sebenarnya atau memang dia tidak tahu apa-apa.
"Gue harus hati-hati." Gumamnya dalam hati.
"Lo kok ada di sini Cell?"
"Apa Lo lupa? ini kan jalan menuju kantor gue." Ujar Cellin dan hanya di tanggapi dengan ber oh ria oleh Zayn. Memang benar itu adalah jalan menuju kantor Cellin. Tapi, ini kan sudah tengah hari.
Sejak kejadian kemarin Zayn mulai waspada dengan Cellin. Apalagi kini ia punya hati yang harus di jaga. Interaksi antara dirinya dan perempuan harus di batasi, walau Tasya pun tak pernah mempermasalahkan tapi, Zayn tentu sadar itu.
"Sudah selesai, Lo mau kemana Zayn?" Tanya Cellin kemudian sambil merapihkan kembali kotak P3K nya. "Mobil Lo mana? Tumben pakai motor?" Sambungnya setelah melihat ke kanan dan kirinya.
"Makasih. Mobil gue lagi istirahat" Cellin mengangguk dan kini ia yang hanya mengucapkan kata "oh".
"Ya udah... Gue harus ke kantor. Lo mau mampir?" Ujar Cellin ramah tapi Zayn menolak dengan halus. Ia harus ke tujuan selanjutnya.. Yaitu toko perhiasan.
"Ngga deh, lain kali aja" Tolaknya dan Cellin pun mengangguk ia kemudian berbalik hendak meninggalkan Zayn. Tapi, saat Cellin berbalik tiba-tiba angin bertiup lumayan kencang, hingga membuat debu-debu jalan beterbangan dan tak sengaja mata Cellin pun kemasukan debu.
"Akhhh" Keluhnya pelan namun rupanya di sadari oleh Zayn. Ia pun beranjak dan menghampiri Cellin.
"Kenapa? Kelilipan?" Tanyanya saat sudah sejajar dengan Cellin.
"Iya" Ujar Cellin singkat sambil terus mengucek matanya hingga memerah.
"Jangan di gosok gitu, sini gue tiup" Ujar Zayn. Tanpa menunggu persetujuan dari Cellin, Zayn sudah memegang kedua pipi Cellin agar tidak bergerak saat dirinya mulai meniup mata Cellin yang kelilipan.
Fuuhhhhh.
Fuhhhh..
Deg...
Seketika tubuh Cellin menegang, jantungnya pun terasa berdetak lebih kencang saat Zayn meniup matanya. Tanpa sadar Cellin menegang ujung kaos Zayn. Rasanya ia ingin terus berada di di jarak sedekat ini dengan laki-laki ini.
Cekrek...
Cekrek...
Cekrek..
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
...---------------...
😁 Zayn, udah gosok gigi belum? tadi kan elo abis makan semur jengkol.. Bae-Bae nanti pingsan lu Cell.
🤔 kayaknya dari tiga hari yang lalu gue ngga gosok gigi deh..
🤢 Aaaa Zayn jorok!!! Langsung sesak nafas gue.. Butuh bunga ini buat ngilangin hawa-hawa jengkol...
🤣 Ayo man teman kasih Cellin bunga kasian nanti dia pingsan...
Holla hello Readers tercintah ❤️❤️❤️ jangan lupa lemparin Nucha jempol bunga sama kopinya ya..
Terimakasih yang udah mampir 🤗🤗
Happy reading all ❤️❤️❤️