
"Ehem.. Sebenarnya..." Tasya melirikkan bola matanya keatas tengah berfikir, kira-kira dari bagian mana ia akan cerita.
"Itu.."
"Ish.. Kamu dari tadi itu, ehem, Mulu... Cepetan dong. Kang mas mu ini udah ngga sabar. Pasti kuda Nil kalah kan. Dia mundur kan? Bagaimana pendapat orang tua mu tentang ku tentang hubungan kita?" Tanya Zayn tak sabar hingga membuat Tasya terkekeh lucu sekaligus gemas dengan tingkah Zayn yang cerewet seperti ini.
Ini lah sosok Atta yang ia cintai selama bertahun-tahun, ini lah sosok yang sanggup menguasai penuh hatinya. Berbeda dengan Zayn yang kaku dan dingin ia bahkan sampai tak mengenali pujaan hatinya itu. Tapi, apapun itu baik Zayn atau Atta sama-sama berkuasa penuh atas hatinya sekarang. Ini juga yang membuat Tasya sampai berani mengambil keputusan sulit bersama dengan keluarganya.
(Flashback on)
Suasana pagi menjelang siang di jalanan daerah Pangandaran ini masih terasa sejuk. Walau kini tanah kelahiran ku sudah banyak mengalami pembangunan, tapi hutan-hutan di pegunungan masih terjaga ke hijauannya. Udara segar terasa mengisi penuh paru-paru ku, rasanya aku ingin berlama-lama di sini.
Saat ini aku sedang di perjalanan pulang dengan membonceng motor yang di kendarai adikku, beruntungnya ia membawa kendaraan. Jadi, kami tak perlu repot-repot untuk mencari kendaraan lain agar bisa sampai di rumah.
Sejak beberapa hari yang lalu aku tak menghubungi orang tuaku. Sengaja untuk memberikan mereka kejutan atau justru aku yang akan terkejut nantinya. Entahlah, tapi mengingat kebiasaan nenek tua itu aku ragu. Apa di usia nya yang sudah bau tanah itu, nenekku masih menekuni pekerjaan haramnya?.
Aku sudah mengingatkan nya untuk meninggalkan bisnis itu, tapi nenek bilang "Live is money" Uang adalah kecintaan juga hidupnya. Ia bilang hanya bisnis itu yang membuatnya lebih cepat mendapatkan uang. parahnya, dia lebih sayang uang dari pada aku cucunya sendiri. Si*lnya aku bisa lulus kuliah pun karena uang panasnya.
"Woy, Sha!! Dari tadi diem aja Lo?" Suara Rizky terdengar sayup-sayup di telingaku, hilang terbawa angin. Aku malas sekali jika harus berbicara saat berkendara motor soalnya tidak akan kedengaran, jadi aku lebih memilih untuk diam.
"Woy!! Sha.. Tidur Lo ya?" Tanyanya lagi dan hanya ku pukul helmnya sebagai tanda jika aku tidak tidur. Karena pukulan ku pada helmnya itu, Rizky yang sedang mengendarai motor pun sedikit oleng. Beruntungnya kami tak sampai jatuh.
"Lo kalo mau mukul bilang-bilang kek! gue kaget tau ngga! Untung kita ngga jatuh"
"Berisik!!"
Rizky menaikan kecepatan laju motor nya membuatku hampir saja terjengkang ke belakang. Karena posisi nya sedang tidak berpegangan, aku tahu ia pasti sedang balas dendam.
Beberapa saat kemudian akhirnya kami sampai di pekarangan rumah nenek ku. Kami semua tinggal di sini. Begitu juga dengan Rizky dan keluarga nya. Tapi om dan Tante, orang tua Rizky sudah lama pindah ke kota untuk memulai bisnis mereka.
Kami yang hendak masuk menghentikan langkah kaki kami kala sebuah motor memasuki garasi. Aku kenal sekali dengan suara motor ini. Tanpa di suruh aku segera berlari kembali ke garasi di mana laki-laki paruh baya, cinta pertama ku sedang memarkirkan Motornya. Ia belum menyadari kehadiran ku.
"Ayah!!" Aku berseru hingga membuatnya menoleh dan terkesiap sesaat dan senyuman lebar tergambar jelas di wajahnya. Ia menyambut ku dalam pelukannya. Pelukan yang selalu membuatku rindu.
"Akhirnya kamu sampai juga, Sya. Dasar gadis nakal suka sekali membuat orang tua cemas, apa pekerjaan mu terlalu banyak hingga membuatmu melupakan kami. Kamu tahu kan kami di sini sangat menghawatirkan mu?" Ujar ayah ku panjang lebar. Ah.. Rasanya rindu sekali dengan omelan nya itu.
"Kebanyakan pacaran makannya orang tua sendiri di lupain!" Tiba-tiba suara Rizky ikut menyambung memojokkan ku, dan lagi kenapa dia bahas masalah pacaran. Kalau sampai Ayah murka hanya karena tahu aku memilih berhubungan lebih dekat dengan Atta, bisa bahaya. Dasar Anak ini, lemes sekali mulutnya itu.
"Oh Ky, kamu juga ikut pulang?" Tanya ayahku yang baru menyadari kehadiran Rizky. Rizky mendekat dan mencium tangan ayahku.
"Apa kabar, paman?"
"Baik, kamu juga jarang sekali pulang. Kamu dan orang tua mu itu apa sudah lupa dengan jalan pulang?"
"Hehe kalau lupa Iky ngga mungkin ada di sini kan, paman?"
"Itu juga karena gue yang jadi maps Lo. Kalo ngga bakal nyasar tuh pasti ke rumah ujung sana kan! ngaku Lo?" Ujarku membercandainya. Rumah yang ku maksud adalah rumah seorang perempuan tua yang hidup sebatang kara. Mungkin nenek itu lebih tua usianya dari nenekku. Rizky yang mendapatkan ejekan dariku pun tanpa segan ia langsung menoyor kepalaku, hingga membuatku mencebikan bibir kesal ke arahnya. Suka sekali dia menoyor kepala ku.
"Sudah lah, ayo masuk. Ibumu sudah sejak pagi menunggumu" Ujar Ayah yang menengahi perdebatan kami.
Akhirnya kami bertiga sama-sama memasuki rumah dengan aku yang lebih dulu mengucapkan salam di susul ayah dan Rizky di belakang. Namun, langkah ku terhenti kala melihat sosok laki-laki yang katanya akan menjadi calon suami ku.
Kehadirannya di sini membuat ku merasakan perasaan yang kurang enak. Jangan-jangan dia sudah menceritakan tentang kedekatan ku dan juga Atta pada nenek. Tidak bisa di biarkan!
"Mamah...!!" Seruku berhambur ke pelukannya. Pelukan yang sama menenangkan dengan ayahku. Rumah tempat ku untuk kembali walau sejauh apapun aku pergi, kepadanya lah aku akan pulang.
Mamah menciumi wajahku berkali-kali hingga membuatku kesal. Aku yang sudah gadis masih saja di perlakukan layaknya anak umur lima tahun.
"Mah.. Tasya udah besar, malu!" Ujarku sembari menjauhkan wajahku dari wajah wanita yang melahirkan ku itu. Namun, saat tak sengaja aku menatap matanya setetes cairan bening keluar dari pelupuk matanya membuatku tertegun. Tanpa di perintah, tangan ku terulur untuk menghapus air matanya yang terus menetes semakin deras.
"Kenapa mamah nangis? Mamah ngga suka Tasya pulang?" Tanyaku membuat mamah langsung menghapus kasar air matanya dan menggeleng kan kepala dengan cepat.
Deg..
Ucapan ibu terasa menampar wajahku. Sejahat itu kah aku, hingga melukai wanita yang amat berjasa dalam hidupku? Tapi, untuk kembali rasanya berat sekali.
"Tau jadi anak kok bikin orang tua sedih kaya gitu. Durhaka tahu!" Lagi-lagi Rizky menghancurkan momen haru ku. Dia mengesalkan sekali tapi, aku tak bisa marah karena apa yang di ucapkannya adalah kebenaran.
Aku beralih menyalami tangan nenek yang juga sangat menyayangi ku, tapi itu dulu. Sekarang dia tak lebih dari seorang nenek tua yang tampak. Entahlah aku masih kesal pasal perjodohan itu.
Kini, kami semua duduk di ruang tamu membahas apa lagi jika bukan perjodohan.
"Niel, jujur aku sama sekali tidak tau menahu tentang perjodohan ini. Ku harap kamu bisa mengerti posisi ku. Akan lebih baik jika kita sama-sama menolak perjodohan ini, aku sama sekali tidak mencintai mu, Niel dan seperti nya tak akan bisa mencintaimu. Maafkan aku" Ujarku saat ayah menceritakan bagaimana perjodohan ini terjadi. Penolakan ku di tolak dengan tegas oleh ibunda Ratu rumah ini siapa lagi kalau bukan nenek tua mata duitan itu.
"Tidak bisa! Tidak ada alasan untuk kamu menolak perjodohan yang sudah terjadi puluhan tahun. Kalau anak sahabat nenekmu ini perempuan juga yang akan di jodohkan Rizky bukan kamu. Sayangnya, nasib baik malah menghampiri mu" Ujarnya membuatku jengah. Nasib baik katanya!
"Apa ini karena dia?" Daniel yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara. Daniel masih memanggil Atta dengan kata Dia, itu artinya Daniel sama sekali belum membahasnya. Baguslah, setidaknya aku ingin orang tua ku tahu dari mulut ku sendiri bukan dari orang lain.
"Kamu datang terlambat, Niel" Singkat ku membuat orang-orang di sini bingung kecuali Rizky. Jelas dia yang paling tahu perasaan ku seperti apa.
"Dia siapa?" Tanya semua orang hampir bersamaan.
"Atta!" Singkatku membuat nenek dan kedua orang tua ku tersentak dan sesaat kemudian
"TIDAK BISA!!" Sentak nenekku sambil melayangkan tatapan tajamnya padaku. Kemudian nenek mengalihkan pandangannya pada sosok Daneil yang menapakkan wajah sedihnya. "Nak Daniel!, apa kamu mencintai cucuku?" Daniel mengangguk lemah, entahlah kenapa aku merasa ini bukan Daniel yang ku kenal. Tidak bisanya ia terlihat lemah dan tak berdaya. Bukankah dia ini pria arogan?
"Sebaiknya kamu jauhi Atta, dia tak pantas untukmu!" Ujar nenekku lagi.
"Atas dasar apa nenek menilai Atta pantas atau tidak nya menjadi pendamping ku?"
"Karena Daniel jauh lebih baik dari dia! Dia membawa pengaruh buruk untukmu. Lihatlah! karena dia kamu jadi membangkang pada orang tua sendiri. Membuat ibumu menahan kerinduan yang dalam selama berbulan-bulan Tidakkah kau sadar, cinta mu itu melukai orang yang teramat mencintai mu".
Aku terdiam mendengar ucapan nenekku. Aku tahu aku telah melukai perasaan orang tua ku, tapi aku pun tak bisa menjalani hubungan yang di paksakan. Aku tak mau jika nantinya hanya saling menyakiti, aku tak yakin jika Daniel mencintaiku. Terlalu mustahil rasanya.
"Tasya tetap menolak, maaf Niel tapi aku benar-benar ngga bisa" Putusku akhirnya.
"Kamu memang keras kepala, Sya! Baiklah kalau begitu nenek beri waktu satu bulan bawa Atta mu itu kemari bersama orang tuanya. Orang tua kandungnya bukan walinya apalagi orang tua sewaan!" Ujar nenek pada akhirnya. Tapi, syarat ini terlalu berat dan singkat bagaimana bisa Atta menemukan orang tua kandungnya sedangkan dia sendiri tidak tahu wajah dan keberadaan mereka.
"Tapi, nek"
"Dengar! Dalam keluarga kita tidak ada sejarah keturunan kami menikah dengan orang yang asal usulnya pun tak jelas, apalagi tak punya apa-apa untuk di banggakan. Hanya karena nenek menyayangi mu, makannya nenek memberi mu waktu. Masih untung nenek tidak meminta di belikan tiga hektar perkebunan. Karena nenek yakin dia tidak akan mampu!"
"Jika dalam waktu satu bulan Atta belum juga bisa membawa orang tuanya ke rumah ini, Jagan harap kalian bisa bersatu!" Putus nenek akhirnya.
Satu persatu orang-orang mulai beranjak meninggalkan ku sendiri di ruang tamu. Bagiamana perasaan Atta saat tahu jika keluarga ku memberikan syarat seperti ini? Aku sangat tahu Atta sangat membenci orang tua kandungnya. Lalu tiba-tiba aku memintanya untuk mencari mereka? Sekarang apa yang harus ku lakukan?.
(Flashback off)
.
.
.
.
.
Bersambung...