I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 90



Hari ini entah kenapa Angel merasa rindu pada kakak sepupunya yang tak lain adalah Abidzard Akhriz Herold. Ayah Abi adalah kakak dari ibu Angel. Berhubung Angel dan Abi sama-sama anak tunggal jadi sejak kecil mereka memang begitu dekat. Hanya saja ketika kuliah Abi dan Angel harus berpisah karena memilih kuliah di negara yang berbeda.


Memang benar kini Angel bekerja di rumah sakit keluarga Herold, tapi Abi sangat jarang berkunjung. Jadi otomatis mereka jarang bertemu, belum lagi kesibukan masing-masing membuat Angel merasa rindu pada sosok Abi.


Jadi setelah Angel selesai praktek, ia memutuskan untuk berkunjung ke apartemen Abi. Angel tiba di apartemen pukul lima sore, karena bosan menunggu Angel memutuskan untuk menonton drama korea favoritnya di temani berbagai cemilan yang ia beli di supermarket lantai bawah.


Karena begitu asik, Angel sampai lupa waktu dan tak menyadari kehadiran Abi.


"Ya abang lah!" sahut Angel dengan entengnya saat Abi menanyakan siapa yang akan membereskan sampah bekas cemilannya.


"Enak aja! Kan kamu yang berantakin, kenapa jadi abang?" tanya Abi sewot.


"Aku kan di sini tamu. Tamu adalah raja jadi abang sebagai tuan rumah harus melayani tamunya dengan baik." sahut Angel lagi masih dengan nada yang santai.


"Ngga bisa! Beresin sekarang juga atau abang seret kamu keluar!" Tukas Abi tak terbantahkan.


Mau tak mau Angel pun menuruti apa yang di perintahkan oleh Abi atau dia benar-benar akan di seret keluar. "Ah elah, punya abang atu sama sekali ngga ngertiin adeknya. nyebelin banget!" gerutu Angel saat membuang sampahnya di tempat sampah yang ada di dapur. Sedangkan Abi tengah membersihkan badannya yang terasa lengket.


Angel kemudian duduk di ruang makan, ia menunggu Abi selesai mandi. Sambil menunggu Angel memainkan ponselnya. Ada satu pesan yang membuat ia merasakan perasaan yang aneh.


"Udah selesai?"


"gue dah sampe rumah!"


"Lo kalo pulang jangan lupa hati-hati,"


"Besok lo ada waktu? temenin gue jalan, mau ngga?"


Itu adalah pesan dari satu kontak yang entah kenapa membuat Angel tersenyum-senyum sendiri. Dia bahkan sudah membaca pesan itu berkali-kali tapi tetap saja jantungnya berdetak tak karuan saat nama si pengirim di sebutkan.


Rasanya aneh, padahal dulu dia begitu mengutuk pemuda ini tapi sekarang dia ingin selalu melihat si pemuda.


Begitu asik dengan lamunannya, Angel tak menyadari Abi yang sudah berada di belakangnya ikut membaca pesan-pesan itu. Abi tersenyum menyadari adiknya ternyata sudah besar.


"Rizky, siapa dia?" tanya Abi membuat Angel tersentak. Buru-buru gadis itu memasukan ponselnya ke saku bajunya dan menatap Abi dengan canggung.


"Ekhem.. kebiasaan! Ngagetin aja, hobi banget sih bikin aku jantungan!." gerutu Angel namun tak di gubris oleh Abi, ia justru lebih tertarik dengan sosok seorang pemuda yang sudah membuat adiknya senyum-senyum sendiri.


"Siapa Rizky? Pacar kamu ya?" godanya membuat Angel salah tingkah, jangan lupakan pipinya yang merona membuat Abi semakin semangat menggoda adiknya.


"Iya kan? muka mu merah gitu, dek? cie.. Yang udah punya cowok." ujar Abi lagi dengan senyuman jahilnya.


"apa sih, bang. Kepo deh! ngga usah ikut campur! Mendingan sekarang buatin aku makan, aku laper nih. Masa tamu di biarin kelaparan gini sih?" ujar Angel dan Abi pun melakukan apa yang adiknya itu inginkan.


Beberapa menit kemudian hidangan makan malam sudah tertata rapih di meja makan. Aroma dari masakan Abi membuat siapa saja yang menciumnya pasti merasa lapar. Abi memang lebih suka masak sendiri, karena itu ia memilih tinggal sendirian di apartemen dari pada di mansion orang tuanya. Meski ia laki-laki tapi Abi mempunyai hobi memasak. Maka tak heran jika masakan Abi tak kalah enak dengan buatan Chef di restoran berbintang.


"Silahkan di makan tuan putri!" guraunya pada sang adik. Tentu saja hal itu di sambut dengan baik oleh Angel. Mereka pun menikmati makan malam dengan begitu lahap karena baik Angel atau Abi sama-sama sedang kelaparan.


Selesai makan, mereka lanjut mengobrol "Jadi, sejak kapan kamu berhubungan dengan si Rizky Rizky itu?" tanya Abi lagi karena masih penasaran.


"Udah di bilang dia itu bukan siapa-siapa aku! Kenapa ngga percayaan banget sih!" gerutu Angel.


"Stop!!" Sergah Angel yang merasa pusing mendapatkan begitu banyak pertanyaan dari Abi.


"Dia bukan siapa-siapa!" ujar Angel dan pergi begitu saja menuju kamar tamu menghindari pertanyaan lainnya dari Abi atau dia akan benar-benar mengaku pada Abi kalau ia memang jatuh cinta dengan Rizky.


"Jatuh cinta? Gue? Astaga! Kenapa harus dia?" gerutu Angel saat sudah merebahkan dirinya di atas kasur. Ia harus tidur lebih awal karena besok ia akan jogging bersama Rizky.


"Gue bahkan mengiyakan ajakannya tanpa pikir panjang!"


***


Di tempat lain seorang laki-laki tampak tergesa-gesa menuju ke sebuah ruangan. Di tangannya ia membawa sebuah notebook yang tak pernah ketinggalan. Seorang laki-laki bermata sipit dengan rambut belah tengah itu sampai pada sebuah ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, ia menerobos masuk begiti saja.


Seorang laki-laki yang tengah duduk di meja kerjanya itu menatap pemuda sipit dengan alis yang bertaut, merasa heran dengan laki-laki di depannya yang denga lancang masuk ke ruangannya.


"Tuan!! Tuan.. Reyvan.." ujarnya sambil terengah. Mendengar nama Reyvan pemuda yang bernama Rizla Sadewa Febrianto -tertulis di papan nama yang ada mejanya- itu tersentak.


"Apa maksudmu? kamu sudah mendapatkan informasi tentang Reyvan?!" sergah Rizla -begitu orang-orang memanggilnya- tak sabar.


"Menurut informasi, Tuan Reyvan baru saja menarik sejumlah uang menggunakan balckcard-nya, tuan." ujar pemuda bermata sipit itu melaporkan temuannya.


"Benarkah? Dimana dia melakukan transaksi itu?" Tanya Rizla antusias.


"Tadi malam.. Di HR hospital." Tukas pria sipit itu lagi kali ini benar-benar membuat Rizla kaget. Ia bahkan sampai berdiri dari duduknya.


"Apa! Kenapa dia di sana? Apa terjadi sesuatu dengannya?" Tanya Rizla panik.


"Masih kami selidiki, tuan. Segera saya akan mendapatkan titik pasti keberadaan tuan Reyvan hari ini, tuan!" tukas laki-laki bermata sipit itu.


"Pastikan ucapan mu itu benar kali ini, Jer. Reyvan sudah terlalu lama bersenang-senang, saatnya dia kembali ke tempat seharusnya dia berada." Tukas Rizla dan kembali menjatuhkan badananya di kursi kebesarannya. Pria bermata sipit itu pamit usai mendapatkan perintah dati atasannya.


"Mau sampai kapan lo sembunyi kayak gini terus, Van? Astaga! Gue pusing ngurusin fans fanatik lo yang seabreg itu!" Keluh Rizla memandangi foto yang ada di mejanya.


"Cepet balik, Reyvan Nakula Febrianto!"


.


.


.


.


.


Bersambung...


...----------------...