I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 114



"RIZKY RAHARDIAN PRATAMA!!!" pekik Angel dati sebrang telfon sana.


Mendengar pekikan yang menyakiti telinganya, sontak saja Rizky langsung menjauhkan ponsel dari telinganya, ia bahkan mengusap telinganya yang berdengung. Kekasih Rizky itu memang lain dari yang lain, sikap wanita itu sangat bar-bar, tapi itu lah yang membuat Rizky jatuh cinta sejak pertama kali mereka bertemu di jalan waktu itu.


"Sayangku, maaf. Aku tidak sempat mengangkat panggilanmu karena sejak tadi, aku-"


"Aku apa, hah!" sergah Angel menyela ucapan Rizky. Rupanya Angel benar-benar kesal karena seharian Rizky mengabaikannya.


"Maaf, sayang.. Aku baru saja pulang dari Bandung. Nenekku terkena seragan jantung ringan-"


"Hah! Apa?! Gimana? Nenekmu masuk rumah sakit? Tapi nggak apa-apa kan? Bagaimana keadaannya sekarang? Kenapa kamu baru mengabariku sekarang? Aku bisa langsung datang ke sana!" lagi-lagi Angel menyela ucapan Rizky dan malah menodongnya dengan rentetan pertanyaan yang begitu banyak.


Rizky hanya bisa menghela nafas pelan sambil mengelus dadanya, sabar! Lihatlah wanitanya, belum ada lima menit dia tadi bersungut-sungut sekarang berubah menjadi sangat cerewet. Wanita memang unik dan Rizky menyukainya.


"Sabar! Untung gue cinta, kalo orang lain udah gue suntik pingsan nih orang!" gerutu Rizky yang pastinya hanya bisa ia ucapkan dalam hati karena bisa bahaya jika Angel mendengar keluhannya itu.


"Sayang!" Seru Angel lagi karena Rizky malah melamun dan mengacuhkanya lagi.


"Eh.. Iya sayang, nenek nggak apa-apa kok, tapi sekarang nenek belum sadar," jelas Rizky.


"Loh, kalau belum sadar kenapa kamu malah pulang?" Tanya Angel heran.


"Aku kangen sama kamu, soalnya," mendengar hal itu pipi Angel merona. Utung saja Rizky tak melihatnya.


"Gombal!" ketusnya setelah berhasil menetralkan debaran jantungnya.


"Aku serius, sayang. Rasanya tiada hari tanpa memikirkan mu. Besok sebelum ke rumah sakit jangan lupa mampir ke kostan, ya?"


"Mau ngapain? jangan macam-macam ya, Ky! aku selalu bawa pisau loh!" ujar Angel penuh Waspada. meskipun tak bisa dipungkiri pipinya kini sudah merona, padahal Rizki hanya mengatakan hal simpel seperti itu tapi dampak ke jantungnya tidak main-main.


"Apa sih, sayang! aku nggak macam-macam kok. Datang ya besok aku tunggu loh,"


"Hmm.. Baiklah, akan aku usahakan,"


Dan mereka pun melanjutkan obrolannya kesana kemari hingga tanpa terasa mereka terlelap dengan sambungan telepon yang masih terhubung. Ya begitulah cara pasangan itu untuk melepaskan rindu. Karena terkadang meski mereka satu rumah sakit, tapi kesibukan masing-masing membuat mereka jarang bertemu. Jadi tak heran mereka sangat menjaga komunikasi agar hubungan mereka tetap baik-baik saja.


Tak terasa matahari telah menyapa dan membangunkan setiap makhluk hidup untuk kembali memulai hari. Tasya yang masih bergelung dengan selimut pun perlahan mengerjapkan matanya, saat aroma harum yang membuat perutnya keroncongan menyapa indra penciuman.


Ia mengucek matanya dengan lembut, kemudian keluar dari kamar dan menuju dapur. Di sana dia melihat Rizky sudah sibuk di depan kompor dan mengenakan Apron berwarna biru. Ketampanan pria itu bertambah berkali-kali lipat saat berhadapan dengan berbagai jenis bahan makanan. Pemuda itu tampak tak menyadari kehadiran Tasya, ia sangat serius membuat sarapan untuk dua wanita yang paling Rizky sayangi, siapa lagi jika bukan Tasya dan Angel.


"Hmmm... Harum banget!" seru Tasya tepat di belakang Rizky hingga membuat pemuda itu tersentak.


"Astaga.. Tasya! lo bisa nggak sih jangan ngagetin gitu!" keluhnya sambil mengelus dada yang merasa bergetar karena merasa terkejut.


Tasya mengerjapkan matanya. "Apa sih! gue kan lagi muji. Nggak usah sewot juga kali!" sahut Tasya Ketus sambil menyomot brokoli yang sudah direbus oleh Rizki sebelumnya dan memakannya.


"Cuci muka dulu, Sya!!"


"Ya.. Ya.. Ya.. bawel!" Tasya melenggang pergi memasuki kamar mandi yang tepat berada di samping dapur. Rizky menggelengkan kepalanya melihat tingkah Tasya yang ternyata tak berubah, masih sama, jorok!.


Bertepatan dengan itu pintu kostannya diketuk seseorang, Rizky pun bergegas membukakan pintu dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Dia yakin jika yang datang adalah Angel.


"Saya.. Ng-" ucapan Rizky melemah saat ia melihat yang mengetuk pintu kosannya pagi-pagi ternyata bukan Angel.


Zayn tak ingin kehilangan jejak Tasya lagi, ia pun mendatangi tempat tinggal Rizky pagi-pagi sekali bahkan ia belum berganti baju sejak kemarin. Dan jangan lupakan wajahnya yang tampak kusut tak terurus. Rambut halus di sekitar janggut dan atas bibirnya mulai tumbuh lebat menghiasi wajahnya.


Zayn ingin memastikan apa Tasya memang ada di sana atau tidak. Jika pun tidak, maka ia akan memaksa Rizky memberitahukannya dimana Tasya bagaimanapun caranya. Ia sangat merindukan wanita itu, apalagi Tasya hari ini tak jadi menikah dengan Daniel, dan yang paling membuatnya bahagia hingga tak sabar untuk bertemu Tasya adalah fakta bahwa Tasya sedang mengandung dan ia sangat yakin 100% jika itu adalah anaknya.


"Di mana Tasya?" tanyanya to the point.


Rizky mendecakkan lidahnya mendengar pertanyaan Zayn. Sudah ia duga pasti pemuda itu akan bertanya hal ini, Tasya saja yang berpikir aneh-aneh dan sangat tak penting.


"Mau ngapain lo? setelah apa yang lo lakukan ke dia, apa menurut lo, gue masih mau nerima lo kayak dulu?" tanya Rizky ketus sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Zayn dengan tajam.


"Iya aku akui aku memang salah, tapi apa nggak ada kata maaf untukku? Aku tak akan membuat pembelaan, tapi aku mohon izinkan aku untuk bertemu dengan Tasya dan mempertanggungjawabkan kesalahan ku kepadanya. Aku mohon!" pinta Zayn memelas berharap Rizki merasa iba padanya.


"Tidak bisa! Tasya nggak ada di sini. Silakan cari di tempat lain!" Rizky sebenarnya tak sungguh-sungguh marah, tapi sedikit menguji keseriusan dan rasa bersalah pemuda di depannya, tak masalah kan?


Jika mengikuti egonya, ingin sekali Rizky mematahkan batang hidung Zayn. Tapi ia juga tak bisa menyalahkan pemuda itu sepenuhnya, jika saja dia tak mempercayakan mereka tinggal satu atap semua ini tak akan terjadi. Jadi sebenarnya ia pun merasa bersalah.


"Ayolah, Ky. Aku tahu dia ada di sini. Kemarin, aku dari Bandung dan Tasya tidak ada di sana. Please... bantu aku, aku sangat menyesal dan ingin memperbaiki semuanya. Aku mohon!"


Di dapur, Tasya yang tak melihat keberadaan Rizky pun terlihat mengrenyitkan dahi dan mengedarkan pandangannya menyapu setiap sudut dapur tersebut. Ia bahkan melihat di bawah meja kompor, siapa tahu kan dia ada di sana. Tapi, yang di cari tak juga terlihat.


Samar-samar ia mendengar suara sepupunya sedang berbicara dengan seseorang entah siapa, tak terlalu jelas terdengar di telinganya.


Tiba-tiba Tasya merasakan perasaan yang aneh. Suhu tubuhnya meningkat seiring dengan debaran jantung yang menggila. Ia meraskan panas pada tubuhnya tapi telapak tangan dan telapak kakinya terasa dingin seperti hendak demam. Ia juga merasakan mulas di dasar perutnya, tapi ia tak ingin buang air.


Tangan kiri Tasya berpegangan pada meja makan dan tangan kanannya mencengkram dadanya dengan kuat. Karena ia merasa debaran jantungnya begitu kencang hingga membuat dadanya bergetar, Tasya takut jantungnya akan melompat keluar. Entah perasaan macam apa ini, dia merasa kegugupan atau kecemasan? Tasya tak faham.


Jika di ingat-ingat lagi, ia tak memakan sesuatu yang aneh. Semalam ia makan nasi goreng dan pagi ini ia hanya memakan brokoli. Apa iya dia keracunan sayur tersebut? Rasanya tidak mungkin.


Tasya pun memutuskan menyusul Rizky untuk menanyakan hal tersebut. Ia takut jantungnya sedang tak baik-baik saja, tapi begitu Tasya sampai di ruang tamu..


Deg!!


Tubuhnya mematung saat ia melihat sosok yang sangat dia rindukan..


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...