I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 75



Malam akhirnya menyapa setelah seharian bekerja, kini waktunya orang-orang untuk beristirahat. Begitu juga yang ingin di lakukan oleh Tasya, tapi gadis itu mengingat janji yang di buatnya tadi pagi bersama dengan Zayn.


Walau dengan perasaan yang masih jengkel, Tasya berusaha untuk menpati janjinya. Dan di sinilah ia berada, di sebuah taman yang terdapat sebuah danau buatan, tempat dulu dirinya dan Zayn pernah kunjungi.


Tasya begitu terkejut saat kakinya semakin mendekati tepian danau, tempat dimana ia dan Zayn menatap bintang waktu itu. Kini, taman yang tadinya gelap seketika berubah dengan suasana yang lebih syahdu. Sebab, taman itu kini sudah di hias sedemikian rupa oleh Zayn.


Ada lampu-lampu yang berwaran-warni mengelilingi tempat mereka kini berdiri, lilin-lilin kecil yang terlihat bergoyang-goyang karena di tiup angin malam tersebar di atas rumput. Ada juga banyak kelopak mawar yang di bentuk menjadi sebuah hati di atas rumput hijau. Jangan lupakan Zayn yang sudah berdiri di tengah-tengah hati tersebut dengan sebuket mawar di tangan kanannya.


Hal pertama yang Zayn lakukan untuk sang kekasih, hingga membuat Tasya terperangah tak percaya. Kekasihnya yang di kenalnya sangat kaku itu ternyata punya sisi romantis.


"Atta.. Kamu,??" Tasya tak bisa lagi berkata-kata, yang bisa ia lakukan hanya melangkah mendekati Zayn yang masih tersenyum begitu manis melihat reaksi Tasya yang tengah terkejut.


Bukan tanpa sebab Zayn bersusah-susah menciptakan malam yang romantis itu. Selain karena ia ingin membuat Tasya terkesan, Zayn pun ingin meminta maaf karena sudah berbohong padanya. Zayn merasa sangat menyesal untuk hal itu.


"Apa kau suka, sayang?" Tanya Zayn saat Tasya sudah berada di depannya. Ia meraih tangan Tasya dan mengenggamnya dengan lembut tak lupa ia pun memberikan Tasya senyuman termanisnya hingga membuat gadis itu tersipu.


"Apa ini untukku?" Tasya menunjuk buket bunga yang sedari tadi di pegang oleh Zayn tanpa menjawab pertanyaan pemuda itu terlebih dahulu.


"Iya... Ini semua ku lakukan hanya untuk mu seorang." Zayn tersenyum dan menyodorkan buket itu ke depan Tasya.


"Aku.. Aku ingin meminta maaf padamu, Sya. Aku tak bermakud untuk membohongimu kemarin. Hanya saja di antara kami tak terjadi apa-apa, maka ku pikir kamu tak perlu tahu mengingat kamu tak menyukainya. Jadi, aku sengaja berbohong agar kamu tak marah dan salah faham padaku." Tutur Zayn dengan wajah yang tertunduk sedangkan Tasya di buat bingung karena belum mengerti arah pembicaraan Zayn. Ia masih diam saja dan setia menunggu Zayn menyelesaikan kata-katanya.


"Tapi, pagi ini aku tak sengaja melihat isi dalam amplop coklat di laci meja kerjamu. Aku sadar rupanya kebohongan ku sama sekali tak berguna. Dan aku bersumpah.. Foto itu tak seperti yang terlihat, Sya. Aku sama sekali tak melakukan apa-apa padanya." jelas Zayn panjang lebar tapi Tasya sama sekali tak bergeming. Ia masih terus mencerna apa yang Zayn katakan.


"Maafkan aku sayang.. sungguh aku menyesal telah berbohong padamu." Sambung Zayn dan Tasya masih menujukan reaksi yang sama hingga membuat Zayn di rundung gelisah. Bagaiamana jikaTasya tak mau memaafkannya? Tapi, detik selanjutnya kekhawatiran nya itu tak berarti ketika Tasya menyemburkan tawanya.


"Aduh... Sayangku. Kamu lucu banget sih?" Ujar Tasya yang kini sudah mencubit gemas pipi Zayn hingga membuat Zayn meringis merasakan sedikit sakit. Tapi, ia juga bingung apa ucapannya ada yang lucu?


"Jadi, kamu nyiapin ini semua itu untuk meminta maaf padaku?" Tanya Tasya dan di balas anggukan kepala oleh Zayn. "Jujur sih aku kecewa. Tapi.. Apa kamu tahu Zayn? kepercayaan ku itu lebih besar dari pada rasa kecewa aku. Jadi, kalau cuma masalah sepele seperti ini.. ngga akan merubah cinta aku ke kamu. Aku tahu di sini.." Tasya berjalan satu langkah mendekati Zayn dan menyentuh da da Zayn dengan telunjuknya kemudian menatap manik mata pemuda itu yang sedari tadi hanya diam membisu. "Di sini.. hanya ada namaku dan selamanya akan seperti itu. Aku benar kan?Jadi ku mohon jangan rusak keperyaan yang sudah ku berikan untukmu." Tukas Tasya mantap tanpa keraguan sedikit pun hingga senyum merekah terbit di bibir Zayn.


"I really love you, Honey. Forever... will never change this feeling for you." Tutur Zayn bahagia. Ia menarik pinggang Tasya hingga kini keduanya berada dia jarak yang begitu dekat. Tangan kanan Zayn terulur untuk mengelus pipi mulus milik Tasya. Manik matanya menatap dalam manik mata Tasya mencoba menyelami lebih dalam lagi perasaan yang begitu besar dari keduanya.


Deg..


Deg...


Deg..


Debaran jantung keduanya terasa begitu indah, hingga mereka tak rela jika rasa ini berlalu begitu saja. Masih dalam posisi yang teramat intim. Kedunya memejamkan mata, merasakan deru nafas yang menerpa kulit wajah mereka.


Tangan Zayn yang semula mengelus pipi Tasya, kini sudah beralih memegang tengkuk Tasya. Tanpa di di sadari wajah mereka kini mulai mendekat dan..


Tuk..


Zayn menautkan dahinya pelan ke dahi Tasya. Senyumnya terukir indah tak pernah surut dari bi birnya, apalagi saat ia meraskan jika saat ini Tasya tengah menahan nafasnya.


"Terimakasih, sayang. Aku berjanji.. Aku akan menjaga kepercayaan mu dan tidak akan mengecewakan mu lagi.. Aku pun berjanji.. Aku pasti akan membahagikan dirimu setiap hari" Tutur Zayn pelan dan dengan jarak yang sedekat itu tentu membuat Tasya mejadi gugup. Ia pun mendorong pelan bahu Zayn hingga pemuda itu kini sedikit berjarak dari Tasya, ia pun melepaskan rengkuhan tangannya di pinggang Tasya.


Zayn tersenyum melihat pipi Tasya yang saat ini sudah memerah seperti buah tomat. Lagi tanpa di aba-aba tangan Zayn terulur menyentuh dan mengusap pelan bi bir ranum milik Tasya dengan jari jempolnya. Perlakuan Zayn yang tiba-tiba itu sontak saja membuat Tasya mematung.


"Sebenarnya aku ingin sekali merasakan ini.. Tapi, aku tak ingin kita melakukannya saat dirimu dan diriku belum mendapatkan lebel halal. Karena, aku takut saat aku sudah menyentuhnya.. Aku tak akan lagi bisa berhenti..." Tutur Zayn membuat Tasya salah tingkah. Pipinya kembali merona dan itu sangat Zayn sukai. Tasya kemudian merebut buket bunga yang sedari Zayn pegang.


"Tentu saja tidak! Ayo kita ke sebelah sana" Ajak Zayn menunjuk sebuah tikar yang sudah ia siapkan lengkap dengan berbagai makanan yang masih tertutup rapat di dalam wadah.


"Wah... Ini kamu yang masak atau kamu pesan?" Tanya Tasya saat Zayn sudah membuka semua wadah-wadah itu.


"Tentu saja aku yang masak. Khusus untukmu aku berikan bumbu sepesial" Tutur Zayn sambil menyodorkan satu kotak makanan pada Tasya tak lupa ia juga memberikan Tasya minum. Hari ini Zayn ingin melayani Tasya sebaik mungkin.


"Terimakasih" Ucap Tasya saat menerima makanan tersebut. "Bumbu sepesial cinta kah?" Sambungnya.


"Ya tentu saja!"


Mereka pun menikmati makanan yang di masak langsung oleh Zayn. Walau tak terlalu enak tapi lumayan masih bisa di terima.


Saat keduanya masih asik menikmati makan malam mereka, dari arah yang tidak di sangka-sangka seorang wanita yang masih mengenakan stelan kerja datang menghampiri mereka, lebih tepatnya menghampiri Zayn.


"Zayn.. Lo di sini?" Sapa wanita itu membuat keduanya menghentikan acara makan malam mereka dan memperhatikan wanita itu.


"Celin?" Gumam Zayn pelan. Ia terlihat panik saat melihat keberadan wanita itu yang tak lain adalah Celin. Ia takut jika Tasya akan salah faham nantinya. Zayn kemudian memperhatikan ekspresi yang di tunjukan oleh Tasya tapi kekasihnya itu hanya mentap datar sosok Celin tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dan anehnya Tasya justru melanjutkan makannya tanpa peduli dengan kehadiran cellin.


"Gue tadi liat lo dari sana. Tapi karena masih ragu itu lo apa bukan jadi gue ngga langsung nyapa" Jelas Cellin padahal tak ada yang bertanya bahkan celin tanpa permisi langsung duduk di samping Zayn.


"Wah gue denger tadi ini lo yang masak? Boleh gue cobain?" Tanyanya lagi dan tanpa menunggu persetujuan Zayn, Cellin sudah meraih kotak makan tersebut. Namun belum sempat Celin membuka benda itu, tangan Tasya lebih dulu menahan kotak tersebut membuat Zayn panik takut jika kekasihnya akan marah. Sedangkan Celin menatap Tasya tak suka.


"Kali ini apa lo juga di rampok? Di begal? atau di copet?" Tanya Tasya tenang. Ia merasa aneh kenapa lagi-lagi ada winta ini, dan lebih aneh lagi di tempat seperti ini hanya sendirian pula. Jika itu siang hari mungkin masih wajar, tapi sekarang sudah menunjukan pukul sembilan malam. Terlalu larut untuk seorang gadis berkeliaran di tempat sepi seperti ini sendirian.


"Tidak! gue hanya kebetualan lewat!!" Tukasnya ketus dan hanya di balas anggukkan kepala dari Tasya. Sedangkan Zayn masih terlihat diam menunggu apa yang selanjutnya akan Tasya katakan.


"Oh!" Jawaban singkat Tasya membuat Zayn dan juga Celin heran apalagi saat melihat Tasya melanjutkan makannya.


"Kebetulan lewat? Ck! lo pikir gue ngga tau? Baiklah dengan adanya lo di sini.. Itu semakin membuat gue yakin kalau sebenarnya memang ada serigala berbulu embe di sekitar gue dan gue yakin kalau orang itu adalah elo... Adisty Nahrendra" Gumam Tasya dalam hati.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


...----------------...


Holla hello readers tercintah..❤❤❤ Jangan lupa lemparin Nucha jempol sama giftnya yah.. Terimkasih yang sudah mampir dan mengikuti kisah Tasya samapai di sini.. Lophe you All 🤗❤❤


Happy reading...