
Abi beralih ke kamar rawat Tasya, ia melihat wanita yang sudah lancang masuk ke dalam hatinya dan mengisi penuh seluruh ruang di sana yang memang kosong itu. Wanita yang selalu membuatnya kesal dengan tingkah konyolnya namun membuatnya rindu. Wanita yang ia kenal kuat, kini sedang terbaring lemah di ranjang pasien. Hatinya sakit melihat wanita yang dia cintai terbaring tak berdaya di sana. Lebih sakit lagi karena Abi yang tak bisa melindungi Zayn hingga membuat hati wanita itu pun merasakan kesakitan seperti dirinya.
Abi berjalan gontai mendekati wajah pucat Tasya yang masih setia terlelap. Ia ingin menggenggam tangan lentik Tasya, namun urung ia lakukan karena Abi tak punya hak apapun pada gadis itu.
Meski begitu, Abi cukup senang hanya dengan melihat Tasya dari dekat. Ia pun tak canggung karena di sana hanya ada mereka berdua, sedangkan ibu Tasya sedang berada di kamar rawat suami, keponakan dan juga adik iparnya.
Ibu Tasya meminta bantuan Abi untuk melihat keadaan Tasya, karena takut anaknya akan terbangun saat ia tak ada di sana. Jadi di sanalah Abi berada sekarang.
“Aku bersumpah, tidak akan pernah melepaskan dalang di balik kejadian ini begitu saja! Akan ku buat mereka membayar berkali-kali lipat dengan apa yang sudah mereka lakukan padamu dan pada kakak.” Ucap Abi dalam hatinya. Ia bersungguh-sungguh untuk sumpahnya itu.
.
Tiga hari berlalu sejak hari itu, Daniel yang kini telah menjadi buronan polisi pun mulai panik, karena ia tak lagi mempunyai tempat persembunyian yang aman. Apalagi kini ia dan keluarganya tak bisa lagi membeli hukum seperti apa yang biasanya dia lakukan. Seluruh hartanya telah habis untuk membayar kerugian yang hotel-hotelnya tanggung.
Berkat bantuan Rayyan, Abi berhasil memporak porandakan sistem keuangan dan keamanan data dari seluruh hotel di semua cabang milik keluarga Wirasena. Tak hanya itu, rupanya Rayyan menemukan fakta jika ternyata selama ini di hotel tersebut telah melakukan perdagangan gadis di bawah umur. Dan parahnya, Daniel lah yang mendalangi semua pekerjaan gelap tersebut. Bahkan tak jarang ia pun menikmati beberapa gadis yang akan mereka jual tersebut. Tentu saja fakta ini memperkuat bukti untuk menjadikan keluarga Wirasena menjadi salah satu penghuni hotel prodeo.
“Brengsek kalian semua!” umpatnya di sebuah ruangan yang sangat minim cahaya dan juga sangat pengap.
Sebuah ruangan bawah tanah yang berada di bawah bangunan salah satu villa milik keluarganya. Memang bangunan tersebut sengaja di siapkan keluarga Wirasena untuk hal darurat seperti saat ini. Meski minim pencahayaan dan udara, di sana sudah di sediakan kamar tidur, makanan dan air bersih. Mirip hotel, bedanya ruangan tersebut gelap dan pengap.
“Kurang ajar, kau Abidzard! Kenapa kau tak ikut menjadi daging panggang di sana! Brengsek!” umpatnya lagi mengutuk Abi, karena Abi lah semua rencannaya gagal dan berakhir mengenaskan seperti sekarang.
Pranggg….
Daniel melemparkan gelas ke dinding, membuat gelas tersebut hancur berkeping-keping, dan itu adalah gelas ke 75 yang dia hancurkan selama 3 hari berada di sana.
“Apa yang harus ku lakukan sekarang? Aku bahkan tak bisa menghubungi orang luar! Sekali saja aku mengaktifkan ponsel ku, maka tamat sudah riwayatku!”
“Aku tak ingin berkhir seperti nasib orang tuaku. Tidak sebelum aku melihat dengan mata kepalaku sendiri orang-orang itu hancur sehancur-hancurnya hingga menjadi debu dan tak berguna!” geramnya sambil berjalan mondar mandir dengan gelisah.
Daniel sang Cassanova dan pria kaya raya itu kini terlihat kacau. Bahkan penampilnanya pun sangat jauh dengan dia yang biasanya. Bajunya acak-acakan pun dengan rambutnya yang sama sekali tak di urus. Wajahnya pun kini terlihat sangat suram. Namun, Daniel tak ingin mengaku kalah begitu saja pada Abi apalagi pada Zayn. Dendamnya masih membara dan justru semakin kuat berkobar saat melihat semua pencapaian dan keluarganya hancur hanya dalam satu waktu.
Di tengah kegelisahannya, Daniel mendengar suara gaduh dari salah satu sudut ruangan tersebut. Ia mengrenyit heran, karena di sana hanya dia seorang. Lalu bunyi apa yang dia dengar.
Sejenak Daniel terdiam memikirkan kemungkinan suara apa yang dia dengar. Ia semakin mengrenyit kala mendengar sebuah suara lain, suara itu..
Tap
Tap
Tap
Seperti sebuah suara derap langkah kaki, Daniel menyadari itu dan matanya terbelalak menatap awas pintu yang masih tertutup. Sialnya,dia terlambat menyadari hal tersebut. Ia terlambat menyadarai jika tempat persembunyiannya telah diketahui pihak kepolisian. Dan karena itu ia tak bisa bersembunyi apalagi lari. Dugannya semakin kuat saat knop pintu yang menghubungkan ruangannya dengan jalur masuk itu terlihat naik turun.
“Sial! Aku tak ingin menyerah begitu saja dan mati konyol di sini. Tapi.. satu lawan tiga, empat atau bahkan lebih orang di luar sana.. apa aku bisa?” gumam Daniel setengah putus asa. Ia tak punya pilihan lain selain menyerah atau mati. Karena jalan keluar hanya ada satu. Dan hal itu yang Daniel sesali.
“Sial! Harusnya mereka dulu membuat jalan keluar lebih dari dua!” rutuknya dan ia segera melompat mengambil dua senjata api yang ia siapkan di salah satu lemai yang ada di dalam ruangan tersebut.
Daniel bersembunyi di balik lemari pendingin dan bersiap menyambut tamu tak di undang. Tak lama kemudian pintu pun terbuka membuat lima orang yang berapakian serba hitam dan juga di lengkapi dengan alat pelindung diri itu masuk.
“Aku tidak ingin di tangkap dan membuat mereka tertawa atas penderitaanku. Maka aku akan melawan mereka dan menyeret mereka ikut menemui malaikat maut bersamaku. setidaknya jika aku mati aku tak ingin pergi sendiri!” gumam Daniel dalam hatinya dan ia pun mulai membidik salah satu polisi yang sedang menggeledah tempatnya.
Dor..
Dor..
Tembakan beruntun pun Daniel lesatkan ke arah mereka membuat beberapa anggota polisi tersebut segera menghindar dan bersembunyi di balik perabotan yang tak banyak itu.
Daniel terus menebak hingga pelurunya habis. Ia memaki kedua senjataya yang sama sekali tak bisa melukai salah satu anggota polisi tersebut. Mungkin Daniel lupa jika mereka memakai rompi anti peluru.
“Kurang ajar!” gerutunya dan..
Dorr…
Akhhhhhh
Terdengar jeritan kesakitan karena sebuah peluru akhirnya mampu membuat satu lawannya terluka lewat satu peluru terakhir. Meski tak serta merta membuat orang yang Daniel tembak mati, tapi ia harus puas dengan hanya membuat orang tersebut cidera.
Dorrr..
Lagi tembakan terdengar dan kali ini bukan dari senjata Daniel melainkan dari para polisi. Beberapa saat kemudian, setelah adegan tembak menembak..
Dorrr..
Satu peluru akhirnya bersarang tepat di dahi Daniel dan satu peluru lainnya bersarang tepat di jantung Daniel hingga membuatnya meninggal di tempat saat itu juga.
Kabar meninggalnya Daniel Wirasena Abraham sampai di telinga Abi. Ia kecewa karena Daniel pergi begitu saja tanpa sempat ia siksa. Setidaknya dia ingin mendengar jerit kesakitan dari orang yang dengan beraninya mengusik keluarganya.
“Apa yang di katakana para suteritu benar, Bi?” sebuah suara dengan yang lemah terdengar di samping Abi, membuatnya menglihkan atensinya yang sejak tadi tertuju pada Ponsel.
Abi melihat wajah sendu wanita yang masih menatap lurus pada sosok pemuda yang masih terbaring lemah dengan banyak alat yang tertempel di badan pria tersebut. Ia melihat prianya dengan penuh harap dari balik dinding yang terbuat dari kaca.
Sudah dua hari Tasya melakukan hal tersebut di damping oleh Abi. Abi tak pernah satu jam pun membiarkan Tasya sendirian, karena ibunya sedang sibuk mengurus semua anggota keluarganya yang terluka pasca bom bunuh diri tempo hari.
“Benarkah jika Daniel lah yang membuat hal mengerikan ini terjadi?” Tasya mengulangi pertanyaanya tanpa mengalihkan pandangannya dari sosok Zayn yang masih enggan untuk membuka matanya.
“Ya,” singkat Abi. “Tapi kini Daniel sudah berbeda alam dengan kita. Dia baru saja meninggal karena melawa saat hendak di tangkap.” Lanjutnya namun tak ada ekspresi yang di tunjukan oleh Tasya seolah dia tak mau tahu dengan nasib Daniel.
Tiba-tiba kedua bola mata Tasya terbelalak saat melihat Zayn yang kejang-kejang di dalam sana pun sama dengan Abi.
“Dokter! Dokter! tolong kakak saya!”
.
.
.
.
Bersambung…