
Zayn Pov
Hari berlalu begitu cepat tak terasa esok kami akan pergi ke pantai Batu Karas untuk acara di kantor. Aku tidak menyangka perusahaan akan memilih tempat itu, dan aku sudah menyiapkan beberapa rencana di sana nanti. Tentunya hanya untuk Sasyaku.
Aku memasukan beberapa lembar baju dan juga barang-barang lain yang ku butuhkan ke dalam koper berukuran kecil. Pukul sembilan malam aku sudah selesai dengan acara packing. Saatnya merebahkan diri di tempat tidur yang nyaman. Besok aku harus bangun pagi dan menjemput Sasya. Hal yang selalu ku lakukan beberapa hari ini.
Aku ingin kembali mendekatinya, tak ingin lagi kecolongan. Tak peduli ia sudah punya tunangan atau belum yang penting janur kuning belum melengkung di depan rumahnya, maka aku masih punya banyak kesempatan.
Beberapa hari belakangan ini, semakin seringnya kami bertemu membuat kami semakin dekat. Aku harap semua yang ku rencanakan nantinya akan berjalan dengan semestinya.
Aku melangkah ke kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi. Setelah di rasa bersih aku menuju tempat tidur dan menyandarkan punggungku pada sandaran tempat tidur. Ku buka ponsel yang sedari tadi sedang di charger.
"Sasya lagi apa, ya? Apa dia sudah tidur?" Gumamku sambil melihat foto profilnya di aplikasi chatting.
Ku ketik beberapa huruf namun sesaat kemudian kembali ku hapus. Berganti mengetik huruf yang lain, namun kembali ku hapus. Aku kebingungan untuk mengirimi nya pesan seperti apa. Aku takut mengganggunya. Bagaimana jika dia sudah tidur? Ku harap begitu.
Akhirnya kembali ku letakan ponsel di atas nakas samping tempat tidur. Bersiap untuk istirahat. Baru saja aku hendak menarik selimut untuk menutupi tubuh ku, terdengar suara ketukan di pintu di susul dengan suara lembut yang beberapa hari ini tak terdengar.
"Masuk aja, bi. Ngga Zayn kunci kok" Ya, yang mengetuk pintu adalah bibi. Ia sudah kembali dari rumah sakit kemarin, dan itu hal yang membahagiakan untuk kami. Pun Aldo sudah kembali dari Bandung satu hari saat bibi di rawat.
Pintu di buka dengan perlahan hingga terlihat sosok bibi yang sudah jauh lebih sehat. Ia berjalan mendekat ke tempat tidur di mana aku sedang duduk.
"Kamu sudah mau tidur, Zayn?" Tanyanya setelah duduk di pinggiran kasur.
"Belum, kenapa bi? bibi butuh sesuatu?"
"Tidak. Bibi hanya ingin mengatakan sesuatu padamu." Ujarnya dengan raut yang terlihat serius membuatku mengernyitkan dahi.
"Ini... em.." Ujarnya nampak ragu membuatku semakin bertanya-tanya.
"kenapa, bi? Bicara aja, ngga usah sungkan"
"Ini.. Ini soal ibumu" Pada akhirnya ia mampu mengutarakan maksudnya namun tetap saja ia masih ragu hingga kalimatnya masih menggantung dan aku belum bisa mengerti arah pembicaraannya.
"Ibu? Oh iya besok Zayn akan mampir sebelum pulang. Kebetulan acara Family gethring kali ini di adakan kantor di pantai Batu Karas. Zayn akan sempatkan untuk mengunjungi makam ibu" Ujar ku, namun raut wajah bibi masih datar seolah apa yang ku ucapkan bukanlah maksudnya.
"Zayn sekalian izin yah, bi. Besok sampai hari minggu Zayn ngga pulang. Karena acara nya besok" Tambahku dan hanya mendapatkan helaan nafas pelan dari bibi. Ia mengalihkan pandangannya ke arah dinding kamar setelah sebelumnya memandangiku.
"Bukan itu... Zayn... ini sudah 30 tahun bibi rasa Ibumu. Ibu kandungmu-"
"Ibu Zayn hanya ibu Lusi, bi. Baik dulu ataupun sekarang. Zayn mohon jangan bahas mereka. Zayn belum siap" Potongku cepat karena aku sudah tahu arah pembicaraannya. Membahas mereka benar-benar membuatku merasa tak nyaman. Ada sebuah rasa yang sulit ku jelaskan tiap kali aku memikirkan atau hanya menyebut namanya. Rasa yang membuatku bimbang dan gelisah.
"Tapi, Zayn..."
"Bi... Zayn mohon. Luka ini masih sangat menyakitkan, Zayn mohon jangan bahas mereka. Jika suatu hari nanti kami memang harus bertemu... biar Zayn sendiri yang mencarinya" Bibi menghela nafas lagi dan tak mendebatiku soal ini. Ia kemudian tersenyum seolah mengerti dengan keadaanku dan beranjak hendak meninggalkan kamarku. Namun, di balik senyuman itu Aku tahu ia kecewa tapi, mau bagaimana lagi aku jauh lebih kecewa pada sosok manusia yang harus ku panggil ayah dan ibu.
"Baiklah. Tapi, usahakan besok kamu mampir ke rumah almarhumah Mbak Lusi ya?" Pintanya sebelum benar-benar meninggalkanku dan ku jawab dengan anggukan kepala tak lupa senyuman yang tulus ku berikan untuknya.
.
.
.
Keesokan harinya....
Halaman kantor telah di penuhi oleh karyawan. Karena ini acara keluarga tentu mereka membawa serta keluarga mereka. Hanya aku yang tak pernah membawa serta keluarga dari tahun ke tahun. Aku tak pernah mau merepotkan bibi, paman, dan Aldo. Aku tahu mereka sangat sibuk apalagi, kemarin bibi baru saja keluar dari rumah sakit dan pasti ia butuh banyak istirahat.
Mesin bus bus pariwisata milik perusahaan sedang di panaskan. Perjalanan kali ini rasanya lebih menyenangkan dari pada tahun-tahun sebelumnya. Walau jarak yang kami tempuh pun begitu jauh. Biasanya perusahaan hanya akan menyewa tempat-tempat di sekitaran kota tak jauh dari perusahaan. Namun, untuk pertama kalinya... Kami berlibur ke tempat yang jauh.
Kami berjalan melewati beberapa kerumunan karyawan yang sedang merencanakan apa saja yang akan mereka lakukan di sana nantinya. Hingga langkah kami terhenti saat Sasya melihat dua orang yang waktu itu makan bersama kami. Ku rasa Sasya cukup dekat dengan mereka.
"Woy!!! Berduaan mulu!" Ucap Sasya pada dua orang yang tak ku ketahui namanya. Ia bahkan sampai merangkul leher keduanya. Tinggi badan Sasya yang memang lebih tinggi dari si wanita dan sejajar dengan si pria berkacamata memudahkannya melakukan hal seperti itu.
"Ck!! kebiasaan kalo nonggol tuh ngagetin mulu." Gerutu si wanita sambil berusaha melepaskan tangan Sasya dari lehernya.
"Dah mirip tuyul, tau ngga Lo?" Ucap si pria culun sambil membenarkan kacamata yang sama sekali tidak bergeser itu, tanpa berusaha melepaskan rangkulan tangan Sasya di lehernya, membuat dadaku seketika memanas.
Ku tarik paksa tangannya pada dua orang ini membuat tangan yang tadinya bertengger di leher orang-orang ini akhirnya terlepas. Sasya memandangi ku dengan raut bingung.
"Pagi, pak" Sapa mereka canggung, kala baru menyadari kehadiran ku. Posisiku berada di belakang tubuh Sasya tentu mereka tidak melihat keberadaanku. Aku hanya mengangguk untuk menjawab sapaan mereka.
"Kenapa, pak?" Tanya Sasya karena tangan ku masih menggenggam pergelangan tangannya.
"Ngga usah rangkul-rangkul bisa kan? Malu di liatin orang" Ujarku tanpa melepaskan genggaman tanganku padanya membuat perempuan dan laki-laki yang di sapa Sasya tadi tampak menahan tawa.
"Apa kalian senyum-senyum!!!" Tanya ku menyentak dan menatap tajam mereka hingga membuat dua orang yang ku sentak menundukkan kepalanya kompak.
"Apa sih, pak. Bapak ini yang bikin malu. Pagi-pagi udah marah-marah ngga jelas" Ujar Sasya tak kalah ketusnya hingga membuatku membulatkan mata ke arahnya karena tak percaya dengan apa yang baru saja ia ucapkan. Ku edarkan pandangan menatap beberapa karyawan tengah memperhatikan kami. Seketika itu juga aku tersadar dan melepaskannya genggam tanganku karena reflek.
Aku berdehem untuk mengusir rasa canggung karena telah menjadi pusat perhatian. Tak lama kemudian suasana yang tadinya ramai karena hingar bingar beberapa orang yang sedang mengobrol lantas terhenti karena sang pemilik perusahaan telah sampai.
Kami di barisan sesuai dengan pembagian kursi dan posisi bus yang akan kami naiki. Setelah semuanya telah rapih dan tertib, Tuan Abi selaku CEO perusahaan Herold Grup membuka pidato singkatnya yang isinya malas sekali ku dengarkan. Intinya ia mengajak kami untuk berdoa sebelum memulai perjalanan ia juga meminta agar kami tertib dan patuh dengan peraturan yang ada di tempat tujuan. Tak ketinggalan ia mengucapkan terimakasih pada karyawan yang telah bekerja keras selama satu tahun ini hingga perusahaan dapat melebihi target pendapatan.
Setelah pidato yang cukup membuatku mengantuk, akhirnya Tuan Abi meminta kami untuk menaiki bus masing-masing. Aku sunggu senang karena bisa satu bus dengan Sasya. Tapi, ia memilih duduk dengan teman wanitanya yang baru ku ketahui ternyata bernama Adisty. Tidak apa-apa lah setidaknya aku duduk di kursi yang sejajar dengannya.
Setelah berdoa perlahan bus yang kami naiki meninggalkan pekarangan kantor. Kami pergi di hari Jum'at pagi dan perkiraan akan sampai di sana saat hari sudah malam.
Beberapa karyawan ternyata ada yang membawa gitar, itu karena saat malam nanti kami akan mengadakan lomba menyanyi dengan hadiah yang lumayan. Tentunya di sponsori langsung oleh perusahaan.
Perjalanan kami nikmati sambil bernyanyi bersama. Riuh suara dari karyawan yang saling bernyanyi terdengar bersahut-sahutan seolah tengah mengadakan mini konser. Suaranya sungguh bising dan ku harap hal ini tak menganggu konsentrasi pak supir.
Sejujurnya aku sedikit terganggu namun saat pandangan mata menangkap sosok pemilik hati, ia tengah tersenyum dan sesekali ikut bernyanyi bersama yang lain.
Ia berada di samping jendela membuat cahaya pagi seperti tengah menyinari wajahnya. Cantik! hanya itu yang terlintas di dalam fikiran ku saat ini. Aku seolah enggan untuk mengalihkan pandangan ku darinya.
Bisakah aku memilikinya? Bisakah kami berjalan bersama-sama?
Aku harap apa yang ku rencanakan ini berjalan sesuai dengan apa yang ku harapankan.
Tunggu aku Anastasya Putri, tunggu aku sebentar lagi...
.
.
.
.
Bersambung....