I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 44



Di dalam sebuah ruangan empat orang pria sedang berada dalam mode serius. Masing-masing dari mereka memberikan hawa yang tak bersahabat, membuat atmosfer di ruangan tersebut seketika menjadi dingin.


Sudah lebih dari sepuluh menit, hanya ada kesunyian yang tercipta di antara mereka. Tidak ada yang berani memulai membuka suara terlebih dahulu. Ke empat laki-laki tersebut hanya saling tatap. Bukan, bukan berempat tapi hanya tiga orang. Daniel duduk dengan gaya arogannya sambil memainkan ponselnya. Ia seolah tak peduli pada orang-orang di sekitarnya, bahkan ia tak peduli pada keadaan Tasya usai insiden tadi.


"Ekhm .. Tuan Daniel" Sapa Abi terlebih dahulu. Mungkin ia jengah dengan keadaan yang canggung seperti saat ini, atau ia jengah dengan sikap Daniel yang seenaknya dan tak menghargai dirinya sebagai tamu di sini. Apa pun itu yang jelas raut muka Abi sangat tidak bersahabat.


"Hm" Gumam Daniel masih asik menatap ponselnya, entah apa yang sedang ia lihat di sana.


"Sebagai tamu, saya merasa kecewa dengan pelayanan hotel anda, tuan" Ujar Abi masih dengan nada datar. Mendengar hal itu, sontak saja membuat kepala Daniel langsung terangkat dan menatap tajam Abi.


"Apalagi anda sendiri sebagai pemilik hotel yang telah membuat rusuh acara kami. Sebenarnya saya sangat bisa membuat rating buruk untuk hotel anda ini. Tapi, saya tak sekejam itu-"


"Maksud anda apa?!" Tanya Daniel mulai menunjukkan wajah garangnya. Inilah Daniel yang sesungguhnya, kasar dan tempramen. Selama ini, Daniel selalu memakai topeng agar di nilai baik oleh semua orang, termasuk keluarga Tasya.


"Saya akan bungkam, asalkan anda meminta maaf secara terbuka pada kami selaku pengunjung hotel anda" Tukas Abi masih terdengar datar. Ia memang sosok pemimpin yang jarang sekali menunjukkan kemarahannya.


"Loh kenapa jadi saya yang minta maaf? Harusnya karyawan anda ini yang meminta maaf duluan pada saya. Jelas-jelas dia yang ingin merebut tunangan saya" Ujar Daniel tak terima. Jelas saja dia tak akan terima, belum ada sejarahnya seorang Daniel Wirasena Abrraham meminta maaf pada karyawan karyawati yang sama sekali tak selevel dengannya.


"Calon tunangan! itu juga kalau dia mau sama cowok yang kasar kaya Lo ini!" Ujar Zayn yang sedari tadi diam sambil menunjuk wajah Daniel yang berada tepat di sampingnya.


"Bac*t Lo!!!" Sarkas Daniel sembari menampik tangan Zayn dengan kasar.


"DIAM!!!" Ujar Abi merasa jengah dengan kelakuan dua pria itu.


"Dia duluan!!" ujar keduanya saling tunjuk.


"gue ngerasa lagi jadi guru BK sekarang. Kekanakan banget, sumpah. Apa cinta bisa buat orang lupa diri kaya gini? Hiih mengerikan juga!" Gumam Abi dalam hati menatap keduanya dengan tatapan iba.


"Kamu juga Zayn, sudah tau Tasya itu sudah punya calon, masih nekat juga buat ngelamar tuh cewek. Lagian saya heran dengan kalian, apa ngga ada wanita lain kah?"


"Bukannya tidak tahu, tuan. Tapi perjodohan itu dilakukan tanpa sepengetahuan Tasya. Tasya juga ngga setuju kok dengan perjodohan itu, dia aja yang terlalu percaya diri!" Ujar Zayn membuat Daniel geram, jika bukan di tahan oleh Rico mungkin keduanya kembali terlibat adu jotos lagi.


"Oke! itu di luar urusan saya, yang saya minta mohon tuan Daniel untuk dapat bertanggung jawab atas kerusuhan yang anda buat. Begitu juga dengan kamu Zayn. Minta maaf lah pada semua orang secara terbuka" tukas Abi tak terbantahkan membuat keduanya bungkam.


"Saya hanya ingin kalian minta maaf, tidak lebih!"


Akhirnya keduanya keluar dari ruangan tersebut dengan wajah yang sama-sama di tekuk. Tapi, rupanya perseteruan keduanya belum berakhir sampai di situ saja. Mereka berjalan dengan tergesa-gesa menuju lift dan menekan sebuah tombol yang akan mengantarkan mereka ke tujuan. Kamar dimana Tasya beristirahat, pastinya.


"Ngapain Lo ngikutin gue? Sono Lo bikin pernyataan maaf buat semua karyawan atau mau hotel lo ini bangkrut. Mau!" Sentak Zayn saat lift sudah mulai naik mengantarkan keduanya. Di dalam kotak besi itu kebetulan hanya ada mereka berdua jadi perdebatan mereka sama sekali tidak menganggu yang lain.


"Lo yang keluar!!. Bukannya ngobatin dulu tuh muka. Malah ngapelin calon bini orang" Gerutu Daniel, saat ini ia masih mencoba menahan amarahnya. Tak ingin membuat reputasi nama hotelnya benar-benar tercemar. Apa kata orang tuanya nanti.


"Berisik!!"


Ting...


Pintu lift terbuka, sontak saja hal itu membuat keduanya berlari menyusuri lorong menuju sebuah pintu dengan nomor di mana Tasya istirahat.


Saat sudah tiba di depan pintu yang mereka tuju, keduanya mengetuk pintu bersama hingga terdengar bukan lagi sebuah kutukan melainkan sebuah gedoran.


Brak... Brak... brakkkkkk


"Tasya..." Panggil Daniel, karena pintu lama sekali di buka.


"Pacar!!" Zayn pun ikut memanggil. Namun, panggilan dari Zayn membuat Daniel kesal.


"Calon!"


"Elo!!"


Perdebatan keduanya terhenti saat pintu yang tadinya tertutup rapat mulai terbuka.


Ceklek


"Kalian.. ngapain?" Tanya Nakula saat melihat tangan Daniel yang terkepal di udara, begitu juga dengan tangan Zayn yang sama-sama terkepal di udara.


Mendengar suara Nakula, keduanya serempak menengok dan melangkah masuk begitu saja menabrak bahu Nakula, hingga tubuh pria itu terhuyung ke kanan dan kiri.


Nakula geleng-geleng kepala melihat tingkah keduanya, sambil membetulkan letak kacamata yang sama sekali tidak bergeser.


Tiba di samping tempat tidur Tasya, kedua pria itu saling tarik menarik kerah baju masing-masing untuk bisa duduk di tepi ranjang samping kepala Tasya. Keduanya tidak ada yang mau mengalah.


"Ini beneran pak tunangan dan pak pacar Tasya? Kok keliatan akur?" Bisik Disty pada Nakula. Mereka sama-sama tercengang dengan tingkah keduanya. Aneh, bukankah tadi baru saja mereka berkelahi dengan begitu berna*su. Lalu sekarang apa?


"Minggir Lo, gue dulu. Gue lebih berhak. Gue pacarnya. Gue yang paling Tasya CINTA" ujar Zayn menekankan kata Cinta supaya Daniel sadar akan posisinya yang sama sekali tidak penting.


"Lo yang minggir, gue TUNANGANNYA" ujar Daniel lagi tak mau kalah.


"Bapak-bapak sekalian..." Ujar Disty bermaksud untuk menghentikan perkelahian tak penting dari dua laki-laki di depannya ini. Tapi, sepertinya panggilan yang Disty ucapkan membuat keduanya tersinggung.


"Siapa yang Lo panggil bapak, Hah?!!" Sentak Daniel garang.


"Gue bukan bapak Lo!!" Mendapatkan ucapan yang terdengar garang seperti itu, membuat nyali Disty seketika menciut.


"Gini tuan-tuan yang terhormat. Tasya sedang istirahat, akan lebih baik jika kita tidak terlalu ribut, agar tidak menganggu!" Ujar Nakula yang lagi-lagi mengambil alih pembicaraan saat Disty tak bisa berkata-kata.


Mendengar penjelasan Nakula membuat Kedua pria itu bungkam seketika. Perkataan Nakula memang ada benarnya. Zayn kemudian menanyakan tentang kondisi Tasya saat ini, dan Nakula di jawab sesuai dengan apa yang di jelaskan dokter tadi.


Setelah melihat keadaan Tasya, Daniel harus keluar saat mendapatkan panggilan. Tentu saja hal itu membuat Zayn bersorak penuh kemenangan. Akhirnya, dia bisa bernafas dengan bebas.


Zayn menggeser duduknya, agar bisa lebih dekat dengan Tasya. Ia menggenggam tangan lembut gadis itu dengan erat dan membawa tautan tangan itu ke pipi nya yang penuh dengan memar tersebut. Di kecupnya berkali-kali punggung tangan Tasya.


"Lagi lagi kamu berada di situasi yang sama. Lebih parahnya lagi ini semua karena salahku" Ujar Zayn sendu. Ia merasa gagal dan gagal lagi menjaga Tasya. Ini menjadi pukulan yang menyakiti hatinya, bahkan rasanya lebih sakit saat dia mendapatkan pukulan bertubi-tubi tadi.


"Maafkan aku, sayang. Lagi-lagi aku mengecewakan mu!!"


.


.


.


.


.


Bersambung...