I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 118



Beberapa hari berlalu, hari ini Nenek Anita sudah boleh pulang namun ia menderita stroke ringan. Nenek Anita masih bisa berbicara meski dengan nada yang tak jelas. Rombongan keluarga Tasya akhirnya tiba di kediaman mereka setelah 1 minggu lamanya berada di rumah sakit yang berada di Bandung. Tapi ketika mereka sampai di rumah alangkah terkejutnya mereka saat di daun pintu terpasang tulisan...


"RUMAH INI DI SITA" dan juga digagang pintu tersebut terpasang rantai ber gembok tiga buah.


"Apa yang terjadi? Kenapa ada tulisan seperti ini di sini? Dan kenapa rumah kita digembok?" Ayah Alan bertanya-tanya, tapi kemudian ia teringat dengan ancaman dari Tuan Wira. Apa benar mereka yang melakukannya? Secepat ini? Bahkan ia sendiri belum mempersiapkan apa-apa.


"Mas, rumah kita?" Lirih ibu Tasya menatap nanar pintu yang tertutup rapat, sedangkan nenek Anita hanya bisa menangis di kursi rodanya. Rumah peninggalan sang suami, satu-satunya harta yang ditinggalkan suaminya, dan tempat yang penuh dengan kenangan tersebut kini sudah tak lagi dia miliki. Ia hancur, semua yang ia  perjuangkan hancur hanya dalam suatu waktu.


"Kenapa tuan Wira tidak bilang apa-apa dulu pada kita? Setidaknya kita bisa mencicil denda itu kan?" Ujar ayah Alan frustasi. Ia meraih ponselnya dan menghubungi tuan Wira, tak lama kemudian panggilan pun terhubung.


"Hallo tuan Alan. Bagaimana hadiahku, apa kau menyukainya?" Tanya tuan Wira dari seberang telepon, terdengar jelas dia sedang meledek ayah Alan.


"Ini maksudnya bagaimana tuan? Apa tidak bisa kita bicarakan baik-baik dulu? Ibu saya baru keluar dari rumah sakit loh, kami butuh tempat tinggal. Apa anda tak punya rasa kasihan pada kami sedikitpun?" Tanya ayah Alan mencoba menahan kekesalannya. Bagaimana dia tidak kesal , tanpa memberi tahukan apa-apa tiba-tiba mereka sudah kehilangan rumah


"Apalagi? Saya hanya mengambil apa yang menjadi hak saya. Bukannya sejak awal tuan Alan sudah menyetujui hal ini." Ujar tuan Wira masih dengan nada yang begitu santai.


"Tapi, tidak bisakah anda memberikan sedikit waktu, setidaknya untuk mengambil baju kami!"


"Oh, bukannya sudah saya beri kalian waktu satu minggu untuk mengosongkan rumah itu, tapi kalian tidak datang. Ya ,saya pikir tidak ada yang ingin kalian ambil." Sahut tuan Wira lagi masih dengan nada yang santai. Kali ini ucapan tuan Wira sukses membuat ayah Alan kesal bukan main.


"Anda jangan main-main dengan saya, tuan! Anda bahkan tidak bilang apa-apa lebih dulu, mana saya tahu jika anda sudah akan menyita rumah kami! Tolong buka pintu ini, karena saya ingin mengambil baju!"


"Hahaha... anda sepertinya sudah pikun, tuan. Rumah beserta isinya itu sudah menjadi milik saya, tepat saat kalian mempermainkan kami! Dan ya, harga rumah itu hanya 1,5 M ditambah dengan aset kalian yang lainnya hanya ada 3 M, jadi anda masih punya hutang pada saya 500 juta. Kapan kira-kira akan anda lunasi?"


"Kau jangan mengada-ada, tuan! Aset kami itu lebih dari 5 M, asal kau tahu!"  Sentak ayah Alan tak terima dengan perlakuan tuhan Wira yang seenaknya dan lagi mereka masih mempunyai beberapa hektar tanah, kebun, sawah, dua mobil, tiga rumah termasuk rumah utama, dan tiga motor. Belum lagi perhiasan milik ibu dan istrinya, masa iya hanya ada 3 M?


"Sepertinya kamu banyak bermimpi, tuan! Segeralah bangun dan hadapi kenyataan! Aku akan memberimu waktu selama satu minggu untuk melunasi kekuranganmu ini. Jika dalam waktu satu minggu kau masih belum bisa membayar hutang mu maka.. ucapkan selamat tinggal pada ibumu, istrimu dan kebebasanmu!"


Setelah mengatakan hal tersebut tuan Wira lansung mengakhiri sambung telepon begitu saja.


"Berengs*k!" Umpat ayah Alan dan nyaris membanting ponselnya jika saja ia tak ingat nasib keluarganya berada di ujung tanduk.


"Ada apa mas? Apa kita benar kehilangan rumah ini?" tanya ibu Tasya lirih.


-yang sampai saat ini belum juga author kasih nama tokoh untuknya.. hahahaha-


"Ini semua karena anakmu itu! Kita bukan cuma kehilangan rumah ini, tetapi juga kehilangan semua aset kita yang lainnya. Sekarang kita benar-benar jatuh miskin dan ini semua karena anak kurang ajar itu!" Bentak ayah Alan merasa frustasi.


Ibu Tasya terdiam, dalam hatinya ia berbisik..  "untung  aku sempat menyuruh Tasya pergi.  Jika dia masih disini pasti sekarang anak itu sudah menjadi sasaran amukan mas Alan. Maafkan mamah  sayang, bukan mamah tak menyayangimu karena memintamu pergi. Tapi inilah yang mamah takutkan. Ayahmu akan mengamuk padamu jika kau masih disini. Mamah tidak akan tega melihatmu menjadi pelampiasan kemarahan ayahmu, nak. Semoga kau mengerti."


Ibu Tasya memang tak sungguh membenci anaknya, ia hanya melindungi Tasya. Karena meski ayah Alan terlihat sangat menyayangi putri mereka, tapi jika ia sedang murka maka ayah Alan tak segan-segan untuk menganiyaya seseorang yang menurutnya bersalah, termasuk Tasya anaknya sendiri.


Dulu, pernah Tasya tak sengaja menyenggol aquarium kesayangan ayahnya hingga pecah dan menyebabkan ikan Arawana yang hidup di dalamnya mati. Saat itu ayah Alan yang memang sedang tertekan karena cabainya gagal panen pun melampiaskan kekesalannya pada Tasya. Ayah Alan menampar Tasya, bukan hanya sekali tapi sampai tiga kali hingga sudut bibir Tasya robek dan mengeluarkan darah.


"Lalu sekarang kita harus apa, mas?" ayah Alan menghela nafasnya kasar kemudian beralih menatap ibunya yang juga sedang melihatnya dengan tatapan sendu.


"Mas akan coba meminjam uang pada Robby, siapa tahu dia mau menolong kita!" putus ayah Alan pada akhirnya.


Robby adalah adik ayah Alan satu-satunya yang tak lain adalah ayah Rizky.


Sedangkan di Jakarta, Tasya sedang merengek kepada Rizky untuk mengizinkannya kembali bekerja. Padahal Zayn sudah menjamin kebutuhan Tasya akan ditanggung sepenuhnya oleh Zayn. Tapi Tasya tetap keras kepala, ia ingin mempunyai uang sendiri. Tasya tak mungkin terus-terusan merepotkan orang-orang disekitarnya. Dia juga ingin mandiri, tapi lagi-lagi Rizky melarangnya. Itu sangat menyebalkan bagi Tasya.


"Ayolah, Ky! Gue tuh bosen tau di rumah mulu, masa lo nggak kasian sih sama gue?" Ujar Tasya memelas tapi sama sekali tak di gubris oleh Rizky. Ia tetap teguh pada pendiriannya.


"Mau lo salto sekalipun gue tetap nggak akan merubah keputusan gue! Gue nggak mau calon keponakan gue kenapa-kenapa. Jadi, lo jangan aneh-aneh!" Sahut Rizky tegas dan berhasil membuat Tasya cemberut. Ah, sepupunya itu memang menyebalkan! Gerutu Tasya dalam hatinya.


"Benaran nih, gue salto di sini!" Ujar tasya lagi dia bersungguh - sungguh kali ini karena hanya sekedar salto adalah hal yang mudah baginya.


Dulu saat ia masih kecil, dia suka sekali akrobat maka untuk sekadar salto bukanlah hal yang sulit, yang jadi permasalahannya dia sudah sangat lama melakukan hal tersebut.


"Gimana cara ya?" Gumam Tasya bingung. Sedangkan Rizky sudah melotot kan matanya saat melihat Tasya yang sedang memasang kuda-kuda bersiap untuk melakukan salto seperti apa yang dikatakannya tadi.


"Hais, nih anak nyusahin banget sumpah!" Gerutu Rizky. Kalau sudah seperti ini dia tak punya pilihan lain selain menuruti kemauan Tasya.


"Ya udah makannya cariin gue kerjaan!" balas Tasya tahu tak mau kalah.


"Kalau kerja sama orang itu terlalu beresiko, Sya. Gimana kalo lo bikin usaha sendiri aja?" Tasya terdiam   memikirkan usulan dari Rizky.


"Tidak terlalu buruk. Oke! mulai besok gue akan jualan!" serunya bersemangat membuat Rizky menghela nafasnya lega, namun sesaat kemudian wajah Tasya kembali murung.


"Tapi jualan apa?" Tanyanya bingung.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...