
"INEM!!!"
"uhuk..uhuk..uhuk..."
Nyaring suara tuan bos yang memanggil seseorang entah siapa berhasil membuatku tersedak. Aku yang sedang meminum minuman bersoda di ruang tamu pun terkejut bukan main kala suara menggelegar nya terdengar di samping telingaku. Seketika rasa sakit dan perih menjalar di kerongkongan sampai ke hidung dan telinga, membuat muka ku memerah.
"Inem! Saya panggil kamu dari tadi, malah enak-enakan duduk di sini, pake minum minuman saya lagi!"
Ya ampun, ini rasa sakitnya belum hilang tuan bos malah masih saja teriak-teriak. Bukan tak mendengar sebenarnya tapi kan namaku Tasya bukan Inem. jadi aku memang sengaja tak menyahut.
"Nama saya Tasya tuan bukan Inem!"
"Sama saja! Mana kopi saya?"
"Beda, tuan! Kalau mau ganti setidaknya tuan harus motong Shaun the sheep buat saya. Ibu saya memberikan nama kepada saya dengan doa yang mengalir di dalamnya. Jadi tuan jangan asal ganti. Saya ngga suka!"
Tuan Abi terkesiap mendengar protes yang ku layangkan. Aku tak sungguh marah hanya menggretaknya saja supaya tak asal sebut nama. Kan kesel nama bagus-bagus malah di ganti.
"Ya gampang itu mah. Sekarang mana kopi saya? Apa Bibi tidak memberitahukan mu apa yang harus dilakukan kalau saya di rumah?"
Aku mengernyit bingung. Bude tak berbicara apa-apa hanya memberiku wejangan untuk tak menyentuh perabotannya. Bude bilang majikan nya tak suka jika barang-barang nya di sentuh orang lain. Tapi tadi pagi aku melihat sisa nasi di rice cooker, karena aku adalah wanita yang gemar makan jadi melihat nasi yang terbuang rasanya tak tega. Makannya aku memasaknya.
Aku besar di sebuah desa dengan pekerjaan utamanya adalah petani padi. Melihat bagaimana proses dari padi menjadi beras yang memakan waktu dan tenaga yang tak sedikit membuatku sedih jika melihat orang-orang mengabaikan nasi.
Tapi, untuk hal lainnya aku sungguh tak tahu.
"Siapkan saya secangkir kopi. Dan letakkan di meja kerja saya. Saya tunggu di atas. Cepat!"
"Baiklah."
Setelah memberikan perintah ia segera berlalu. Ini kan hari Minggu kenapa dia ada di ruang kerja? apa bos-bos besar tak pernah libur?.
Aku mengisi panci kecil dengan air, kemudian meletakkan nya di atas kompor dan menyalakan apinya. Sambil menunggu mendidih aku meracik kopi dan gula.
Kalau di pikir-pikir apa aku sanggup bekerja paruh waktu seperti ini? Jika bukan Tuan Abi yang menjadi majikan Bude, apa aku akan di beri keringanan untuk tinggal di sini?.
Ngomong-ngomong tinggal di sini aku belum membereskan baju-baju ku. Nanti setelah memberikan nya kopi ini aku akan meminta izin keluar sebentar. Lagi pula pekerjaan ku kan sudah selesai karena itu aku bersantai tadi.
Aku tahu kalau ia tak suka barang-barang nya di pegang apalagi mengambil makanannya tanpa izin tapi saat tahu majikan Bude adalah Tuan Abi, entah kenapa keberanian itu muncul. Aku tak segan memakan apa yang ada di kulakasnya.
Aku menuangkan air panas yang telah mendidih ke cangkir yang berisi racikan kopi yang sudah ku siapkan membuat aromanya yang khas menggugar masuk memenuhi Indra penciumanku walaupun belum ku aduk.
Aku melangkah dengan hati-hati menuju ruang kerjanya yang terletak di lantai dua. Membawa kopi pesanannya setelah selesai ku buat.
Tok... Tok.. Tok..
Aku mengetuknya terlebih dahulu, Ia mempersilahkan ku masuk dan masih dengan hati-hati aku membawa nampan berisi kopi ini. Semoga aku tak ceroboh dan tiba-tiba tersandung saat berada di dekatnya.
"Silahkan, Tuan."
Ucap ku kala secangkir kopi itu telah berpindah tempat ke mejanya. Ia hanya berdehem sebagai jawaban.
Di ruangan ini tak banyak hal menarik. Hanya ada meja persegi di sisi dekat jendela di meja tersebut terdapat sebuah laptop yang masih menyala. Ada vas bunga dengan beberapa tangkai bunga mawar yang mencoba untuk hidup di dalamnya. Beberapa map yang warna warni tampak berserakan di atasnya.
Di sisi dinding sebelah kanan ku berdiri terdapat lemari kaca yang di isi berbagai macam buku. Dari yang tipis sampai yang paling tebal.
Di sisi sebelah kiri ku berada terdapat sofa dan meja di sana.
Tuan Abi berdiri di depan meja nya sambil membuka sebuah map. Ia nampak serius sekali dan bisa di bilang tampak lebih berkarisma.
Baju kaos dan celana pendek yang ia pakai membuat tampilannya terlihat begitu menawan. Apalagi rambut yang ia biarkan berantakan menambah kadar ketampanan nya. Mau di lihat dari mana pun dia ini sangat tampan, aku sampai tak bisa mengalihkan perhatian ku darinya.
"Mau sampai kapan kamu memandangi saya begitu?"
"Saya memang tampan, tapi tak perlu melihat saya sampai meneteskan air liur begitu."
Aku terkesiap karena ucapannya. Tanpa sadar aku mengelap sudut bibir ku dengan jari jempol. Kering! Dia mengerjaiku ternyata.
"Apa ada yang ingin kau sampaikan?" Tanyanya.
"Iya, tuan. Saya mau meminta izin untuk kembali ke kostan sebentar." Ucapku.
Ia melihat ku intens dan seketika aku menjadi gugup. Tak tahu kenapa tapi tatapannya itu seolah mengintimidasi.
"Pergilah." Ujarnya singkat tak lagi melihatku. Ia justru melihat ponselnya.
"Terimakasih, Tuan."
Ku pikir ia akan marah namun di luar dugaan ia tampak acuh. Baguslah tak harus ada drama kan.
Aku melangkah dengan senyum yang tak luntur dari bibir ku. Bukan hanya karena di izinkan keluar dengan mudah tapi karena dia juga orang yang baik ternyata. Bukan bos-bos besar yang kejam seperti di dalam novel yang tiap hari libur ku baca.
Tak tahu kenapa memikirkan itu membuat ku merasa bahagia hingga kehilangan fokus. Aku menunduk kan badan sedikit sebelum berlalu.
Saat ini ia duduk di sofa dekat dengan pintu jadi aku harus melewati nya ketika aku akan keluar.
Karena tergesa-gesa atau apa aku pun tak mengerti saat melangkah tak sengaja kaki ku tersandung kaki meja yang ada di depan tuan Abi, membuat ku kehilangan keseimbangan dan....
Bruk
Tanpa sadar jatuh di atas dada bidangnya.
Deg...
Untuk pertama kalinya aku sedekat ini dengan seorang pria, bahkan tanpa jarak. Aku benar-benar berada di atas tubuhnya.
Waktu seakan terhenti kala mata kami bertemu. Wajah ku terasa memanas, aku yakin pasti sekarang muka ku sudah memerah.
Aku mengerjap beberapa kali memandangi wajahnya dari dekat. Sungguh ketampanan yang tak ada duanya. Aku terbuai dengan situasi yang ada hingga suara deheman nya menyadarkan ku dari lamunan.
"Ekhem."
Aku menjadi gugup, sangat gugup. Dengan tergesa-gesa aku mencoba bangkit dari atas tubuhnya namun entah kenapa badan ini terasa berat. Aku mencari tumpuan hingga suara teriakan benar-benar membuatku sangat terkejut hingga jatuh terduduk di lantai.
"Akkhhhh!"
"Apa yang kau lakukan!!"
Aku menelan Saliva dengan kasar melihat tangan kanan ku yang gemetar. Sesaat kemudian aku memandang Tuan Abi yang wajah nya nampak memerah pun rahangnya yang terlihat mengeras.
Aku yakin dia pasti marah. Tapi sungguh aku tak sengaja. Aku benar-benar tak sengaja... Menyentuh sesuatu di antara pangkal pahanya. Ini sungguh sangat memalukan. Sungguh, saking syoknya aku sampai tak bisa berkata-kata.
Mendadak tubuhku menjadi kaku bak manekin di toko baju. Lidah ku terasa kelu padahal aku ingin mengucapkan kata maaf.
"Kau!" Geramnya menahan sesuatu sambil menunjuk wajah ku dengan telunjuknya.
"Tu..Tuan Sa..Saya tak sengaja. Maaf kan saya tuan. Sungguh saya-"
"KELUAR!" Bentakannya menggelar memenuhi gendang telinga ku. Jujur aku merasa takut sekarang. Takut karena kecerobohan ku ini mengancam pekerjaan bude dan juga pekerjaan ku.
"Maaf tuan."
Aku keluar dengan wajah yang memerah, jantungku berdetak tak karuan. Konyol! benar-benar konyol. Bisa-bisanya tangan ku sampai ke tempat seperti itu.
Bagaimana ini? kalau bude di pecat karena aku bagaimana?.
.
.
.
Bersambung...