I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 86



Disty berlari kearah toilet, ia menumpahkan air matanya di depan wastafel memandangi dirinya sendiri di sana. Itu bukanlah air mata penyesalan tapi ia menangis saat mengingat kondisi ibunya yang terbaring lemah di rumah sakit. Bahkan sampai sekarang ibunya belum sadar pasca operasi. Sudah lebih dari dua bulan ibunya belum sadarkan diri. Karena itu Disty harus mencari uang yang lebih banyak untuk menjamin kelangsungan hidup ibunya yang kini bergantung pada alat-alat medis.


"Si*l!! kenapa gue ceroboh banget! Harusnya gue bisa menahan nya, dan membicarakan hal ini di tempat biasa!" Gerutunya sambil mengusap kasar air mata yang masih menetes. Disty menangis dan marah di saat yang bersamaan.


"Huft.. Gue rasa ini adalah hari terakhir gue kerja di sini," gumamnya lemah. Perasaannya kini campur aduk. Ada sedih, marah, kecewa, tapi juga sedikit menyesal karena telah membongkar sendiri rahasianya dengan begitu mudahnya. Sekarang ia terancam kehilangan pekerjaannya dan juga kehilangan penghasilan sampingannya.


"Terus gimana caranya gue bayar semua biaya rumah sakit?"


Adisty Narendra adalah seorang wanita berusia 26 tahun, ia hanya tinggal berdua berasama ibunya. Ayahnya pergi saat ia masih duduk di bangku SMP bersama wanita lain. Ibunya bekerja di garment kala itu. Tapi satu tahun yang lalu ibunya di fonis sakit gagal ginjal oleh dokter dan mengharuskannya rutin cuci darah tiap bulannya. Semakin hari keadadanya semakin parah dari yang tadinya rutin satu bulan, menjadi seminggu sekali, dan tindakan terakhir adalah operasi. Kini setelah semua tindakan telah di lakukan ibunya malah di nyatakan koma dan saat ini masih terbaring lemah di rumah sakit.


Butuh biaya yang tidak sedikit untuk pengobatan ibunya. Karena itu ia rela melakukan apapun demi kesembuhan ibunya, termasuk mengkhianati temannya sendiri.


Disty kemudian keluar dari toilet setelah merasa lebih baik. Mau bagaimana pun ia harus siap jika memang hari ini adalah hari terakhirnya bekerja di perusahaan impiannya. Saat di luar toilet, tiba-tiba tangannya di cekal oleh seseorang yang tak lain adalah Nakula.


"Lo? Kenapa lo di sini?" Tanya Disty heran sekaligus terkejut. Tak menyangka jika Nakula menyusulnya.


Nakula memang sengaja mengikuti kemana Disty pergi, karena ia tahu saat ini Disty sedang tak baik-baik saja. Jadi ia ingin menemani gadis itu.


"Ikut gue!" Sahut Nakula sambil menarik tangan Disty untuk mengikuti langkahnya tanpa menjawab pertanyaan Disty lebih dulu.


Nakula membawa Disty ke taman di samping perusahaan. Di sana, Nakula mendudukan Disty di sebuah bangku, sedangkan Nakula sendiri masih berdiri di depan Disty sambil betekan pinggang dan menatap Disty dengan pandangan yang entah.


"Lo bawa gue ke sini pasti lo mau marahin gue kan? Lo mau menghakimi gue? Silahkan!! Gue emang pantes kok lo marahin, bahkan lo caci, lo hina sekalipun gue emang pantes dapetin itu semua. Gue udah kelawatan mainin kepercayaan kalian!" Ujar Disty pasrah. Ia memang sudah siap jika akan di jauhi oleh semua orang termasuk dambaan hatinya, Zayn. Tapi, entah kenapa saat melihat sorot mata kekecewan dari laki-laki yang berdiri di depannya, Disty mersakan dadanya sesak.


Ia seperti belum siap jika Nakula pun akan menjauh dan membencinya. Selama ini hanya Nakula lah yang selalu menemaninya. Nakula selalu mendengarkan keluh kesahnya, dan dia pula satu-satunya orang yang tahu isi hatinya. Meski Disty tak pernah menceritakan keadaannya saat ini, tapi ia cukup senang karena merasa tak sendiri.


Tapi sekarang, apa dia juga harus kehilangan laki-laki baik ini?


"Udah?" tanya Nakula datar membuat Disty mengrenyit bingung.


"Udah ngomongnya? Sekarang gantian gue yang ngomong! Jujur gue emang syok, gue kecewa sama apa yang udah lo lakuin ke Tasya. Dia itu temen kita ngga seharusnya lo nusuk dia dari belakang. Apapun alasan lo, menyakiti orang lain itu salah! Apalagi nyawa Tasya tuh hampir melayang saat di Pantai Batu Karas waktu itu. Dan kenapa lo ngga bilang kalau lo lagi kesulitan? Selama ini lo anggap apa hubungan persahabatan kita?!" Ucap Nakula dan Disty hanya bisa tertunduk mendengarkan.


"Kalau gue bilang.. apa lo semua bisa bantu? Enggak kan?! Jadi buat apa gue bilang?!" Ujar Disty setelah cukup lama terdiam.


"Terus gue harus apa? Apa gue harus jual harga diri gue buat dapetin duit?!!" Tanya Disty yang mulai kesal.


"Pendek banget sih otak lo!"


"Lo ngga tau apa yang gue rasain!! Nyawa ibu gue hampir hilang kalau ngga segera di lakuan tindakan!! Lo mana tau dengan semua itu! lo masih bisa dapetin kasih sayang dari orang tua lo, sedangkan gue? Hanya ibu gue satu-satunya yang gue miliki.. gue ngga mau kehilangannya. Gue belum siap! Apapun akan gue lakuin asal ibu gue ngga ningalain gue sendiri!" Disty tak bisa lagi menahan air matanya, ia menutup wajahnya yang basah oleh air mata dengan kedua tangan. Menyembunyikan kesedihannya di balik telapak tangan.


Ketakutan akan kehilangan orang yang begitu berharga dalam hidupnya membuat Disty tak bisa berfikir panjang. Memang benar ia melakukan hal itu atas dasar iri, tapi itu adalah alasan ke sekian dan alasan yang paling utama adalah..


"Gue takut.. Hiksss.. Gue takut sendiri.. Huuu" Disty terisak di hadapan Nakula hingga laki-laki itu pun meraskan kesedihan dan kerapuhan Disty saat ini. Tanpa di sadarinya ia duduk di samping Disty dan membawa Disty masuk ke dalam pelukannya. Ia mendekap erat tubuh Disty meyakin kan gadis itu jika masih ada dirinya yang akan selalu menemani Disty apa pun yang terjadi.


"Menangislah.. Jika itu bisa membuat lo merasa lebih baik. Meski gue ngga bisa banyak bantu tapi setidaknya lo bisa pakai bahu gue untuk jadi sandaran lo di saat lo lagi merasa lelah. Lo bisa luapkan emosi lo sama gue. Jangan pernah merasa sendiri karena lo masih punya gue... Gue janji apa pun yang terjadi.. Gue akan selalu ada di samping lo." Ucapan Nakula membuat Disty semakin terisak, bahkan kini kemeja yang di kenakan oleh Nakula sudah basah karena air mata Disty.


"Terimakasih banyak, Nakul.." Ucap Disty.


.


.


.


.


.


Bersambung..


...----------------...


😒 Astoge!! Malah pada peluk-pelukan, lah gue ama sape?