
Pagi hari di perusahaan tepatnya di ruagan Abi, Rico tengah melaporkan jika orang yang tuannya panggil tak masuk hari ini dan untuk satu minggu ke depan. Ya, orang yang di maksud adalah Adisty Narendra. Pagi ini ibunya di kebumuikan di kampung halamannya. Butuh waktu 5 jam dari rumah sakit untuk sampai di sana.
"Innalillahiwainnailaihirojiun. Jadi ibunya meninggal?" Tanya Abi dan di angguki oleh Rico.
"Benar, tuan."
"Apa inem tahu tentang ini?" Tanya Abi lagi membuat Rico mengrenyitkan dahinya. Sedangkan Abi sendiri tersentak saat menyadari pertanyaan yang dia lontarkan. Seketika ia menjadi gugup dan salah tingkah.
"Ck! Bisa-bisanya aku malah bertanya hal memalukan seperti itu." Rutuk Abi dalam hatinya.
"Ekhem.. maksudnya cepat beri tahu Inem. Suruh dia pergi ke tempat Disty sebagai perwakilan dari perusahaan, sekaligus dia bisa menyesesaikan masalahnya dengan gadis itu." Ujar Abi menuntupi kegugupannya. Tanapa menunggu perintah kedua kalinya, Rico bergegas melaksanakan perintah atasnnya itu.
"Apa sih yang kamu pikirkan, Bi? Astaga! Ngga mungkin juga kan aku mikirin gadis sinting itu?" Gerutunya lagi sambil memukul-mukul pelan kepalanya.
"Fokus, Bi! Ayo fokus! Tendang jauh-jauh bayangan gadis sinting itu!"
"Ingat! Dia itu penganggu, aneh, dan rusuh. Ck! Ngga penting harus mikirin dia. Dasar gadis Aneh!" Gerutu Abi sendirian. Masih mengetuk-ngetuk keningnya pelan dengan jari telunjuk sambil memejamkan matanya. Ia tak habis fikir bagaimana bisa dari sekian banyak orang yang Abi temui justru Tasya lah yang terbayang di fikirannya.
"Ngga mungkin kan aku naksir tuh cewek sinting? Yang benar saja!" Abi begidig membayangkan hal itu. Entah kenapa ia seolah sangat tak menginginkan Tasya namun saat mendengar gadis itu dalam kesulitan ia tak bisa mengabaikan nya begitu saja. Berkali-kali ia mengatakan tak menyukai Tasya tapi saat Tasya menganggunya ia sama sekali tak merasa terganggu justru sebaliknya, jika satu hari tak mendengar kata-kata aneh dari Tasya rasanya sungguh rindu.
"Tunggu! Rindu? Gue? Ya ampun!"
Terlalu fokus dengan bayangan gadis anehnya, Abi tak menyadari gerak gerik dan ucapannya tadi di lihat dan dengar dengan jelas oleh seorang laki-laki yang sudah mematutkan wajahnya kala Abi menyebut-nyebut tentang gadis aneh yang tak lain adalah kekasihnya.
Iya, laki-laki yang berdiri di depan Abi adalah Zayn. Dia tadinya ingin meminta izin untuk menemani Tasya ke rumah Disty, karena ternyata sebelum Abi mengetahui informasi meninggalnya ibu Disty, Tasya lebih dulu mengetahuinya dari Nakula. Dan mereka berencana untuk melayat ke kampung halaman Disty.
Zayn mengetuk pintu ruangan Abi, namun tak ada sahutan sama sekali hingga dengan penuh keraguan Zayn mendorong pelan pintu ruangan Abi. Begitu ia masuk, Zayn justru mendengar gumaman Abi yang tengah memikiran kekasihnya. Tentu saja hal itu membuat Zayn cemburu.
Meski Abi terus menyangkal namun sebagai sesama laki-laki, Zayn tahu persis jika ada yang berbeda saat Abi memandang Tasya. Dan itu cukup membuat Zayn resah.
"Ekhem!" Zayn berdehem cukup keras untuk menyadarkan Abi jika di ruangan itu ada orang lain. Benar saja Abi pun tersentak dan begitu terkejut saat mengetahui jika Zayn sudah ada di depannya dengan tangan yang bersidekap di depan dadanya. Seketika wibawa Abi jatuh di hadapan Zayn karena kini yang mendominasi adalah hawa keberadaan Zayn yang sepertinya sedang tak bersahabat.
"Kakak! Sejak kapan di sini?" tanya Abi berusaha terlihat biasa saja padahal hatinya saat ini sedang tak baik-baik saja. Semoga Zayn tak akan marah padanya. Itu adalah do'a Abi dalam hatinya.
"Sejak kamu sebut-sebut gadis aneh! Apa yang kamu pikirkan? Kamu menyukai Tasya kan?" tanya Zayn datar.
Sungguh lucu! Tanpa mereka sadari kini posisi keduanya seolah tertukar. Abi yang seharusnya menjadi pemimpin justru terlihat seperti bawahan di hadapan Zayn. Padahal ini masih di kantor otomatis semua terlihat sama tak kenal saudara. Tapi, karena Abi merasa bersalah ia tak menghiraukan itu.
"Jangan menyangkal! Aku peringatkan! Jika tebakan ku benar, tolong jangan kamu ganggu hubungan kami! Cukup selama bertahun-tahun kalian ambil wanita yang seharusanya merawatku dan menyayangiku. Tidak akan aku biarkan kamu juga mengambil cintaku! Jika itu terjadi... aku akan melakukan sesuatu yang tak pernah kalian duga sebelumnya! cam kan itu!" sarkas Zayn bahkan ia tak memberikan kesempatan Abi untuk melakukan pembelaan. Setelah mengatakan hal itu, Zayn meninggalakan ruangan Abi dengan perasaan yang tak menentu. Sedangkan Abi masih ternganga di kursi kebasarannya mendengar ancaman dari Zayn.
"Ck! Ngga penting! Dasar pasangan bucin! Dengar ya! Aku Abidzard Akhriz Herold tak akan jatuh cinta pada seorang wanita bernama Anastasya Putri!" teriak Abi entah masih di bisa di dengar Zayn atau tidak, karena Zayn baru saja menutup pintu ruangannya, Abi tak peduli!.
***
Sementara itu waktu terus bergulir, lima jam kemudian Tasya dan Zayn sudah sampai di rumah Disty. Terlihat beberapa orang tetangga yang masih membantu beberapa keperluan untuk tahlilan nanti malam. Sedangkan Disty masih mengurung dirinya di dalam kamar. Nakula pun ada di sana, ia sudah membujuk Disty makan tapi gadis itu sama sekali tak meliriknya. Pandangan Disty kosong menerawang jauh, entah apa yang di fikirkannya sekarang.
"Kalian datang?" ucap Nakula menyambut Tasya dan Zayn.
"Iya, kami datang karena perintah langsung dari Tuan Abi. Bagaimana keadaan Disty?" Ujar Tasya. Nakula menghembuskan nafasnya kasar.
"Dia masih di kamar. Sejak semalam di belum makan. gue khawatir sama kondisinya." keluh Nakula. Tasya menagngguk mengerti dan meminta izin untuk melihat keadaan Disty di kamarnya. Meski ia masih kesal tapi tetap saja mendengar musibah yang menimpa Disty membuatnya tak tega.
"Sabar, Nakul. Jangan putus asa untuk memberikan semangat padanya. Karena gue tahu dia pasti sangat terluka sekarang." ucapnya dan di balas angukan lemah oleh Nakula.
Di dalam kamar, Tasya melihat Disty yang masih mematung di depan jendela tengah memandangi pemandangan samping rumahnya. Pandangan Disty jauh menerawang memikirkan kehidupannya kelak tanpa sang ibu.
"Mau ngapain lo ke sini?" Tanya Disty datar saat menyadari kehadiran Tasya meski ia sama sekali tak menoleh. Tasya menghembuskan nafasnya pelan. Harusnya kan dia yang saat ini marah dengan Disty tapi kenapa sekarang seperti terbalik.
"Gue turut berduka cita, Dis. Semoga ibu lo mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya." Ujar Tasya saat dia sudah berdiri di samping Disty.
"Terimakasih."
"Gue emang belum pernah ngerasain ada di posisi lo. Tapi, gue harap lo ngga ngerasa sendiri. Masih ada Nakula dan... Gue. Kita bisa bareng-bareng lagi." Tutur Tasya membuat Disty seketika menoleh mencari kebenaran dari sorot mata Tasya.
Beberpa saat kemudian Disty menghambur ke pelukan Tasya. Ia menumpahkan kesedihannya di sana.
"Maafin gue, Sya.. Gue udah ngelakuain kesalahan ke loe, dan sekarang gue rasa Tuhan marah ke gue, Dia mengambil satu-satunya pelita di hidup gue. Tuhan ngga adil sama gue, Sya.. Huhuhu." Racau Disty semakin terisak. Hatinya terasa begitu sesak.
"Lo ngga boleh ngomong gitu, Dis. Allah pasti punya rencana yang indah buat lo. Dan bukannya sekarang ibu lo ngga ngersa kesakitan lagi? Yakin lah akan ada Hikmah di balik musibah ini."
"Jangan larut dalam kesedihan, ya. Sedih dan kehilangan itu pasti. Tapi, hidup ini pun masih berlanjut. Buat ibu lo bangga dengan lo bisa mandiri dan lebih dewasa. Semangat, Dis!"
"Jangan terlalu lama sedih, ya. Gue kangen lo yang cerewet." Tutur Tasya panjang lebar. Ia bahkan mengusap air mata Disty.
"Maafin gue, Sya.. Maafin gue."
"Gue ngga mau maafin lo!" Ujar Tasya tegas membuat Disty mematung. Ia bingung bukannya tadi Tasya sendiri yang mengatakan akan menemainya dan tak membiarkan Disty merasa sendiri, lalu kenapa Tasya malah menolak memaafkannya?.
"Huaaaa... Huaaa.." Pekik Disty mengencangkan suara tangisannya.
"Gue baru mau maafin lo kalo lo mau makan. Lo makan dulu ya!" Bujuk Tasya membuat Disty bungkam dan menganggukkan kepalanya.
Di luar Nakula dan Zayn yang mengintip pun merasa bahagia karena dua wanita itu sudah kembali berbaikan.
.
.
.
.
.
Bersambung...
...----------------...
😒 yaelah gitu doank? Ngga ada 24 jam masa dah baikan lagi sih kalian. Belum juga jambak-jambakan.