I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
BAB 115



Tasya menyusul Rizky untuk menanyakan perasaan yang ia rasa tersebut, tapi begitu ia sampai di ruang tamu..


Deg!


Tubuhnya mematung saat melihat sosok pria yang selama ini dia rindukan namun terlalu takut untuk mendekat. Sosok pria yang merenggut mahkotanya secara paksa namun masih menempati tahta teratas dalam hatinya. Sosok ayah untuk calon anaknya.


Tanpa dia sadari, air matanya menetes begitu saja dan ia pun baru sadar jika perasaan aneh yang tiba-tiba muncul itu karena hatinya masih terpaut dengan lelaki ini. Ternyata cintanya masih begitu besar untuk Zayn hingga hatinya pun masih berdebar begitu hebatnya meski ia belum melihat sosok Zayn.


Zayn yang masih memohon pada Rizky pun merasakan hal yang sama, ia mengangkat kepalanya dan ketika itu ia melihat sosok wanita di belakang Rizky yang membuatnya hampir gila. Air mata Zayn ikut menetes begitu saja. Katakan lah dia lelaki yang cengeng namun ia tak peduli. Zayn menangis karena tak ada lagi kata yang bisa melukisakan betapa bahagia dirinya karena akhirnya bisa melihat kembali wanitanya.


Tanpa sadar kaki Zayn berayun menghampiri Tasya, ia bahkan menyenggol sedikit bahu Rizky membuat Rizky geram dan hendak memarahi lelaki itu, tapi urung ia lakukan ketika melihat Tasya yang berdiri mematung di belakangnya. Ia terdiam menyaksikan pertemuan kembali sepasang kekasih setelah drama yang mereka buat sendiri.


Zayn menatap sendu wajah ayu Tasya dengan penuh kerinduan. Ia menikmati debaran jantungnya yang bedebar hebat namun begitu candu seiring langkah kakinya. Tasya masih terdiam seolah menantikan Zayn menjemputnya, ia melihat Zayn tersenyum begitu manis di tengah deraian air matanya. Untuk sesaat waktu terasa terhenti, baik Tasya maupun Zayn sama-sama melupakan kehadiran Rizky yang juga ada di sana.


"Aku menemukanmu!" ucap Zayn ketika ia sudah berada di depan Tasya, ia meraih tangan Tasya dan menggenggamnya erat namun sama sekali tak menyakiti Tasya.


"Aku menemukanmu!" ucapnya lagi namun Tasya masih terdiam seolah tersihir oleh wajah yang berminggu-minggu ia rindukan. "Aku mohon jangan pernah lari lagi dariku. Aku tak bisa hidup tanpamu, sayang. Sungguh!" ucap Zayn lagi dengan sendu dan membuat hati Tasya bergetar karenanya.


Tak bisa di jelaskan lagi bagaimana kini perasaan Tasya, ia yang semula takut dan ragu jika Zayn membencinya karena ia yang meninggalakan Zayn begitu saja, nyatanya ketakutan itu tak terjadi. Zayn masih sama, ia mencintai Tasya begitu dalam hingga enggan berpaling.


Tubuh Tasya terasa kaku dan lidahnya pun terasa kelu, padahal banyak sekali yang ingin ia katakan pada Zayn. Namun, kata-katanya itu hanya sampai di ujung kerongkongan sulit sekali mengucapkan nya. Tasya hanya bisa menatap Zayn lekat berharap lelakinya itu mampu membaca arti tatapannya.


Dan memang benar, Zayn melihat dengan jelas bahwa masih ada cinta yang begitu basar di kedua mata Tasya untuknya. Dengan penuh kerinduan di selingi rasa percaya diri tak akan di tolak oleh Tasya, Zayn merengguh tubuh Tasya dan membawanya dalam dekapannya. Ia juga menghujani ubun-ubun Tasya dengan kecupannya mencurahkan segala kerinduan dan cintanya.


"Aku mencintaimu, Tasya. Aku sangat mencintaimu, Anastasya Putri. Stay with me please!"  mendengar ungkapan cinta dari Zayn, Tasya yang tadinya terhanyut dalam cinta kasih mereka pun tersentak. Ia mendorong tubuh Zayn dengan sedikit kasar hingga berhasil membuat Zayn memundurkan beberapa langkahnya. Pernyataan cinta yang Zayn ucapkan berhasil menarik satu memory yang masih Tasya ingat betul detail kejadiannya.


"Tidak! Pergi!" Pekik Tasya tiba-tiba mengejutkan Zayn dan Rizky yang sedari tadi hanya memperhatikan mereka.


"Sayang.. kamu kenapa?"


"Pergi, Atta! Aku membencimu! Kamu menghancurkan kepercayaanku! Kamu bohong! Kamu jahat! Kamu brengsek! Aku membencimu!!!" teriak Tasya membuat Zayn mematung mendengar serentetan kalimat Tasya yang membuat dadanya sesak bak terhimpit sesuatu.


Zayn mengerti Tasya pasti saat ini begitu kecewa padanya, namun jika boleh jujur ia tak suka Tasya membencinya seperti sekarang.


Rizky menghampiri Tasya dan memeluknya untuk memberikan ketenangan pada wanita yang sedang hamil muda itu melalui ucapan lembut pada punggung Tasya.


Zayn masih mematung, tak bisa dijelaskan bagaimana keadaan hatinya saat ini yang jelas begitu sakit mendengar wanita yang dia cintai dengan lantang mengatakaan benci padanya. Dia mencoba melangkah mendekati dua bersaudara yang sedang mencari dan memberi kekuatan, namun tatapan Rizki membuat Zayn berhasil menghentikan langkahnya.


Zayn sangat menyesal namun Ia pun tak rela jika Tasha membencinya. Katakanlah dia pria yang egois namun memang seperti itu adanya bagi Zayn, Tasya adalah nafasnya maka ia tak ingin melepaskan Tasya atau ia akan mati dengan perlahan. Terdengar sedikit berlebihan mungkin tapi dia tak tahu lagi bagaimana menjelaskan besarnya cintanya pada Tasya.


Memang benar apa yang dikatakan Abi, cinta Zayn mengerikan!


"Kamu selalu mengatakan itu padaku dan aku sangat bahagia mendengarnya. Bahkan setelah kamu mengecewakanku pun aku masih begitu mempercayainya saat kau menawarkan cintamu itu. Tapi setelah kau mengatakan jika kamu mencintaiku, menit selanjutnya kau akan menghempaskanku dalam jurang kekecewaan! Jadi.. katakan padaku, cinta seperti apa yang kau berikan untukku? Apa menghancurkanku adalah bentuk cintamu? Seperti itu? Aku kecewa! Aku benci dirimu, aku benci diriku! karena tak berdaya saat itu. Aku membencimu! aku membencimu, Zayn!" Pekik Tasya histeris.


Memang benar ia merindukan Zayn, tapi ia pun tak akan lupa dengan apa yang terjadi, bahkan rasanya masih ia ingat betul. Ia masih ingat wajah Zayn yang penuh gairah dengan peluh berada di atasnya saat itu.


"Sayang, aku memang salah tapi tolong jangan membenciku. Kamu boleh pukul aku, kamu boleh mencaciku tapi jangan hukum aku dengan kebencianmu, sayang. Aku tak sanggup." Ujar Zayn dengan wajahnya yang memelas.


"Lebih baik sekarang lo pergi dari sini! gue nggak mau karena kehadiran lo yang nggak diinginkan di sini, Tasya jadi tertekan seperti sekarang, pergi!" Rizky yang tadinya hendak memberi mereka ruang pun mengurungkan niatnya, karena ternyata Tasya belum siap.


"Tapi.."


"Pergi!!"


Meski berat, tapi apa yang dikatakan Rizky benar, tak semudah itu ternyata untuk Tasya menerima dirinya kembali setelah dia menghancurkan Tasya begitu dalamnya. Zayn pun sengaja tak membahas kehamilan Tasya karena fokus Zayn sekarang adalah meminta maaf dan memulai kembali hubungannya dengan Tasya. Bukannya dia tak mau bertanggung jawab, tapi maaf Tasya saat ini sangat penting baginya. Jika Tasya belum memaafkannya, bagaimana dia bisa bertanggung jawab.


"Sekali lagi aku minta maaf, sayang. Dan aku tidak akan pernah menyerah sampai kau mau memaafkanku!" usai mengatakan hal itu Zayn melangkah dengan gontai meninggalkan kostan Rizki, tapi ketika ia hendak menggapai pintu langkahnya terhenti karena mendengar pekikan Rizky


"Tasya!!"


.


.


.


.


.


Bersambung...