BISSMILLAH WITH YOU

BISSMILLAH WITH YOU
DUA GARIS



Kia lalu menampung urinnya dan langsung mencelupkan test pack sesuai petunjuk. Dan Kia menunggu sekitar tiga menitan untuk melihat hasilnya.


Sungguh dibuat syok, terkejut, senang, sedih, terharu, pokoknya bercampur menjadi satu perasaannya Kia ketika melihat hasil test packnya.


Kia masih antara yakin dan tidak yakin dia lalu mengeluarkan dua test pack lagi dengan merek yang berbeda dan langsung mencelupkannya keurin tadi yang ditampungnya.


Semuanya sama-sama menunjukkan dua garis, yang artinya Kia benar-benar positif hamil. Sungguh Kia saat itu juga dia sampai luruh perlahan dan langsung duduk dilantai kamar mandi karena saking bahagia dan terharunya perasaannya. Kia sampai mengeluarkan air mata yang tiada hentinya, karena dia masih tidak percaya diberikan kepercayaan besar oleh Allah begitu cepat.


Ketika Kia sedang menahan rasa gejolak bahagia didadanya, Kia mendengar suara pintu kamar terbuka, dan ternyata Qiyas yang masuk kekamar setelah tadi menunaikan ibadah sholat subuh berjamaah diluar.


"Sayang kamu didalam?? ", tanya Qiyas kepada Kia sambil mengetuk pintu kamar mandi.


"Iya", jawab Kia dengan suara yang dibiasakan semaksimal mungkin, agar tidak terdengar seperti habis menangis.


Kia lalu berusaha bangun dari duduknya karena setelah mengetahui jika dia positif hamil kakinya Kia seperti jelly, lemas tak bertulang itulah yang dirasakan Kia.


Kia lalu mencuci mukanya agar terlihat lebih fresh dan agar tidak terlihat selesai menangis. Ketika dirasa sudah baik, Kia lalu mencoba untuk keluar dan menemui Qiyas.


Dengan perlahan Kia membuka pintu kamar mandi. Setelah pintu terbuka Kia melihat Qiyas sedang duduk dishofa yang ada dikamarnya sambil mengecek pekerjaannya dilaptonya.


Test pack tadi sudah Kia sembunyiin dikantong bajunya Kia, jadi Qiyas tidak menyadari jika Kia akan menunjukkan test pack itu padanya.


"Abiiii",...... Panggil Kia kepada Qiyas setelah Kia sudah duduk dishofa samping Qiyas.


Qiyas yang mendengar Kia memanggilnya Abi, langsung saja dia meninggalkan pekerjaannya dan langsung mengahadap keKia.


"Kamu panggil Kakak apa sayang??, coba diulangi lagi", tanya Qiyas ketika sudah menghadap keKia.


"Abi, Umi cayaaaang cekali cama abi", kata Kia dengan menirukan logatnya anak kecil terus langsung mencium pipinya Qiyas. Membuat Qiyas terheran dan bingung akan tetapi juga senang.


Qiyas sedikit heran dengan sikapnya Kia, karena menurut Qiyas sikap Kia sungguh sangat-sangat manja sekali padanya pagi itu.


"Kamu lucu sekali sih sayang, ada apa sih?? ", tanya Qiyas kepada Kia.


"Tutup mata dulu deh, nanti Kia kasih tahu", kata Kia kepada Qiyas dengan ekspresi yang sungguh-sungguh ceria.


"Tunggu-tunggu, kamu habis menangis ya sayang, ko mata kamu sedikit bengkak dan merah begitu", tanya Qiyas kepada Kia.


"Mangkanya tutup mata dulu, nanti Kia kasih tahu apa penyebab Kia menangis", kata Kia lagi kepada Qiyas.


"Baiklah", jawab Qiyas akhirnya dan langsung menutup matanya.


"Jangan buka ya, sebelum Kia berkata buka", pesan Kia kepada Qiyas dan dijawab anggukan oleh Qiyas.


Ketika Qiyas menutup matanya Kia lalu mengeluarkan ketiga test pack tadi yang untuk mengetes kehamilannya.


Kia lalu mengambil tangannya Qiyas dan Qiyas menurut-nurut saja.


"Siniin deh tangannya Kakak, tapi jangan dibuka dulu dan jangan mengintip lho ya", kata Kia lagi.


"Apaan sih, bikin Kakak penasaran saja", kata Qiyas sambil memberikan telapak tangannya yang kanan dan dengan mata yang masih terpejam.


Ketika Qiyas sudah memberikan telapak tangannya, dengan perlahan Kia menaruh semua ketiga test pack itu ditelapak tangannya Qiyas.


"Ini apa sih, ko kecil-kecil panjang", kata Qiyas dengan nada yang sangat penasaran.


"Sekarang boleh dibuka deh matanya Kak", kata Kia kepada Qiyas. Qiyas dengan perlahan membuka matanya dan langsung melihat kearah telapak tangannya.


Dengan tangan yang sedikit gemetar Qiyas mengambil semua test pack itu dan melihatnya satu persatu.


"Ini beneran sayang, apa Kakak tidak sedang bermimpi", tanya Qiyas dengan nada yang ingin menangis.


"Ini beneran abi, didalam cini ada dedek yang siap akan ketemu abi", kata Kia sambil menirukan logatnya anak kecil dan mengambil tangannya Qiyas lalu diusapkan keperutnya.


Qiyas yang mendengarnya dan melihatnya langsung hasil dua garis ditest peck itu. Sontak saja Qiyas langsung memeluk dengan erat si Kia dan tanpa sadar dia meneteskan air matanya.


"Terimakasih ya Allah, terimakasih sayang", kata Qiyas sambil memeluk Kia dan menangis.


"Iya abiku sayang", jawab Kia kepada Qiyas.


Qiyas langsung saja menciumin seluruh mukanya Kia dengan sangat bersemangat sekali.


Setelah itu Qiyas lalu turun keperutnya Kia, dan dia membisikan kata didepan perutnya Kia, sambil mengelusnya.


"Assalamu'alaikum anak abi, abi akan berusaha semaksimal mungkin menjagamu dan menjaga umimu sayang, baik-baik dan tumbuh sehat didalam ya anaknya abi", kata Qiyas sambil mencium perutnya Kia yang tertutup baju


dengan nada yang bergetar karena dia menangis dan masih tidak menyangka.


Pagi itu menurut mereka adalah pagi yang sangat indah. Pagi baru dirumah baru dan pagi yang indah dengan anugerah terindah didalam hidup Kia dan Qiyas.


"Abi kapan kita harus memberitahukan ini kepada Ayah, Mamah, Bunda dan Papah??", tanya Kia kepada Qiyas sambil memanggil Qiyas dengan panggilan abi. Panggilan yang sangat diidam-idamkan oleh Qiyas dan Kia.


"Rasanya hatiku bahagia sekali kamu memanggilku abi sayang", kata Qiyas kepada Kia sambil merangkul pundaknya Kia.


"Abi belum menjawab pertanyaan umi", kata Kia dengan memanyunkan Bibirnya.


"Baiklah kita kasih tahu sekarang saja bagaimana, karena ini sungguh hal yang pasti sangat dinantikan oleh Ayah dan Mamah sayang, sebab ini kan cucu pertama untuk mereka, walaupun ini", kata Qiyas sambil mengusap perut ratanya Kia.


"Tidak cucu pertama bagi Bunda dan Papah, akan tetapi lebih adil kita memberitahukan mereka semua saja sayang, bagaimana", jelas Qiyas pada akhirnya sama Kia.


"Baiklah, jika itu maunya Abi, terus kita kapan mengasih tahunya Abi?? ", tanya Kia kepada Qiyas.


"Sekarang saja umi, terus nanti hari ini kita semua bersama Ayah, Mamah, Bunda dan Papah berangkat cek kondisi umi dirumah sakit bagaimana sayang, biar lebih akurat dan mereka bisa merasakan kebahagiaan seperti kita", jawab Qiyas kepada Kia.


"Baiklah", jawab Kia kepada Qiyas.


Qiyas lalu mengambil Hpnya dan langsung mehubungi Ayah Ibrahim serta Papah Ziyas secara panggilan group diwatsapp.


"Hallo Assalamu'alaikum nak Iyas dan Kia,


"Hallo Assalamu'alakum Yas, Kia, ada apa video call Papah pagi-pagi sekali begini,


Kata Ayah Ibrahim dan Papah Ziyas secara bersamaan.


"Ada yang ingin kami sampaikan Pah, Yah, dan Mamah sama Bunda dimana Yah Pah?? ", kata dan tanya Qiyas kepada Ayah Ibrahim serta Papah Ziyas.


Papah Ziyas dan Ayah Ibrahim lalu memanggil Mamah Dian serta Bunda Lili.


"Hallo Assalamu'alaikum, ada apa nak",


"Assalamu'alaikum, kenapa tumben Video call pagi-pagi begini, kan tadi malam kita juga baru bertemu nak",


Kata Bunda Lili dan Mamah Dian secara bersamaan ketika mereka sudah terlihat dikamera.


"Begini semuanya, nanti Qiyas ingin memeriksakan kondisi Kia kerumah sakit, apakah kalian semuanya mau menemani kami", kata Qiyas sengaja membuat mereka penasaran.


"Maksud kamu apa nak, kenapa dan ada apa dengan Kia?? ", tanya Mamah Dian dengan nada yang sangat khawatir.


"Kamu sakit nak Kia?? ", tanya Bunda Lili kepada Kia juga dengan nada yang juga khawatir.


Qiyas dan Kia sampai tidak diberi kesempatan untuk menjawab, akhirnya mereka hanya tersenyum mendengar pertanyaan Ayah Ibrahim, Mamah Dian, Papah Ziyas dan Bunda Lili.


"Ada apa Yas, dengan nak Kia?? ", tanya Papah Ziyas kepada Qiyas.


"Kenapa kalian malah tersenyum saja dan bukannya menjawab pertanyaan kami nak", kata Ayah Ibrahim kepada Qiyas dan Kia.


"Begini semuanya, Kia tidak kenapa-kenapa ko sebenarnya Kia itu......... Kata Qiyas sengaja menjeda perkataannya dan Qiyas lalu mengeluarkan tiga test peck tadi dan dengan perlahan-lahan Qiyas dan Kia menunjukkan ketiga test pack itu kepada Ayah Ibrahim, Mamah Dian, Papah Ziyas dan Bunda Lili.


"Masyaallah,


"Alhamdulillah,


Kata Mamah Dian dan Ayah Ibrahim secara bersamaan dengan nada yang sangat terharu dan menitikkan air mata.


"Alhamdulillah,


"Alhamdulillah, selamat nak",


Kata Papah Ziyas dan Bunda Lili secara bersamaan. Ketika mereka semua melihat semua test pack yang ditunjukkan oleh Qiyas dan Kia.


Akhirnya mereka semua mengetahui maksud Qiyas mengajak Kia periksa kerumah sakit. Dan hari itu Ayah Ibrahim, Mamah Dian, Bunda Lili serta Papah Ziyas mereka semua ikut Qiyas dan Kia kerumah sakit untuk memeriksa kondisi kehamilannya Kia.


Pagi itu Keluarga Ibrahim dan Keluarga Irawan diberikan kebahagiaan yang tidak terkira. Terutama Ayah Ibrahim dan Mamah Dian, mereka begitu bahagia karena akan segera mendapatkan seorang cucu.


πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“



Aulian-Zahra sudah Author buatin novel sendiri ya sesuai request para readers, yuk jangan lupa mampir yakπŸ˜œπŸ˜œπŸ˜ŠπŸ€—πŸ˜˜πŸ˜πŸ˜‚πŸ˜…πŸ˜


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


***TBC***