
Saat ini Qiyas lagi didalam kamarnya sambil melihat langit-langit kamarnya dan termenung. Qiyas sudah diceritain semua oleh Gus Zabir sahabatnya tentang Ustadz Faris yang diterima Khitbahannya oleh Kia. Jauh hari dia sudah sangat menyiapkan hati tetapi tetap saja Qiyas tidak bisa membohongi hatinya, kalau dia sangat bersedih dan sangat sakit.
Walaupun dia sudah tidak lagi curi-curi pandang, sudah tidak lagi mengikuti Kia secara diam-diam, tetapi rasa cinta dan sayangnya masih rapi tersimpan dihatinya.
Qiyas juga bingung dengan dirinya, semenjak meninggalnya tunangannya tiga tahun lalu, belum ada yang bisa membuka hatinya kembali, karena dia cenderung menutup hati.
Walaupun sering kali bundanya meminta untuk mencari calon istri dan Qiyas selalu mengelak dan menjawab dengan nanti setelah umur 30 tahun. Itu semua dia lakukan karena belum ada wanita yang bisa menggantikan posisi tunangannya dihatinya. Akan tetapi setelah melihat Kia, Qiyas kembali merasakan apa yang namanya jatuh cinta lagi.
Sepertinya takdir belum bisa menyatukan mereka, tetapi entah kenapa hatinya Qiyas selalu berkata bahkan sangat yakin jika Kia adalah benar-benar jodohnya.
**F**lashback On**
"Kak Iyas, jika takdir memanggilku lebih dulu, apakah kakak mau mengabulkan satu permintaanku", tanya AFRIN AALIYAH SALSABILA.
AFRIN AALIYAH SALSABILA adalah tunangan Qiyas yang sudah meninggal tiga tahun lalu. Mereka bertunangan pada waktu umur Qiyas 25 tahun, sedangkan Afrin umurnya baru 20 tahun.
Mereka pertama kali bertemu disebuah bazar buku yang saat itu diselenggarakan dikota X.
"Apa yang kamu omongin Bila", kata Qiyas sedikit tegas.
Saat itu mereka sedang berada ditaman belakang rumah Qiyas dan Afrin sengaja ingin berbicara berdua dengan Qiyas, dengan duduk yang masih menjaga jarak. Mereka berbicara serius tetapi tidak saling melihat.
"Hidup, mati, rejeki dan jodoh siapa yang tahu Kak. Jika seandainya Bila dipanggil lebih dulu maukan Kakak memenuhi satu permintaanku", Kata Afrin.
"Baiklah apa itu permintaanmu Salsabila?? ", tanya Qiyas pasrah, karena menurut Qiyas Bila tunangannya sedang bercanda, karena benar hidup mati sesorang tiada yang tahu.
"Menikahlah dengan adikku jika ia sudah cukup umur, jika kaliyan tidak berjodoh, jagalah adikku seperti Kakak menjaga adik Kakak sendiri", kata Afrin yang membuat reflek Qiyas memandang Afrin.
"Apaaaa!!! Apa-apaan kamu Bila", kata Qiyas dengan tegas.
"Bila mohon Kak", kata Afrin dengan memohon.
"Baiklah jika harus menjaganya seperti menjaga adik kandungku sendiri Bila, tetapi jika harus menikahinya saya tidak bisa berjanji, karena kamu tahu benar bahwa jodoh seseorang tiada yang tahu", jawab Qiyas akhirnya.
"Terimakasih Kak", ungkap Afrin dengan senyum tulus.
*Flashback Of*
Qiyas tahu jika tunangannya mempunyai adik perempuan yang sedang mondok dipesantren kota W, selama mengenal Afrin Qiyas sama sekali belum pernah ketemu dengan adiknya Afrin yaitu Kia. Karena Kia jarang pulang kerumah, sekalinya pulang kerumah Qiyas yang tidak main kerumah Afrin, karena kata Afrin dia ingin menghabiskan waktu berdua dengan adiknya. Dan dirumah Afrin pun dia tidak melihat foto-foto adiknya Afrin. Karena kebanyakan foto dipajang didalam kamar dan diruang keluarga. Sedangkan Qiyas jika main cuman diruang tamu tidak sampai kedalam-dalam rumah ataupun sampai keruang keluarga.
Dan Afrin memanggil Kia dengan panggilan Nabil. Itu sebabnya Qiyas tidak mengetahui jika wanita yang ia cintai sekarang yang bernama ADZKIA NABILAH BALQIS adalah adik kandung dari wanita yang menjadi cinta pertamanya dulu.
ππππππππππππ
***TBC***