BISSMILLAH WITH YOU

BISSMILLAH WITH YOU
MENGKHITBAH



Tes, Tes, Tes


Air mata Kia tiba-tiba menetes teringat dengan Kakaknya Afrin.


"Kak, apakah Kakak bahagia sekarang Kia sudah ada yang mengkhitbah, dulu Kakak adalah orang pertama yang paling penasaran seperti apa sosok ikhwan yang akan menjadi pendamping Kia kedepannya. Kakak waktu itu juga marah kepada Kia karena Kia tidak bisa datang, tapi apakah Kia sekarang harus ikut-ikutan marah seperti dulu Kakak marah yang mendiami Kia selama 2 hari, karena Kakak sekarang tidak bisa hadir dan menyaksikan hari bahagia Kia", kata Kia sambil melihat keatas langit dan diiringi air mata yang sedikit demi sedikit menetes dari matanya.


Kia mungkin tidak ngeh diwaktu Kakaknya memperkenalkan calon tunangannya dengan nama Iyas, dan kemarin Lida menjelaskan panggilan Qiyas dikeluarganya adalah Iyas. Tetapi jikalaupun ngeh Kia berfikiran mungkin hanya namanya saja yang sama.


"Kia sayang, kamu melamun, dan apakah kamu menangis", tanya Mamah Dian sambil mengguncangkan pundak Kia dan melihat mata sembab Kia.


"Eh Mamah, Kia ko tidak dengar ya Mamah jalan kesini, ngagetin saja", kata Kia mengalihkan pembicaraan sambil membersihkan sisa air matanya.


"Mamah sudah manggil kamu tiga kali hlo, dan setelah mamah dekatin ternyata lagi melamun, pantas saja tidak dengar, lagi melamunin apa sayang?? ", tanya Mamah Dian sambil mengusap kepala Kia dengan sayang.


"Kia cuman lagi kangen sama Kakak Mah, biasanya jika Kia duduk disini pasti ditemanin Kakak", kata Kia sambil menyandarkan kepalanya dibahu Mamahnya.


"Sudah Kia, jangan bersedih terus, nanti jika Kakak melihat Kia dari atas sana sedang bersedih, Kakak pasti ikutan sedih", kata Mamah Dian memberi nasihat kepada Kia, sambil mengusap pundak Kia seakan menyalurkan ketenangan.


"Sudah masuk yuk, kamu istirahat, nanti habis istirahat bantuin mamah buat nyiapin nanti malam", ajak Mamah Dian masuk rumah.


Ternyata waktu berjalan begitu cepat, begitulah yang dirasakan Kia. Karena sebentar lagi habis sholat Isya' Keluarga Besar dari Ustadz Faris akan datang mengkhitbah dan mungkin meminangnya sekalian.


Tok, Tok, Tok


Tak terasa orang yang sedang ditunggu keluarga besar Kia sudah datang.


"Assalamu'alaikum", Kata Ayah Ustadz Faris yang bernama Ahmad.


Ustadz Faris datang bersama kedua orang tuanya, kedua Kakeknya, Neneknya dari ayahnya, karena Nenek dari Ibunya sudah meninggal serta kedua Pamannya beserta istri-istrinya yaitu bibi-bibinya dan ketiga Kakaknya. Karena Ustadz Faris anak bungsu dari Ayah Ahmad.


"Wa'alaikumussalam, oh sudah datang, mari-mari masuk dan silahkan duduk", kata Ayah Ibrahim dengan tersenyum ramah menyambut tamunya.


Mamah Dian setelah menyuruh asissten rumah tangganya untuk menghidangkan minuman dan camilan yang sudah disediakan, dia ikut duduk disamping suaminya.


"Mbak tolong panggilkan Kia dikamar ya", bisik Mamah Dian kepada Kakak Iparnya.


Dirumah Kia sendiri sudah ada Keluarga besar Kia, dari Kedua Kakung, dan Kedua Utinya karena orang tua dari Ayah Ibrahim dan Mamah Dian masih hidup semua, terus Kakaknya Ayah Ibrahim beserta istri dan anak-anaknya, serta adik-adiknya Mamah Dian beserta istri-istrinya.


Semua orang yang ada disitu pandangannya teralihkan oleh sesosok wanita cantik berhijab syar'i dan jangan lupakan Niqobnya yang semakin menambah kesan misterius nan cantik, siapa lagi kalau bukan Adzkia yang baru turun dari lantai dua rumahnya.


"Baiklah semua sudah berkumpul, bisakah kita mulai Pak Ibrahim", kata Ayah Ahmad bertanya kepada Ayah Ibrahim.


"Silahkan Pak Ahmad", kata Ayah Ibrahim dengan tersenyum mempersilahkan.


"Baiklah, sebelumnya Assalamu'alaikum warrohmatullah hiwabarookaatuh, mungkin kedatangan kami semua kesini kaliyan semua sudah mengetahui niat dan i'tikad baik kami. Langsung saja ya Pak Ibrahim Saya Ahmad selaku Ayah dari Faris Al-ghozali, ingin mengkhitbah putri dari Bapak Ibrahim yang bernama Adzkia Nabilah Balqis untuk anak saya yang bernama Faris Al-ghozali. Apakah Bapak Ibrahim menerima I'tikad baik kami untuk mengkhitbah dan menyambung tali silaturrahim menjadi lebih dekat", kata Ayah Ahmad kepada Ayah Ibrahim.


Kia saat ini perasaannya deg-degan sekali, sedangkan Ustadz Faris dia lebih tenang dan sering mengumbar senyum.


"Untuk satu itu saya serahkan semua kepada yang bersangkutan yaitu anak saya Adzkia Pak Ahmad, karena dia nanti yang akan menjalani hidup rumah tangganya", jawab Ayah Ibrahim dengan tersenyum.


"Bagaimana Nak, apakah kamu menerima Khitbahannya Nak Faris", tanya Ayah Ibrahim kepada Adzkia anaknya.


Semua mata orang langsung tertuju kepada Kia, membuat Kia semakin deg-degan dan salah tingkah. Kia hanya menjawab dengan angguka, sontak semua orang disitu mengucap syukur.


"Alhamdulillah", ucap semua orang.


"Pak Ibrahim alangkah baiknya niat baik segera dilaksanakan, jika diijinkan dan dikenankan saya ingin membahas pernikahan anak kita Pak. Setujukah Pak Ibrahim jika kita segerakan akad nikahnya untuk anak-anak kita", kata Ayah Ahmad.


"Saya setuju Pak Ahmad, takutnya juga akan nanti menimbulkan fitnah, karena mereka pasti akan sering ketemu, apalagi mereka mengajar ditempat yang sama", kata Ayah Ibrahim.


"Apakah Nak Faris ada yang ingin disampaikan", tanya Ayah Ibrahim kepada Ustadz Faris.


Ustadz Faris hanya menjawab dengan gelengan dan senyuman.


"Dan apakah Nak Faris tidak ingin melihat muka calon Istrimu?? ", tanya Ayah Ibrahim lagi dengan senyum menggoda.


"Bolehkah", kata Ustadz Faris.


"Boleh, sana ikut sama tante-tantenya Kia", kata Ayah Ibrahim.


Didalam syariat Islam pihak ikhwan diperbolehkan untuk melihat wajah calon istrinya dan memandangnya hanya untuk kebutuhan saja, karena belum menjadi mahramnya.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


***TBC***