BISSMILLAH WITH YOU

BISSMILLAH WITH YOU
TERUNGKAP



Aulian dia berada paling depan ketika akan berjalan keluar dan sesampainya diruang tamu Aulian yang akan membuka pintu rumahnya Ayah Ibrahim dia dikejutkan oleh orang yang menjadi kekhawatirannya semua orang. Dan diikuti Papah Ziyas serta Ayah Ibrahim yang juga terkejut.


"Kakak",.......


"Iyas",........


"Nak",.......


Kata Aulian, Papah Ziyas dan Aulian secara bersamaan dengan nada dan ekspresi yang sangat terkejut.


Iya orang yang membuat Aulian, Ayah Ibrahim dan Papah Ziyas sangat terkejut adalah Qiyas. Qiyas yang saat itu ingin membuka pintu rumah, malah sudah terbuka lebih dulu oleh Aulian dari dalam, jadi Qiyas sendiri juga terkejut dan intinya mereka sama-sama terkejut.


"Kakak tidak apa-apa kan?? ",..... Tanya Aulian kepada Qiyas.


Belum sempat Qiyas menjawab Papah Ziyas dan Ayah Ibrahim gantian yang bertanya.


"Kamu mana yang sakit nak?? ", tanya Ayah Ibrahim.


"Bagaimana ceritanya nak kamu bisa sampai dirumah, sedangkan kami saja akan menyusulmu kebandara", kata Papah Ziyas kepada Qiyas.


Qiyas sampai dibuat bingung dengan mereka bertiga. Hingga suara Aulian membuyarkan kebingungan Aulian.


"Sebaiknya kita masuk saja dulu Pah, biar Kakak bisa menjelaskan didalam, kasihan juga Kak Kia didalam", kata Aulian kepada Papah Ziyas.


Qiyas yang mendengar nama Kia disebut Aulian dan katanya tadi kasihan Qiyas llangsung menjadi khawatir.


"Balqis, kenapa dengan Balqis, dia tidak apa-apa kan?? ", tanya Qiyas kepada Aulian dengan nada yang sangat cemas.


"Dan kamu Aul serta Papah kenapa jam segini ada dirumahnya Ayah Ibrahim, apa kalian tidak berangkat kekantor?? ", tanya Qiyas lagi sambil melihat kearah Aulian dan Papah Ziyas.


"Sudah benar apa yang dikatakan Aul, kita masuk saja dulu, ayo mari", kata Ayah Ibrahim kepada semua.


Akhirnya mereka berempat masuk kerumah Ayah Ibrahim tepatnya menuju keruang Keluarga Ayah Ibrahim.


Ketika berjalan menuju keruang Keluarga, para pelayan yang bersimpangan sama mereka terutama sama Qiyas, mereka pada bergumam.


"Tuan Qiyas,


"Itu Tuan Qiyas,


"Alhamdulillah Tuan Qiyas masih hidup,


Ya begitulah sayup-sayup gumaman yang didengar ditelinga Qiyas. Dan itu semakin membuat Qiyas bertanda tanya.


Ketika mereka berempat akan masuk keruang keluarga, Kia, Mamah Dian dan Bunda Lili dibuat terkejut dengan adanya Qiyas diantara Papah Ziyas, Aulian dan Ayah Ibrahim.


"Kak Fasya", kata Kia sambil berlari menuju Qiyas dan langsung memeluknya dan dibalas juga oleh Qiyas dengan ekspresi yang bingung.


"Iyas, kamu tidak apa-apa nak, syukurlah", kata Mamah Dian dengan lega.


"Nak, alhamdulillah kamu selamat nak, terimakasih ya Allah",kata Bunda Lili sambil gantian memeluk Qiyas dan itu membuat Qiyas tambah bingung.


"Ini sebenarnya ada apa sih?? ", tanya Qiyas pada akhirnya.


"Kamu tidak tahu Kak?? ", tanya Aulian.


"Sini nak", kata Ayah Ibrahim menyuruh Qiyas untuk duduk.


Akhirnya mereka semua duduk kembali dishofa yang ada diruang keluarga itu. Dan Kia dia duduk disampingnya Qiyas sambil selalu memegang tangannya Qiyas.


Ayah Ibrahim lalu mencari siaran berita tadi pagi ditelevisi tentang kecelakaan pesawat GreenAir tujuan keSemarang jam sekian dan jatuhnya kelaut sekitar jam sekian setelah lepas landas.


Qiyas ketika melihat siaran berita itu dia sangat terkejut dan bersyukur jika dia tidak jadi menaiki pesawat itu.


"Subhanallah, Masyaallah, Allah masih memberikanku kesempatan hidup lagi didunia ini", kata Qiyas reflek dan suaranya sedikit bergetar karena menahan tangis ketika melihat siaran berita itu.


"Jadi ini yang menyebabkan kalian semua berkumpul disini dan membuat kalian semua pada terkejut serta bingung ketika melihatku", kata Qiyas kepada semua.


"Iya Nak, bahkan istrimu sampai pingsan lumayan lama ketika mengetahui berita itu", kata Ayah Ibrahim kepada Qiyas.


Qiyas yang mendengar perkataan Ayah Ibrahim dia lalu melihat kearah Kia dan lalu merangkulnya.


"Kak bagaimana ceritanya Kakak bisa sampai disini dan Kakak bahkan tidak mengetahui tentang berita kecelakaan Pesawat yang akan Kakak tumpangi", tanya Aulian kepada Qiyas Kakaknya.


Dan semua orang langsung melihat kearah Qiyas karena mereka semua juga pada penasaran mendengar ceritanya Qiyas.


*Flashback on*


Ketika Qiyas baru saja keluar dari gerbang rumahnya Ayah Ibrahim menuju kebandara.


Qiyas yang sudah dipertengahan perjalanan dan baru sampai dijalan Majapahit hanya tinggal beberapa Kilometer lagi dia dan Fadhil akan sampai diBandara, ternyata Qiyas dan Fadhil mengalami kemacetan yang cukup parah.


Qiyas dan Fadhil terjebak kemacetan itu hingga mobil yang mereka tumpangi susah untuk bergerak, untuk berbelok arahpun tidak bisa.


Sudah hampir dua jam Qiyas dan Fadhil terjebak dikemacetan itu, dan ketika Fadhil turun untuk mencari tahu penyebab kemacetan itu, ternyata didepan sana ada truk trailer yang katanya supirnya mengantuk mengakibatkan truk itu menabrak pembatas jalan dan ambruk ditengah jalan serta barang muatan yang jatuh berserakan dijalanan.


Qiyas dan Fadhil sangat kesal dan sangat prihatin mendengar hal itu, karena kecelakaan itu mereka jadi ketinggalan pesawat.


Ketika Qiyas ingin menelfon Kia, dia baru teringat jika Hpnya masih dicass dimeja samping ranjang dan Qiyas juga baru ingat jika tiket pesawatnya pun juga masih tertinggal dirumah.


"Astaghfirullah", kata Qiyas beristighfar ketika mengingat hal itu.


"Tuan kita sudah sangat ketinggalan pesawat Tuan, kita mau menunggu ini selesai dan akan saya pesankan tiket lagi, atau kita pulang saja Tuan", tanya Fadhil kepada Qiyas.


"Kita pulang saja Fadhil, lagian tiket pesawat dan Hp saya masih tertinggal dirumah", kata Qiyas keada Fadhil.


"Fadhil apa kamu bawa Hp, boleh saya pinjam Hp kamu?? ", tanya Qiyas kepada Fadhil.


"Boleh Tuan, ini", kata Fadhil kepada Qiyas sambil memberikan Hpnya yang sudah dibukakan kata sandinya.


Qiyas lalu menghubungi Kia untuk memberitahukan jika dirinya terjebak macet dan tidak jadi keSemarang, serta Hp dan tiketnya pun masih tertinggal dimeja samping ranjang.


Akan tetapi sudah empat kali Qiyas menghubungi Kia, tidak ada tanggapan dan tidak diangkat telefonnya. Akhirnya Qiyas mengembalikan lagi Hpnya keFadhil dan Fadhil pun lalu mengantongi Hpnya disaku jaznya lagi tanpa mengeceknya sama sekali, karena dia masih fokus dengan kemacetan yang terjadi dan Fadhil sampai lupa jika Hpnya masih bermode diam. Jadi ketika Aulian menghubungi Fadhil, Fadhil tidak mengetahuinya.


Ingin sekali Qiyas menelfon Ayah Ibrahim akan tetapi Qiyas tidak hafal nomer telefonnya, dan Qiyas sengaja tidak menelfon telefon rumahnya Ayah Ibrahim karena fikir Qiyas tidak apalah, toh nanti juga pulang. Qiyas juga tidak kefikiran akan mengabari Aulian atau Papahnya.


Qiyas bisa berfikir begitu karena dia sendiri tidak mengetahui jika Pesawat yang akan ditumpanginya mengalami kecelakaan dan terjebur kelaut setelah lepas landas dari bandara tadi.


"Tuan, jika Tuan ingin pulang dulu tidak apa-apa Tuan, biar saya yang bawa mobilnya dan nanti akan saya antarkan kerumah Tuan", kata Fadhil kepada Qiyas.


"Baiklah kalau begitu Fadhil, terimakasih ya", kata Qiyas kepada Fadhil.


"Iya Tuan hati-hati dan maaf tidak bisa mengantar Tuan", kata Fadhil lagi kepada Qiyas.


"Tidak apa", jawab Qiyas singkat kepada Fadhil.


Akhirnya Qiyas meninggalkan Fadhil yang masih terjebak macet. Dan Qiyas berjalan beberapa meter dan mencari celah untuk menyeberang keseberang jalan yang tidak macet untuk mencari taksi dan kembali pulang kerumahnya Ayah Ibrahim.


*Flashback Off*


Begitulah ceritanya yang terjadi kepada Qiyas. Semua orang yang mendengar cerita Qiyas mereka pada bersyukur, karena dengan kemacetan itu Qiyas masih bisa berkumpul dan bercanda bersama Istri dan semua keluarganya.


Dan tentang perasaan Kia yang gelisah dari kemarin inilah mungkin jawabannya, dan Do'a Kia untuk keselamatan Suaminya sampai pulang kerumah dengan selamat sudah dihijabah oleh Allah Swt.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


***TBC***