
Setelah dari Panti Asuhan kemarin, tepatnya tiga hari kedepannya Qiyas benar-benar berangkat keSemarang untuk mengurusi Proyek yang ada disana yang sedang dalam masalah lumayan serius.
Sehari sebelum Qiyas berangkat, Kia dikantornya entah kenapa perasaannya selalu tidak enak dan kefikiran dengan Qiyas suaminya terus, padahal Kia sudah mengalihkannya dengan beristighfar banyak-banyak maupun bersholawat didalam hatinya, akan tetapi rasa cemas yang datang tiba-tiba itu tidak bisa dihilangkannya.
Kia sengaja tidak memberitahukan hal itu kepada Qiyas karena Kia tidak mau membuat Qiyas menjadi khawatir kepadanya.
Ketika dirumah sepulang dari kantor pun perasaannya Kia semakin tidak menentu, apalagi setiap melihat Qiyas Kia rasanya tidak mau mengalihkan pandangangannya. Dan itu membuat Qiyas bertanda tanya, karena tumben Kia selalu melihat kearahnya terus.
"Kamu kenapa sih sayang, daritadi ngelihatin Kakak sebegitunya dan serius banget", kata Qiyas sambil memasukkan berkas-berkas yang akan dia bawa besok keSemarang.
"Tidak tahu, rasanya ingin saja melihat kearah Kakak terus dan rasanya ingin sekali Kia mencegah Kakak untuk pergi", kata Kia sambil memeluk Qiyas dari belakang dan mengusap-ngusapkan wajahnya kepunggung Qiyas.
"Tumben sekali kamu, kenapa sih sayang", kata Qiyas sambil membalik badan dan memeluk Kia dari depan.
Kia hanya menggeleng dan mengeratkan pelukannya keQiyas dan semakin dalam menghirup aroma badannya Qiyas.
"Ya sudah kita tidur yuk, besok Kakak harus berangkat pagi jam tujuh sayang, kamu masih ingat kan?? ", ajak Qiyas kepada Kia.
Kia masih mengangguk menanggapi Qiyas.
Akhirnya Qiyas dan Kia mereka tidur dengan saling berpelukan, dan Kialah yang tumben tidak mau melepaskan pelukannya terlebih dahulu, rasanya ingin menempel terus dibadannya Qiyas. Walaupun Qiyas heran dengan sikap Kia malam itu, akan tetapi dia juga membalas pelukannya Kia.
Dipagi harinya Kia sudah terbangun lebih dulu dari Qiyas. Setelah mereka tadi menunaikan sholat tahajud bersama, Qiyas tidur lagi dan bangun untuk sholat subuh, habis itu juga tidur lagi Qiyasnya.
Berbeda dengan Qiyas, Kia setelah sholat Tahajud tadi, dia bahkan tidak bisa memejamkan matanya sama sekali. Dan perasaan gelisah itu sudah Kia hilangkan dengan semakin mendekatkan diri kepada Allah dengan mengaji dan berdzikir akan tetapi nanti perasaan itu tiba-tiba muncul lagi.
Kia sampai heran, karena sebelumnya dia belum pernah merasakan perasaan seperti itu, sebelum menikah. Dan Kia dari kemarin merasa perasaan begitu, dia selalu berdo'a semoga diberikan yang terbaik dan semuanya baik-baik saja, terutama untuk suaminya Qiyas diberikan keselamatan sampai dia pulang kerumah kembali, ya begitulah kira-kira do'a yang Kia panjatkan.
"Kamu jadi nak berangkat keSemarangnya hari ini?? ", tanya Mamah Dian kepada Qiyas ketika mereka sedang sarapan dimeja makan.
Mereka hari ini tidak seperti biasanya, biasanya mereka akan sarapan sekitar jam setengah tujuh atau tidak jam tujuhan, tapi untuk hari mereka sarapan sekitar jam enam pagi, karena Qiyas akan berangkat keSemarang.
"Jadi Mah, ini pesawat Qiyas berangkatnya jam tujuh pagi ini", jawab Qiyas kepada Mamah Dian.
"Kamu naik pesawat apa Iyas?? ", gantian Ayah Ibrahim bertanya.
"Naik Pesawat GreenAir Yah, yang Business Class", jawab Qiyas sambil memakan makanannya.
"Ya sudah semoga perjalanannya lancar ya Nak, sudah sekarang ayo segera habiskan, nanti keburu telat kebandaranya", kata Mamah Dian lagi.
Sedangkan Kia daritadi hanya diam saja sambil memakan makanannya karena sampai pagi ini pun perasaan gelisahnya masih dia rasakan.
Ketika sudah selesai sarapan Qiyas dan Kia mereka pamit untuk naik kekamar mereka karena ingin mengambil barang-barangnya Qiyas.
Kia senantiasa selalu mengingatkan Qiyas agar tidak ada yang kelupaan, dan ketika Kia lagi kekamar mandi Qiyas bilang ingin keluar terlebih dahulu untuk memasukkan tas dan kopernya kedalam bagasi mobil. Akan tetapi ada dua benda yang masih tertinggal diatas meja samping ranjang, serta benda itu lumayan penting bagi Qiyas dan Kia pun dia tidak ngeh sama sekali dan langsung keluar kamar ketika dia baru keluar kamar mandi.
"Yakin sudah semua Kak?? ", tanya Kia lagi ketika Kia melihat Qiyas sedang memakai sepatu diruang tamu.
Qiyas lalu mencoba mengingat-ngingatnya lagi, apa yang belum dia bawa, akan tetapi seingat Qiyas sudah semua.
"Sepertinya sudah semua deh sayang", jawab Qiyas kepada Kia.
"Nanti kamu jadi meeting dengan PT. Kemilau Jaya Balqis?? ", tanya Qiyas sambil memakai sepatu yang satunya lagi.
"Jadi Kak, karena jika Kia menolak sama saja Kia menolak rejeki, karena keuntungan yang mereka tawarkan bisa membuat Perusahaan Ayah memiliki masukan yang semakin besar Kak, bisa naik sekitar 15%", jawab Kia kepada Qiyas sambil membantu Qiyas memakai sepatunya.
"Semoga kamu lancar juga ya sayang meetingnya nanti", kata Qiyas sambil mengusap pipinya Kia.
Fadhil yang juga harus mendampingi Qiyas keSemarang pun dia juga sudah datang kerumahnya Ayah Ibrahim sejak tadi. Karena Qiyas yang menyuruh Fadhil untuk berangkat bersamanya dari rumahnya Ayah Ibrahim.
"Kakak berangkat dulu ya sayang, baik-baik dirumah, Assalamu'alaikum", kata Qiyas kepada Kia sambil mencium keningnya Kia sedangkan Kia juga mencium tangannya Qiyas.
"Kakak juga baik-baik ya disana, semoga selamat sampai tujuan dan jangan lupa terus kebarin Kia ya Kak", kata Kia kepada Qiyas.
Dan dijawab anggukan oleh Qiyas.
Akhirnya Fadhil dan Qiyas mereka berangkat juga dari rumahnya Ayah Ibrahim sekitar jam enam lebih sedikit, dengan Fadhil yang mengemudikan mobilnya Qiyas. Sedangkan Qiyas dia duduk dikursi penumpang yang ada dibelakang.
Kia masih setia melihat kearah mobilnya Qiyas hingga mobilnya benar-benar sudah tidak terlihat baru Kia masuk kerumah.
Perasaannya Kia semakin tidak menentu membuat Kia jadi tidak fokus dan kefikiran terus.
Kia ketika masuk kerumahnya dia langsung duduk diruang tamu, dengan fikiran yang entah melayang kemana.
Sedangkan Mamah Dian setelah sarapan tadi dia langsung menonton berita pagi ditv. Dan Ayah Ibrahim dia sedang berada dikamarnya untuk siap-siap berangkat kekantor.
Karena ketika Qiyas keSemarang dia sudah berpesan kepada Kia, jika berangkat kekantornya harus bareng sama Ayah Ibrahim saja.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan kurang lima belas menit. Pastinya saat ini Qiyas dan Fadhil mereka sudah sampai dibandara dan sudah didalam pesawat. Karena jarak bandara dari rumahnya Ayah Ibrahim tidak terlalu jauh juga tidak terlalu dekat. Jika tidak macet tiga puluh menit pun sudah sampai dibandara.
Dirumah Ayah Ibrahim pun, Kia dan Ayah Ibrahim mereka sudah akan siap berangkat dan bahkan mereka berdua sudah berpamitan kepada Mamah Dian yang sedang menonton tv.
Akhirnya Kia dan Ayah Ibrahim mereka berangkat kekantor bersama menggunakan satu mobil dengan disupiri seorang supir yang bekerja dirumah mereka.
Ketika Kia dan Ayah Ibrahim baru diperjalanan sekitar dua puluh menitan. Hp Ayah Ibrahim berdering, dan ternyata yang menelfon Mamah Dian.
"Hallo Ayah, cepetan pulang lagi, Ayah Nak Iyas Yah nak Iyas", kata Mamah Dian kepada Ayah Ibrahim sampai lupa mengucapkan salam dengan nada yang sangat khawatir.
"Kenapa Iyas Mah, bukannya Iyas mungkin sekarang sudah naik pesawat akan menuju keSemarang?? ", kata Ayah Ibrahim.
Kia yang duduk disebalah Ayah Ibrahim mendengar nama suaminya disebut Ayahnya Kia langsung melihat kearah Ayah Ibrahim.
"Itu masalahnya Yah, cepatan pulang lagi, ini ada berita Pesawat GreenAir jatuh kelaut Ayah, ayah cepetan pulang!!!!! ", kata Mamah Dian dengan buru-buru.
"Apaaaaaaaaaa!!!!!! ", jawab Ayah Ibrahim dengan sangat syok mendengar perkataan istrinya.
Ayah Ibrahim langsung saja mematikan sambungan telefonnya dan menyuruh supirnya untuk putar balik.
Sedangkan Kia yang mendengar Ayahnya berteriak dia semakin tambah tidak karuan perasaannya.
"Ayah ada apa, kenapa berteriak dan menyebut nama Kak Fasya?? ", tanya Kia dengan nada yang juga khawatir.
"Nak Mamahmu baru melihat berita katanya pesawat GreenAir yang ditumpangi suamimu Qiyas jatuh kelaut, tapi kamu jangan cemas dulu, siapa tahu itu pesawat yang satunya lagi", kata Ayah Ibrahim kepada Kia sambil juga menenangkan Kia.
Sedangkan Kia yang mendengar perkataan Ayahnya lidahnya sampai kelu untuk berbicara hanya air mata yang tiba-tiba langsung menetes dari kelopak matanya.
"Ayo Pak, cepat sedikit", kata Ayah Ibrahim kepada sang supir.
"Baik Pak", jawab sang supir.
Kia langsung teringat dengan ponselnya. Dia lalu berusaha untuk menghubungi nomernya Qiyas akan tetapi suara operatorlah yang terdengar, dan Kia ingin menghubungi nomernya Fadhil pun dia juga tidak mempunyai, yang dia punya hanya nomernya Zidan, akan tetapi Kia tidak mau mengganggu Zidan yang sedang berbulan madu dengan Mila.
"Kamu yang tenang dulu nak, mungkin itu pesawat yang lainnya, tenang ya, Istighfar", kata Ayah Ibrahim mencoba menenangkan Kia.
ππππππππππππ
Jangan sering nanyain Aulian Zahra lagi ya readers, Author sudah buatin novel sendiri sesuai request kalian, dan itu cover untuk novelnya si Aul dan Zahra yaπ.
Sudah Author daftarin dinoveltoon, tapi tulisannya masih mereview terus belum disetujui. Sabar ya readersπ€π€π.
*Coming soon*
ππππππππππππ
***TBC***