
Qiyas saat ini sudah berada dirumahnya, tepatnya lagi duduk dikursi yang ada dibalkon kamarnya, karena kamar Qiyas ada dilantai dua. Qiyas lagi merenung mengingat percakapannya dengan Ayah Ibrahim tadi sore ketika dia bertamu keruangan Ayah Ibrahim.
Entah kenapa dia teringat percakapan Ayah Ibrahim menjadi sesak sendiri dadanya.
*Flashback On*
"Tuan diluar ada Tuan Qiyas Presdir dari IRAWAN CORP ingin bertemu dengan anda", kata Rion sekertaris Ayah Ibrahim, ketika Rion sudah dipersilahkan masuk oleh Ayah Ibrahim.
"Iyas ngapain kesini, ada apa, apa ada hal yang penting sampai dia bela-belain kesini", bathin Ayah Ibrahim.
Karena Ayah Ibrahim tidak mengetahui jika Qiyas yang mengantar Kia kembali kekantor. Sedangkan Rion yang melihat Ayah Ibrahim melamun mencoba memanggilnya kembali.
"Tuan, apakah Tuan Qiyas boleh masuk atau disuruh kembali lain waktu", kata Rion yang membuyarkan fikiran Ayah Ibrahim.
"Jangan, suruh dia masuk saja, saya akan menemuinya disini, dan jangan ganggu kami ketika Tuan Qiyas belum keluar dari ruangan ini, katakan jika ada yang mencariku, saya sedang tidak bisa diganggu", kata Ayah Ibrahim tegas kepada Rion.
"Baik Tuan", kata Rion sambil membungkukkan badannya dan berlalu keluar.
Dan Qiyas langsung saja masuk ketika dipersilahkan masuk oleh Rion sekertarisnya Ayah Ibrahim. Dan Ayah Ibrahim sudah menunggu Qiyas masuk.
"Assalamu'alaikum Ayah", salam Qiyas kepada Ayah Ibrahim sambil tersenyum ramah dan langsung menyalami dan mencium tangan Ayah Ibrahim.
Sedangkan Zidan tadi disuruh kembali kekantor oleh Qiyas, setelah mengantarnya sampai keruangan Ayah Ibrahim. Karena fikir Qiyas dia akan sedikit lebih lama bersama Ayah Ibrahim.
"Wa'alaikumussalam Iyas, silahkan duduk, mau minum apa, biar saya pesankan", kata Ayah Ibrahim kepada Qiyas sambil tersenyum juga.
"Terserah Ayah saja", kata Qiyas.
Ayah Ibrahim langsung membuka pintu ruangannya dan menyuruh Rion untuk membuatkan dua kopi susu untuknya dan Qiyas. Setelah itu Ayah Ibrahim kembali duduk dishofa yang ada diseberang Qiyas.
"Ada apa nak Iyas, tumben kesini, apakah ada hal penting tentang kerjasama kita diBali?? ", tanya Ayah Ibrahim keQiyas.
Qiyas menggeleng dan tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Ayah Ibrahim.
"Sebenarnya saya kesini ingin berbicara tentang Balqis Ayah", kata Qiyas yang mengagetkan Ayah Ibrahim.
"Kia, ada apa dengan Kia Iyas?? ", tanya Ayah Ibrahim sedikit khawatir.
"Sejujurnya saya sudah mencintai Balqis sejak pertama kali bertemu dengannya Ayah, sejak Balqis menolongku dari yang hampir kesrempet motor", kata Qiyas yang mengagetkan Ayah Ibrahim, hingga membuat Ayah Ibrahim melotot.
Qiyas langsung saja melanjutkan ceritanya ketika dia melihat tidak ada tanggapan dari Ayah Ibrahim.
"Ketika saya mengajar diPesantren dan tidak sengaja bertemu Balqis, terus disana hampir setiap hari ketemu, membuat perasaan saya semakin membuncah Ayah, hingga saya sangat sulit untuk melupakannya ketika tahu Balqis akan menikah dengan Ustadz Faris, walau saya pernah diDubai selama satu tahun pun perasaan saya tidak pernah luntur sekalipun", cerita Qiyas kepada Ayah Ibrahim. Ayah Ibrahim yang mendengar pun tersenyum.
"Boleh Ayah bertanya kepadamu?? ", tanya Ayah Ibrahim keapada Qiyas.
"Boleh Ayah", jawab Qiyas sambil mengangguk.
"Apakah kamu sengaja keDubai untuk menghindari Kia?? ", tanya Ayah Ibrahim.
"Bukan Ayah, karena ketika Balqis akan menikah dengan Ustadz Faris, perusahaan Iyas yang ada diDubai sedang ada masalah besar, dan baru selesai diatasi sekitar enam bulan, dan enam bulan setelahnya Iyas sengaja tidak pulang karena memang ingin melupakan Balqis Ayah, karena Iyas fikir dengan sementara diDubai bisa melupakan Balqis yang sudah bahagia bersama Ustadz Faris................ Qiyas sengaja menjeda ceritanya. Dan Ayah Ibrahim masih senantiasa menunggu Qiyas melanjutkan ceritanya.
Walaupun seumpama dulu Perusahaan Iyas yang diDubai tidak ada masalah, Iyas pun sudah berniat akan menjauh dari Balqis Ayah", kata Qiyas melanjutkan ceritanya.
"Jika kamu sudah mencintai Kia dari dulu, kenapa kamu tidak mengungkapkan juga kepada Kia nak", tanya Ayah Ibrahim kepada Qiyas.
"Saya minder Ayah harus bersaing dengan Ustadz Faris yang sangat sholeh dan taat beragama, karena fikir Iyas bila Balqis bahagia dengan Ustadz Faris, Iyas juga ikut bahagia, karena Iyas yakin Ustadz Faris pasti bisa membahagiakan Balqis", jawab Qiyas kepada Ayah Ibrahim.
"Iya nak, nak Faris memang sangat sholeh dan sopan kepada Ayah, dulu tiga hari sebelum nak Faris meninggal dia pernah berbicara kepada Ayah begini", kata Ayah Ibrahim seperti menerawang kejadian dulu sebelum Ustadz Faris meninggal.
*flashback on Ayah Ibrahim*
Waktu itu Kia dan Mamah Dian sedang pergi untuk mengurusi keperluan pernikahan Kia dengan Ustadz Faris. Sedangkan Ayah Ibrahim sedang berada dirumah sengaja tidak masuk kekantor, entah kenapa rasanya Ayah Ibrahim malas sekali untuk berangkat kekantor. Tidak seperti Ayah Ibrahim biasanya yang sangat senang jika bekerja, daripada dirumah katanya badannya sakit semua.
"Mas Ibrahim tidak berangkat kekantor?? ", tanya Papah Angga yang melihat Ayah Ibrahim kakak iparnya tumben sudah jam tujuh lebih masih berpakaian santai sambil minum kopi dan menonton berita pagi ditv.
Karena Papah Angga menginap sementara dirumah Ayah Ibrahim sampai Kia menikah. Ayah Ibrahim yang merasa dipanggil menengok kebelakang dan melihat Papah Angga berjalan mendekatinya.
"Tidak tahu kenapa, hari ini rasanya aku malas banget berangkat kekantor, tidak seperti biasanya", jawab Ayah Ibrahim ketika Papah Angga sudah duduk dishofa yang sama dengan Ayah Ibrahim.
"Saya habis sarapan tidak melihat Kia dan mbak Dian kemana Mas?? ", tanya Papah Angga kepada Ayah Ibrahim.
"Kalau begitu, saya mau kedepan dulu ya mas, mau cari udara pagi didepan", pamit Papah Angga kepada Ayah Ibrahim.
"Iya", jawab Ayah Ibrahim tanpa mengalihkan pandangannya ketv.
Setelah beberapa menit Papah Angga keluar, terdengarlah suara salam yang membuat Ayah Ibrahim beranjak dari duduknya.
"Wa'alaikumussalam, eeeh nak Faris mari-mari masuk dan silahkan duduk", kata Ayah Ibrahim mempersilahkan Ustadz Faris untuk masuk.
"Mencari Kia ya, tapi Kianya lagi pergi sama Mamahnya untuk mengurusi pernikahan kalian, apa Kia tidak bilang ke nak Faris?? ", kata Ayah Ibrahim lagi.
"Tidak Ayah, saya kesini mencari Ayah, dan kata hati saya mengatakan jika Ayah sedang berada dirumah, mangkanya saya langsung kesini tidak kekantor", kata Ustadz Faris sambil tersenyum ramah.
"Ada apa ya nak, tumben?? ", tanya Ayah Ibrahim penasaran, dan Ayah Ibrahim melihat wajah Ustadz Faris sedikit berbeda tidak seperti yang dilihat Ayah Ibrahim terakhir kalinya.
"Ada yang ingin saya sampaikan kepada Ayah", kata Ustada Faris.
Ayah Ibrahim mengira ada hal penting yang ingin disampaikan Ustadz Faris, akhirnya Ayah Ibrahim mengajak Ustadz Faris berbicara diruang kerjanya.
"Nak Faris ingin berbicara apa pada Ayah", tanya Ayah Ibrahim ketika mereka berdua sudah duduk diruang kerja Ayah Ibrahim.
"Ayah, jika saya pergi lebih dulu, saya ikhlas jika Kia akan menikah dengan laki-laki pilihannya kelak Ayah, saya sangat mencintai Kia lillahita'ala Ayah karena Allah, maafkan segala kesalahan saya yang mungkin pernah diperbuat akan tetapi saya tidak sengaja melakukannya Ayah", kata Ustadz Faris dengan tersenyum dan membuat Ayah Ibrahim bingung.
"Memangnya kamu mau kemana nak, pernikahan kalian kurang satu minggu lagi", tanya Ayah Ibrahim heran.
Ustadz Faris tersenyum menanggapi pertanyaan Ayah Ibrahim dan itu membuat Ayah Ibrahim yang melihat semakin heran dan bingung.
"Kamu kenapa nak sakit, kenapa wajahmu terlihat sedikit berbeda hari ini", tanya Ayah Ibrahim lagi.
"Tidak Ayah saya baik- baik saja, titip Kia ya Ayah, saya sangat senang sekali diberi kesempatan untuk mengenal dan mencintai Kia", kata Ustadz Faris sambil tersenyum manis.
Belum sempat dijawab oleh Ayah Ibrahim, Ustadz Faris berkata lagi.
"Saya permisi dulu ya Ayah, terimakasih sudah menerima Faris dengan baik dan menerima segala kekurangan Faris, Assalamu'alaikum", pamit Ustadz Faris tiba-tiba dan langsung menyalami dan mencium tangan Ayah Ibrahim.
Ayah Ibrahim langsung berdiri serta menjawab salam Ustadz Faris dengan terbengong dan langsung duduk lagi dishofa, ketika mendengar pintu ruang kerjanya tertutup Ayah Ibrahim baru tersadar jika Ustadz Farus sudah pamitan pulang dengannya. Ayah Ibrahim langsung keluar berlari mencari Ustadz Faris, dan ketika mobil yang dikendarai Ustadz Faris akan keluar dari gerbang rumahnya Ayah Ibrahim meneriaki Ustadz Faris.
"Nak Faris, nak tunggu", teriak Ayah Ibrahim.
Dan Ustadz Faris yang melihat Ayah Ibrahim dari spion mobilnya dan berteriak-teriak memanggilnya, dia langsung menghentikan mobilnya. Ustadz Faris langsung membuka kaca mobilnya ketika Ayah Ibrahim sudah sampai disamping pintu mobilnya.
"Maksut kamu apa nak, berbicara seperti itu kepada Ayah, bikin Ayah takut dan bingung", tanya Ayah Ibrahim kepada Ustad Faris.
"Tidak ada apa-apa Ayah, nanti Ayah juga tahu maksut Faris, Assalamu'alakum Ayah", salam Ustadz Faris dan langsung dijawab Ayah Ibrahim dan kali ini juga Ustadz Faris benar-benar pulang tidak dicegah Ayah Ibrahim lagi.
*flaschback off Ayah Ibrahim*
"Sejak saat itu Ayah selalu teringat dengan kata-kata nak Faris nak Iyas, apa maksutnya?? ", akhir cerita Ayah Ibrahim kepada Qiyas.
Qiyas masih setia mendengarkan. Tanpa menyela sedikitpun.
"Setelah tiga hari terjadilah kecelakaan itu, mobil mereka ditabrak truk pembawa semen yang sedang melaju kencang, karena sang sopir tidak bisa mengendalikan mobilnya, akhirnya sopir membanting stir kekiri kearah berlawanan dan menimpa mobil Kia dan nak Faris nak Iyas, nak Faris langsung meninggal ditempat, begitu yang Ayah tahu dari saksi dan polisi yang menyelidiki kecelakaan itu", cerita Ayah Ibrahim.
"waktu itu Ayah masih berada dikantor, ketika ditelfon jika Kia dan Ustadz Faris mengalami kecelakaan, Ustadz Faris meninggal ditempat karena terjepit mobil yang ringsek, sedangkan Kia mengalami benturan yang sangat keras dikepalanya, dan kritis selama tiga hari.......... Ayah Ibrahim menjeda perkataannya karena dadanya merasa sesak dan tanpa sadar setetes air mata menetes disudut matanya. Qiyas yang melihat Ayah Ibrahim menangis dan memukul-mukul dadanya dia langsung mendekati ayah Ibrahim dan memberikan usapan dipunggung Ayah Ibrahim.
"Jika Ayah tidak sanggup, tidak usah dilanjutkan Ayah, Qiyas tidak apa-apa", kata Qiyas kepada Ayah Ibrahim.
"Tidak, kamu harus tau cerita ini Qiyas, kalau bukan Ayah yang menceritakan siapa lagi, Kia apalagi Mamahnya tidak kuat jika mengingat kejadian itu", jawab Ayah Ibrahim.
"Kia kritis selama tiga hari, selama itu kita sekeluarga besar dan keluarga nak Faris sangat terpukul dengan kejadian itu, hingga Mamah Dian ketika Kia belum terasadar dia sering pingsan dan tidak mau makan, kedua orang tua nak Faris begitu syok hingga kita semua seperti terguncang jiwanya. Setelah tiga hari Kia mengalami peningkatan dan ada harapan untuk sadar, baru ketika hari kelima Kia bisa benar-benar membuka matanya. Mamah Dian yang senantiasa tidak mau meninggalkan Kia sedetik pun ketika melihat Kia membuka mata dan menggerakkan jarinya, dia begitu histeris memanggil Dokter. Sungguh hari-hari berat itu belum berakhir, ketika dua hari Kia sudah sadar, dia menanyakan keadaan nak Faris kepada kami, mau tidak mau kita harus memberitahu Kia. Kia tentu saja syok dan kaget ketika mengetahui jika Ustadz Faris meninggal ditempat dan tidak bisa diselamatkan, sungguh Kia begitu sedih, hingga sebulan lamanya dia sering menyendiri, kita sudah mencoba mendekati Kia tapi Kia hanya merespon seperlunya saja. Waktu itu Mila main kerumah untuk menengok keadaan Kia, karena setelah Kia sadar Mila kembali pulang kerumahnya untuk melanjutkan sekolahnya. Ketika ada Mila, Kia yang sering sendiri terus diganggu Mila hingga kami melihat Kia bisa tertawa kembali. Akhirnya kami memutuskan dan meminta ijin kepada orang tua Mila, supaya Mila bisa melanjutkan sekolah dan tinggal bersama kami",lanjut cerita Ayah Ibrahim.
"Jika kamu ingin serius dengan Kia, kamu harus menyakinkan Kia nak, karena Kia dia sedikit trauma untuk menjalin hubungan kejenjang yang lebih serius", kata Ayah Ibrahim kepada Qiyas.
"Saya sangat serius Ayah, dulu saya sudah mengikhlaskan Balqis jika dia bukan jodohku, akan tetapi ketika mengetahui Ustadz Faris meninggal dan Balqis tidak jadi menikah, rasa cinta ini tumbuh lagi Ayah, bahkan makin besar", jawab Qiyas kepada Ayah Ibrahim.
ππππππππππππ
Flashbacknya belum selesai ya readers, karena ini partnya sudah lumayan panjang jadi nanti disambung Up selanjutnyaππ
***TBC***