
Ketika sedang berjalan-jalan pelan mengitari didalam ruangan, Kia tiba-tiba merasakan mulas yang sangat-sangat melebihi tadi.
"Sudah Abi cukup, perut Umi sakit sekali", kata Kia lirih dengan menahan perutnya yang rasanya sakit sekali.
"Kalau begitu Abi bantu naik keranjang ya Umi", kata Qiyas dengan menyembunyikan rasa khawatirnya dan langsung saja menggendong Kia untuk ditidurkan diranjang pasien.
"Sakiiiiiit Abi", kata Kia sambil menekan tangannya Qiyas dengan kuat sekali.
Kedua suster yang berjaga disitu dia langsung siaga dan segera memberitahukan kepada Dokter Ara jika Kia akan segera melahirkan. Sedangkan para orang tua yang didalam situ melihat Kia kesakitan mereka semakin gencar berdoa dan semakin khawatir.
"Tuan dan Nyonya mohon untuk menunggu diluar ya", kata ramah seorang suster kepada Papah Ziyas, Bunda Lili dan Mamah Dian. Sedangkan suster yang satunya tadi dia sedang memanggil Dokter Ara untuk segera masuk keruang bersalinnya Kia.
"Suster cepat bantu istri saya", kata Qiyas kepada seorang suster yang tadi menyuruh para orang tua untuk menunggu diluar.
"Dokter Ara sedang dipanggilkan oleh rekan saya Tuan", jawab suster itu kepada Qiyas sambil menyiapkan alat-alat dan sesuatu untuk membantu persalinannya Kia.
Tidak lama Dokter Ara pun datang bersama para suster untuk membantu dia dalam menangani persalinannya Kia.
"Sudah disiapkan semuanya sus, apa yang biasanya diperlukan", tanya Dokter Ara kepada suster tadi, dan sambil memakai sarung tangannya.
"Sudah Dok", jawab suster tadi.
"Ini sudah lengkap pembukaannya Mbak Kia, ayo kita ikhtiar dengan persalinannya, dan Mbak Kia harus mengikuti intruksi yang saya berikan ya", kata Dokter Ara dengan cepat dan panjang lebar.
"Bissmillah ayo dorong Mbak Kia", kata Dokter Ara kepada Kia.
Dan Kia langsung saja mengejan serta mendorong sekuat tenaga dengan mempertaruhkan nyawanya demi sang buah hatinya. Sambil menekan kuat sekali tangannya Qiyas.
"Ambil nafas, ayo Mbak Kia dorong lagi, ayo Mbak", intruksi dari Dokter Ara lagi kepada Kia.
Kia lalu mengambil nafas dalam-dalam dan langsung mengejan serta mendorong lebih kuat lagi agar bisa keluar babynya yang ada didalam perutnya.
Qiyas yang melihat Kia melahirkan anaknya dengan pengorbanan yang sungguh sangatlah besar, membuatnya tanpa sadar mengeluarkan setetes air matanya dari sudut matanya.
"Sedikit lagi Mbak Kia, sudah kelihatan kepalanya", kata Dokter Ara lagi.
Kia lalu mengejan serta mendorong untuk ketiga kalinya dan akhirnya pengorbanannya terbayar sudah dengan mendengar suara tangis seorang bayi.
"Oeeek, oeeeeekk", tangis bayi dengan begitu nyaring dan kencang sekali membuat Qiyas sampai tidak bisa berucap apa-apa hanya air mata bahagia yang reflek dia keluarkan, sedangkan Kia dia tersenyum melihat buah hatinya.
Diluar ruangannya Kia, para orang tua yang sedang menunggu Kia melahirkan, dikagetkan dengan kedatangannya Ayah Ibrahim yang tiba-tiba sudah duduk disampingya Mamah Dian.
"Ayah, astaghfirullah bikin Mamah terkejut saja tahu-tahu sudah duduk disampingnya Mamah tanpa bilang-bilang", kata Mamah Dian kepada Ayah Ibrahim. Papah Ziyas dan Bunda Lili mereka juga sama terkejutnya kayak Mamah Dian.
Pasalnya mereka daritadi sedang tegang dan berdoa sambil melihat kearah pintu ruangannya Kia.
"Bagaimana Mah, keadaannya Kia dan cucu-cucu kita sudah pada lahir belum", tanya Ayah Ibrahim mengalihkan pembicaraan.
"Belum Yah, ini kita lagi menunggu Kia yang mau melahirkan", jawab Mamah Dian kepada Ayah Ibrahim.
Ketika baru saja Mamah Dian berkata seperti itu, terdengarlah suara bayi yang begitu nyaring dan keras sekali.
"Alhamdulillah ya Allah", kata para orang tua ketika mendengar suara bayi pertama yang sudah lahir.
"Cucu kita Mah", kata Ayah Ibrahim dengan terharu.
"Itu baru yang pertama kan?? ", tanya Mamah Dian untuk semuanya.
"Iya jeng, masih ada satu lagi, semoga lancar semuanya", jawab Bunda Lili kepada Mamah Dian.
Kembali lagi didalam ruangan Kia bersalin. Dokter Ara yang baru saja mengangkat bayi pertamanya Kia dan Qiyas dia langsung saja memperlihatkan sebentar kepada Kia dan Qiyas.
"Bayinya perempuan Tuan Qiyas dan Mbak Kia", kata Dokter Ara memperlihatkan sebentar kepada Kia dan Qiyas.
Qiyas dan Kia mereka sangat bahagia melihat bayi mereka yang pertama baru saja lahir.
"Ayo Mbak Kia, masih ada satu lagi, biar babynya diurus para suster terlebih dahulu ya", kata Dokter Ara kepada Kia ketika sudah memberikan baby pertamanya Kia dan Qiyas kepada suster yang ada disitu.
"Ambil nafas, lalu dorong lagi mbak Kia yang kuat", intruksi Dokter Ara lagi kepada Kia.
Dan Kia langsung saja melakukan sesuai intruksi Dokter Ara dan dia lalu mengejan sekuat tenaga untuk kesekian kalinya.
"Oeeeeeeeekkkkkk", suara tangis bayi kedua lebih kencang menangisnya dibandingkan yang pertama tadi.
"Alhamdulillah cucu kita semua yang kedua sudah lahir", kata Bunda Lili kepada semuanya yang disitu dengan terharu sekali ketika mendengar suara tangis bayi yang kedua.
"Alhamdulillah cucu-cucu kita sudah lahir semua", kata Mamah Dian juga dengan begitu bahagia dan heboh.
"Semoga Kia dia tidak kenapa-kenapa ya Allah, aamiin", kata Papah Ziyas dan diaamiinin oleh semuanya.
Kia dan Qiyas mereka menangis terharu mendengar suara tangis anak mereka yang kedua.
"Waaaah gendutnya, selamat Tuan Qiyas, Mbak Kia, sepasang, yang kedua anaknya laki-laki", kata Dokter Ara kepada Kia dan Qiyas sambil memperlihatkan anak mereka yang kedua.
Setelah itu Dokter Ara langsung saja memberikan anaknya Kia dan Qiyas yang kedua kepada suster untuk dibersihkan.
"Tuan Qiyas bisa menunggu diluar sebentar, biar Mbak Kia saya bersihkan terlebih dahulu dan nanti jika sudah selesai semua akan kami pindahkan keruang perawatan", kata Dokter Ara dengan ramah kepada Qiyas.
"Baik Dokter", jawab Qiyas sambil tersenyum ramah kepada Dokter Ara.
Sebelum pergi Qiyas lalu mengucapkan kata-kata kepada Kia yang membuat Kia semakin cinta kepada Qiyas dan tambah bahagia.
"Terimakasih Umi, love you, Abi tunggu diluar dulu ya", kata Qiyas sebelum keluar, sambil menciumin seluruh mukanya Kia, termasuk bibir dan itu hanya sekilas karena niqobnya Kia sengaja dilepas oleh Dokter Ara tadi.
Dan Kia dia hanya mengangguk lemah sambil tersenyum manis kepada Qiyas, karena masih lemas kehabisan tenaga tadi.
Setelah Qiyas keluar Dokter Ara dan para suster langsung saja membersihkan Kia pasca melahirkan.
Dan ketika pintu ruangan bersalinnya Kia terbuka, dengan reflek semua para orang tua langsung saja berdiri terus menyamperin orang yang baru saja keluar, dan ternyata orang keluar adalah Qiyas.
"Iyaaasss", kata para orang tua ketika mereka semua melihat Qiyas yang membuka pintu. Dan Qiyas dia tersenyum dengan sangat lebar sekali kepada kedua orang tuanya dan kedua mertuanya.
Qiyas langsung saja ditarik Mamah Dian untuk duduk diruang tunggu yang ada disitu.
"Bagaimana Nak, keadaannya Kia dan cucu-cucu Mamah", tanya Mamah Dian kepada Qiyas dengan tidak sabaran.
"Alhamdulillah Mah, Yah, Bund, Pah, semuanya sehat dan sempurna seperti yang kita harapkan", jawab Qiyas kepada Mamah Dian dan semuanya. Dengan tersenyum yang sangat lebar sekali.
"Alhamdulillah", jawab serempak para orang tua dan mereka juga tersenyum sangat lebar seperti Qiyas.
"Cucu-cucu kita semua apa Yas?? ", tanya Bunda Lili dengan penasaran begitu juga yang lain, mereka juga sangat penasaran.
"Sepasang Bund, yang pertama perempuan, yang kedua laki-laki, dan didalam Kia serta baby-babynya sedang dibersihkan setelah itu nanti akan dipindahkan keruang perawatan", jawab Qiyas kepada Bunda Lili dan semuanya.
"Alhamdulillah", jawab semuanya ketika mendengar perkataannya Qiyas.
Terutama Mamah Dian dan Ayah Ibrahim yang sangat bahagia karena mereka mendapatkan cucu pertama dan langsung sepasang sekaligus.
"Cucu kalian yang kedua yang laki-laki tadi lebih gemuk dari yang perempuan Mah, Bund", kata Qiyas lagi kepada Mamah Dian dan Bunda Lili dengan tertawa kecil karena mengingat sangat chubby pipi anak laki-lakinya
"Wah Papah sudah tidak sabar ingin melihat mereka semua", kata Papah Ziyas dengan begitu antusias sekali.
Dengan menunggu Kia dan baby twinsnya Qiyas selesai dibersihkan, para orang tua pada mengabarin Keluarga besar mereka dan termasuk Kakek, Neneknya Kia serta Qiyas.
Mereka menunggu dengan tidak sabar karena ingin segera melihat baby twins dan keadaannya Kia. Hari itu adalah hari paling bahagia untuk Kia dan Qiyas, karena mereka telah resmi menjadi sepasang kedua orang tua, untuk bayi kembar mereka.
ππππππππππππ
Qiyas: thor makasih ya, sudah membuat alur ceritanya sangat membahagiakan untukkuπ€π€π€π
Author: sama-sama, ikut bahagia juga untukmu Iyasππ
Qiyas: itu readers apa tidak mau mengucapkan selamat untukku?? π€
Author: tak tahu akuπ
πππ Iyas ngambek lho readersπ
ππππππππππππ
***TBC***