
Ditempat berbeda, tepatnya dirumah Qiyas. Qiyas waktu juga sedang berkumpul dengan kedua orang tuanya membahas perihal kedatangannya kerumah Ayah Ibrahim.
"Bagaimana Nak, rencana kamu?? ", tanya Bunda Lili kepada Qiyas.
"Insyaallah lancar Bund, do'akan Iyas, semoga Ayah Ibrahim dan Mamah Dian bisa meyakinkan Balqis", jawab Qiyas kepada Bundanya.
"Kami akan selalu mendo'akanmu Nak, kami juga yakin jika Balqis adalah wanita yang baik untukmu", kata Bunda Lili lagi.
"Bagaimana semua berkas-berkas yang diperlukan, sudah selesai semua Iyas? ", tanya Papah Ziyas.
"Sudah Pah, semua sudah Iyas bereskan dan selesaikan, tinggal menunggu hari-H", jawab Qiyas kepada Papah Ziyas.
"Baiklah, semoga berjalan dengan lancar dan sesuai yang kita harapkan", kata Papah Ziyas lagi.
Sontak mereka bertiga mengaamiinin perkataan Papah Ziyas.
π΄π΄π΄π΄π΄π΄π΄π΄π΄π΄π΄π΄
Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing....................
Suara alarm menggema membangunkan gadis cantik yang sedang terlelap dari tidur nyenyaknya.
Kia yang tadi habis menangis didepan pintu dia langsung berdiri dan berjalan sedikit lesu kearah ranjangnya. Dan ketika sudah diranjang dia tiduran sambil memikirkan perkataan kedua orang tuanya. Mungkin karena lelah dan banyak fikiran Kia melamun hingga ketiduran. Dan sekarang dia terbangun mendengar suara alarm yang ada dimeja sebelah ranjangnya.
Ternyata waktu sudah menunjukkan dua dini hari. Kia mematikan alarmnya dan berusaha duduk untuk memulihkan badannya dulu.
Ketika sudah pulih dari tidurnya, Kia langsung berjalan kekamar mandi, bersih-bersih badan dan berwudhu, karena Kia ingin menjalankan sholat Istikharah dulu, dilanjutkan sholat tahajud dan sholat witir.
Karena ada baiknya jika memang seorang muslim ingin melaksanakan shalat istikharah di malam hari maka hendaklah dilakukan sebelum shalat tahajjud dikarenakan yang terbaik dilakukan oleh seseorang yang selesai menunaikan shalat tahajjud adalah melanjutkannya dengan shalat witir.
Berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim dari Ibnu Umar bahwa Nabi saw bersabda, βJadikanlah akhir shalat kalian di malam hari adalah shalat witir.β
Setelah melaksanakan sholat itu semua, Kia ingin istirahat sejenak sambil menunggu waktu subuh. Karena Kia merasa badannya benar-benar capek.
Dilain tempat, lebih tepatnya dikamar Qiyas. Qiyas juga sedang melakukan sholat istikharah, tahajud dan witir sama seperti Kia. Kia dan Qiyas sama-sama minta diberi kelancaran dan petunjuk untuk perasaan mereka satu sama lain.
ππππππππππππ
Kia dan Qiyas saat ini sudah kembali kerutinitas mereka semula. Dan Kia sudah berada didalam kantornya. Kia bukannya bekerja malah melamun sambil melihat pemandangan kota yang terlihat dari ruangannya, yang ada dilantai dua puluh.
Kia melamun karena Kia memimpikan hal yang sama ketika dirinya akan menerima khitbahannya Ustadz Faris, akan tetapi ada yang berbeda dimimpinya.
*Flashback *Mimpi Ki**a* on*
Kia yang tadi tertidur lagi sambil menunggu waktu subuh. Tiba-tiba dia bermimpi berada ditempat yang sangat indah, sejuk dan banyak bunga-bunga yang indah, didalam mimpi Kia, Kia sedang duduk diatas dipan yang indah sambil melihat-lihat dan menikmati suasana yang sejuk. Tiba-tiba ada cahaya putih yang menyilaukan mata, dan cahaya itu seperti menuntun Kia untuk mendekatinya, ternyata ketika semakin dekat Kia melihat sesosok Ikhwan tetapi Kia tidak bisa melihat wajahnya. Setelah jarak Kia dan dirinya tinggal kurang beberapa langkah, dia berkata kepada Kia.
"Sebentar lagi akan tiba waktunya, mendekatlah dua langkah lagi kepadaku, kau akan tahu siapa aku",, kata laki-laki itu kepada Kia.
Kia langsung samar-samar melihat muka Qiyas dan ketika cahaya putihnya sedikit meredup, Kia benar-benar bisa melihat Qiyas ada dihadapannya.
"Astaghfirullah", ucap Kia langsung terbangun ketika melihat muka Qiyas dimimpinya dan Kia seketika mengusap wajahnya.
"Kenapa mimpiku persis seperti sebelum aku menerima Khitbahannya Ustadz Faris?? ", gumam Kia untuk dirinya sendiri.
"Dan anehnya laki-laki yang tidak bisa kulihat dulu dimimpiku, sekarang terlihat jelas wajahnya Kak Fasya, apa mungkin dulu itu juga Kak Fasya yang aku mimpikan", gumam Kia lagi.
"Astaghfirullah hal'adzim", Kia langsung beristighfar berulang kali untuk meredakan rasa terkejutnya.
Kia langsung duduk dari tidurnya dan menyandarkan badannya dikepala ranjang.
"Apakah ini jawaban dari-NYA?? ", bathin Kia.
"Besuk mereka akan datang kerumah ini, semoga keputusan yang akan ku ambil ini tidak merugikan siapa pun", ucap Kia untuk dirinya sendiri.
*Flashback Mimpi Kia off*
"Sungguh sebenarnya aku bahagia jika didalam mimpiku itu Kak Fasya, tapi aku sedih jika pilihanku akan menyakiti kedua orang tuaku", bathin Kia yang masih melamun sambil melihat pemandangan dari luar jendelanya.
Lamunan Kia buyar ketika dia mendengar ketukan pintu dari luar.
"Masuk*", kata Kia dari dalam.
Dan masuklah Zahra sekertarisnya.
"Permisi Nona Kia", kata Zahra kepada Kia.
Kia tidak mengalihkan perhatiannya keluar jendela. Dan Kia otomatis masih membelakangi Zahra.
"Ada apa Zahra?? ", kata Kia tanpa berbalik menghadap Zahra.
"Diluar ada Tuan Qiyas dan sekertarisnya Tuan Zidan Nona, ingin bertemu dengan Nona", kata Zahra yang langsung membuat Kia membalikkan badannya melihat kearah Zahra.
"Kak Fasya??, ada apa dia kesini?? ", bathin Kia sambil melamun.
Zahra yang melihat Kia tiba-tiba melamun dan tidak menjawab pertanyaannya Zahra mencoba bertanya kembali.
"Nona Kia, bolehkah mereka masuk", kata Zahra langsung menyadarkan Kia dari rasa terkejutnya.
"Boleh, silahkan mereka masuk dan tolong buatkan minum untuk mereka", kata Kia kepada Zahra sekertarisnya.
"Baik Nona", kata Zahra sambil membungkuk dan berlalu keluar.
Setelah diberitahu Zahra Qiyas dan Zidan masuk keruangannya Kia. Qiyas pertama kali melihat Kia serius membaca berkas dimeja kerjanya sedikit terpesona melihatnya. Sedangkan Kia yang mendengar suara langkah kaki yang berjalan dia mendongakkan wajahnya dan ternyata Kia melihat Qiyas sudah berada diruangannya.
"Silahkan duduk dulu Tuan, akan saya buatkan minum dulu", kata Zahra mempersilahkan duduk Qiyas dan Zidan dishofa yang ada diruangannya Kia.
Kia yang melihat itu langsung saja menghampiri Qiyas dan Zidan yang sudah duduk dishofa diruangannya.
"Ada apa ya Tuan Fasya kekantor saya?? ", tanya Kia kepada Qiyas.
"Ada hal penting yang harus saya sampaikan kepada Nona Balqis", kata Qiyas kepada Kia.
Qiyas sengaja menggunakan kata formal kepada Kia karena mereka tidak cuman berdua, melainkan bertiga bersama Zidan. Dan Qiyas juga ingin terlihat profesional dalam bekerja karena mereka datang masih dijam kerja.
"Permisi Nona dan Tuan, ini minumannya", kata Zahra yang tiba-tiba masuk membawa minuman yang disuruh Kia.
Qiyas dan Zidan hanya mengangguk, sedangkan Kia dia mengucapkan terimakasih.
"Apa itu Tuan Fasya, apa ini mengenai proyek kerjasama kita", tanya Kia kepada Qiyas.
Qiyas hanya mengangguk menanggapi Kia.
"Karena saya kesini ingin menyampaikan besok saya akan berangkat keLondon selama lima hari Nona, karena undangan jamuan bisnis dan menemui Client yang penting Nona disana, jika anda ingin bertanya sesuatu atau membutuhkan sesuatu anda bisa bilang kepada Zidan Nona", kata Qiyas kepada Kia.
Kia sontak kaget dan syok mendengar perkataan Qiyas. Kia bingung dan kalut tiba-tiba dia menjadi blank.
"Jika Kak Fasya pergi, itu artinya aku harus menerima laki-laki yang dipilihkan Ayah untukku", bathin Kia syok.
Qiyas sengaja berbicara begitu kepada Kia karena ingin memberi kejutan kepada Kia. Dan Qiyas melihat Kia diam saja tidak menjawab perkataannya, dia langsung melanjutkan perkataannya.
"Apakah ada yang dipertanyakan Nona?? ", tanya Qiyas kepada Kia.
Kia yang blank menjadi sedikit bingung dan linglung. Hanya menjawab dengan gelengan.
"Kalau begitu saya permisi dulu Nona", kata Qiyas kepada Kia.
"Iya", jawab Kia antara sadar dan tidak.
Setelah Qiyas dan Zidan keluar Kia langsung melamun, fikirannya buyar, dia tidak bisa berfikir jernih Kia bingung.
Sedangkan Qiyas membathin laksanakan langkah selanjutnya.
ππππππππππππ
***TBC***