
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, akan tetapi Qiyas belum bisa memejamkan matanya, karena tadi sebelum Zabir pulang kerumahnya, Qiyas yang lagi mengobrol dengan Zabir tiba-tiba Zabir memberitahu jika Kia juga akan menginap dirumah Pak Kyai.
Sungguh godaan setan sangat besar, karena bisikan setan mengatakan untuk mendatangi Kia dan mengajaknya mengobrol. Qiyas selalu senantiasa berdzikir dan beristighfar untuk menghalau bisikan setan tersebut.
Qiyas jalan-jalan disekitar rumah Pak Kyai sambil menikmati suasana malam karena suasana disitu yang sangat tenang dan damai membuat Qiyas merasa bisa merilaxkan fikiran sejenak. Qiyas ketika berjalan-jalan melihat Pak Kyai sedang bedzikir digazebo belakang rumah, Qiyas dengan hati-hati menegur Pak Kyai.
"Assalamu'alaikum Pak Kyai", salam Qiyas pelan yang membuat Pak Kyai mengehentikan dzikirnya dan menengok kebelakang, ternyata Qiyas yang mengucapkan salam.
"Wa'alaikumussalam, ternyata nak Qiyas", jawab Pak Kyai sambil tersenyum ramah, dan Qiyas langsung menyalimi dan mencium tangan Pak Kyai.
"Ada apa, kenapa belum tidur nak Qiyas, maaf bila tempatnya tidak bisa membuatmu nyaman untuk tidur nak", kata Pak Kyai dengan senyum yang masih tersungging dibibirnya.
"Bukan-bukan Pak Kyai, bukan begitu sungguh Pak Kyai, saya memang lagi tidak bisa tidur Pak Kyai, bukan karena tempatnya yang membuat saya tidak bisa tidur, tapi karena......... Ucapan Qiyas terpotong dengan kata-kata Pak Kyai.
"Karena hatimu sedang memikirkan sesuatu yang bukan milikmu", jawab Pak Kyai masih dengan tersenyum.
Qiyas yang awalnya berbicara dengan selalu menunduk reflek dia menengok kearah Pak Kyai, karena Pak Kyai bisa mengetahui kegundahan hatinya.
Pak Kyai juga ikut-ikutan melihat kearah Qiyas, juga masih tersenyum tenang melihat Qiyas.
"Apakah kamu masih ingat dengan nasihat yang dulu saya berikan kekamu nak", tanya Pak Kyai kepada Qiyas.
"Masih ingat Pak Kyai, bahkan sampai sekarang ", jawab Qiyas.
"Sekarang waktunya perjuanganmu untuk diperjuangkan, karena dia juga sedang sendiri, tidak seperti yang kamu fikirkan, bertanyalah, jangan kau simpan dihatimu sendiri, karena akan menjadi racun ditubuhmu, dan jika kamu telat memperjuangkannya lagi, saya yakin mungkin tidak ada kesempatan lagi untukmu", nasihat Pak Kyai bijak kepada Qiyas.
"Maaf Pak Kyai, bolehkah saya bertanya?? ", kata Qiyas.
"Tanyalah nak", jawab Pak Kyai.
"Apakah Pak Kyai mengetahui jika saya sangat mencintai Balqis?? ", tanya Qiyas kepada Pak Kyai.
Pak Kyai hanya mengangguk memberikan jawaban kepada Qiyas.
"Apakah Zabir yang menceritakannya Pak Kyai", tanya Qiyas dengan Pak Kyai.
"Bukan, karena saya insyaallah bisa mengetahui yang belum tentu kamu ketahui", jawab Pak Kyai dengan tersenyum dan membingungkan Qiyas.
"Maksut Pak Kyai yang mengatakan dia sedang sendiri itu siapa ya Pak Kyai??, apakah Kia yang Pak Kyai maksut?? ", tanya Qiyas dengan hati-hati dan dengan fikiran yang masih bingung.
"Bertanyalah, karena bertanya akan mengeluarkan racun gundah dihatimu dan kamu akan mendapatkan jawaban semua nasihatku", jawab Pak Kyai dengan senyumannya dan membuat Qiyas semakin bingung.
"Sudah, ayo kita tidur, sudah larut malam", kata Pak Kyai lagi karena melihat Qiyas yang sedang bengong.
"Eh, iya Pak Kyai, mari saya antar", kata Qiyas langsung berdiri dan menuntun Pak Kyai kedalam rumah.
Pagi harinya dimeja makan ada kecanggungan yang terjadi antara Kia dan Qiyas karena mereka baru pertama kali sarapan satu meja bersama, walaupun disitu ada banyak orang termasuk Pak Kyai.
"Assalamu'alaikum", suara salam dari luar.
Umi Maryam yang lagi menyiapkan makanan dimeja makan mendengar salam seseorang dan langsung berjalan kedepan melihat siapa yang datang.
"Wa'alaikumussalam, eh ternyata yang datang kaliyan dan cucu eyang uti yang paling lucu", kata Umi Maryam kepada Zabir beserta istri dan anaknya. Dan Zabir langsung menyalimi dan mencium tangan Uminya begitu pun juga Aida istrinya.
Ternyata yang datang kerumah Pak Kyai adalah Zabir dan istri serta anaknya Sabira.
"Sudah sarapan??, ayo kita sarapan sama-sama, mumpung didalam masih pada sarapan", kata Umi sambil mengambil alih menggendong Sabira dari Aminya Aida.
"Kami sudah sarapan Umi, kami sengaja kesini pagi-pagi karena katanya Kia, Mila, dan Qiyas akan pulang hari ini", kata Zabir.
"Ya sudah masuk dulu yuk, masak mau didepan terus begini", ajak Umi Maryam kepada Zabir dan Istrinya.
Diruang makan Umi sudah ikut bergabung sarapan bareng bersama yang lain, sedangkan Zabir dan istrinya berada diruang tamu sambil bermain dengan Sabira.
"Siapa Umi yang datang?? ", tanya Pak Kyai disela-sela makannya.
"Zabir dan Istrinya serta Sabira Abi", jawab lembut Umi Maryam.
"Kenapa tidak diajak makan sekalian disini dan dimana mereka sekarang?? ", tanya Pak Kyai lagi.
"Sudah Abi, katanya mereka sudah pada sarapan, dan mereka lagi berada diruang tamu", jawab Umi dengan suara lembut kepada Pak Kyai.
ππππππππππππ
Setelah selesai sarapan mereka semua disuruh Pak Kyai berkumpul diruang tamu rumahnya, termasuk Qiyas dan Kia.
Disana ada Pak Kyai, Umi Maryam, Lida dan Ustadz Riza, Zabir dan istri serta anaknya, Qiyas, Alif, dan jangan lupa silugu Mila.
"Rencana kamu akan pulang jam berapa nak Kia", tanya Pak Kyai kepada Kia.
"Sebentar lagi Pak Kyai, habis beres-beres barang Kia dan Mila", jawab Kia masih dengan menunduk.
"Kamu jadi dijemput supirmu kan Kia", tanya Lida kepada Kia.
"Tidak jadi, supir Keluargaku sedang sakit diare, beliau tidak bisa menjemput kami Lida", jawab Kia kepada Lida.
"Ayahmu?? ", tanya Lida lagi.
"Ayah lagi berada diSingapore karena ada urusan bisnis dari kemarin belum pulang", jawab Kia lagi.
"Bagaimana kalau kaliyan bareng Kak Qiyas saja, kan searah juga, daripada naik taksi lagian kamu kan sama Mila Kia, jadi tidak berdua saja didalam mobil", usul Lida membuat Kia dan Qiyas sama-sama melototi Lida.
Qiyas yang daritadi hanya mendengarkan pembicaraan antara Kia dan Lida, tiba-tiba mendengar usulan Lida yang membuat jantungnya yang awalnya normal menjadi abnormal alias berdetak sangat kencang. Qiyas reflek langsung melotot kepada Lida.
Lida yang diplototin sama Kia dan Qiyas reflek memukul bibirnya pelan. Sedangkan Ustadz Riza menggelengkan kepalanya mendengar celetukan istrinya.
"Betul itu, bagaimana Qiyas kamu setuju?? ", kata Zabir ikut-ikutan.
"Boleh tidak apa-apa, lagian juga ada Mila, tapi apakah Kia tidak dijemput Ustadz Faris suaminya?? ", kata Qiyas tiba-tiba yang membuat semua orang disitu langsung bungkam diam seribu bahasa, kecuali Pak Kyai dia tersenyum mendengar perkataan Qiyas.
Karena Mila belum mengetahui siapa Qiyas sebenarnya, dia memberikan celetukan polosnya lagi.
"Hlo, Kakak bule ini tidak tahu ya, jika Kak Kia itu tidak jadi menikah dengan Ustadz Faris, karena Ustadz Faris meninggal karena kecelakaan satu minggu sebelum hari pernikahan", jawaban Mila dengan polosnya tanpa disaring sama sekali. Dan membuat orang-orang yang ada disitu semakin diam seribu bahasa. Sedangkan Pak Kyai masih tersenyum tanpa mengeluarkan suaranya, karena ingin mendengar apa kelanjutannya tanpa menyela.
Jangan ditanyakan bagaimana reaksinya Qiyas, dia sangat super duper terkejut, sampai memegangi dadanya dan sambil berucap innalillahiwainnailaihirojiun.
"Maafkan saya Balqis saya tidak tahu sama sekali, karena setahun kemarin saya sibuk mengurusi Perusahaan saya yang ada diDubai", kata Qiyas reflek menjelaskan kepada Kia.
Kia hanya mengangguk dan masih menunduk karena dia tiba-tiba jadi teringat dengan Ustadz Faris karena celetukannya Mila. Emang dasar Mila yang rada-rada, dia berceletuk ria lagi.
"Kakak bule sih kelamaan diLuar Negeri, jadi tidak tahu kejadian yang ada didalam Negeri", celetuk Mila lagi yang membuat semua orang yang ada disitu ada yang menepuk jidatnya, ada yang tersenyum dan tertawa, ada yang menggelengkan kepalanya, kecuali Kia dan Qiyas dia tidak terpengaruh dengan celetukannya Mila.
"Sudah-sudah, bagaimana Nak Kia apakah kamu mau pulang bareng Nak Qiyas, biar Abi juga tenang kamu bisa pulang dengan orang yang Abi kenal", kata Pak Kyai menengahi karena melihat Kia yang sangat malu dan sedikit sedih.
"Mau sajalah Kak, lumayan ngirit ongkos kan gratis jika sama Kakak Bule pulangnya", kata polos Mila yang membuat Pak Kyai menggelengkan kepalanya.
"Kamu kenapa manggil Kak Qiyas dengan Kakak Bule sih Mila?? ", tanya Lida kepada Mila.
"Hlah muka dia saja kayak bule Kak, blasteran gitu", jawab Mila lagi. Membuat Lida tersenyum greget dengan mulut Mila yang apa adanya.
"Bagaimana Nak Kia", tanya Umi Maryam kepada Kia, sontak semua pandangan mata mereka langsung tertuju kepada Kia.
"Baik Umi Kia dan Mila mau", jawab Kia mengangguk dan masih menunduk.
Qiyas yang daritadi bertanda tanya kenapa dari kemarin dia tidak melihat Ustadz Faris dirumah Pak Kyai. Akhirnya terjawab sudah. Dihati Qiyas dia merasa bahagia karena Kia ternyata masih sendiri, tapi disisi lain, sisi kemanusiaan Qiyas merasa sedih karena Ustadz Faris yang sangat sholeh dan masih muda sudah dipanggil oleh-NYA. Sungguh hidup dan mati seseorang hanya DIA yang tahu.
ππππππππππππ
***TBC***