
Pagi hari dikantor, Qiyas yang baru duduk dikursi kerjanya sekitar lima belas menit tiba-tiba mendengar pintu ruangannya diketuk.
"Masuk", jawab Qiyas sambil mebolak-balikkan berkas yang dia baca.
"Permisi Tuan, selamat pagi", kata Zidan yang sudah masuk.
Ternyata Zidan yang masuk keruangannya, Zidan sengaja daritadi menunggu Qiyas datang, karena dia ingin menyampaikan bahwa dia bentar lagi akan menikah, dan ingin mengambil libur beberapa hari untuk menyiapkan pernikahannya.
Qiyas yang mendengar suara Zidan langsung saja mendongak dan mempersilahkan duduk.
"Ada apa Zidan, pagi-pagi sekali sudah datang keruanganku, apa ada hal penting yang ingin kamu sampaikan??", tanya Qiyas ke Zidan.
"Saya Tuan,........ Perkataan Zidan terpotong oleh Qiyas.
"Oh ya lupa nanyain, bagaimana acara semalam, lancarkan Zidan lamarannya?? ", tanya Qiyas keZidan.
"Sangat lancar Tuan", jawab Zidan dengan sumringah.
"Alhamdulillah, saya ikut senang mendengarnya", jawab Qiyas sambil tersenyum tulus kepada Zidan.
"Sebenarnya saya kesini mau minta ijin libur kepada Tuan untuk beberapa hari mendatang", kata Zidan ke Qiyas.
Qiyas yang mendengar perkataan Zidan, dia mengernyitkan keningnya.
"Tumben kamu minta ijin Zidan, ada apa??, tidak seperti kamu biasanya?? ", tanya Qiyas heran.
Zidan langsung menceritakan tentang acara lamarannya semalam, dan Zidan juga menceritakan jika akad nikahnya tiga hari mendatang dan resepsinya sekitar dua minggu lagi.
Qiyas sontak langsung membelalakkan matanya mendengar cerita Zidan, sungguh mulus perjalanan cintanya, bukan seperti perjalanan cintaku, yaa begitulah fikir Qiyas dan sedikit rasa iri karena dia masih belum ada pergerakan.
"Waaaah, selamat-selamat Zidan, semoga lancar sampai hari H, saya ikut senang", kata Qiyas dengan tulus memberi ucapan kepada Zidan.
"Terimakasih Tuan, dan nanti maukah Tuan menemani saya makan siang bersama Mila", ajak Zidan dengan meringis karena sedikit malu mengajak Qiyas.
Hahahaha.......
"Kamu ini lucu Zidan, malah mengajakku kan kamu bisa gunain itu buat lebih jauh mengenal Mila", kata Qiyas sambil tertawa kecil.
"Saya takut khilaf Tuan", jawab Zidan sambil menggaruk tengkuknya.
"Baiklah-baiklah, nanti saya temanin, sekalian saya juga nanti akan meeting bersama client", jawab Qiyas.
"Aduh, maaf Tuan saya lupa jika nanti Tuan akan meeting dengan CEO dari PT. MANDALA JAYA untuk membahas pembelian Jet pribadi dan penanaman saham, saya bisa membatalkan makan siang saya Tuan dengan Mila untuk menemani Tuan", kata Zidan kepada Qiyas.
"Tidak usah, kamu makan siang saja dengan Mila, saya bisa datang sendiri, kalau tidak nanti saya bisa datang dengan Fadhil", jawab Qiyas.
Fadhil adalah sekertaris dan asisstan Qiyas yang kedua, karena Qiyas sendiri mempunyai tiga sekertaris dan semuanya laki-laki, karena dia tidak terbiasa berdekatan dengan perempuan walaupun cuman sekedar untuk membahas pekerjaan.
Bahkan jika Qiyas akan bertemu CEO atau Presdir yang perempuan atau wakil perusahaan perempuan, Qiyas tidak selalu yang datang, karena Qiyas akan mau datang jika CEO atau Presdir atau wakil perusahaan yang dia temui masih menggunakan pakaian yang sopan dan bisa menjaga attitude yang baik.
Karena tidak jarang jika sudah selesai membahas pekerjaan para wanita yang meeting dengannya akan mencari-cari alasan supaya bisa dekat, menempel atau bahkan bisa memilikinya. Jika pertemuan pertama sudah ada tanda-tanda begitu, pertemuan selanjutnya jangan harap Qiyas akan datang menemui.
*uang bisa dicari, godaan setan bisa dihindari, jika kita yang bisa mawas diri, satu pergi, bukan dia yang ngasih rejeki, karena Allah yang memberi, teguhkan prinsip diri*
ya seperti itulah prinsip Qiyas jika menemukan client wanita yang begitu. Biarlah, jikalau pun dia jatuh miskin, itu takdir karena roda berputar, walaupun dia sudah berusaha mempertahankan yang dia punya.
Karena tidak sedikit yang ingin menjatuhkan Qiyas dengan cara salah satunya mengirim wanita-wanita yang bisa meruntuhkan keimanannya. Yang namanya pembisnis pasti banyak memiliki musuh.
Oleh karena itu Qiyas tidak langsung mau diajak kerjasama, dia akan menyelidiki dulu siapa saja yang akan kerjasama dengannya.
Kembali lagi keZidan dan Qiyas.
"Terimakasih Tuan atas pengertiannya, dan maafkan saya karena tidak bisa menemani anda meeting",jawab Zidan merasa bersalah.
"Kamu janjian sama Mila diCaffe atau restoran mana Zidan??", tanya Qiyas keZidan.
"Direstoran Frantzen de elcoza Tuan", jawab Zidan.
"Bagaimana meeting dengan Cilent kamu ganti tempatnya sama dengan restoran itu, itu juga kan restoran mewah, jika nanti saya sudah selesai saya bisa menyapa kaliyan, mungkin bisa bergabung kalau tidak mengganggu", kata Qiyas kepada Zidan.
"Boleh Tuan, bisa saya atur", kata Zidan dengan semangat.
"Baiklah atur saja, jangan lupa nanti ingatkan saya dan bilang kepada Fadhil untuk menggantikanmu", kata Qiyas keZidan.
"Baiklah Tuan saya permisi", pamit Zidan.
Qiyas hanya mengangguk menanggapi Zidan. Qiyas akhirnya larut dalam pekerjaannya dan melupakan jika dia akan meeting dengan client penting. Terdengar pintu diketuk, setelah dipersilahkan masuk, ternyata Fadhil sekertaris Zidan yang kedua.
"Ayo Fadhil kita berangkat sekarang saja, takut terkena macet dan lima belas menit lagi juga nanti jam sepuluh", kata Qiyas.
Qiyas langsung keluar ruangan diikuti Fadhil yang mengekor dibelakangnya.
"Zidan handle kantor dulu, sebelum kamu berangkat makan siang", kata Qiyas ketika melewati meja kerjanya Zidan.
Zidan langsung berdiri ketika Qiyas melewati mejanya.
"Baik Tuan", kata Zidan sambil membungkukkan badannya.
Qiyas langsung pergi menuju Restoran yang sudah direservasi untuknya dan clientnya. Hanya butuh waktu dua puluh menit untuk sampai keRestoran yang dituju. Qiyas meeting dengan CEO MANDALA JAYA yang bernama Diego Kyle selama dua jam.
Tak terasa waktu juga sudah menunjukkan makan siang. Dan dia segera keluar dari ruang VIP tempat dia meeting dan langsung mencari meja yang Zidan pesan, karena Zidan tadi sudah memberitahu Qiyas dia ada dimeja nomor berapa.
ππππππππππππ
Siang harinya setelah selesai kuliah jam setengah sebelas Mila segera pergi kekantor Kia untuk memaksa Kia menemaninya makan siang bersama Zidan. Walaupun kedua orang tuanya serta Paman Bibinya dan Kia mengetahuinya, mereka semua memberi ijin asal makan siangnya mencari tempat yang ramai, tidak diruangan VIP atau VVIP begitulah pesan mereka kepada Mila dan Zidan.
"Ayolah Kak, temanin Mila ya, Mila malu jika harus berdua dengan Kak Tamtam, mau ya", paksa Mila merengek keKia ketika Mila sudah sampai diruangan Mila.
"Mila kamu tidak lihat, pekerjaan Kakak lagi banyak Mila, lagian biasanya juga kamu kan sudah pernah makan siang dengan Zidan kenapa harus malu", kata Kia sambil membaca berkas yang dia pegang.
"Itu kan biasanya tidak disengaja Kak, kalau ini beda sudah janjian, rasanya Mila malu", kata Mila.
"Kalau malu batalin saja", jawab Kia cuek dan masih membolak balikkan berkas-berkasnya.
"Yah, Kakak ko begitu sih jawabannya", kata Mila dengan cemberut.
"Yang penting kan tidak macam-macam dan harus ditempat yang ramai, itu kan pesan Om Angga dan Ayah ketika Zidan menelfon untuk mengajakmu makan siang", kata Kia sambil melihat ke Mila.
"Iya sih Kak, tapi maunya Mila ditemenin Kakak, mau ya", rengek Mila lagi kepada Kia.
"Nanti aku jadi obat nyamuk kalian berdua dong", jawab Kia.
"Ayolah Kak, kali ini saja ya, mau ya", paksa Mila keKia.
"Baiklah-baiklah Kakak temanin", pasrah Kia akhirnya.
"Yeeeey, terimakasih Kak, ayuk berangkat sekarang saja Kak, takut macet tidak enak sama Kak Tamtam nanti nungguin lama", kata Mila.
"Lima belas menit lagi ya Mila, Kakak nanggung ini", kata Kia kepada Mila.
"Ini sudah jam setengah dua belas Kakak, kita turun kebawah juga membutuhkan waktu, belum lagi perjalanan kesana, belum lagi kalau terjebak macet, belum la........ Kata Mila terpotong oleh Kia.
"Okey-okey kita berangkat sekarang", kata Kia akhirnya, karena kalau tidak distop akan lebih panjang lagi kata-kata Mila.
Disinilah Mila dan Kia sudah sampai diRestoran yang dituju, yaitu Restoran Frantzen de elcoza yang berada dilantai tujuh sebuah hotel, dengan pemandangan yang sangat indah, apalagi jika malam hari.
Mila dan Kia membutuhkan waktu sekitar empat puluh lima menit untuk sampai direstoran tersebut, karena jarak restoran dan kantor Kia lumayan jauh.
Dikantor Ayah Ibrahim sedang mencari Kia untuk diajak makan siang.
"Zahra Kia ada didalam?? ", tanya Ayah Ibrahim kepada Zahra sekertaris Kia.
"Nona Kia pergi dengan Nona Mila Tuan, katanya mau menemani Nona Mila makan siang Tuan", jawab Zahra kepada Ayah Ibrahim.
"Baiklah kalau begitu", kata Ayah Ibrahim langsung pergi dari situ.
"Dasar si Mila, Zidan sudah repot-repot minta ijin kekita untuk mengajaknya makan siang berdua, malah Mila mengajak Kia, kasihan Kia jadi obat nyamuk", bathin Ayah Ibrahim.
Kembali lagi ke Mila dan Kia, ketika sudah sampai kerestoran, mereka bertanya keresepsionis dan langsung diantarkan kemeja yang sudah dipesan Zidan. Ternyata Zidan sudah sampai lebih dulu dari Mila dan Kia.
"Kalian sudah datang, silahkan duduk", kata Zidan sambil berdiri serta mempersilahkan Mila dan Kia untuk duduk.
"Kakak tidak marah kan, Mila mengajak Kak Kia", kata Mila ketika sudah duduk.
"Tidak, kenapa harus marah, malah lebih baik begini Mila", jawab Zidan sambil tersenyum membuktian dia sama sekali tidak marah kepada Mila.
Tiba-tiba ada suara yang begitu Kia dan Mila kenal tepat dibelakang mereka. Sontak Kia dan Mila menengok kebelakang, setelah menengok kebelakang sungguh jantung Kia tiba-tiba berdetak sangat kencang.
ππππππππππππ
***TBC***