
Saat ini Kia dan Qiyas sudah sampai dihotelnya Qiyas sendiri yaitu tempat diadakannya resepsinya Mila dan Zidan.
Para staf dan karyawan hotel yang melihat Qiyas turun dari mobil sambil menggandeng mesra seorang wanita bercadar yang mereka perkirakan sangat cantik akan tetapi tertutup dengan cadarnya, begitulah fikir para staf hotel yang berjaga, resepsionis dan karyawan yang berlalu lalang silih berganti untuk melayani para tamu.
"Tuan Qiyas", sapa staff yang berjaga didepan dekat resepsionis.
Qiyas hanya mengangguk menanggapinya.
"Saya mau mendatangi saudara saya yang sedang resepsi didalam, dan kalian semua perkenalkan dia istri saya", kata Qiyas kepada staff dan karyawan yang berjejer rapi yang menyambutnya karena ketika mereka melihat Qiyas turun dari mobil para karyawan dan staff yang melihat langsung berjejer rapi menyambut Qiyas.
Mereka semua pada menunduk sopan kepada Qiyas sambil bertanya-tanya kapan menikahnya Presdir mereka, begitulah isi benak mereka.
Ketika Qiyas dan Kia masuk keBallroom hampir semua pasang mata langsung tertuju kepada Qiyas dan Kia. Termasuk dua orang yang tidak suka sama Kia.
Karena Qiyas malam ini begitu tampan dan gagah dengan tuxedo hitamnya dan Kia dengan baju pestanya yang syar'i mempesona serta elegan sangat serasi dengan Qiyas jika dilihat dan disandingkan serta jangan lupakan niqob Kia yang serasi dengan bajunya menambah kesan misterius akan kecantikan Kia.
Ayah Ibrahim yang melihat Qiyas dan Kia datang, dia langsung menyamperin mereka berdua, karena Qiyas dan Kia datang sekitar jam setengah satu siang, sebab dirumah mereka mengulang dan melanjutkan kegiatan panas mereka yang dikantor tadi. Jadi mereka sekalian dhuhuran dulu dirumah.
Jika Kia tidak pura-pura merajuk pasti Qiyas akan menambah lagi dan mereka akan semakin terlambat.
"Ayah kira kalian tidak jadi datang nak", kata Ayah Ibrahim kepada Kia dan Qiyas.
"Iya maaf Ayah, tadi meetingnya Iyas dengan Tuan Bryan sedikit agak lama jadi kita siap-siap dirumahnya juga jadi terlambat", jawab Qiyas yang mewakili Kia.
Qiyas dan Kia saling pandang ketika Qiyas menjawab begitu kepada Ayah Ibrahim sambil tersenyum penuh arti, karena tidak mungkin kan Qiyas menjawab tadi kita lagi ***********, Karena itu urusan pribadi.
"Eh kalian rupanya sudah datang, mau makan-makan dulu atau menemui Mila dan Zidan dulu sayang", kata Mamah Dian yang melihat Qiyas dan Kia datang.
"Kita menemui Mila dulu deh Mah, baru habis itu kita akan mencicipi hidangan yang ada, iya kan Kak", jawab Kia kepada Mamahnya dan langsung bertanya kepada Qiyas suaminya.
"Terserah kamu saja", jawab Qiyas dengan tersenyum.
"Ya sudah sana, Mila tadi juga sudah nanyain kamu terus nak", kata Mamah Dian dan di angguki Ayah Ibrahim.
Kia dan Qiyas akhirnya melanjutkan jalannya menuju pelaminan untuk memberikan ucapan kepada Mila dan Zidan.
Kia menangkupkan tangannya kepada Zidan ketika bersalaman dengan Zidan, ketika sudah sampai diMila, Kia dan Mila langsung berpelukan serta Kia memberikan ucapan selamat kepada Mila.
"Kak, Kakak mau ngasih kado Mila apa?? ", tanya Mila dengan pedenya membuat Zidan yang ada disampingnya dia sedikit malu dengan Qiyas dan Kia ketika mendengar Mila meminta kado kepada Kia. Dan Qiyas yang juga mendengarnya dia tertawa kecil.
"Maafin Mila ya Tuan", kata Zidan kepada Qiyas karena merasa tidak enak.
"Jangan panggil Tuan jika diluar kantor, panggil Kakak saja seperti Mila memanggilku dan memanggil Istriku, kita kan sekarang menjadi sepupu Zidan", kata Qiyas kepada Zidan.
"Baik Kak", kata Zidan dengan tertawa, karena lidah dia merasa aneh memanggil Qiyas dengan panggilan Kakak, karena belum terbiasa.
Jika dari segi umur memang Zidan lebih tua dari Qiyas, akan tetapi karena posisi Qiyas yang menikahi sepupu tertua Mila jadi dia tetap harus memanggil Qiyas dengan panggilan Kakak atau Mas.
Kembali keMila dan Kia.
"Kamu mau kado apa dari Kakak Mila?? ", tanya balik Kia kepada Mila.
"Bingung, kalau Kakak sendiri mau ngasih apa Kak?? ", kata Mila.
Kia langsung mundur merangkul tangannya Qiyas.
"Kakak dan Kak Qiyas mengasih kalian tiket bulan madu keHawaii selama sepuluh hari, sudah Kakak dan Kak Qiyas siapin semua?? ", kata Kia kepada Mila dan Zidan, membuat Zidan sedikit terkejut mendengar kado yang diberikan Qiyas dan Kia.
Qiyas hanya mengangguk membenarkan perkataan istrinya Kia ketika melihat Zidan seperti tidak percaya dan langsung melihat kearahnya, karena mereka berdua memang sudah sepakat untuk memberikan kado seperti itu kepada Mila dan Zidan.
"Horeee, makan madu dibulan tempatnya dihawaii, terimakasih Kakak dan Kak Bule", kata Mila kegirangan dan membuat Zidan langsung menoleh kearah Mila.
Kia dan Qiyas hanya tertawa melihat dan mendengar kata-kata Mila.
"Sudah yuk sayang, kita turun tidak enak sama yang lain dan yang dibelakang sudah banyak menunggu kita", kata Qiyas kepada Kia.
Kia dan Qiyas akhirnya turun dari panggung pelaminan dan ikut duduk bergabung dengan kedua orang tuanya.
"Kamu mau makan apa Kak, biar Kia ambilin?? ", tanya Kia kepada Qiyas.
"Kita sama-sama saja yuk sayang ambilnya, gimana?? ", jawab Qiyas kepada Kia.
"Ya sudah ayo", kata Kia.
"Mah, Yah kita ambil makanan dulu ya", kata Qiyas kepada Ayah Ibrahim dan Mamah Dian.
Dan Ayah Ibrahim serta Mamah Dian hanya mengangguk menanggapi perkataannya Qiyas.
Ditengah-tengah Kia dan Qiyas mengambil makanan, Qiyas ternyata melihat sahabat sekaligus Clientnya juga diundang oleh Zidan, karena Zidan juga sudah mengenal baik dengannya.
"Sayang, Kakak keteman Kakak dulu ya, itu disana, sebentar saja", ijin Qiyas kepada Kia sambil menunjuk temannya.
Dan Kia hanya mengangguk memberikan ijin kepada Qiyas. Ada dua orang yang daritadi selalu memperhatikan Kia dan Qiyas. Mereka memperhatikan Kia dan Qiyas bukan karena suka, akan tetapi karena membenci, terutama kepada Kia.
Ketika mereka berdua melihat Qiyas pergi dan Kia sendirian, mereka langsung saja mendekati Kia.
"Huh, lihat nih siapa yang ada dihadapanku", kata Rida ketika sudah dihadapannya Kia.
Kia ketika melihat Rida dan Lina dia langsung saja terkejut. Rida dan Lina sebenarnya masih saudara jauh, mereka seumuran, dan waktu sekolah SMP pun mereka satu sekolahan, kecuali SMA dan Kuliah mereka tidak satu sekolahan sama Kia.
Waktu Kia menikah pun keluarga mereka juga diundang akan tetapi Rida dan Lina mereka sengaja tidak datang, yang datang hanya kedua orang tuanya masing-masing.
Karena Rida dan Lina mereka sangat membenci Kia karena diwaktu SMP Kia banyak yang menyukai dan semua laki-laki incaran mereka banyak yang menyukai Kia juga, sebab Kia lebih cantik dari Rida dan Lina. Itulah yang menyebabkan Rida dan Lina sangat membenci Kia.
"Kenapa mesti ditutupin segala itu muka, apa malu karena sudah tidak cantik lagi", sindir Lina yang ikut-ikutan seperti Rida.
Rida dan Lina jika bertemu Kia selalu menghina dan mencemooh, serta mencaci maki Kia, akan tetapi Kia hanya diam tidak menanggapi mereka, walaupun sebenarnya hati Kia juga sangat sakit atas perkataannya mereka berdua.
"Astaghfirullah hal'adzim", Kia beristighfar dengan suara lirih dan hanya dia yang mendengar.
"Apa sih kelebihannya kamu, kamu itu tidak pantas menjadi istrinya Qiyas pengusaha kaya raya itu", kata Rida dengan pedasnya.
"Sok kecantikan, paling kamu memakai cadar karena menutupi kebusukannmu itu kan?? ", kata Lina ikut-ikutan.
"Kasihan Qiyas, mungkin kamu juga sudah menjadi bekas orang", kata Rida lagi.
"Kenapa kamu tidak mati saja sih dulu, ketika ditabrak oleh anak SMA itu", kata pedas Lina juga kepada Kia.
Kia masih selalu beristighfar untuk meredam emosinya, karena jika meladeni mereka percuma saja.
"Sudah ayo pergi Lina, percuma ngomong sama orang bisu seperti pelacur berkedok cadar ini", kata pedas Rida lagi kepada Kia. Dan mereka langsung berlalu pergi dari hadapannya Kia.
Mereka berdua yaitu Rida dan Lina tidak mengetahui serta menyadari jika semua hinaan dan cacian yang dilontarkan mereka kepada Kia ada seseorang yang mendengar dengan jelas. Dan membuat darahnya langsung mendidih dengan sangat panas.
πππππππππππππ
Siapa coba tebak readers siapa orang ituπππ
ππππππππππππ
***TBC***