BISSMILLAH WITH YOU

BISSMILLAH WITH YOU
NGIDAM PERTAMA



Kia yang baru saja meminum jahe anget buatan Mamahnya, dia dipaksa Mamah Dian untuk memakan bubur buatan Mamahnya, karena tadi Mamah Dian tidak cuman membuat jahe anget saja, akan tetapi juga bubur gurih.


"Paksa ya nak, demi calon babynya, emang begini resikonya hamil muda, dulu Mamah juga begini sayang", bujuk Mamah Dian kepada Kia.


Kia menggeleng sambil menutup hidung dan mulutnya melihat dan mencium uap bubur yang dibawa Mamahnya.


Qiyas yang senantiasa berada disamping Kia, dia juga menjadi bingung dan khawatir melihat Kia jadi susah makan.


Akhirnya dia berinisiatif langsung mengusap perutnya Kia, sambil berkata yang membuat perut Kia sedikit enakan.


"Sayang, baik-baik ya disana, jangan bikin Umi susah, Umi mau maem dedek nurut ya sama Umi", kata Qiyas sambil mengusap perutnya Kia.


Entah kenapa usapan tangannya Qiyas membuat gejolak mualnya Kia sedikit menghilang, dan akhirnya Kia mau makan bubur buatan Mamahnya.


Baru dua kali sendok bubur masuk kemulutnya Kia, Kia langsung saja turun dari ranjang dan berlari menuju kedalam kamar mandi, membuat Qiyas yang lagi mengusap perutnya terkaget karena Kia tiba-tiba berlari kecil menuju kekamar mandi.


"Sayang jangan lari-lari,


"Nak jangan lari-lari",


Kata Mamah Dian dan Qiyas secara bersamaan. Qiyas juga langsung mengikuti Kia kekamar mandi untuk membantu Kia jika Kia membutuhkan bantuannya.


Sedangkan Mamah Dian dia menghela nafasnya, ya mau bagaimana lagi yang namanya mual karena hormon hamil muda ya begitu.


Kia setelah selesai dari kamar mandi, dia dibantu Qiyas berjalan menuju keranjangnya lagi.


Tanpa terasa ternyata waktu juga sudah menunjukkan pukul delapan pagi, Papah Ziyas, Qiyas dan Ayah Ibrahim mungkin akan berangkat kekantornya sedikit terlambat, bisa juga tidak berangkat, tergantung kondisinya nanti bagaimana, begitulah yang direncanakan oleh mereka bertiga, karena Ayah Ibrahim, dan Papah Ziyas akan ikut memeriksakan kandungannya Kia bersama istri-istri mereka, yaitu Mamah Dian dan Bunda Lili.


Papah Ziyas dan Qiyas mereka juga sudah berpesan pada sekertaris mereka masing-masing, dan juga sudah berpesan kepada Aulian untuk menghandle kantor dulu hari itu.


Bunda Lili dan Papah Ziyas mereka datang kerumah Qiyasnya tepat ketika pukul delapan lebih lima belas menitan. Dan Bunda Lili tidak datang dengan tangan kosong, dia datang dengan membawa satu buah rujak dengan isian buah-buahan yang lumayan komplit.


Karena fikir Bunda Lili, hampir semua wanita hamil muda suka rujak, terutama yang sedikit asem, jika pun tidak dimakan sekarang, bisa dimakan nanti dan ditaruh dikulkas dulu, begitulah maksud dari Bunda Lili.


Ketika datang Papah Ziyas dia langsung bergabung dengan Ayah Ibrahim yang menonton tv diruang keluaraganya rumah Qiyas, sedangkan Bunda Lili dia langsung menuju kekamarnya Qiyas dan Kia, yang sebelumnya sudah bertanya lebih dulu dengan Bi Karsi.


Qiyas yang mendengar pintu kamarnya diketuk dia langsung beranjak dari duduknya untuk membukakan pintu, sedangkan Mamah Dian dia sedang mengusapkan minyak diperutnya Kia.


Ketika Qiyas membuka pintu ternyata yang mengetuk pintu adalah Bundanya, dan langsung saja Qiyas menyuruh Bundanya masuk ketika Bunda Lili bertanya dimana Kia kepada Qiyas.


"Bagaimana keadaanmu nak??, masih mual?? ", tanya Bunda Lili kepada Kia ketika sudah sampai disamping ranjangnya Kia.


Kia dengan berbaring sambil menganggukkan kepalanya kepada Bunda Lili.


"Bunda bawa apa itu Bund?? ", tanya Kia dengan penasaran, karena memang Bunda Lili belum menaruh rantang yang dia bawa.


"Bunda bawa rujak, dengan buah yang menurut Bunda lumayan komplit sih, cuman kurang satu mangga mudanya tidak ada, karena mangganya dirumah sudah habis", jawab Bunda Lili kepada Kia.


Kia yang awalnya tiduran dan masih sedikit pusing serta mual, ketika mendengar kata rujak dan mangga muda, dia langsung bangun dengan tersenyum, serta rasanya mulut Kia ingin sekali memakan itu.


"Boleh Kia makan itu Bund?? ", kata Kia kepada Bunda Lili.


"Tapi kamu belum makan nasi sayang", cegah Qiyas khawatir kepada Kia.


Ketika Kia mendengar Qiyas menegurnya, dia yang awalnya bersemangat dan tersenyum. Kia langsung saja diam dan langsung juga terlihat murung wajahnya.


"Ya udah tidak apa-apa", kata Kia pelan dengan murung dan langsung tiduran dengan menutupi mukanya dengan lengan tangannya sambil menutup matanya.


Qiyas yang melihat begitu rasanya kasihan sekali, sedangkan Bunda Lili dan Mamah Dian yang melihat Kia begitu. Mereka akhirnya memberi kode dan sambil berbisik kepada Qiyas untuk mengijinkan Kia makan rujak itu.


"Tidak apa-apa", kata Bunda Lili dengan mengkode melalui mulut kepada Qiyas.


"Tapi Bund", jawab Qiyas kepada Bunda Lili juga dengan kode mulut. Dan dijawab anggukan oleh Bunda Lili.


Qiyas lalu melihat kearah Mamah Dian, dan Mamah Dian juga menjawab anggukan kepada Qiyas.


Ketika Qiyas mendapat kode seperti itu dari Bunda dan Mamah Dian, dia lalu keluar untuk mengambil piring dan sendok untuk menyiapkan rujak yang dibawa oleh Bunda Lili.


Setelah siap semua Qiyas lalu mendekati Kia dan mencoba berbicara dengan Kia.


"Sayang", panggil Qiyas kepada Kia dengan lembut.


Kia yang dipanggil Qiyas, lalu Kia menurunkan lengannya yang tadi untuk menutupi wajahnya.


"*C*ini deh, Umi boleh ko maem rujaknya, dikit saja ya, daripada tidak maem cama cekali", kata Qiyas kepada Kia dengan menirukan logatnya anak kecil.


"Boleh Abi, beneran", kata Kia dengan semangat.


"Boleh sayang", jawab Qiyas dengan terpaksa sambil tersenyum manis kepada Kia.


"Baiklah dikit saja tidak apa-apa yang penting Kia bisa merasakan rujak itu", kata Kia sambil menujuk rujak yang dibawa Qiyas untuknya.


Kia langsung saja memakan rujaknya, setelah berdo'a terlebih dahulu. Hingga Kia dia tidak menyadari jika rujak yang dibawa Bunda Lili sudah hampir habis dimakan olehnya, tanpa muntah sedikitpun.


Qiyas yang melihat Kia memakan rujak dengan begitu lahapnya, membuat Qiyas sampai menelan air liurnya karena ngilu melihat Kia yang tidak kepedasan sama sekali.


"Katanya sedikit, lha ini ko sudah mau habis", bathin Qiyas ketika melihat Kia makan rujaknya.


Sedangkan Mamah Dian dia menggelengkan kepalanya karena tingkah Kia, karena sebab Mamah Dian mengetahui jika Kia tidak terlalu suka dengan yang namanya rujak, jika pun makan rujak pun cuman satu atau dua suap saja.


Dan Bunda Lili yang melihat Kia begitu lahapnya memakan rujak yang dibawanya, dia hanya tersenyum senang.


"Alhamdulillah", kata Kia ketika dirasa sudah kenyang memakan rujak.


"Abi, Kia nanti ingin makan mangga muda, lalu dipotongin kecil-kecil halus setelah itu disiram sambal rujak begini ya Abi, terus nanti diatasnya dikasih es krim rasa vanila atau strowbery ya Abi", kata Kia dengan semangat menyebutkan keinginannya.


Qiyas yang mendengarnya dia langsung melototkan matanya, karena baru saja Kia makan rujak lumayan banyak, nanti minta rujak lagi. Qiyas hanya takut jika Kia nanti sakit perut.


"Bo..... Boleh asal Umi makan nasi dulu ya, nanti akan Abi turutin keinginannya Umi, ok", kata Qiyas kepada Kia. Dan dijawab anggukan oleh Kia.


Sedangkan Mamah Dian dan Bunda Lili mereka tidak terkejut mendengar permintaannya Kia, karena itu termasuk masih yang wajar-wajar saja.


Sekitar pukul sepuluh pagi setelah acara dirumah tadi yang Kia muntah-muntah tiada henti, dan mau berhenti ketika sudah makan rujak buatan mertuanya.


Dan disinilah mereka semua, sudah berada diRumah Sakit Miracle Hospital, Rumah Sakit Bersalin khusus Ibu dan Anak.


Dengan uang yang Qiyas miliki dia bisa mendapatkan Dokter Kandungan yang terbaik untuk Kia serta yang paling penting dan utama adalah dia seorang wanita.


Bahkan Qiyas juga sudah berpesan kepada Dokter yang menangani Kia dan berani membayar lebih, ketika nanti Kia lahiran Qiyas mau yang membantu Kia persalinan nanti semuanya perempuan, tidak ada laki-laki satu pun. Hanya Qiyas laki-laki satu-satunya nanti yang boleh diruangan Kia ketika bersalin.


Dan permintaan Qiyas disetujui serta dituruti oleh Dokter itu, karena Dokter itu sendiri tahu siapa Qiyas Irawan itu.


Dokter Karamel namanya, dia adalah Dokter yang akan menangani Kia selama periksa dan nanti mungkin sampai Kia lahiran. Umurnya sudah sekitar empat puluh tahunan.


"Selamat datang Tuan dan Nyonya Irawan serta Tuan dan Nyonya Ibrahim", salam Dokter Ara begitulah panggilannya Dokter Karamel diRumah Sakit itu sambil menyalami Keluarga Irawan dan Keluarga Ibrahim dengan tersenyum ramah.


Dan dijawab anggukan dan senyuman oleh Keluarga Irawan dan Keluarga Ibrahim.


"Silahkan duduk Tuan dan Nyonya", kata Dokter Ara lagi


Qiyas dan Kia mereka sudah duduk dikursi yang ada dihadapan mejanya Dokter Ara, sedangkan Papah Ziyas, Bunda Lili, Mamah Dian dan Ayah Ibrahim mereka duduk dishofa yang ada diruangannya Dokter Ara.


"Apakah ada keluhan Nyonya Qiyas?? ", tanya Dokter Ara kepada Kia.


"Panggil Kia saja Dokte Karamel", kata Kia kepada Dokter Ara.


"Panggil Dokter Ara juga saja mbak Kia, saya panggil mbak Kia tidak apa-apa kan?? ", kata Dokter Ara dengan tersenyum ramah.


"Tidak apa-apa Dok, silahkan", jawab Kia yang juga ramah.


"Baik, apa yang mbak Kia keluhkan sekarang?? ", tanya Dokter Ara kepada Kia lagi.


"Saya sering pusing Dok, dan mual muntahnya keseringan, bahkan saya tidak kuat makan nasi, sama bubur Dok", jawab Kia kepada Dokter Ara.


"Ok, terus apa lagi Mbak?? ", tanya Dokter Ara sambil mencatat sesuatu dikertas.


"Tidak ada Dok", jawab Kia sambil menggelengkan kepalanya.


Qiyas yang duduk disebelahnya Kia dia hanya diam saja mendengarkan percakapan antara Kia dan Dokter Ara. Begitupun juga Papah Ziyas, Bunda Lili, Mamah Dian dan Ayah Ibrahim, mereka juga sama mendengarkan saja percakapannya Kia dan Dokter Ara.


πŸ”†πŸ”†πŸ”†πŸ”†πŸ”†πŸ”†πŸ”†πŸ”†πŸ”†πŸ”†πŸ”†πŸ”†


*Bersambung***πŸ˜πŸ˜πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜‚**


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


***TBC***