BISSMILLAH WITH YOU

BISSMILLAH WITH YOU
CURHATAN KIA



"Apakah disetiap sholat Istikhoroh Kia selama seminggu itu, Kia sudah mendapatkan jawabannya?? ", tanya Umi Maryam lagi.


Kia tiba-tiba mendongakkan kepala dan melihat kedepan, tetapi ada yang berbeda dimata Kia. Pandangan Mata Kia kosong, seolah sedang memikirkan dan membayangkan sesuatu.


★★★★★★★★★★★


"Bolehkah Kia cerita sedikit Umi?? ", tanya Kia ke Umi Maryam.


"Tentu boleh nak, jika itu bisa mengurangi beban fikiranmu", jawab Umi tulus.


"Saya pernah merasakan sedikit getaran Umi jika bertemu seorang ikhwan(laki-laki), ada rasa berbeda jika saya bertemu dengannya Umi dan saya juga tau dia sering kali mencuri pandang, serta mengikutiku secara diam-diam, setiap hari saya berdo'a dan bermunajat kepada Allah untuk didekatkan dan ditunjukkan mana ikhwan yang baik dan pantas untukku Umi, saya tidak pernah menyebut namanya, atau nama seorang Ikhwan pun disetiap do'a-do'aku, saya pasrahkan semuanya kepada-Nya Umi, tapi setelah sekian hari sampai 1bulan lamanya dia tidak ada tanda-tanda ingin berbicara serius denganku Umi, hingga tiba-tiba Ustadz Faris menyatakan perasaannya padaku dan ingin mengkhitbahku Umi", cerita Kia dengan masih memandang lurus kedepan.


"Sholat istikhoroh di hari pertama sampai hari kedua, Kia belum mendapatkan jawaban disetiap do'a" Kia umi", kata Kia sambil memandang Umi Maryam.


Umi Maryam masih setia mendengar dan tidak mau memotong semua ucapan Kia.


"Tapi pas hari ketiga Kia bermimpi berada ditempat yang sangat indah, sejuk dan banyak bunga-bunga yang indah Umi, didalam mimpi Kia, Kia sedang duduk diatas dipan yang indah sambil melihat-lihat dan menikmati suasana yang sejuk. Tiba-tiba ada cahaya putih yang menyilaukan mata, dan cahaya itu seperti menuntun Kia untuk mendekatinya, ternyata pas semakin dekat Kia melihat sesosok Ikhwan tetapi Kia tidak bisa melihat wajahnya Umi. Setelah jarak Kia dan dirinya tinggal kurang beberapa langkah, dia berkata *Stop jangan mendekat, takdir kita masih panjang, engkau belum bisa berada disisiku, tunggulah waktunya tiba, kita akan selalu bersama-sama dijalan-Nya*, setelah dia mengucapkan kata-kata itu dia menghilang dan Kia tiba-tiba terbangun Umi", cerita Kia ke Umi Maryam.


"Hari keempat sampai ketujuh pun, mimpi Kia selalu sama Umi, dan kata-katanya pun selalu sama, Kia bingung Umi", akhir cerita Kia.


"Apakah Kia mempunyai rasa dengan Ustad Faris", tanya Umi Maryam kepada Kia.


"Entahlah Umi, Kia belum tahu, tapi yang pasti ada rasa kagum dihati Kia untuk Ustadz Faris", jawab Kia sambil menunduk.


"Kia berfikir Ustadz Faris adalah jawaban atas do'a" Kia yang ingin ditunjukkan Ikhwan yang baik untuk Kia Umi", sambung Kia lagi.


"Apakah kamu menyesal Kia menerima Khitbahannya Ustadz Faris?? ", tanya Umi Maryam.


"Tidak Umi", jawab Kia langsung.


Umi Maryam langsung memeluk Kia karena bangga dan terharu dengan cerita Kia.


"Apakah Kia sudah cerita semua dengan kedua orang tua Kia", tanya Umi Maryam.


"Sudah Umi, kedua orang tua Kia mendukung dengan keputusan Kia, bahkan kedua orang tua Kia segera menyuruh Kia pulang dan menyuruh Ustadz Faris segera melamar resmi Kia dihadapan kedua orang tua Kia dan semua Keluarga Besar Kia", jawab Kia.


"Terus kapan rencananya Kia akan pulang sayang?? ", tanya Umi lagi.


"Minggu depan Umi, karena sekarang masih menyelesaikan nilai dan tugas untuk anak-anak", kata Kia.


"Apapun yang terbaik untukmu Umi dan Abi selalu mendukung dan mendo'akanmu, dengan keputusanmu menerima Ustadz Faris adalah pilihan yang tepat sayang, kalau Umi lihat Ustadz Faris adalah orang yang sangat sholeh, sopan santun dan alim sayang..... Kata Umi menjeda kalimat sambil mengusap kepala Kia dengan sayang.


Karena bagaimana pun juga perasaanmu sama seorang Ikhwan itu adalah ketidak pastian. Karena ketidak pastian akan mendatangkan kepahitan, jika ada yang pasti kenapa harus menunggu yang tidak pasti", nasihat Umi Maryam kepada Kia.


"Iya Umi dan terimakasih atas semua nasihat yang Umi berikan", kata Kia sambil memeluk Umi Maryam.


"Kayaknya lagi seru nih, peluk-pelukkan tidak ngajak-ngajak", kata Lida tiba-tiba datang sambil ikut-ikutan meluk.


Sontak kelakuan Lida membuat Umi Maryam dan Kia tertawa.


"Makanan sudah siap Umi", kata Lida ke Umi Maryam setelah melepaskan acara peluk memeluk tadi.


"Ayo Kia ikutan makan siang sekalian sudah jamnya makan siang", ajak Umi Maryam.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


***TBC***