
Santuy saja ya readers cerita ini tidak ada yang namanya pelakor, pembinor, atau orang ketiga, keempat, atau keberapa sajaππππ
Karena apa, karena tidak semua kehidupan rumah tangga itu masalahnya dari pelakor, dari suami susah move on, dari pembinor dan yang itu-itu muluπ π
Bener nggak readersπππ.
Maka dari itu author ingin cerita yang sedikit berbeda.
Semoga ceritanya sesuai ekspetasi para readers semua yup π, silahkan komen mau mengkritik pun boleh asal yang sopan dan baik.
Serta maafkeun yang Upnya tidak teratur jamnya, karena author punya duo krucilπ§π§ yang lagi aktif, jika moodnya duo krucil lagi good, pasti author Upnya bisa lebih dari satu. πππ
ππππππππππππ
Saat Mila ingin masuk keCafe dia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang pria berjaz yang sangat rapi, pria itu mau akan keluar Cafe. Disaat Mila mendongakkan kepalanya betapa terkejutnya mereka. Hingga reflek mereka bicara secara bersamaan.
"Kamu,....
"Kakak baik... ", kata mereka berdua secara bersamaan.
"Kamu lagi ngapain disini Mila? ", kata pria berjaz itu memecah keterkejutan mereka.
"Mau beli juz Kak, sekalian beli camilan mungkin", kata Mila sambil ketawa kecil tetapi tetap menundukkan wajahnya.
"Mau Kakak temanin?? ", kata Pria Itu.
"Bukannya Kakak tadi sudah mau keluar yaa?, takutnya nanti Kakak sedang sibuk", kata Mila.
"Emang sih sibuk, biarin dimarahin Tuan, yang penting bisa ngobrol dengan Mila, tidak setiap hari juga kan ketemu ini gadis", bathin pria itu.
"Kakak, halloooow, malah bengong", kata Mila melambaikan tangan didepan muka pria itu, karena pria itu ditanya malah diam saja.
"Eeh, eeh apa, maaf tadi sedikit blank", kata Pria itu sambil menggaruk tengkuknya.
"Tuh kan, Kakak baik sedang sibuk, mending Mila sendiri saja tidak apa-apa ko, Kakak selesaiin urusan Kakak saja dulu", kata Mila lagi.
"Eh, tidak-tidak, Kakak tidak sibuk ko, ayo kita duduk dimana, duduk disana saja ya, yang sedikit ramai", kata pria itu menunjuk meja didekat kaca.
Akhirnya Mila dan pria berjaz itu duduk ditempat yang ditunjuk pria itu, mereka memang berdua, akan tetapi mereka tidak duduk bersebelahan, dicafe itu juga cukup ramai, walaupun masih pagi, jadi mereka masih mengerti batasan.
Setelah mereka duduk, seorang waiterss datang menghampiri dan bertanya mau pesan apa.
"Permisi Nona dan Tuan, mau memesan apa?? ", kata waiterss tersebut.
"Saya pesan juz alpukat sama roti ini yah mbak", kata Mila menyebutkan pesanannya dan menunjuk gambar roti yang ada dimenu.
"Saya pesan Americano saja satu, sudah itu saja", kata pria itu.
"Kakak ko masih pagi sudah minum kopi, tidak baik, minumnya jangan kopi ya, minum yang lain saja?? ", kata Mila kepada pria itu.
Kalau orang yang belum mengenal Mila dikira Mila suka dengan pria itu, akan tetapi jika sudah mengenal Mila mereka semua tahu, jika watak dan sifat Mila memang sangat perhatian kepada semua orang, termasuk kepada orang yang baru dia kenal dan menurut dia baik.
Mangkanya Kia sering menasehati jangan suka berbicara dengan orang asing, jangan mudah percaya dengan orang baru. Tapi dengan pria itu Mila langsung percaya ngobrol santai. Apakah mereka sebelumnya sudah saling kenal.
Kembali lagi ke Mila dan Pria berjaz itu. Pria itu seperti mendapatkan angin surga ketika Mila perhatian padanya. Padahal Mila perhatian bukan seperti yang Pria itu bayangkan, semoga Pria itu tidak kecewa ya pemirsa, jika mengetahui memang wataknya Mila suka perhatian π ππ.
"Hehehe....... ", kata Pria itu sambil menggaruk keningnya.
"Aku pesenin juz saja ya, pagi-pagi bagus Kak minum juz, mau juz buah apa Kak", Kata Mila kepada Pria berjaz itu.
"Samakan saja kayak punyamu", kata Pria itu sambil tersenyum.
"Kalau begitu juz alpukatnya dua dan rotinya yang tadi juga dua ya mbak", kata Mila sambil tersenyum ramah.
Pria yang duduk berseberangan dengan Mila, seakan meleleh melihat senyum manis Mila diwajah tanpa makeupnya.
"Serasa meleleh hati abang neng", kata bathin Pria itu dengan jantung yang berdegub kencang.
Sambil menunggu pesanan mereka datang, Mila yang penasaran siapa sebenarnya nama Pria yang dia panggil dengan Kakak baik itu, akhirnya Mila memberanikan diri bertanya kepada Pria itu.
"Nama Kakak sebenarnya siapa sih, kita kenal sudah lama tapi Mila tidak tahu nama Kakak baik", kata Mila sambil menunduk dan memainkan jarinya.
"Tidak penting namaku siapa, kamu cukup panggil Kakak baik, aku sudah senang sekali, seakan itu panggilan sayang darimu untukku", kata pria itu dengan tersenyum satu juta watt dan sedikit menggombali Mila, pria itu bahkan sudah tidak menggunakan kata saya, melainkan aku.
Mila yang mendengar kata-kata pria itu entah kenapa hatinya merasakan apa yang belum pernah dia rasakan. Seperti senang, deg-degan dan malu, campur jadi satu.
"Kakak kan sudah tahu dari dulu nama Mila dari nametage seragam SMA Mila ketika Kakak nolongin Mila, sedangkan Mila kan belum tahu nama Kakak dan Kakak ditanya malah gitu, bikin Mila malu", kata Mila polos.
Sontak kepolosan Mila membuat pria itu tertawa kecil dan semakin membuat pria itu jatuh Cinta kepada Mila.
"Kamu tidak berubah Mila, masih sama seperti satu tahun yang lalu saat kita pertama kali bertemu", bathin Zidan.
"Nama Kakak adalah Zidan Pratama Mila", kata pria itu.
Eng ing eng, yups jika kaliyan sudah menebak pria berjaz itu adalah Zidan asisstennya Qiyas kaliyan tepat sekali.
Mereka bertemu disaat Zidan menyelamatkan Mila yang hampir tertabrak mobil.
*Falshback On*
Zidan yang waktu itu sedang melakukan perjalanan bisnis kekota A dekat dengan daerah tempat tinggal Mila. Zidan ketika itu sedang meeting diCaffe Batu dengan Clientnya menggantikan Qiyas. Letak Caffe Batu tepatnya berseberangan dengan sekolahan SMA, SMP, bahkan Uneversitas.
Ketika Zidan sudah selesai meetingnya, dia ingin segera kembali kehotel tempat dia menginap. Ketika hendak membuka pintu mobil, hp Zidan berbunyi, ternyata yang menelfon adalah Qiyas yang menanyakan bagaimana meeting tadi.
Zidan yang berbicara dengan Qiyas lewat telefon sambil memperhatikan sekitar, ketika pandangannya jatuh keseorang gadis SMA berhijab syar'i matanya langsung terpaku ke gadis itu.
Zidan yang reflek langsung berlari kearah Mila sambil memasukkan Hpnya kekantong celana dan menarik Mila kedalam pelukannya. Ternyata mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi itu sedang mengalami rem blong. Mobil itu langsung membanting stir kekiri dan langsung menabrak sebuah warung yang ada dipinggir jalan tersebut.
Mila yang masih syok dia tidak sadar jika dia masih dipelukannya seorang pria. Pria itu sengaja tidak melepaskan gadis itu, dan sengaja mengelus punggung gadis itu sekedar memberi ketenangan. Hijab yang digunakan Mila waktu itu tersingkap sedikit pas dinametagenya.
Mila yang lama kelamaan menyadari usapan dipunggungnya langsung reflek mendorong Zidan.
"Astaghfirullah, ampuni Mila ya Allah, sudah dipeluk laki-laki yang bukan mahram, beneran tadi reflek ya Allah, karena laki-laki ini yang membantu Mila, mau kan memaafkan Mila", kata Mila polos sambil menengadahkan tangannya kelangit.
Sontak kelakuan polos Mila membuat Zidan terhibur dan tertawa senang. Hingga Zidan menyadari dia lupa terakhir kali dia tertawa seperti itu kapan tepatnya.
Mila yang mendengar pria yang menolongnya tertawa, langsung mengerjapkan matanya kearah Zida.
"Kakak baik, terimakasih sudah nolongin Mila yak, jika tidak mungkin Mila yang menggantikan warung itu", kata Mila sambil menunjuk warung yang ditabrak mobil tadi.
"Sama-sama Kamila Nur Laila, kebetulan tadi Kakak lewat sini ko", kata Zidan reflek mengelus puncak kepala Mila yang tertutup hijab.
"Kakak jangan pegang-pegang tidak baik dan Kakak baik ko tahu nama lengkap Mila??", kata Mila sambil memegang dan melihat dadanya.
"Ini jantung Mila kenapa dag-dig-dug ya Allah ketika kakak baik mengusap kepalaku, seakan mau meledak", gumam Mila kecil tetapi masih didengar Zidan.
Zidan langsung tertawa kencang, dan reflek membuat Mila mendongakkan kepalanya kenapa Kakak baik tiba-tiba tertawa, begitu fikir Mila. Mila yang mendongak dengan mengerjapkan mata lucu membuat Zidan jadi salah tingkah dan mengehentikan tawanya.
"Kenapa jadi jantungku yang seakan mau meledak sih, masa seleraku jatuh keanak SMA ini", bathin Zidan sambil menahan nafas takut ketahuan jika Mila mendengar suara jantungnya.
Eheemmmm
Zidan berpura-pura berdehem untuk menguasai diri lagi.
"Kakak tahu nama lengkap Mila ya itu dari nametage Mila tuh yang kelihatan", kata Zidan sambil menunjuk nametage yang ada dibaju Mila.
"Ya Allah, malu satu belum berkurang, ini hijab kenapa juga tersingkap pas dibagian itu sih", kata Mila kecil sambil segera menurunkan hijabnya tadi yang tersingkap.
Zidan benar-benar terhibur dengan kelakuan Mila, ingin rasanya dia berlama-lama bersama Mila, tetapi tidak bisa karena dia harus segera kembali kehotel dan mempersiapkan berkas-berkas yang harus buat meeting besuk pagi.
Mila dan Zidan pernah ketemu tanpa sengaja diPerpustakaan Kota, atau Zidan yang sengaja ingin melihat Mila secara diam-diam. Kadang juga Zidan sengaja dari kota X kekota A hanya ingin melihat Mila. Terkadang Zidan juga terang-terangan mendekati Mila.
Akan tetapi suatu hari ada masalah serius diPerusahaan Qiyas yang ada diDubai, mau tidak mau dan terpaksa mengakibatkan Zidan harus berpisah dari Mila.
*Falshback Off*
Pesanan yang mereka pesan sudah datang, mereka menikmatinya dengan canggung. Apalagi Zidan yang sudah kenyang harus dipaksakan minum segelas jus dan sepotong roti.
"Demi kamu neng Mila, abang tidak terbiasa makan roti dan jus dipagi hari, terpaksa abang memakannya", bathin Zidan melas ketika melihat hidangan dimeja depannya.
Author: (Kasihan abang Zidan, sini jika tidak mau author mau ko kalau dikasihπ π).
Zidan: enak saja, pesanan khusus nih buatku dari neng Milaku. ππ
Author: sak karepmu waelahπ΄π΄πͺ
Skip.......
ππππππππππππ
"okey Kak TamTam sekarang Mila tahu nama lengkap Kakak adalah Zidan Pratama", kata Mila ketika sudah selesai menghabiskan pesanannya.
"Ko Kak TamTam Mila?? ", tanya Zidan bingung.
"Nama Kakak susah Zidan, ribet lidah Mila, Pratama, (TamTam) saja ya, oke, diel", kata Mila kekeh membuat Zidan akhirnya mengalah.
"Apapun panggilan darimu, bagiku itu panggilan sayang darimu untukku", kata Zidan menggombal.
Pipi Mila langsung memerah seperti chery, dan membuat Zidan langsung berdehem karena muka Mila terlihat lucu.
Eheeemmm
Mila yang lagi malu-malu dikagetkan dengan suara Hpnya yang berdering. Dan Mila langsung mengangkatnya setelah tahu Kia yang menelfonnya.
"Hallo, Assalamu'alaikum Kakak", salam Mila.
"..................... ",
"Baik, Mila segera kesana Kak", kata Mila lagi.
"...................... ",
"Wa'alaikumussalam Kak", kata Mila sambil memutuskan smbungan telefon.
Zidan yang penasaran siapa yang menelfon Mila reflek dia bertanya dengan perasaan was-was, takutnya dia adalah orang yang spesial bagi Mila. Ketika mengetahui yang menelfon adalah Kakak sepupunya yang bernama Kia, perasaan Zidan langsung plong.
"Mila mau bayar dulu ya Kak TamTam, soalnya sudah ditunggu Kak Kia", kata Mila berpamitan.
"Eh, tidak usah, biar Kakak saja yang bayar, kamu segera saja temui Kakakmu, takut dia menunggu lama", kata Zidan segera, karena gengsi saja jika dia harus dibayari seorang wanita.
"Yeee makasih Kak TamTam, uang Mila utuh, Assalamu'alaikum", kata Mila dengan ceria.
Setelah kepergian Mila, Zidan bergumam.
"Sepertinya aku benar-benar jatuh dengan pesona gadis itu, haduh jantungku mau meledak lagi kan", kata Zidan bergumam sambil memegangi dadanya.
ππππππππππππ
***TBC***