
Hari yang ditunggu-tunggu pun telah tiba, terutama untuk Mamah Dian dia sangat menantikan hal ini sejak lama.
Kemarin malam setelah makan malam dirumah Papah Ziyas, Qiyas dan Kia sepakat untuk pulang kehotel yang akan diadakannya resepsi pernikahannya mereka.
Kia kira dia akan tidur dikamar hotel yang seperti biasanya dia sewa, ternyata Kia salah dia dibawa Qiyas kePenthousenya yang berada dihotel tersebut. Kamar paling atas dan paling mewah dihotelnya.
"Waaah, ini beneran Penthousenya Kakak?? ", tanya Kia takjub dengan interior yang berada didalam Penthouse tersebut.
"Iya sayang, kamu suka", jawab Qiyas.
"Suka Kak, bagus", jawab Kia sambil berkeliling melihat-lihat.
"Kan punyaku juga punyamu sayang", jawab Qiyas lagi.
"Sini deh", ajak Qiyas sambil menggandeng tangannya Kia.
Qiyas lalu mengajak Kia untuk menuju kebalkon yang ada dikamar tersebut, dan ketika dibuka sungguh indah pemandangan malam yang terlihat dari atas situ.
"Masyaallah Kak, cantiknya", kata Kia ketika melihat pemandangan kota dari balkon kamarnya Qiyas.
Qiyas lalu memeluk Kia dari belakang untuk memberikan kehangatan karena udaranya sungguh sangat dingin diatas situ.
"Tapi disini dingin ya sayang", kata Qiyas sambil memeluk Kia dari belakang.
"Kan sudah begini, jadi tidak terlalu terasa dinginnya", jawab Kia sambil berbalik badan dan menghadap keQiyas.
Qiyas lalu mencoba melepaskan niqob Kia, Kia hanya diam dengan apa yang dilakukan Qiyas terhadapnya dan setelah terlepas Qiyas lalu mengkantongi niqobnya Kia.
"Sungguh ini pemandangan yang lebih cantik dari pemandangan dibawah sana", kata Qiyas sambil membelai pipinya Kia.
Qiyas dengan perlahan-lahan dia memajukan wajahnya hingga bibirnya sudah menyentuh bibirnya Kia. Qiyas lalu mencium, me****at dan dibalas juga oleh Kia. Sungguh romantis mereka berciuman diatas balkon Penthousenya Qiyas sambil menikmati udara dan pemandangan malam.
Tiba-tiba Qiyas langsung saja menggendong Kia dengan gaya bridalstyle untuk masuk kedalam kamar, Kia lalu mengalungkan tangannya keleher Qiyas dan ketika menutup pintu balkon pun Qiyas menggunakan kakinya untuk menggeser pintunya.
Ketika berjalan menuju ranjangnya pun mata Kia dan Qiyas tidak teralihkan sama sekali, mereka saling mengunci pandangan mereka masing-masing sambil tersenyum manis, karena mereka sama-sama bahagia malam itu.
Sesampainya diranjang Qiyas menidurkan Kia dengan perlahan dan Qiyas satu persatu melepaskan apapun yang melekat dibadannya.
"Kenapa tutup mata sayang, kan sudah sering melihat ini semua", goda Qiyas ketika dia melihat Kia menutup mata karena Qiyas sudah hampir tela****ng bulat dihadapannya.
Semua yang sudah melekat dibadan Qiyas sudah terlepas semuanya, Qiyas tiba-tiba menindih badan Kia, membuat Kia terkejut karena dia tadi sedang menutup mata. Ketika tangan yang dibuat untuk menutupi wajah Kia dibuka Qiyas, Kia tersenyum sangat manis kepada Qiyas.
Kia lalu melingkarkan tangannya kebadan Qiyas yang sudah tak berpakaian. Qiyas mulai melancarkan aksinya dia mulai menciumin Kia, membelai dan memberikan sentuhan-sentuhan yang membuat Kia menjadi terbuai sampai Kia sudah tidak sadar jika baju dan apapun yang melekat dibadannya juga sudah terlepas semua.
Akhirnya terjadilah yang mesti harusnya terjadi kepada mereka, selagi ada kesempatan Qiyas selalu melakukan itu kepada Kia, karena bagi Qiyas semua yang dimiliki Kia membuatnya selalu rindu dan dingin menyentuhnya hingga dia ingin mengulanginya lagi dan lagi.
Mamah Dian dan Ayah Ibrahim sudah masuk kekamarnya. Mereka diberikan Qiyas kamar yang mahal dan mewah, tidak cuman Ayah Ibrahim dan Mamah Dian saja, semua keluarganya dan keluarga Kia yang ingin menginap dihotelnya Qiyas berikan kamar serta pelayanan yang mahal dan mewah.
"Semoga besok berjalan dengan lancar ya Yah, Mamah sudah tidak sabar menunggu esok sama Mamah juga menjadi deg-degan begini", kata Mamah Dian sambil duduk dishofa kamar hotel.
Sedangkan Ayah Ibrahim dia duduk bersandar diatas ranjang hotel.
Ayah Ibrahim dan Mamah Dian akhirnya mereka tidur, Ayah Ibrahim sudah langsung terlelap dalam tidurnya, kecuali Mamah Dian dia masih terjaga karena susah tidur.
Bunda Lili dan Papah Ziyas mereka juga berbincang sebelum tidur.
"Itu jeng Dian dia sangat semangat sekali ya Pah, hingga dari kemarin dia sudah tidur dan mengurus ini itu dihotel", kata Bunda Lili kepada Papah Ziyas.
Papah Ziyas dan Bunda Lili mereka sedang berada dikamar mereka, dan duduk berbincang diatas ranjang mereka sambil bersandar dikepala ranjang. Papah Ziyas yang mendengar perkataan istrinya dia lalu menutup bukunya yang dia baca dan tatapannya beralih kedepan seperti menerawang sesuatu.
"Iya, wajar saja Bund, karena kita sendiri tahu bagaimana kisahnya keluarga Pak Ibrahim, Papah juga tidak menyangka, semua yang terjadi diantara Kia dan Qiyas ada hubungannya semua, dari Afrin, itu mantan tunanngannya Kia yang meninggal dulu, siapa Bund namanya Far...... Far siapa sih lupa Papah??.......
"Faris Pah, Ustadz Faris", jawab Bunda Lili.
"Lha itu Bund, semua sudah digariskan sama Allah, hanya saja jalannya yang sedikit berliku untuk mereka berdua, Papah berdo'a semoga dikehidupan rumah tangga Kia dan Qiyas tidak mengalami masalah yang serius, aamiin", kata Papah Ziyas panjang lebar kepada Bunda Lili sambil melihat kedepan dengan tatapan yang seperti melamun.
"Aamiin, Bunda juga berdo'a dan berharap begitu Pah", jawab Bunda Lili.
"Sudah yuk Bunda kita tidur, sudah malam, besok kita harus pagi-pagi sekali kehotelnya", ajak Papah Ziyas kepada Bunda Lili.
Bunda Lili hanya mengangguk dan dia langsung bangun untuk mematikan lampu utama kamar dan menggantinya dengan lampu tidur.
Kembali lagi keQiyas dan Kia.
Qiyas yang menggempur Kia tiada hentinya membuat Kia kelelahan hingga Kia tidak kuat untuk bangun untuk bersih-bersih dulu dan memakai baju sebelum tidur.
Qiyas yang melihat Kia sudah terlelap sangat lelap pun hingga terdengar dengkuran halus dinafas Kia. Qiyas lalu memiringkan badannya sambil melihat kearah wajah Kia yang sangat alami cantiknya ketika tidur, membuat Qiyas reflek tersenyum membayangkan kegiatan panas mereka tadi.
"Maafkan Kakak sayang, sudah membuatmu sangat kelelahan seperti ini", kata Qiyas pelan sambil mengusap pipinya Kia.
"Aku semenjak menikah dengannya seperti maniak s*x hingga sulit ku menahannya", kata Qiyas dengan tertawa kecil karena teringat kegiatannya tadi bersama Kia.
"Selamat malam istriku sayang", kata Qiyas sambil menciumin wajahnya Kia.
Qiyas lalu bangun serta membereskan pakaian dan pakaiannya Kia yang berserakan dilantai. Setelah beres Qiyas lalu masuk kekamar mandi untuk membersihkan badannya.
Qiyas keluar dari kamar mandi hanya memakai celana pendek dan tidak memakai baju, Qiyas keluar sambil membawa handuk yang sudah dibasahi dan dikasih sabun, untuk membersihkan kema****annya Kia.
Dengan perlahan dan hati-hati Qiyas membersihkannya, tanpa risih dan jijik sedikit pun. Mungkin karena kecapekan bekerja ditambah kelelahan karena digempur Qiyas, Kia bahkan dia tidak terusik sama sekali dengan kegiatan yang dilakukan Qiyas kepadanya.
Ketika sudah bersih Qiyas masuk lagi kekamar mandi untuk mengambil handuk baru lalu dibasahi air bersih lagi untuk membilas yang tadi. Dan Qiyas juga membawa handuk kering untuk mengelapnya. Semua Qiyas lakukan dengan sabar dan hati-hati.
Qiyas juga memakaikan sweeternya yang dia bawa dikoper untuk dipakaikan keKia biar Kia tidak terlalu kedinginan ketika tidur karena AC yang menyala. Setelah beres dan selesai Qiyas ikut berbaring disamping Kia dibawah satu selimut sambil memeluk Kia.
Semua pernikahan akan indah dilakukan jika didalam pernikahan ada pengertian, pengorbanan, kejujuran, kesetiaan, cinta dan kasih sayang. Saling melengkapi, saling pengertian dan saling menjunjung tinggi keterbukaan serta kesetiaan, insyaallah rumah tangga bisa sakinnah, mawaddah, dan warrohmah. Hingga kerikil-kerikil kecil dalam biduk rumah tangga bisa diatasi berdua bersama-sama.
ππππππππππππ
***TBC***