
Setelah kejadian Pesawat jatuh kemarin Qiyas sementara waktu dia tidak berpergian dulu, karena sedikit trauma, biarlah untuk masalah yang ada diSemarang dia serahkan kepada Fadhil dan orang-orang kepercayaannya serta orang-orang kepercayaan Papahnya. Dan Alhamdulillah setelah penyelidikan selama satu minggu semua orang yang terlibat dalam pencucian dana proyek yang ada diSemarang sudah tertangkap semua, dan semuanya sudah berada dipenjara.
Saat ini Qiyas dan Kia serta Ayah Ibrahim dan Mamah Dian mereka setelah makan malam bersama tadi, mereka semua lagi berkumpul diruang keluarganya Ayah Ibrahim, karena Qiyas ingin membicarakan sesuatu kepada kedua mertuanya.
"Katanya ada yang ingin kamu bicarakan Nak, apa itu?? ", tanya Ayah Ibrahim kepada Qiyas.
"Ayah, sebenarnya rumah yang Qiyas bangun untuk istri dan anak-anakku kelak sudah jadi dari kemarin-kemarin Ayah, dan untuk waktu dekat Qiyas ingin memboyong dan mengajak Kia untuk pindah kesitu", kata Qiyas kepada Ayah Ibrahim.
Ayah Ibrahim sudah tahu, dan sudah dari awal menyiapkan diri, jika suatu saat mereka berdua yaitu Qiyas dan Kia tetap akan pindah kerumah mereka sendiri.
Sedangkan Mamah Dian, dia juga begitu, walaupun berat hati dan sedih, bagaimana pun juga Kia seorang istri, yang harus ikut kemanapun suaminya pergi.
"Baiklah Nak, kapan rencananya kalian berdua akan pindah kerumah baru kalian?? ", tanya Ayah Ibrahim kepada Qiyas lagi.
Belum sempat Qiyas menjawab, pertanyaan Ayah Ibrahim langsung disambung oleh Mamah Dian.
"Apa ada yang perlu kami bantu Nak, untuk kepindahan kalian berdua?? ", tanya Mamah Dian juga ikut-ikutan bertanya.
"Tidak perlu Mah, semua sudah siap semua dan disana", jawab Qiyas kepada Mamah Dian.
"Dan untuk pastinya kita akan pindah, besok hari Sabtu depan Ayah", jawab Qiyas kepada Ayah Ibrahim, dan hari itu adalah juga hari Sabtu. Jadi sekitar satu minggu lagi Kia dan Qiyas akan pindah dari Rumah Ayah Ibrahim.
"Ya baiklah nak Iyas, Ayah mengijinkan dan mendukung saja, karena bagaimanapun juga Kia sudah menjadi istrimu, jadi Ayah tidak bisa melarangnya, yang berhak atas Kia adalah dirimu", kata Ayah Ibrahim lagi dan dianggukin oleh Mamah Dian.
"Terimakasih Ayah dan Mamah",
"Terimakasih Yah, Mah",
Kata Qiyas dan Kia secara bersamaan, dan jawab anggukan dan senyum hangat oleh Ayah Ibrahim serta Mamah Dian.
"Apakah kedua orang tuamu dan keluargamu sudah kamu beritahu nak Iyas?? ", tanya Mamah Dian kepada Qiyas.
"Sudah Mah, tadi siang kami berdua makan siang disana sekalian membicarakan dan mengasih tahu perihal kepindahan kami berdua Mah kepada Bunda Lili, Papah Ziyas dan Aulian", jawab Qiyas kepada Mamah Dian.
"Dan untuk keluarga besar yang lain, keluarga besarnya Ayah dan Papah, Iyas sudah menyiapkan undangan untuk mereka semua, supaya bisa menghadiri acara syukuran rumah baru kita Mah, Yah, bahkan kita berdua juga mengundang Zabir dan keluarganya yang lain", jawab Qiyas kepada Mamah Dian.
"Apa undangannya sudah disebarkan Nak?? ", tanya Ayah Ibrahim.
"Sudah semuanya Ayah, sama orang-orang suruhannya Iyas dan Papah", jawab Qiyas lagi.
"Kamu daritadi kenapa diam saja Kia?? ", tanya Mamah Dian kepada Kia.
"Terus Kia harus jawab apa Mah, kan semuanya sudah dijawab oleh Kak Fasya, ya Kia diam saja mendengarkan", kata Kia kepada Mamahnya sambil tertawa kecil dan mereka semua jadi ikut-ikutan tertawa seperti Kia.
Akhirnya mereka berbicara dan mengobrol hangat sambil menonton televisi. Dan ketika waktu menunjukkan pukul sembilan malam, Qiyas berpamitan kepada Ayah Ibrahim dan Mamah Dian untuk masuk kamar. Sedangkan Kia dia sudah masuk kekamar daritadi karena katanya dia sangat capek sekali hari itu.
Ketika baru membuka pintu kamar, Qiyas disuguhi pemandangan Kia yang sudah terlelap tidur diatas ranjang, padahal aslinya Qiyas ingin meminta haknya kepada Kia, akan tetapi setelah melihat Kia yang sepertinya benar-benar kecapekan dan bahkan sudah tertidur sangat lelap membuat Qiyas mengurungkan niatnya dan ikut-ikutan tidur disampingnya Kia.
"Sungguh ada bidadari dibalik niqob yang kamu pakai sayang", kata Qiyas pelan sambil membelai pipinya Kia.
Qiyas lalu entah kenapa dia menjadi gemas dan rasanya ingin menciumin pipi dan bibir Kia terus. Kia yang terusik dari tidurnya karena Qiyas yang menciumin wajahnya terus, akhirnya dengan perlahan dia membuka matanya dan melihat Qiyas berada persis dihadapan wajahnya sambil tersenyum manis kepadanya.
Mungkin karena Kia sudah terbangun dari tidurnya, yang awalnya niat Qiyas sudah luntur kembali seperti semula.
Akhirnya Qiyas bisa menuntaskan hasratnya kepada Kia Istrinya sebab Kia sudah terjaga dari tidurnya, yang beberapa menit tadi hasrat Qiyas sudah hilang karena melihat Kia sudah terlelap tidur.
Dilain tempat tepatnya Mila dan Zidan mereka sudah pulang dari berbulan madunya kemarin dan saat ini mereka juga sedang tidur berdua dengan Zidan yang memeluk Mila sangat posesif hingga membuat Mila sulit bergerak.
Bahkan Mila sudah merengek kepada Zidan untuk sedikit melonggarkan pelukannya, sebab Mila jadi tidak nyaman dalam tidurnya, akan tetapi Zidan tidak mendengarkannya.
"Hubby jangan terlalu kencang, Mila ngap", kata Mila sambil terpejam matanya.
"Sudah begini saja tidurnya, lagian sweety juga kenapa sih harus datang bulan segala", jawab Zidan juga dengan mata yang terpejam.
Iya setelah pulang dari honeymoon kemarin Mila dan Zidan harus coba lagi, karena Mila malah datang bulan, karena mungkin faktor kecapekan.
"Tapi jangan kencang-kencang meluknya juga Kak", kata Mila dengan sedikit jengkel.
Zidan tetap saja tidak memperdulikan perkataannya Mila. Mungkin efek hormon datang bulan dan karena dia juga sudah ngap serta tidak nyaman, akhirnya dengan sekuat tenaga Mila memberontak dari pelukannya Zidan.
Setelah bisa terlepas Mila dengan sadar dia langsung menendang badannya Zidan membuat Zidan langsung terjatuh kebawah ranjang.
"Bruuuukkkk!!!!!", suara Zidan terjatuh
"Aduuuuuh", kata Zidan sambil mengusap pan***tnya yang terbentur lantai yang dingin.
Sedangkan si pelaku yaitu Mila, dia langsung memiringkan badannya dan memeluk guling dengan posisi nyaman menurutnya dan dia juga langsung sangat lelap dalam tidurnya. Dia tidak mengurusi dan cuek dengan apa yang baru saja dia lakukan kepada suaminya.
Sedangkan Zidan yang melihat Mila begitu nyenyak dia sedikit gregetan dan tidak menyangka jika Mila akan menendangnya karena dia terlalu erat dalam memeluknya.
"Dasar badak", kata Zidan kepada Mila, sambil menahan rasa sakit dipinggangnya.
Mila juga samar-samar mendengar perkataan suaminya yang mengatakan badak, akan tetapi Mila diam saja dan hanya membatin didalam hati.
"Biarin, dikasih tahu daritadi tidak mendengarkan, rasain itu jurus jerapah mengamuk", batin Mila ketika mendengar Zidan mengatainya badak.
Zidan langsung saja tidur lagi disampingnya Mila, dan dia hanya memeluk biasa tidak seperti tadi, karena takut dan tidak mau ditendang untuk kedua kalinya oleh Mila.
Akhirnya mereka berdua tidur bersama, dengan posisi yang sudah berubah, guling yang Mila peluk tadi secara tidak sadar sudah dia singkirkan dan malah Mila yang gantian memeluk Zidan begitu erat, karena fikir Mila didalam tidurnya gulingnya berubah menjadi besar dan lebih nyaman.
"Gantian dia yang memelukku seperti ingin membunuhku, untung cinta jika tidak sudah aku tendang balik", kata Zidan ketika berusaha melepaskan pelukannya Mila.
Dan Zidan juga membalas pelukannya Mila. Mereka berdua akhirnya tidur sambil berpelukan hingga pagi, dan suara adzan subuh bersahut-sahutan.
ππππππππππππ
***TBC***