BISSMILLAH WITH YOU

BISSMILLAH WITH YOU
ZIDAN



Ayah Ibrahim yang saat ini sudah duduk disamping istrinya dan Kia sudah duduk disamping Mila. Mereka semua pada terdiam dengan fikiran mereka masing-masing.


Setelah beberapa menit terjadi keheningan, akhirnya Ayah Ibrahim membuka suaranya.


"Sebenarnya Zidan kesini ada apa ya??, bukannya kerjasama kita yang diBali akan berjalan mulai bulan depan, terus kenapa Zidan bisa tahu alamat rumah saya, kenapa tidak datang kekantor saja?? ", tanya Ayah Ibrahim kepada Zidan.


"Tunggu-tunggu, Ayah ko sudah kenal dengan nak Zidan?? ", tanya Mamah Dian kepada Ayah Ibrahim.


Sedangkan Kia hanya diam mendengarkan dan terus memperhatikan Mila, karena menurut Kia muka Mila sedikit berbeda, dan tatapan matanya seperti kosong.


"Zidan ini sekertaris sekaligus asisstannya Iyas Mah", jawab Ayah Ibrahim.


"Apaaa!!!, beneran yang Papah bilang?? ", tanya Mamah Dian lagi dengan terkejut.


Ayah Ibrahim hanya mengangguk saja menanggapi pertanyaan istrinya.


"Sebenarnya saya kesini bukan untuk tujuan yang tadi Tuan katakan, tujuan kesini karena saya tadi siang sudah melamar Mila menjadi istriku dan bahkan Papahnya Mila menyuruhku besuk malam kerumahnya bersama kedua orang tua dan semua Keluargaku Tuan", kata Zidan dibuat setenang mungkin.


"Baru pamannya saja sudah begini rasanya, bagaimana nanti dihadapan Papahnya Mila, semoga saja nanti nyawaku masih menempel ditubuhku", bathin Zidan bergumam.


Sontak perkataan Zidan tadi membuat Ayah Ibrahim dan Kia terlonjak kaget dan langsung berdiri. Sedangkan Mila yang tadinya melamun terkaget mendengar teriakan Kakak dan Pamannya. Kalau Mamah Dian sudah bisa menormalkan ekspresinya karena tadi dia sudah terkejut duluan.


"Hiiiish, Paman dan Kakak kenapa teriak-teriak sih, Mila kan jadi kaget", kata Mila sambil menarik tangan Kia untuk duduk.


Ketika Ayah Ibrahim dan Kia sudah duduk, Ayah Ibrahim langsung bertanya kepada Mila.


"Mila sayang, yang dikatakan Zidan salahkan nak?? ", tanya Ayah Ibrahim kepada Mila sambil melihat kearah Mila.


"Yang dikatakan Kak Tamtam benar semua Paman", jawab Mila.


"Kak Tamtam??? ", beo Ayah Ibrahim, Mamah Dian dan Kia.


"Jadi Kakak baik dan sekarang sudah kamu panggil Kak Tamtam yang pernah kamu ceritakan keKakak dan dulu pernah bantuin kamu ketika mau ketabrak mobil itu Zidan Mila??", tanya Kia ke Mila.


Mila hanya mengangguk memberikan jawaban.


"Kok manggilnya Kak Tamtam Mila, kan namanya Zidan?? ", tanya Ayah Ibrahim.


"Kan Zidan Pratama Paman, Tama Tamtam", jawab Mila.


"Dasar anak muda, ada-ada saja tidak Qiyas, tidak Kia, tidak Afrin dan sekarang kamu Mila, kalau manggil yang aneh-aneh", jawab Ayah Ibrahim.


Zidan dan Mamah Dian diam saja mendengarkan interaksi yang ada dihadapannya.


"Zidan, bagaimana ceritanya kamu bisa melamar Mila, dan bagaimana bisa juga kamu disuruh datang kerumah Mila oleh Papahnya, semuanya membuat saya bingung dan sangat terkejut, karena Mila ini masih kecil, kalau pun ngomong seenaknya sendiri, bikin orang jantungan, apa kamu siap menjalani kehidupanmu dengan orang seperti Mila, bisa-bisa belum malam pertama kamu sudah terkena strok duluan", kata Ayah Ibrahim diselingi bercanda dan sambil menggoda Mila.


Karena ayah Ibrahim adalah tipe-tipe ayah yang slow santai tapi tidak sembrono dalam mengambil keputusan. Apalagi ketika pertama kali melihat Zidan, Ayah Ibrahim sudah menebak dan menilai jika Zidan adalah laki-laki yang baik. Jikalaupun berjodoh, selagi laki-laki yang meminang para putrinya adalah laki-laki yang baik kenapa kita sebagai orang tua malah mempersulitnya, begitulah pedoman yang selalu dipegang Ayah Ibrahim dan dia katakan juga kepada istrinya Mamah Dian.


"Paman apa-apaan sih, bikin Mila malu, nanti Mila tak diam saja pas malam pertama, biar Kak Tamtam tidak terkena struk, nanti Mila yang baru nikah sudah mau jadi janda dong kalau Kak Tamtam sampai terkena struk", celetuk Mila.


Zidan yang tadi sedikit tegang menjadi rilax ketika Ayah Ibrahim begitu santai menanggapi perkataannya dan celetukannya Mila menambah suasana menjadi mencair.


Semua orang yang ada disitu dibuat tertawa dengan kata-kata Mila.


"Itu, orang seperti itu yang ingin kamu jadikan istri Zidan", kata Ayah Ibrahim sambil tertawa.


Zidan hanya tertawa kecil menanggapi perkataannya ayah Ibrahim.


"Sudah-sudah sekarang kamu ceritain Zidan, bagaimana bisa mengenal Mila", tanya Ayah Ibrahim dengan serius kepada Zidan.


Suasana menjadi serius ketika ayah Ibrahim sudah bersuara begitu. Sontak semua orang yang tadi tertawa menjadi terdiam semua.


Zidan langsung saja menjelaskan awal pertama kali bertemu dengan Mila ketika Mila masih SMA, ketika dia sering mengawasi Mila diam-diam sebelum berangkat keDubai dan bertemu lagi diCaffe serta tadi lamaran dia diCaffe, semua Zidan ceritakan tanpa terlewat. Membuat ayah Ibrahim mengangguk pertanda dia mudeng semua cerita Zidan.


"Sebentar saya akan memastikannya sendiri dengan menelfon Papahnya Mila", kata ayah Ibrahim akhirnya.


"Hallo Assalamu'alaikum mas ada apa, apa mas akan bertanya tentang lamarannya Zidan keMila?? ", kata Papah Angga ditelfon.


"Jadi kamu beneran sudah tahu Angga", kata ayah Ibrahim.


"Sudah mas, dan saya menyuruh Zidan besok setelah sholat isya' datang kerumah beserta semua keluarga termasuk kedua orang tuanya", jawab Papah Angga.


"Apa kamu yakin Angga, dengan keputusan kamu?? ", tanya Ayah Ibrahim.


"Insyaallah Mas, karena dia langsung berani mengajak Mila menjadi istrinya dan dia juga tidak macam-macam dengan Mila, sepertinya dia juga anak yang baik mas, saya takut jika saya menolak laki-laki seperti Zidan malah akan mendapatkan laki-laki yang lebih buruk dari Zidan, saya tidak mau itu terjadi mas kepada Mila, biar Mila saja besok yang menentukan, besok mas harus datang ya kerumah bersama mbak Dian juga, Dion dan Yudis juga sudah saya beritahu", penjelasan Papah Angga kepada Ayah Ibrahim.


"Baiklah jika itu keputusannmu, saya hari ini juga akan datang kerumahmu untuk membantumu menyiapkan semuanya, Assalamu'alaikum", kata Ayah Ibrahim langsung mematikan sambungan telefon ketika sudah mendapat jawaban salam dari Papah Angga.


"Apakah nak Iyas sudah tahu akan cerita ini Zidan?? ", tanya Ayah Ibrahim kepada Zidan.


Kia yang mendengar nama Iyas dibawa-bawa jantung Kia tiba-tiba menjadi deg-degan entah kenapa.


"Belum Tuan, rencananya baru pulang dari sini saya akan kerumah Tuan Qiyas", jawab Zidan.


"Panggil saja Paman seperti Mila dan silahkan dinikmati daritadi makanan dan minumannya dianggurin", kata Ayah Ibrahim mempersilahkan kepada Zidan, karena dia sampai lupa untuk mempersilahkan Zidan menikmati minuman dan camilan yang sudah disediakan oleh Mamah Dian.


"Terimakasih Paman", jawab Zidan sambil tersenyum kepada Ayah Ibrahim.


"Cie-cie anak kecil sudah mau nikah", goda Kia kepada Mila.


"Yeee, Mila sudah tidak pakai popok lagi Kak, jadi Mila bukan anak kecil", jawab Mila.


Yang lain pada tertawa mendengar jawaban Mila. Setelah sekitar satu jam setengah Zidan dirumahnya Kia, Zidan akhirnya berpamitan untuk pulang.


Zidan kalau pekerjaannya tidak terlalu padat pasti akan menyempatkan pulang kerumahnya sekitar satu bulan sekali, karena Zidan selama ini tinggal diapartemennya sebab lebih dekat dengan kantor.


Zidan anak pertama dari pasangan Ayah Erlangga dan Ibu Gendhis, dan Zidan mempunyai seorang adik yang bernama Desi. Desi sama Zidan selisih umur sekitar empat tahun, seumuran dengan Kakak Mila yang pertama Andira. Desi sudah menikah dan sudah mempunyai anak yang baru berumur satu tahun.


"Assalamu'alaikum", salam Zidan ketika sudah masuk kedalam rumah orang tuanya.


"Wa'alaikumussalam", jawab Ayah Erlangga yang akan kemasjid karena waktu sudah menunjukkan waktu maghrib.


Zidan langsung mencium tangan ayahnya ketika berpapasan dengannya.


"Ayo Zidan kita kemasjid sama-sama", kata Ayah Erlangga.


"Baik Ayah, tunggu Zidan sebentar", jawab Zidan.


Skip***


Setelah menunaikan sholat maghrib Zidan ingin menyampaikan hal penting kepada kedua orang tuanya, dan disinilah mereka bertiga sedang berada diruang keluarga, sedangkan Desi dia sudah mempunyai rumah sendiri bersama suaminya yang rumahnya pun cuman beda blok dengan rumah kedua orang tuanya.


"Zidan apa yang ingin kamu bicarakan nak kepada kami", tanya Ibu Gendhis ibunya Zidan.


Belum sempat Zidan menjawab tiba-tiba terdengar suara salam dari ruang tamu.


"Assalamu'alaikum", salam seseorang.


Ibunya langsung beranjak dari duduknya untuk melihat siapa tamu yang datang.


"Wa'alaikumusslam, hlo Desi tumben malam-malam kesini lagi, apa ada barangnya Zio yang tertinggal?? ", tanya Ibu Gendhis kepada Desi, dan Zio adalah anaknya Desi.


Ya, yang datang adalah Desi dan suaminya Doni, karena tadi mereka ditelfon Zidan untuk datang kerumah ketika Zidan baru pulang dari masjid.


"Bukan bu, tadi mas Zidan yang nelfon kita untuk datang kesini", jawab Desi sambil menggendong Zio.


"Ya sudah yuk masuk, masmu juga bilang keIbu dan Ayah katanya ada hal penting yang ingin dibicarain", kata Ibu Gendhis.


Akhirnya lengkaplah sudah semua keluarga Zidan berkumpul.


"Sebelumnya Zidan ingin menjelaskan kepada Ayah dan Ibu, jika Zidan tadi siang sudah melamar seorang gadis, dan Papah dari gadis yang Zidan lamar menyuruh Zidan untuk datang kerumahnya besok malam, sehabis sholat isya' bersama Ayah dan Ibu beserta keluarga lainnya", kata Zidan yang membuat semua orang terkejut.


"Alhamdulillah", kata Ibu Gendhis tiba-tiba setelah tadi terkejut.


"Ibu kira kamu tidak laku nak, disuruh nikah tidak mau, umur juga sudah tua, eeeh tau-tau pulang membawa kabar yang Ibu tunggu dari dulu", kata Ibunya Zidan.


Sedangkan Zidan hanya tertawa meringis menanggapi perkataan Ibunya.


"Tapi kamu belum menghamili gadis itu kan nak?? ", tanya Ayah Erlangga.


"Belumlah, Ayah kan tahu Zidan bagaimana orangnya", kata Zidan.


"Baiklah, besuk kita akan kesana, kita akan siapkan semua seserahan yang akan dibawa besuk, serta ayah dan Ibu akan memberitahu kakek dan nenekmu beserta Keluarga yang lainnya", kata Ayah Erlangga dengan tersenyum.


"Terimakasih Ayah", kata Zidan juga tersenyum.


"Ehem, akhirnya ada yang laku juga", goda Desi kepada Zidan.


Zidan hanya memutar bola matanya malas menanggapi adiknya.


"Ada lagi yang ingin Zidan beritahu pada kaliyan", kata Zidan lagi.


"Apa itu nak", jawab Ibu Gendhis.


"Emm........... Gadis yang akan Zidan nikahi masih berumur 20 tahun Bu", jawab Zidan dengan menggaruk kepalanya.


"Hahahahahaha........... ", tawa Desi membahana.


"Kamu kenapa Dasi!!! ", kata Zidan.


"Desi mas, buka Dasi", jawab Desi dengan melengos.


"Desi, Desisir pantai", kata Zidan mengejek Desi.


"Sudah-sudah, malah berantem, sudah pada tua ko masih suka berantem, malu sama Zio, dan kamu kenapa tadi tertawa Desi?? ", kata Ayah Erlangga.


"Nanti istrinya mas Zidan masih hot-hotnya, mas Zidannya sudah layu dan tua, hahaha", kata Desi mengejek Zidan lagi.


"Semoga jika kamu bertemu dengannya kamu tidak terkena serangan jantung mendengar kata-kata yang keluar dari mulut dari calon istriku itu", kata Zidan kepada Desi.


"Maksutnya bagaimana Zidan?? ", tanya Ibu Gendhis kepada Zidan.


"Dia kalau berbicara ceplas ceplos apa adanya bu, dan selalu ada kejutan disetiap perkataannya, itu yang membuat Zidan jatuh cinta kepadanya", kata Zidan tersenyum dan sambil menerawang membayangkan wajah Mila.


"Kalau orang yang tidak pernah jatuh cinta ya begitu, jadi gila", sindir Desi kepada Zidan.


Zidan langsung menjitak kepala Desi adiknya.


Setelah perbincangan kepada keluarganya, Zidan berpamitan ingin pergi kerumah bossnya. Dan tadi Zidan juga sudah disuruh menginap disitu oleh Ayah Ibunya, akan tetapi setelah Zidan menjelaskan perihal kedatangannya kerumah bossnya akhirnya kedua orang tuanya memberikan ijin.


Dan disinilah Zidan sekarang, sudah berada dirumah Qiyas dan sedang berada diruang kerja Qiyas bersama Qiyas tentunya.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


***TBC***