BISSMILLAH WITH YOU

BISSMILLAH WITH YOU
KEJUTAN UNTUK KIA



Qiyas serta Kia saat ini mereka sudah keluar dari Penthousenya. Dan saat ini juga mereka juga lagi perjalanan menuju kesebuah tempat yang akan menjadi kejutan dari Qiyas untuk Kia.


Kia daritadi juga sudah bertanya kepada Qiyas, kemana sebenarnya Qiyas mengajaknya, akan tetapi Qiyas selalu menjawab rahasia atau tidak Qiyas akan menjawab nanti akan tahu sendiri jika sudah sampai. Begitu terus jawabannya membuat Kia lelah untuk bertanya lagi, dan akhirnya Kia diam saja.


Karena hari itu hari minggu dan jam juga sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam, jadi jalanan tidak macet, lancar-lancar saja.


Qiyas dan Kia sengaja perginya setelah maghrib karena supaya bisa maghriban dulu diPenthouse.


"Kak, kita tidak mampir dulu cari makan gitu?? ", tanya Kia kepada Qiyas.


"Apa kamu sudah sangat lapar Balqis?? ", tanya Qiyas kepada Kia.


"Tidak terlalu sih, cuman takutnya Kak Fasya yang sudah laper jadi Kia mengingatkan saja", kata Kia kepada Qiyas.


"Tidak sayang, Kakak tidak lapar ko, sudah Kakak siapin semuanya nanti disana", jawab Qiyas kepada Kia.


"Baiklah", kata Kia kepada Qiyas.


Setelah itu terjadilah keheningan antara Kia dan Qiyas karena Qiyas dia larut dengan fikirannya sendiri, sedangkan Kia dia lagi menghayati dan mendengarkan murottal Al-Qur'an dari Hpnya.


Sekitar empat puluh menitan mobil yang dikendarai Qiyas dan Kia, sudah sampai didepan rumah yang diperkirakan sangat mewah dan besar, karena dari luar saja tembok dan pintu gerbangnya sangat tinggi dan besar serta terdapat ukiran-ukiran yang begitu indah disetiap lekukan tembok dan gerbangnya, sampai-sampai rumah yang ada didalamnya hanya terlihat sedikit, bahkan jika tidak diperhatikan dengan seksama tidak kelihatan ada rumah atau tidak dibalik tembok besar itu.


"Ini rumah siapa Kak, besar sekali temboknya dan bagus sekali pahatan serta ukirannya", tanya Kia kepada Qiyas ketika melihat dari dalam mobil.


"Nanti kamu juga akan tahu sayang?? ", jawab Qiyas kepada Kia sambil menekan klakson.


Ketika security dan bodyguard mendengar klakson dan mengetahui mobil siapa yang datang, security dan bodyguard yang dikerjakan mereka lalu memencet tombol remote untuk membuka gerbangnya secara otomatis.


Ketika sudah terbuka masuklah Qiyas dengan membunyikan klakson tanda menyapa para security dan bodyguard yang berjaga.


Dan security serta bodyguard mereka langsung menundukkan badannya ketika melihat mobil Qiyas melewati mereka dan membunyikan klakson kepada mereka.


Qiyas lalu memasukkan mobilnya diparkiran khusus mobil yang ada disitu. Dan Qiyas serta Kia dia harus melanjutkan dengan menaiki mobil seperti Golf cart yang bisa muat untuk empat orang, karena jarak antara parkiran dan rumah utama bisa memakan waktu sekitar sepuluh menitan jika jalan kaki, sedangkan jika menggunakan Golft cart tidak sampai lima menit mungkin sudah sampai.


"Masyaallah Kak, ini rumah apa istana, sangat besar, mewah dan indah", kata Kia kagum dengan desain rumah yang terlihat dari parkiran mobil setelah dia keluar dari mobil.


"Ayo naik", kata Qiyas kepada Kia ketika mobil yang seperti golf cart sudah sampai didepannya.


"Naik ini?? ", tanya Kia sambil menunjuk Golf cart.


Qiyas hanya mengangguk dan langsung menuntun Kia untuk duduk dibelakang bersamanya.


Ketika sudah sampai dipelataran rumah, tiba-tiba pintu rumah terbuka dari dalam. Ternyata yang membuka adalah kepala Asisstan rumah tangga yang ada dirumah itu, yang bernama Bi Karsi.


"Waaaah, megahnya", kata Kia yang ketika baru menginjakkan kakinya masuk kedalam rumah, sampai dia lupa mengucapkan salam. Karena saking terpesona melihat arsitektur didalam rumah yang begitu simple tapi elegan dan berkelas.


"Selamat datang Tuan dan Nyonya", sapa Bi Karsi kepada Kia dan Qiyas sambil menundukkan sedikit badannya.


"Eh saya tidak tuan rumah disini Bi", kata Kia terkejut dan tidak enak mendengar sapaan dari Bi Karsi.


Sedangkan Qiyas hanya mengangguk menanggapi Bi Karsi. Dan Bi Karsi pun hanya tersenyum menanggapi Kia.


"Kak ini sebenarnya rumah siapa sih?? ", tanya Kia lagi kepada Qiyas sambil menghadap kearah Qiyas.


"Rumah kita sayang, rumah yang Kakak bangun untukmu dan anak-anak kita nanti", jawab Qiyas kepada Kia sambil tersenyum manis.


"Jangan bercanda Kak kepada Kia", jawab Kia kepada Qiyas dengan terkejut.


"Kalau tidak percaya sini ikut Kakak", kata Qiyas sambil menggandeng Kia masuk semakin dalam kerumah.


Serta ada foto bareng keluarga besar, dan foto-foto yang lainnya lagi yang ukurannya standart.


Ketika Qiyas menunjukkan itu semua Kia baru sadar dan percaya jika itu benar-benar rumahnya, rumah yang akan ditempatinnya bersama Qiyas dan anak-anaknya kelak.


Lalu Qiyas mengajak Kia kekamar utama yang ada dilantai bawah yang ukurannya sangat besar. Karena rumah yang dibangun Qiyas mempunyai tiga lantai dan ada liftnya juga didalamnya.


"Ini beneran kamar Kak Qiyas?? ", tanya Kia kepada Qiyas ketika sudah masuk kekamar utama yang ditunjukkan Qiyas.


"Bukan kamarku Balqis, tapi kamar kita", jawab Qiyas kepada Kia sambil memeluknya dari belakang.


Kia lalu melepaskan pelukannya Qiyas dia sibuk berkeliling untuk melihat-lihat yang ada didalam kamar.


Didalam kamar ada satu buah kamar mandi yang cukup besar, dan satu buah jacuzzi, satu ruang yang ketika dibuka Kia ternyata itu walk in closet yang sangat besar.


Sungguh Kia dibuat speechless oleh kejutan yang diberikan Qiyas kali ini. Bahkan ranjangnya pun berukuran lebih dari ukuran Queen size atau King size.


"Kakak sungguh Kia speechless dengan semua ini", kata Kia kepada Qiyas ketika sudah berada dihadapannya Qiyas.


Karena ketika Kia melihat-lihat kamar, Qiyas malah asik duduk dishofa sambil menunggu Kia selesai mengagumi kamar yang akan ditempatin mereka.


"Apa kamu suka sayang?? ", tanya Qiyas sambil tersenyum kepada Kia.


"Sungguh Kia sangat suka dan senang sekali Kak", jawab Kia dan langsung menjatuhkan badannya memeluk Qiyas yang sedang duduk dishofa.


Qiyas sangat terkejut dengan tingkah Kia, jadi dia tidak bisa menyeimbangkan badannya dan terjatuh dishofa dengan Kia yang berada diatasnya.


Untung shofanya besar, jadi tidak mengapa jika Qiyas dan Kia mau berpelukan atau tidur diatasnya. Mungkin kalau seumpama shofa itu kecil, Qiyas paling sudah encok karena terjatuh dipeluk Kia yang mendadak.


"Kamu ini mengagetkan Kakak", kata Qiyas sambil membalas pelukannya Kia yang ada diatasnya.


Tiba-tiba terdengar suara perut yang berbunyi dan membuyarkan keromantisannya mereka berdua.


"Kakak sudah lapar sayang", kata Qiyas dengan tertawa garing karena malu sebab perutnya berbunyi.


Sedangkan Kia yang mendengar perut Qiyas berbunyi dia tertawa kecil.


"Kalau begitu Kia siapin makanan dulu ya Kak", kata Kia kepada Qiyas.


"Tidak usah, ayo sayang semuanya sudah disiapin sama Bi Karsi", kata Qiyas kepada Kia.


"Ayo kita keruang makan", ajak Qiyas kepada Kia.


Akhirnya Kia dan Qiyas dia keluar dari kamar dan menuju keruang makan. Masih seperti tadi Kia juga dibuat kagum dengan ukiran yang ada dimeja dan kursi makan yang ada diruang makan.


Bahkan meja dan kursi makannya pun bisa menampung untuk sepuluh orang. Ujung kanan dan kiri ada kursi satu-satu, dan delapan lainnya kursinya ada disamping kiri dan kanan dengan masing-masing ada empat kursi.


"Semuanya yang ada dirumah ini membuatku kagum Kak", kata Kia kepada Qiyas ketika sudah duduk dikursi makan.


"Syukurlah jika kamu suka", kata Qiyas sambil makan makanannya yang sudah diambilkan Kia dan sudah berdo'a tadi.


Akhirnya mereka makan malam dengan suasana baru, rumah baru dan akan menjadi awal baru untuk kehidupan rumah tangga Kia serta Qiyas, karena sebentar lagi mereka akan menempatin rumah itu.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


***TBC***