
Pada jam istirahat dipesantren seperti biasa ramai hilir mudik para santriwan dan santriwati, tetapi tetap mereka berada pada batasnya.
Kantor Kepala Sekolah, Ustadz dan Ustadzah berada ditengah-tengah antara sekolah santriwa ataupun santriwati, karena guru yang mengajar sama, cuman sekolahannya yang terpisah.
Saat Qiyas ingin menyendiri dan akan menuju kesebuah taman yang tersedia didekat parkiran sekolah, tanpa sengaja Qiyas melihat Kia dan Ning Lida adik dari sahabatnya Zabir sedang duduk dibangku taman. Dan Kia sedang membaca sebuah buku sedangkan ning Lida memainkan hpnya.
Antara ingin mendekati atau tidak Qiyas jadi bingung sendiri. Akhirnya dengan kemantapan dan keberaniannya Qiyas mendekati Kia dan Ning Lida.
"Assalamu'alaikum Ukhty", Salam Qiyas yang mengagetkan Kia dan Lida.
Sontak Kia dan Lida mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang mengucapkan salam kepada mereka. Ternyata Ustadz Qiyaslah yang menyapa mereka berdua.
"Wa'aaa........... ", kata Lida terputus mendengar kata, tepatnya panggilan Kia untuk Qiyas.
"Wa'alaikumussalam Ustadz Fasya", jawab Kia sambil menundukkan wajahnya.
"Ustadz Fasya",........ Beo Lida.
"Ada apa Ustadz?? ", tanya Kia kepada Qiyas.
"Bolehkah saya bergabung dengan kalian?? ", tanya Qiyas masih sambil berdiri.
Reflek Kia menoleh kearah Lida yang ada disampinynya. Dan Lida hanya menganggukkan kepalanya, karena Lida tahu bagaimana sifat dari Qiyas dan mereka sudah mengenal sejak lama.
"Tidak apa-apa Kia, toh kita bertiga, lagian aku sudah kenal lama sama kak Qiyas. Dia itu temannya Gus Zabir, kakakku", terang Lida yang membuat Kia kaget untung dia bercadar, jadi tidak terlalu kelihatan muka terkejutnya
Qiyas pun hanya tersenyum menanggapi Lida, yang dia sering panggil dengan Ning Lida.
"Balqis,... Bolehkah 'ana' bertanya padamu??", tanya Qiyas sambil duduk dibangku yang ada diseberang mejanya Kia dan Lida.
"Balqis,......... ", beo Lida kaget dengan suara sedikit keras.
Kia yang mendengar teriakan Lida segera menutup mulut Lida sahabatnya, Kia langsung saja mengedarkan pandangannya karena takut ada yang melihat dan mendengar. Sedangkan Qiyas hanya melihat dan menikmati interaksi antara Kia dan Lida.
"Ini pasti ada sesuatu diantara mereka, aku yakin itu", batin Lida sambil melirik kewajahnya Kia dan Qiyas.
"Boleh, Ustadz Fasya mau tanya apa ke saya?? ", kata Kia masih dengan menundukan wajahnya.
"Apakah benar kamu akan dikhitbah sama Ustadz Faris Balqis", tanya Qiyas kepada Kia sambil menyiapkan hatinya.
Semakin lama mengenal Kia Qiyas benar-benar sangat kagum dengan gadis yang duduk didepannya itu. Karena posisi mereka Qiyas duduk berhadapan dengan Kia, sedangkan Lida duduk disebelah Kia. Ditaman sekolah ada bangku panjang dikedua sisi dan meja kecil ditengah-tengahnya, disitulah mereka berbincang.
Kia hanya mengangguk sebagai jawaban. Walapun Qiyas sudah menyiapkan hati untuk jawaban Kia, tetap saja dia merasa sesak dihatinya.
"Oh, selamat ya, jangan lupa undangannga ya Balqis", akhirnya cuman kata-kata itu yang keluar dari mulut Qiyas sambil menampilkan senyum palsu.
"*Kalau begitu saya permisi dulu ya Balqis dan Ning Lida, bunda saya menyuruh saya menelefon*nya", pamit Qiyas sambil pura-pura mengecek hpnya dan setelah itu dia berlalu pergi dari hadapan mereka.
Lida yang berada ditengah-tengah Kia dan Qiyas, merasa kalau Qiyas mencintai Kia atau paling tidak mempunyai rasa terhadap Kia, terlihat jelas dari tatapan matanya Qiyas yang terluka yang tadi melihat anggukan kepala dari Kia. Bukannya Lida tadi tidak menundukkan pandangannya, cuman Lida penasaran saja dengan muka Qiyas akhirnya Lida curi-curi pandang kewajahnya Qiyas.
Lida ingin memastikan sekali lagi apa yang menjadi rasa penasaran dihatinya.
"Kia, kamu ada hubungan apa sama kak Qiyas??", tanya Lida kepada Kia ketika Qiyas sudah tidak terlihat lagi dihadapan mereka.
Yang tadi Kia tidak peka kalau temannya Lida memanggil Fasya dengan Qiyas akhirnya dia menyadari sesuatu.
"Kak Qiyas", tanya Kia ke Lida.
Lida memutar bola matanya karena gemas dengan temannya yang cantik itu.
"Iya Kak Qiyas, yang kamu panggil dengan panggilan Ustadz Fasya tadi, dia kan disini panggilannya Ustadz Qiyas dan kamu saja seorang yang memanggil dia dengan sebutan Fasya, bahkan dikeluarganya pun dia dipanggil dengan panggilan Iyas", terang Lida yang membuat Kia terkejut sekali.
"Bahkan Kak Qiyas pun mempunyai panggilan tersendiri untukmu, yaitu Balqis", sambungnya lagi kepada Kia.
"Kata Kak Zabir jika Kak Qiyas mempunyai panggilan khusus untuk perempuan, itu menandakan perempuan itu sangat spesial dimatanya dan hatinya", kata Lida lagi membuat Kia semakin terkejut.
Kia yang mendengar kata-kata sahabatnya Lida tiba-tiba menjadi blank dan buyar fikirannya.
"Bolehkah aku bertanya Lida", tanya Lida dengan sangat hati-hati.
"Tanya apa Kia, tanya saja", Jawab Lida dengan santainya.
Kia bingung takutnya Lida salah faham dengan Kia yang tanya-tanya tentang Ustadz Fasya.
"Itu apakah kamu sudah lama mengenal Ustadz Fasya alias Ustadz Qiyas itu?? ", tanya Kia dengan hati-hati.
"Sudah, Kak Qiyas dia berteman dengan Kak Zabir dari SMA dan sering main kesini bahkan dulu dia sering menginap disini", jawab Lida kepada Kia.
"Aku ceritain sesuatu Kia tentang Kak Qiyas, Kak Qiyas itu orangnya sangat setia, dulu katanya Kak Qiyas mempunyai seorang tunangan, ternyata tunangannya itu mempunyai penyakit yang parah, bahkan keluarganya dan Kak Qiyas pun tidak mengetahui penyakit tersebut, karena tunangan Kak Qiyas menyembunyikan itu semua. Ketika menjelang pernikahan kurang dari seminggu pihak kedua belah Keluarga akhirnya mengetahui kalau tunangan Kak Qiyas mengidap penyakit Leukemia. Karena tunangan Kak Qiyas ditemukan Mamahnya sudah tergeletak pingsan dikamarnya. Semenjak mengetahui penyakit tunangannya itu kak Qiyas selalu mendampingi dan meluangkan lebih banyak waktu bersama tunangannya untuk berobat, dan pernikahan yang harusnya seminggu lagi akhirnya diundur. Takdir berkata lain, ternyata Tuhan lebih menyayangi tunangan Kak Qiyas", Lida mengakhiri ceritanya.
"Itu saja sih sekilas Kia yang aku denger dari Kak Zabir", terang Lida.
Entah kenapa hati Kia juga merasakan sedih, karena dia jadi teringat dengan Almarhummah Kakaknya yang sudah meninggal, karena penyakit yang serupa.
ππππππππππππππ
***Tbc***