BISSMILLAH WITH YOU

BISSMILLAH WITH YOU
BERKUMPUL



Waktu itu Ayah Ibrahim dia masih berada dikantornya, dan sedang mengerjakan file-file yang ada dikomputernya. Ketika sedang fokus tiba-tiba saja dia mendengar Hpnya yang berada atas meja berdering. Dan ketika dilihat ternyata Qiyas yang menelfonnya. Ayah Ibrahim langsung saja berfikiran yang tidak-tidak.


Sungguh Ayah Ibrahim tiba-tiba menjadi tidak enak perasaannya ketika nama Qiyas tertera dipanggilan masuk diHpnya.


Ayah Ibrahim ketika mengangkat sambungan telefonnya Qiyas dia dibuat terkejut dengan berita yang disampaikan Qiyas kepadanya. Tanpa menunggu lama Ayah Ibrahim meninggalkan perkerjaannya dan langsung pulang kerumahnya untuk mengabari istrinya yaitu Mamah Dian dan juga untuk mengajak Mamah Dian untuk melihat keadaannya Kia dirumahnya.


Bunda Lili pun sama khawatirnya dengan Ayah Ibrahim, dia langsung saja siap-siap menuju kerumahnya Qiyas.


Dan disinilah mereka semua sudah berkumpul diruang tamunya rumahnya Qiyas.


"Iyas bagaimana nak keadaannya Kia sekarang?? ", tanya Mamah Dian kepada Qiyas dengan ekspresi yang sangat khawatir.


"Dia sedang tidur Mah, dan kata Dokter Ara Balqis harus banyak beristirahat dan jangan sampai stres agar tidak sering mengalami kram diperutnya lagi Mah", jawab Qiyas kepada Mamah Dian.


"Bagaimana ceritanya nak, perut Kia bisa kram begitu, apa tadi dia terlalu capek?? ", tanya Bunda Lili kepada Qiyas anaknya.


"Tidak Bund, ini semua gara-gara kejadian tadi diCafe", jawab Qiyas dengan jujur kepada Bundanya.


"Maksudnya kejadian apa Yas, bisa jelaskan dengan jelas kepada kami semua", kata Ayah Ibrahim akhirnya kepada Qiyas.


Qiyas langsung saja menceritakan kejadian yang ada diCafe tadi dengan sangat rinci dan jelas. Serta Qiyas juga bilang kepada Ayah Ibrahim, Mamah Dian dan Bunda Lili untuk lebih jelasnya bertanya kepada Papah Ziyas, karena Papah Ziyas yang menangani semuanya.


"Siapa wanita itu, berani-beraninya mau menghancurkan rumah tangga putriku", kata Ayah Ibrahim dengan geram.


Bunda Lili dan Mamah Dian pun mereka juga sama-sama ingin marah kepada wanita yang berani mengaku hamil anaknya Qiyas. Mereka semua yang ada disitu pada lebih percaya kepada Qiyas, jika Qiyas bukan tipe laki-laki seperti itu.


"Nanti kita bertanya langsung saja kepada Papah Ziyas Yah", jawab Qiyas kepada Ayah Ibrahim.


Sejujurnya Qiyas dia juga masih marah ketika mengingat tentang kejadian diCafe tadi siang. Akan tetapi Qiyas berusaha mengontrolnya agar tidak marah, dan dia ingin lebih fokus kepada Kia. Serta Qiyas percaya jika Papahnya bisa menyelesaikan masalah tadi.


Ketika mereka semua sedang tegang dan marah mendengar cerita dari Qiyas. Tiba-tiba pandangan mereka semua teralihkan kepada seseorang yang baru datang dari dalam rumah. Siapa lagi kalau bukan Kia, yang baru saja keluar dari dalam kamar.


"Eh Umi, kenapa keluar sendirian hati-hati sayang, kenapa tidak panggil Abi saja sayang", kata Qiyas kepada Kia langsung saja berdiri dan sambil membantu Kia untuk duduk dishofa sampingnya Mamah Dian.


"Apa masih sakit Kia perutnya, eeeeh dedeknya nendang", tanya Mamah Dian kepada Kia dan Mamah Dian reflek terkejut karena mendapat satu tendangan oleh baby twins yang ada diperutnya Kia, karena Mamah Dian dia tadi bertanya sambil mengusap lembut perutnya Kia.


Mereka yang mendengar keterkejutannya Mamah Dian, reflek juga langsung tersenyum bahagia, karena mengetahui baby twinsnya aktif.


"Tidak Mah, sudah enakan ini perutnya", jawab Kia kepada Mamahnya.


Semua yang disitu mereka sengaja tidak membahas perihal masalah diCafe tadi karena takut akan membuat Kia kefikiran dan kram lagi nanti perutnya.


"Oh ya, kamu sudah makan belum nak, ini Bunda tadi bawa makanan, apa mau Bunda ambilkan", kata Bunda Lili kepada Kia.


"Eh tidak usah Bund, biar nanti saja kita makan sama-sama saja", jawab Kia kepada Bunda Lili karena tidak enak.


Sedangkan Mamah Dian dia sedang asik terus mengusap perutnya Kia yang terus menerus mendapat tendangan dari calon cucunya.


"Mamah ini, kasihan Kia itu dia sampai meringis begitu", kata Ayah Ibrahim yang melihat istrinya sangat antusias mengusap perutnya Kia.


"Apa sakit nak?? ", tanya Mamah Dian kepada Kia.


"Tidak Mah, cuman geli saja, daritadi nendangnya tidak berhenti-berhenti ketika Mamah mengusap begitu", jawab Kia kepada Mamahnya sambil tertawa kecil.


Sungguh Qiyas dia sangat bahagia bisa melihat Kia sudah sehat dan tersenyum lagi seperti itu. Didalam hatinya Qiyas dia bertekad akan lebih berusaha mengontrol lagi emosinya agar tidak cepat meledak, apalagi dihadapannya Kia.


Ketika waktu baru menujukkan pukul empat sore, Papah Ziyas dia baru sampai dirumahnya Qiyas. Dan ketika Papah Ziyas datang dia melihat semua Keluarganya sedang bercanda dan berkumpul diruang Keluarganya Qiyas sambil menonton televisi.


Mereka semua juga tadi sudah melaksanakan kewajibannya untuk sholat ashar, sedangkan Papah Ziyas dia sholat ashar dikantor, tepatnya diruangannya ketika akan pulang tadi.


"Wah lagi asik nih kayaknya", kata Papah Ziyas dengan tiba-tiba dan mengagetkan semua orang yang ada diruang keluarganya Qiyas.


"Maunya Bunda siapa coba yang datang tadi?? ", tanya Papah Ziyas kepada Istrinya sambil membuka jas yang dia pakai.


"Ya siapa tahu ada aktor bollywood tampan tadi yang bertamu kesini, kan temannya Iyas banyak tuh yang aktor bollywood", goda Bunda Lili kepada suaminya Papah Ziyas.


Semua orang yang mendengar candaannya Bunda Lili mereka langsung saja tertawa.


"Iyas bisa langsung saja menelfonkan dan menyuruh mereka kesini Bund, jika Bunda ingin berkenalan dengan mereka", goda Qiyas juga yang ikut-ikutan menggoda Papahnya.


"Boleh juga itu nak", kata Bunda Lili dengan semangat.


Sedangkan yang lainnya langsung saja tambah tertawa mendengar candaannya Qiyas dan Bunda Lili untuk Papah Ziyas.


Sedangkan Papah Ziyas dia hanya tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan dari anak dan istrinya.


"Umi, jika ada apa-apa panggil Abi ya sayang, Abi mau keruang kerja dulu ya, ada pekerjaan yang harus Abi selesaikan", kata Qiyas kepada Kia sambil mencium kening serta mengusap perutnya Kia dan langsung mendapat tendangan dari calon babynya membuat Qiyas reflek tersenyum bahagia.


Kia dia hanya mengangguk saja memberi jawaban kepada Qiyas.


"Sudah kamu selesaiin saja pekerjaanmu kan ada Mamah sama Bundamu disini yang menemani dan menjagain Kia", kata Mamah Dian kepada Qiyas.


"Ok, baiklah", kata Qiyas kepada Mamah Dian dan mendapat dorongan ringan dipunggungnya dari Bunda Lili.


Ketika Qiyas sudah pergi Bunda Lili dan Mamah Dian mereka berpindah posisi menjadi duduk disebelah kanan dan kirinya Kia.


Bunda Lili dan Mamah Dian mereka tak henti-hentinya menggoda calon cucunya yang ada diprutnya Kia, dan langsung mendapat tanggapan sebuah tendangan dari baby twins. Mereka bertiga tertawa bahagia hanya mendapat respon tendangan dari baby twins.


Qiyas yang ketika beranjak berdiri dia mengkode Ayah Ibrahim dan Papah Ziyas untuk mengikutinnya. Dan Ayah Ibrahim serta Papah Ziyas dia faham akan kode yang diberikan oleh Qiyas.


Disinilah mereka bertiga berada diruang kerjanya Qiyas. Dan Qiyas tanpa membuang waktu lagi dia langsung saja bertanya kepada Papah Ziyas tentang masalah tadi.


Ayah Ibrahim juga begitu, dia begitu penasaran sekali untuk cerita yang lebih lengkapnya.


"Pah bagaimana dengan masalah tadi Pah, sudah bereskan", tanya Qiyas kepada Papah Ziyas ketika mereka bertiga sudah duduk dishofa yang ada diruang kerjanya Qiyas.


"Sudah beres, kamu tenang saja, masalah ini biar Papah dan adikmu Aulian yang menangani, kamu fokus saja sama Kia dan kehamilannya Kia saja Yas", kata Papah Ziyas kepada Qiyas.


"Aulian, apa Aulian tahu masalah ini Pah?? ", tanya Qiyas lagi kepada Papah Ziyas.


"Pak Ziyas bisa diceritakan kepada saya bagaimana cerita yang selengkapnya?? ", tanya Ayah Ibrahim juga kepada Papah Ziyas.


Papah Ziyas dia lalu menceritakan tentang ketika Qiyas dan Kia sudah pergi dari dalam Cafe. Semuanya Papah Ziyas ceritakan kepada Qiyas dan besannya Ayah Ibrahim, tentang siapa wanita itu, tentang rencanya untuk menghancurkan Tuan Ananta Papah Ziyas ceritakan semua.


Ayah Ibrahim dan Qiyas mereka yang mendengar cerita dari Papah Ziyas, mereka sangat geram dan sangat ingin marah sekali dengan wanita suruhannya Tuan Ananta dan Tuan Anantanya juga.


"Kamu harus lebih mengontrol lagi emosimu Yas, jangan sampai sering keblabasan seperti itu terus jika sedang marah, ingat istrimu lagi hamil besar dan dua sekaligus, jika sampai kenapa-kenapa dengan Kia dan baby twins Papah tidak akan segan-segan untuk menghukummu", nasihat Papah Ziyas kepada Qiyas.


"Iya Pah, Iyas akui Iyas salah, Iyas harus masih banyak belajar lagi untuk lebih mengontrol emosinya Iyas", jawab Qiyas kepada Papahnya.


"Sebetulnya saya juga sekarang lagi ingin marah, tapi benar apa kata Pak Ziyas, jika kita harus lebih menjaga perasaannya Kia jika kita tidak mau Kia kenapa-kenapa", kata Ayah Ibrahim kepada Papah Ziyas dan Qiyas.


Akhirnya mereka bertiga juga membahas tentang rencana untuk menghancurkan Tuan Ananta, dan membahas tentang Kia.


Karena mereka semua tidak mau kejadian serupa terulang kembali, apalagi musuh bisnis mereka dimana-mana. Dan mereka tidak mau jika Kia sampai menjadi sasaran musuh yang tidak suka kepada mereka.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


***TBC***