
"Kak Fasya", kata Kia lirih sambil memanggil nama Qiyas dengan mata yang masih terpejam.
Ayah Ibrahim yang tadi menunggui Kia mendengar Kia memanggil nama Qiyas dia langsung menyadarkan Kia.
"Nak, ini Ayah Nak, kamu sudah bangun?? ", kata Ayah Ibrahim lega melihat Kia.
"Ayah, Ayah disini?? ", tanya Kia lirih sambil berusaha untuk duduk. Dan Ayah Ibrahim yang melihat Kia ingin duduk dia segera membantu.
"Ssss auuuu", kata Kia lirih karena dia baru menyadari jika ada selang infus yang menancap ditangannya.
"Kamu jangan gerak dulu nak, nanti tambah pusing", kata Ayah Ibrahim.
Tiba-tiba pintu terbuka dan masuklah Zahra sambil membawa bungkusan makanan yang tadi dipesan Qiyas untuk Kia.
"Nona, Nona sudah sadar, syukurlah sebentar saya siapkan makanannya dulu Nona", kata Zahra yang juga lega melihat Kia sadar.
Zahra langsung menyiapkan makanan yang dia bawa, dan setelah siap dia langsung memberikannya kepada Kia.
"Nona makan dulu ya, dipaksakan sedikit saja tidak apa-apa?? ", kata Zahra.
"Iya kamu makan dulu Nak, mau Ayah suapin?? ", kata Ayah Ibrahim.
"Tidak usah Tuan, biar Nona saya suapin saja", kata Zahra kepada Ayh Ibrahim.
Ayah Ibrahim mengangguk kepada Zahra.
"Zahra tadi siapa yang membawaku kemari?? ", tanya Kia disela-sela makannya.
"Tuan Ibrahim Nona", kata Zahra.
"Maafkan hamba Tuhan, karena terpaksa berbohong kepada Nona Kia", bathin Zahra.
"Iya Nak, tadi saat kamu pingsan Zahra langsung menelfon Ayah dan Ayah yang memanggilkan Dokter untukmu juga", kata Ayah Ibrahim yang ikut-ikutan berbohong.
Ayah Ibrahim dan Zahra saling pandang dan lirik itupun hanya sekilas dan Kia tidak menyadari itu.
"Kalau infusnya sudah habis kita segera pulang ya nak, Mamah kamu sudah sangat khawatir. Kamu kenapa pulangnya telat lagi sih Nak, apa pekerjaannya masih banyak", tanya Ayah Ibrahim kepada Kia.
Kia yang ditanya pun bingung harus menjawab apa, karena dia memang sengaja pulang sedikit terlambat karena terlalu banyak fikiran.
"Sudah selesai Nona, saya bawa keluar dulu piringnya", kata Zahra tiba-tiba dan menyelamatkan Kia yang bingung harus menjawab apa.
"Nak, kenapa kamu tadi mengigau dan memanggil nama nak Iyas?? ", kata Ayah Ibrahim sambil menggoda Kia.
"Masak Ayah??, Ayah salah dengar kali? ", kata Kia malu kepada Ayahnya.
Tiba-tiba terdengar bunyi Hp Ayah Ibrahim dan yang menelfon ternyata Mamah Dian.
"Mamah kamu telefon, Ayah keluar dulu ya sebentar", kata Ayah Ibrahim kepada Kia.
Kia hanya mengangguk kepada Ayah Ibrahim.
Setelah Ayah Ibrahim keluar Kia jadi teringat ketika pingsan tadi Kia melihat Qiyas duduk didipan yang sama dimimpinya.
*Ketika Kia pingsan*
Dialam bawah sadarnya Kia sedang berjalan-jalan menyusuri taman bunga yang bermekaran, hingga tiba-tiba diujung jalan dia melihat seorang ikhwan yang duduk didipan dan tersenyum kepadanya.
Kia langsung mengehentikan langkahnya. Dan laki-laki tadi menepuk dipan sebelahnya pertanda dia menyuruh Kia duduk disebelahnya.
"Kak Fasya", gumam Kia.
Kia tanpa sadar berjalan menuju Qiyas yang duduk didipan itu. Setelah sampai Kia langsung duduk disebelahnya Qiyas.
Tanpa diduga Qiyas langsung memeluk Kia dan berucap.
"Istriku", kata Qiyas sambil memeluk Kia dan mecium kening Kia.
Kia yang kaget dengan tindakan Qiyas dia hanya berucap lirih.
"Kak Fasya", kata Kia lirih.
Samar-samar dia mendengar sesorang berucap, dan ketika dia berusaha membuka mata ternyata Ayah Ibrahim yang memanggilnya.
"Nona Kia, selang infusnya saya bantu lepasin ya", kata Zahra kepada Kia.
Kia tidak menyadari ketika Zahra masuk, karena dia terlalu melamun memikirkan apa yang barusan dia alami ketika pingsan.
"Kapan kamu masuk Zahra?? ", tanya Kia kaget.
"Barusan Nona", jawab Zahra sambil perlahan melepaskan selang infus.
"Kenapa saya tidak mendengarmu membuka pintu", tanya Kia lagi.
"Nona tadi melamun, bahkan saya pun tadi mengucapkan salam", jawab Zahra.
"Sudah selesai Nona", kata Zahra lagi.
"Oh ternyata sudah dilepas infusnya sama Zahra?? ", kata Ayah Ibrahim yang tiba-tiba masuk.
"Sudah enakan sayang, kalau sudah sedikit enakan kita pulang dan istirahat saja dirumah yuk", kata Ayah Ibrahim ketika duduk dipinggir diranjang.
"Iya Ayah, Kia sudah mendingan, tidak sepusing dan selemas tadi", kata Kia kepada Ayah Ibrahim.
"Zahra besok jika Nona Kia tidak bisa masuk, kamu handle saja dulu ya pekerjaannya Kia", kata Ayah Ibrahim kepada Zahra.
"Baik Tuan", jawab Zahra sambil membantu Kia untuk berdiri.
"Ayah, apakah besok mereka jadi akan datang kerumah?? ", tanya Kia yang ada disebelahnya Ayah Ibrahim.
"Maafkan Ayah Nak, Ayah melakukan ini untuk kebaikanmu", kata Ayah Ibrahim sambil mengusap kepala Kia yang tertutup hijab.
"Kak Fasya sudah melamar Kia Ayah", kata Kia kepada Ayah Ibrahim.
"Apa benar yang kamu bilang nak?? ", kata Ayah Ibrahim pura-pura terkejut.
"Iya Ayah, dan katanya besok dia akan datang kerumah menagih jawaban kepadaku, akan tetapi tadi pagi dia datang kekantor bilang padaku jika hari ini dia akan keLondon untuk menemui rekan bisnisnya Ayah", kata Kia kepada Ayahnya.
Ayah Ibrahim masih mendengarkan dengan baik cerita Kia.
"Mungkin dia memang bukan jodohku Ayah, Kia akan menerima laki-laki yang Ayah jodohkan kepadaku", jawab Kia pasrah.
Ayah Ibrahim langsung mengusap kepala Kia dengan sayang, dan menenangkan Kia.
"Semua akan indah pada waktunya Nak, percaya sama Ayah", kata Ayah Ibrahim sambil mengusap punggung Kia.
Tanpa terasa mobil yang ditumpangi Kia dan Ayah Ibrahim sudah sampai dirumah mereka. Mamah Dian yang dari tadi sudah menunggu diteras rumah pun bergegas berdiri dan menyambut anak serta suaminya.
"Kamu kenapa Nak, ayo masuk dulu", kata Mamah Dian kepada Kia.
Mamah Dian membantu menuntun Kia berjalan masuk kerumah. Mereka bertiga duduk dan berkumpul diruang Keluarga.
"Mamah buatkan minuman hangat untuk kamu dan Ayah dulu ya", kata Mamah Dian kepada Kia.
Mamah Dian langsung berjalan menuju dapur dan membuatkan minuman jahe hangat untuk Kia dan kopi susu untuk Ayah Ibrahim.
"Ini diminum dulu nak, biar badanmu hangat", kata Mamah Dian kepada Kia ketika minuman yang dia buat sudah jadi.
"Kia kenapa Ayah, ko bisa sampai pingsan?? ", tanya Mamah Dian kepada Ayah Ibrahim.
Tadi ketika sebelum pulang Mamah Dian menelfon Ayah Ibrahim karena ingin bertanya keadaan Kia, dan kebetulan juga Mamah Dian menelfon, Ayah Ibrahim langsung mengasih tahu rencana Qiyas dan jangan memberitahu Kia jika Qiyas yang membantu Kia tadi ketika pingsan.
Mamah Dian setuju-setuju saja dan disini sekarang aktingnya diuji.
"Tadi kata Dokter yang memeriksa Kia katanya Kia dehidrasi dan lupa makan Mah, jadinya begini deh", kata Aya Ibrahim.
"Terus tadi sudah makan belum Yah Kianya setelah sadar", tanya Mamah Dian kepada Ayah Ibrahim.
"Sudah Mah, disuapin Zahra sekertarisnya", jawab Ayah Ibrahim.
"Kamu ini sayang, besok jangan begitu lagi ya, sudah besuk dirumah saja ya, mulihin kondisi sekalian bantuin Mamah kan mau menyambut calon mantu Mamah mau datang", kata Mamah Dian kepada Kia.
"Iya Kia tadi juga sudah Ayah omongin untuk istirahat saja dirumah Mah", kata Ayah Ibrahim.
"Baik Yah, Mah, Kia kekamar dulu ya, mau bersih-bersih badan, sholat isya' dan istirahat", kata Kia dengan lesu. Lesu bukan karena masih merasa lemas, tapi lesu karena malas menghadapi esok.
Jika Kia tidak sakit Ayah Ibrahim dan Mamah Dian memang sudah mencari alasan untuk membuat Kia dirumah saja, karena besok acaranya akan dimulai sekitar jam sembilan pagi.
Ayah Ibrahim dan Mamah Dian sebetulnya mereka khawatir mendengar Kia sakit, akan tetapi mereka juga bersyukur dengan mendengar Kia yang tadi sakit, mereka tidak susah-susah mencari alasan untuk menahan Kia dirumah.
ππππππππππππ
Dirumah Qiyas, Qiyas yang baru sampai sedikit terlambat dari biasanya membuat Bunda dan Papahnya Ziyas menjadi tanda tanya, karena tumben Qiyas belum pulang.
"Assalamu'alaikum", salam Qiyas ketika dia membuka pintu rumahnya.
"Wa'alaikumussalam", jawab Bunda Lili dan Papah Ziyas. Karena mereka sengaja menunggui Qiyas pulang.
Qiyas yang melihat kedua orang tuanya diruang tamu, dia langsung menghampiri, menyalami dan mencium tangan mereka. Setelah itu Qiyas ikut duduk bersama mereka.
"Ko tumben pulang jam segini??, apa dikantor lagi banyak pekerjaan Nak?? ", tanya Bunda Lili.
"Setahu Papah dikantor belum ada pekerjaan yang dikejar deadline Yas, tumben pulang jam segini?? ", kata Papah Ziyas.
"Tadi Iyas sudah pulang kerumah Bund, Pah, tapi ketika baru turun mobil Iyas ditelefon kantornya Balqis, setelah Iyas angkat ternyata yang menelfon Zahra sekertarisnya Balqis, dan bilang Balqis sedang pingsan dikantornya. Sontak Iyas langsung saja kesana dan ini baru pulang sebelum Balqisnya sadar", cerita Qiyas kepada kedua orang tuanya dan membuat Bunda Lili dan Papah Ziyas terkejut.
"Terus sekarang bagaimana keadaannya nak Kia Yas?? ", tanya Bunda Lili yang khawatir.
"Tadi Iyas sudah menelfon Ayah Ibrahim katanya Balqis sudah mendingan dan baikan Bund", kata Qiyas kepada Bundanya.
"Alhamdulillah kalau begitu", jawab Bunda Lili.
"Alhamdulillah", kata Papah Ziyas.
"Dan bagaimana dengan besok nak, sudah beres semua?? ", tanya Papah Ziyas kepada Qiyas.
"Sudah beres semua Pah, dan untuk masalah baju sudah Iyas serahkan kepada Bunda dan Mamah Dian", jawab Qiyas kepada Papahnya.
"Kalau untuk urusan baju beres, tidak usah khawatir", kata Bunda Lili dengan mengacungkan jempolnya kepada Qiyas.
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Kembali lagi dirumah Kia.
Semua orang yang ditugaskan untuk mempersiapkan acara untuk besok semua pada berdatangan, dan Mamah Dian yang bertugas untuk mengecek keadaan Kia melihat Kia sudah tertidur dan saatnya untuk mendekor semua rumah dan halaman untuk esok.
Dan hari esok adalah hari baru serta kehidupan baru untuk Kia.
ππππππππππππ
***TBC***