
"Eh maaf", kata dua orang bersamaan.
Ketika mereka sama-sama menengok kesamping alangkah terkejutnya mereka berdua. Siapa lagi kalau bukan Qiyas dan Kia.
Waktu itu mereka sama-sama ingin mengambil salad buah yang disediakan diacara nikahannya Zidan dan Mila, karena itu memang makanan kesukaannya Kia. Kia sangat excited daritadi ingin mengambil itu hingga dia tidak menyadari ada seseorang disampingnya yang sama-sama ingin mengambil salad buah. Qiyas juga tidak memperhatikan sebelahnya karena dia sedang asik memperhatikan ingin mengambil makanan mana, hingga terjadilah mereka yang berpegangan tangan tanpa sengaja karena sama-sama ingin memegang capit yang buat mengambil buahnya dan membuat mereka sama-sama terkejut.
"Silahkan kamu ambil duluan Balqis", kata Qiyas sambil tersenyum manis dan sekilas menghadap Kia.
"Terimakasih", jawab Kia sambil menunduk dan mengambil salad buahnya.
Qiyas yang menanti disamping Kia dia sedang menetralisir jantungnya supaya bisa berdetak normal kembali. Sungguh dia juga bingung kenapa setiap kali berdekatan dengan Kia jantungnya seakan berdetak tidak normal.
"Silahkan", kata Kia mempersilahkan Qiyas setelah dia sudah selesai mengambil salad buahnya.
Kia langsung saja pergi dari situ dan mencari tempat duduk yang kosong untuk memakan saladnya.
Ternyata ada dua kursi kosong yang letaknya tepat dibawah pohon rambutan yang ada dihalaman rumah Mila. Karena dihalaman rumah Mila ditanamai Papah Angga pohon rambutan, pohon mangga dan pohon kelengkeng serta pohon jambu. Karena cuaca didesa tempat tinggal Mila sangat cocok untuk menanam buah-buahan.
Skip****
"Bolehkah saya duduk disini", kata seseorang yang mengagetkan Kia.
Kia sontak langsung mendongakkan wajahnya untuk melihat seseorang yang berbicara begitu dekat dengatnya, ternyata Qiyaslah orangnya.
"Si..... Silahkan", jawab Kia yang tiba-tiba menjadi gugup.
Eheemmm
"Kia, jika saya ingin lebih dekat denganmu bolehkah?? ", kata Qiyas yang mengagetkan Kia.
"Mak..... Maksutnya Kak Fasya apa ya?? ", kata Kia masih dengan gugup dan masih juga menundukkan wajahnya.
"Dekat dalam artian ingin mengenalmu lebih jauh, dan jikalau kamu tidak mau, maukah kita saling mengenal dengan cara yang halal", kata Qiyas to the point.
"Saya tidak mudeng Kak Fasya", jawab Kia yang sebenarnya dia mudeng maksut Qiyas, akan tetapi Kia tidak mau memikirkan yang berlebih.
"Maukah kamu langsung menikah denganku", kata Qiyas langsung kepada intinya.
Kia tiba-tiba langsung mendongakkan wajahnya melihat Qiyas, tapi cuman sebentar saja dan dia langsung menunduk kembali. Jantung Kia seakan mau copot mendengar perkataan Qiyas. Dan dihati Kia dia merasakan getaran yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, bahkan ketika dulu Ustadz Faris menyatakan perasaannya pun dia tidak merasakan seperti sekarang.
"Mungkin kamu sudah merasakan jika saya mempunyai rasa denganmu, jujur saya mencintaimu dari pandangan pertama kali melihatmu menolongku.......... Qiyas menjeda untuk mengambil nafas.
Sedangkan Kia sungguh kaget dengan perkataan Qiyas kepadanya. Kia masih diam saja tanpa sedikit pun membalas perkataan Qiyas.
Rasanya lega sekali bisa mengungkapkan ini Balqis. Saya tidak langsung menginginkan jawabanmu. Saya tahu kamu pasti terkejut dengan ini. Saya tidak memaksamu untuk menjawabnya sekarang. Apapun keputusanmu nanti saya akan menerima dengan hati ikhlas dan menghargainya............
Sungguh ketika mendengarmu ingin menikah dengan Ustadz Faris hatiku sedih, akan tetapi sampai sekarang perasaan itu tidak berkurang, atau hilang dari hatiku, mungkin bahkan malah bertambah ketika perjumpaan kita lagi direstoran itu bersama Ayah Ibrahim.
Kalau begitu saya permisi Balqis, saya tunggu jawabannya, semoga sesuai dengan yang saya harapkan", kata Qiyas lagi sebab Kia diam terus daritadi dan Qiyas langsung beranjak pergi kerena Qiyas memang sengaja memberi ruang Kia untuk berfikir.
Sedangkan Kia yang baru mendengar perkataan dan pernyataan Qiyas, dia menjadi tidak selera makan salad buah lagi. Dia bimbang dengan hatinya. Jika boleh jujur Kia sangat bahagia mendengar pernyataan Qiyas, akan tetapi dia takut jika dia menerima Qiyas, Kia akan mengalami hal yang sama seperti dulu.
ππππππππππππ
Saat ini Kia sedang berada dikamarnya, dan duduk dikasurnya sambil teringat terus dengan ucapannya Qiyas tadi siang. Karena setelah acara selesai dia langsung berpamitan pulang diantar supir keluarganya, sebab besok ada meeting penting yang tidak bisa diwakilkan sekertarisnya. Sedangkan Ayah Ibrahim dan Mamah Dian pulangnya sedikit belakangan, karena ingin membantu membereskan sisa-sisa acara.
"Astaghfirullah, apa yang harus hamba lakukan ya Allah", ucap Kia sambil mengusap wajahnya dengan kasar, karena ketika dia duduk-duduk santai dikasur tanpa sengaja melamun karena kefikiran omongannya Qiyas kepadanya.
ππππππππππππ
Kembali lagi keMila dan Zidan yuk.
Setelah acara tadi siang selesai, keluarga Zidan benar-benar pulang semua sekitar jam lima sore. Dan saat ini Zidan dan Mila sedang berada dikamar Mila.
Zidan yang baru masuk pertama kali kekamar Mila, dia berdiri didepan pintu sambil mengamati kamar yang akan dia tempati sekarang.
"Ternyata kamarnya tidak terlalu kecewekan, warna tembok biru muda dan hijau muda, begutu cerah dan adem, mungkin aku akan cocok tidur disini", bathin Zidan sambil mengamati kamar Mila.
Zidan lalu mengamati foto-foto yang tertempel didinding, dari foto Mila sendiri, keluarganya dan paling banyak foto dengan Kakak sepupunya Kia.
Sedangkan Mila, dia ketika membuka pintu kamarnya dibuat terkejut dengan kamarnya yang dihiasi dengan dekorasi yang hmm entahlah hanya Mila yang tahu.
"Wuiiiiih, ini beneran kamar Mila, cantik banget, kasur Mila kenapa dibuat jadi begini, ditaburi berbagai bunga dan dikasih berbagai wewangian, hmm harumnya", celetuk Mila yang ketika membuka pintu kamarnya.
Zidan langsung reflek menengok kebelakang, ketika mendengar celetukkannya Mila, karena Zidan tadi terlebih dahulu masuk kekamar.
"Kak, nanti kita jangan tidur disitu yah", kata Mila kepada Zidan.
"Terus kita tidurnya dimana Mila?? ", tanya Zidan kepada Mila.
"Iya juga ya, kalau tidur dishofa hanya muat satu, kalau dikasur, yaaah jadi rusak dong itu hiasannya, kan sayang", kata Mila yang membuat Zidan menghela nafasnya.
Dan tiba-tiba Zidan punya ide untuk mengerjai Mila.
"Bagaimana kalau tidur dishofa saja, kamu dibawah aku diatasmu, kan enak thu", gurau Zidan sambil menggoda Mila.
Yaaaa, dasar Mila digoda pun dia tidak peka.
"Masak begitu, tidak mau, Kak Zidan berat nanti Mila gepeng", kata Mila membuat Zidan gemas.
"Terserah kamu sajalah, aku mau bersih-bersih, bentar lagi waktu maghrib", kata Zidan berlalu masuk kekamar mandi dan langsung meninggalkan Mila.
Skip****
Setelah menjalani kewajiban mereka sebagai umat muslim, yaitu sholat maghrib dan sholat isya' dan saat ini semua keluarga Mila sedang makan malam bersama.
"Nak, yang sabar ya jika harus menghadapi Mila, mungkin kurang lebih kamu sudah tahu dengan kelakuannya Mila", kata Papah Angga kepada Zidan.
"Iya Om", kata Zidan.
"Ko om, Papah dong, kayak yang lain", kata Papah Angga dengan tersenyum.
"Baik Pah", jawab Zidan juga tersenyum.
"Iya nak Zidan, jika Mila jengkelin tendang saja bokongnya, kayak Mamah jika gregetan sama Mila", kata Mamah Sabrina kepada Zidan, membuat yang ada dimeja makan tertawa, termasuk Satriya dan Andira serta suaminya Hadi.
"Mamah jangan ngajarin Zidan begitu, lihat thu Zidannya jadi malu", kata Andira kakak pertamanya Mila.
Sedangkan Mila yang diomongin cuek-cuek saja memakan makanannya.
"Kenapa pada ribut, yang diomongin pun tidak merespon ko", kata Satriya menyindir Mila.
"Nak Zidan nanti jangan kaget ya jika dikamar melihat Mila berbeda dari yang biasanya hihihihi", jawab Mamah Sabrina sambil cekikikan.
"Emang Mamah menyuruh Mila ngapain dikamar Mah, jangan mengajari Mila yang aneh-aneh, kasihan Zidan nanti", kata Papah Angga.
"Jangan kasihan sama Zidan Pah, justru Zidan yang harus berterimakasih sama Mamah", kata Mamah Sabrina sambil tertawa membayangkan kekonyolan anaknya.
Papah Angga sudah curiga jika istrinya mempengaruhi otak anaknya Mila yang sudah eror. Kasihan Zidan fikir Papah Angga sambil menggelengkan kepalanya.
Sedangkan Zidan yang daritadi melihat dan menyaksikan interaksi Mamah mertuanya, jadi bingung dan takut, jika Mila nanti membuat dia lebih dari terkena struk.
"Aku harus siapin mental dari sekarang", bathin Zidan yang sedikit ngeri membayangkan nanti malam.
"Dek, emang Mamah bilang apa kekamu", tanya Satriya dan Kak Andira bersamaan.
"Tidak ngajarin apa-apa, cuman jurus silat kucing berkokok", kata Mila cuek.
Sedangkan Kakaknya Andira dan Kakak Satriya langsung menganga mendengar jawaban Mila, jangan ditanya bagaimana reaksi Zidan, dia diam seribu bahasa dan sambil memikirkan jurus apa yang dibicarakan Mila.
Mamah Sabrina malah mengacungkan jempolnya kepada Mila, dan Mila membalas dengan cium jauh kepada Mamah Sabrina.
Papah Angga tertawa melihat interaksi Istri dan anaknya, dan yang membuat Papah Angga tertawa adalah muka Zidan yang pias.
Hahahahaha
"Kalian apa tidak kasihan, lihat thu muka Zidan sudah tidak enak dipandang", kata Papah Angga kepada istri dan anaknya Mila sambil tertawa.
Sontak yang lainnya langsung melihat kearah Zidan dan ikut tertawa, sedangkan Mila cuek-cuek saja yang penting mah makan, apalagi ada masakan favoritnya. Zidan juga ikut tertawa garing menanggapi semua.
"*Keluarga aneh, dan aku sudah termasuk dikeluarga ini, berarti sebentar lagi aku akan aneh seperti mereka semu*a", ringis bathin Zidan
Skip***
Saat ini Mila dan Zidan sudah berada dikamarnya. Zidan yang sedang duduk dikasur sambil bersandar dikepala ranjang, dia selalu memperhatikan tingkah lakunya Mila, karena Zidan sedang waspada takut jika Mila melakukan hal-hal yang aneh, karena kata-kata dari Mamah mertuanya.
Mila yang lagi didepan meja riasnya ketika mengaca dia sambil berfikir, bagaimana memulai jurus silat yang diajarkan Mamahnya begitula isi otak Mila.
Zidan yang melihat Mila berfikir dia akhirnya turun dari ranjang dan memeluk Mila dari belakang.
"Lagi mikirin apa sih sayang, ngomong-ngomong tadi Mamah mengatakan apa ke Mila", kata Zidan sambil memeluk Mila dari belakang dan menyandarkan dagunya dipundak Mila.
"Ish, Kaka geli ah", kata Mila kepada Zidan sambil menggeliat kegelian karena dagu Zidan.
"Rambut kamu harum, dan tidak telalu panjang, Kakak suka", kata Zidan sambil menciumin rambutnya Mila.
"Ternyata kamu sangat cantik jika tidak pakai hijab begini", seakan terbuai dengan harum tubuh Mila, fikiran Zidan sudah melantur kemana-mana.
"Mungkin ini saatnya aku keluarin jurus yang Mamah kasihkan keaku", bathin Mila.
"Tadi Mamah ngajarin dan mengatakan tentang jurus silat kucing berkokok Kak keMila", kata Mila dan membuyarkan fikiran Zidan yang sudah berkelana kemana-mana.
Zidan langsung tersadar dan waspada akan apa yang dilakukan Mila.
"Emang bagaimana jurusnya Mila", tanya Zidan penasaran dan tenang, padahal aslinya dia sedang memasang sikap waspada.
"Kakak beneran mau tahu?? ", tanya Mila kepada Zidan.
Zidan hanya mengangguk dan tetap tenang sambil memasang sikap waspada dan selalu mengamati gerak gerik Mila.
Mila langsung menunjukkan silat yang diajarin Mamahnya dan melakukan sesuai perintah Mamahnya.
Sedangkan Zidan langsung melotot dan dengan jantung sangat berdebar-debar melihat jurus silat yang Mila maksut.
**Penasaran yaaaaa mereka ngapain??
Yaitu mempraktekan jurus silat kucing berkokok ala Mamah Sabrina π πππππππ**
ππππππππππππ
***TBC***