
Akhirnya hari ini adalah hari syukuran dan pembagian nasi box kepada semua karyawan kantor IBRAHIM COMPANY dan IRAWAN CORP.
Semua karyawan menyambut gembira pembagian nasi box yang diberikan oleh pemilik Perusahaan, pasalnya mereka semua tahu, jika Ayah Ibrahim atau Papah Ziyas kalau memberikan nasi box pastinya isinya enak-enak dan harganya mereka jamin mahal, yah kira-kira begitulah pemikiran semua karyawan.
Kia pun semenjak mengetahui jika dia hamil, Kia jadi tidak doyan makan nasi, makannya pun yang berupa biji-bijan ataupun yang berumbi-umbian untuk menggantikan nasi, jika sayur Kia tidak ada kendala. Jadi Qiyas sekarang selalu stok apa yang semua dimakan Kia.
Qiyas juga membelikan nasi merah untuk Kia, ketika Kia mencobanya dia tidak muntah, tapi cuman sedikit yang bisa masuk kemulutnya. Fikir Qiyas yah lumayan daripada tidak sama sekali, begitulah sekiranya.
Kia dimasa kehamilannya termasuk tidak merepotkan atau menyusahkan Qiyas, masih terbilang wajar-wajar saja masih pada umumnya Ibu-ibu hamil. Mengidamnya pun masih hal-hal yang wajar.
Contohnya minta dibeliin buah kesemek, buah delima, atau harus sedia mangga muda dikulkas. Dan bawaannya sebelum tidur pinginnya Qiyas selalu mengusap perutnya.
Pernah satu waktu, Qiyas pulangnya sedikit terlambat dari biasanya, karena sedang meeting dengan tamu luar negeri dan sekalian membahas tender besar yang baru saja dia menangkan.
Kia tidak bisa tidur sama sekali, dan bahkan dia malah tiba-tiba menangis karena merasa ada yang kurang dan tidak nyaman dengan perutnya.
Setelah Qiyas pulang sekitar jam setengah sepuluh malam. Qiyas yang baru selesai mandi dan membersihkan badannya, langsung saja ditarik Kia untuk berbaring disampingnya dan disuruh untuk mengusap-usap perutnya.
Serta Qiyas tidak lupa sama sekali dia selalu mengajikan atau membacakan Al-Qur'an dihadapan perut Kia, terkadang juga bersholawatan, setelah selesai Qiyas lalu meniupkannya keperut Kia sambil berdo'a.
Karena Ibu hamil yang mendengarkan Al-Qur'an lebih besar manfaatnya ketimbang mendengarkan musik, dan jika baby didalam perut sudah diperkenalkan dengan ayat-ayat Al-Qur'an insyaallah ketika dia lahir dan mengetahui dunia, akan lebih mudah dididik dan diarahkannya.
Dan Kia mungkin akan dirumah saja sesuai perjanjiannya dengan Qiyas, karena Kia sendiri dia tidak bisa lelah sedikit pun, jika lelah dia pasti akan pusing dan bawaannya pingin tidur terus.
Dan untuk pengunduran diri Kia diPerusahaan sudah difikirkan Kia serta Qiyas, akan tetapi belum mereka sampaikan kepada Ayah Ibrahim.
Undangan untuk syukuran kecil-kecilan dirumahnya Qiyas serta Kia pun sudah dibagikan Mamah Dian, Ayah Ibrahim, dan Bunda Lili serta Papah Ziyas.
Hanya keluarga terdekat saja yang diundang, tidak banyak memang, karena Mamah Dian, Ayah Ibrahim dan Bunda Lili serta Papah Ziyas apalagi Qiyas tidak mau membuat Kia nanti terlalu capek dan kelelahan jika akan mengundang terlalu banyak tamu.
Setelah pembagian nasi box kesemua Karyawan dan kePanti Asuhan serta keorang-orang yang membutuhkan saat ini Qiyas dan Kia sedang berbincang diruang Keluarga rumah mereka sambil menonton televisi. Jam pun baru menunjukkan pukul delapan malam, dan Kia serta Qiyas juga baru selesai makan malam, dengan disertai drama Kia yang mual, tapi tidak muntah, karena jika sudah malam, mualnya Kia tidak seberapa jika dibandingkan pagi hari.
Qiyas semenjak mengetahui Kia hamil, sebisa mungkin pekerjaan yang belum dia selesaikan dikantor tidak akan dia bawa kerumah, karena Qiyas ingin memberikan waktu lebih untuk Kia dan ingin juga melihat serta memperhatikan perkembangan kehamilan Kia yang sudah dari awal menikah dia nanti-nantikan, apalagi Kia hamil twins sekaligus. Jadi Qiyas akan berusaha menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum jam waktunya pulang kantor.
Kia duduk sambil menonton televisi pun bawaannya ingin menempel terus kebadan Qiyas, karena semenjak Kia hamil bau badannya Qiyas adalah aroma favoritnya dan Qiyas pun tidak mempermasalahkannya, malahan Qiyas senang akan hal itu. Bahkan Qiyas malah merangkul pundak Kia agar lebih dekat dengannya.
Kegiatan tangan Kia merusak fikirannya Qiyas yang lagi fokus menonton televisi. Pasalnya daritadi Kia bukan hanya menonton televisi seperti Qiyas, akan tetapi Kia juga malah asik menyusuri dada dan memberikan pola-pola abstrak didada Qiyas yang tertutup kaos rumahan yang Qiyas pakai.
Bahkan Kia dengan berani menggerakkan tangannya semakin turun-turun kebawah hingga tepat menyentuh hal sensitivnya Qiyas. Membuat Qiyas langsung melihat kearah wajahnya Kia, karena terkejut.
Kia dia lalu mendongakkan kepalanya yang awalnya menonton televisi untuk menatap keQiyas sambil tertawa kecil dan dengan sedikit meremas miliknya Qiyas, membuat Qiyas terlonjak kaget. Dan tanpa rasa bersalah Kia lalu mengalihkan pandangannya lagi ketelevisi. Pasalnya Kia semenjak menikah dia tidak pernah seagresif itu dengan Qiyas, mangkanya Qiyas kaget dengan apa yang dilakukan Kia padanya.
"Umi......... ", kata Qiyas tertahan sambil memanggil Kia yang ada dipelukannya.
"Sudah besar ya Abi", kata Kia dengan terus memainkan milik Qiyas, walaupun tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi.
"Umi jangan begitu terus, nanti Abi tidak tahan", kata Qiyas kepada Kia sambil memegang tangannya Kia yang berada ditempat sensitivnya.
"Ya jika tidak tahan ayo saja Abi", kata Kia kepada Qiyas.
"Abi tidak tega dengan Umi sayang takut sama dedeknya didalam sini", jawab Qiyas kepada Kia sambil mengusap perutnya Kia.
"Kan kemarin Dokter Ara sudah bilang Abi, asal pelan-pelan dan hati-hati, agar perut Umi tidak kram", kata Kia masih terus memainkan milik Qiyas.
"Baiklah Umi ayo sayang kita kekamar, sebenarnya juga Abi sudah kepingin dari kemarin", ajak Qiyas kepada Kia.
"Matiin dulu dong televisinya Abi", kata Kia kepada Qiyas.
Qiyas langsung saja mematikan televisi dan lalu mengajak Kia masuk kedalam kamar. Akhirnya terjadilah yang mesti harusnya terjadi kepada mereka berdua.
Setelah sekitar satu jam lamanya Qiyas dan Kia melakukan itu, saat ini mereka sedang berbaring sambil bersandar dikepala ranjang, dan belum memakai pakaian mereka, sedangkan Kia dia tetap sambil memeluk Qiyas.
"Kamu kenapa sih sayang, tumben nempel terus keAbi, tidak seperti biasanya", tanya Qiyas kepada Kia yang ada dipelukannya.
"Entah Abi, keringat Abi baunya sedap enak menurut Umi", jawab Kia kepada Qiyas sambil menciumin lehernya Qiyas.
Qiyas hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkahnya Kia.
"Geli Umi", kata Qiyas kepada Kia sambil menahan geli, karena Kia bukan hanya memeluk tapi juga menciumin badan Qiyas, dari muka hingga turun keleher dan tidak berhenti-berhenti menciumin ketika Kia sudah berada lehernya Qiyas.
"Lagi ayo Abi", ajak Kia kepada Qiyas.
Qiyas langsung saja mendongakkan kepalanya Kia untuk melihat kearahnya.
"Kamu ini kenapa sih sayang, yakin mau nambah lagi, biasanya saja kan Abi yang selalu ingin nambah lagi", kata Qiyas kepada Kia.
"Tidak tahu napa Abi, rasanya ingin terus melakukan itu, bahkan tadi sore ketika melihat Abi baru selesai mandi hanya menggunakan handuk saja, bikin fikiran Umi melayang kemana-mana, mungkin hormon Umi kali ya Abi", jawab Kia kepada Qiyas.
"Ayo Abi, lagi ya", rengek Kia kepada Qiyas. Membuat Qiyas reflek tertawa senang, dengan Kia yang kali ini.
Akhirnya terjadilah lagi kegiatan yang menyenangkan diantara mereka berdua. Dan mereka sama-sama senang dimalam itu. Kia senang akan hasratnya terpenuhi, sedangkan Qiyas senang akan perubahan didalam diri Kia, karena efek hormon kehamilan.
ππππππππππππ
***TBC***