BISSMILLAH WITH YOU

BISSMILLAH WITH YOU
1 TAHUN KEMUDIAN



Maaf yah readers nanti ceritanya alurnya maju mundur yaaa, insyaallah author akan selalu berusaha menyambungkan setiap episodenya.


Dan mungkin mulai episode ini siapin tisu yak, karena sering mengandung bawang😁, serta perjuangan Fasya alias Qiyas akan segera dimulai untuk mendapatkan hati Kia.


Yuk cuuzz tidak usah lama lagi😘😘


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


*1 Tahun kemudian*


"Iyas, kapan kamu pulang Nak, Papah ada yang ingin dibicarakan denganmu?? ", tanya Papah Ziyas kepada Qiyas disambungan telefon.


"Lusa Pah, Iyas beneran pulang", kata Qiyas kepada Papahnya.


"Kamu ini selalu lusa-lusa melulu, tapi ujung-ujungnya juga zonk", kata Papah Ziyas lagi dengan nada sewot.


"Kali ini beneran Pah, Qiyas tidak bohong, Iyas janji", kata Iyas sambil tertawa kecil.


"Awas saja kalau bohong, Bunda kamu itu sudah sangat kangen banget sama kamu, kamu apa tidak kangen sama kita-kita yang disini. Masalah pekerjaan diDubai kan sudah beres, Perusahaan juga sudah stabil dari 6 bulan lalu, kenapa udah 1 tahun kamu tidak pulang-pulang Nak", kata Papah Ziyas.


"Andai Papah tahu alasan Iyas sengaja tidak pulang-pulang", bathin Qiyas.


"Kamu masih denger Papah kan Yas", kata Papah Ziyas lagi.


"Denger Pah, maaf tadi Iyas sambil membalas E-mail yang masuk lewat Laptop", kata Iyas mencari alasan.


"Ya sudah lanjutkan saja pekerjaanmu, Papah mau tidur dulu sudah malam, kamu jaga kesehatan disana, dan jangan tidur malam-malam, Assalamu'alaikum", kata Papah Ziyas kepada Qiyas.


Karena diIndonesia sudah menunjukkan pukul 10malam, sedangkan diDubai baru jam 7 malam. Indonesa-Dubai memiliki selisih waktu 3 jam, lebih cepat diIndonesia.


"Iya Pah wa'alaikumussalam", kata Qiyas langsung mematikan sambungan telefon.


Setelah sambungan telefon mati Qiyas langsung menyenderkan kepalanya dishofa yang dia duduki. Walaupun Qiyas sudah sekitar 1 tahun diDubai, perasaan cinta dan sayangnya kepada Kia masih utuh, bahkan tidak berkurang sama sekali. Walaupun Qiyas tahu kemungkinan Kia sudah menjadi milik orang lain. Karena setelah Qiyas tinggal diDubai dia tidak pernah berhubungan atau mencari tahu tentang Kia. Bahkan sahabatnya Zabir pun dilarang Qiyas untuk membicarakan Kia atau yang berhubungan dengan Kia.


Karena Qiyas ingin menata hati tanpa ada bayang-bayang Kia. Akan tetapi bagaimanapun caranya dia melupakan dan menghindar nama Kia masih apik tersimpan dihatinya berdampingan dengan Almarhummah Bila tunangannya dulu. Bahkan rasa sakit hatinya melebihi rasa sakit ditinggal Bila. Itu yang Qiyas rasakan.


"Mungkin sekarang kamu sudah bahagia bersama keluarga kecilmu Balqis, dan mungkin juga kamu sudah memiliki anak-anak yang lucu", gumam Qiyas dengan dirinya sendiri.


Huuuuuuuhhh!!


Qiyas mengembuskan nafasnya dengan kasar, jika dia tiba-tiba teringat dengan Kia, hatinya langsung sakit. Saat ini Qiyas sedang berada dirumahnya sendiri, karena dulu sebelum berangkat keDubai dia menyuruh orang kepercayaannya untuk membelikannya sebuah rumah yang tidak terlalu jauh dari perusahaan. Karena Qiyas tahu dia akan lama diDubai untuk urusan pekerjaan dan urusan hatinya.


Rumah yang khas gaya timur tengah yang berukuran 30x60MΒ², dengan ditambahi sentuhan modern, menjadikan rumah Qiyas terlihat mewah dan elegan serta masih juga terlihat sisi tradisionalnya. Rumah Qiyas sangat besar, nyaman dan mewah.


Kembali lagi keQiyas, Qiyas segera menyelesaikan semua pekerjaan yang ada diDubai, dan sesuai janji dengan keluarganya lusa Qiyas akan pulang ketanah air, karena dia tidak bisa terus-terusan menghindar.


"Zidan, keruang kerjaku sekarang!! ", kata Qiyas kepada Zidan sekertaris Qiyas melalui sambungan telefon, tanpa menunggu jawaban dari Zidan Qiyas langsung mematikan panggilan.


Zidan yang memang saat itu sedang berada didapur untuk membuat kopi, tidak lama sudah sampai diruang kerja Qiyas. Karena Zidan juga tinggal dirumah Qiyas. Qiyas sengaja menyuruh Zidan tinggal dirumahnya karena lebih memudahkan untuk bekerja, serta Qiyas tidak mudah untuk percaya pada orang baru dan lagian Qiyas juga tinggal sendiri dirumah itu.


Delapan orang pelayan yang dia kerjakan hanya enam diantara mereka tidak tinggal dirumah Qiyas, mereka semuanya pekerja lepas, berangkat jam 6 pagi pulang jam 5 sore. Kecuali yang dua, karena yang dua adalah penjaga dirumah Qiyas, yang harus stand by 24 jam.


Zidan hanya mengangguk dan langsung saja mengambil berkas-berkas yang dimaksut Qiyas dan langsung duduk dishofa berseberangan dengan Qiyas.


Disela-sela menyelesaikan dan menandatangani berkas-berkas, Qiyas tiba-tiba bertanya kepada Zidan.


"Zidan, apakah kamu pernah merasakan yang namanya jatuh cinta?? ", tanya Qiyas tiba-tiba.


Zidan yang saat itu sedang membaca dan membolak-balikan kertas berkas sontak saja langsung menghentikan kegiatannya dan reflek langsung memandang Qiyas.


"Pernah Tuan, dari dia masih SMA sampai sekarang dia lagi kuliah". Jawab Zidan.


"Apakah perempuan yang kamu taksir dia tahu kalau kamu mencintainya?? ", tanya Qiyas seakan tertarik dengan kisah Zidan.


"Tidak Tuan, karena saya minder dengan perbedaan umur yang sangat jauh", kata Zidan sambil tertunduk lesu.


"Perjuangkanlah, kalau masalah umur, itu bukan hambatan, karena jodoh dan maut siapa yang tahu, kejarlah, berjuang, jangan keminderanmu itu suatu saat akan membuat dirimu menyesal, karena penyesalan itu sungguh menyakitkan daripada kita ditinggal mati seseorang", kata Qiyas menyemangati Zidan. Karena Qiyas sebetulnya juga menyesal karena dia tidak gerak cepat dulu untuk mendekati Kia, dia terlalu malu dan bodoh hanya dengan mengagumi secara diam-diam.


"Baik, Insyaallah apa yang dikatakan Tuan ada benarnya juga, jika Tuan jadi pulang, saya akan berjuang mendapatkan dia, terimakasih Tuan", kata Zidan dengan senyum tulus.


Qiyas juga membalas dengan tersenyum, setelah itu mereka melanjutkan pekerjaannya lagi.


"Zidan kalau seumpama kamu bertemu dengan perempuan yang dulu pernah kamu sayangi dan cintai, tetapi dia sudah menikah, bagaimana sikapmu untuk menghadapinya?? ", tanya Qiyas lagi tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas yang dia pegang.


Zidan bingung dengan maksut Tuannya, karena setahu Zidan perempuan yang dekat dengan Bossnya adalah Nona Afrin yang sudah meninggal empat tahun lalu. Zidan tahu karena dia sudah menjadi sekertaris dari Qiyas selama tujuh tahun.


Qiyas yang tidak mendapat respon dari Zidan lantas dia meletakkan berkasnya dan melihat kebingungan diwajah Zidan, akhirnya dia menceritakan garis besarnya saja kepada Zidan.


"Selama cuti dulu, ada seorang perempuan yang bisa membuka hatiku kembali setelah tiga tahun tertutup karena kepergian dari Bila, karena kebodohan saya yang kurang cepat, akhirnya dia menerima khitbahan dari seorang laki-laki sholeh, dan sebelum saya berangkat keDubai dua minggu lagi mereka akan menikah", cerita Qiyas yang mengetahui kebingungan sang asissten sambil memandang kosong didepannya.


"Bolehkah saya bertanya Tuan?? ", kata Zidan


Qiyas hanya mengangguk sebagai jawaban dan masih dengan tatapan kosong kedepan.


"Apakah keDubai merupakan salah satu cara Tuan melupakan wanita yang Tuan cintai?? ", tanya Zidan.


"Iya, walaupun pekerjaan sudah selesai, semua masalah sudah selesai saya memang sengaja tidak mau pulang dulu ke Indonesia", Jawab Qiyas akhirnya sambil menengok kearah Zidan.


Akhirnya yang menjadi pertanyaan Zidan terjawab kenapa Tuannya ingin berlama-lama diDubai, dia kira Bossnya betah, ternyata dia melarikan diri dari hati yang sedang patah.


"Saran saya sih Tuan, Tuan harus bersikap layaknya laki-laki yang baru bertemu dengan perempuan, sopan dan menghargai, jangan perlihatkan muka marah, sedih atau kecewa dihadapannya, tersenyumlah karena sejatinya mencintai tidak harus memiliki, melihatnya bahagia adalah kebahagiaan tersendiri untuk kita. Tuan harus menghadapi jika Tuan melarikan diri begini terus, bukannya terobati malah semakin mengingatnya", kata Zidan panjang lebar.


"Terimakasih Zidan, sedikit lega setelah saya menceritakan kepadamu", kata Qiyas dengan wajah yang lebih cerah dari tadi.


Andai Qiyas tahu apa yang terjadi dengan Kia, apakah dia akan masih berlama-lama diDubai, entahlah hanya Allah yang tahu.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


***TBC***