BISSMILLAH WITH YOU

BISSMILLAH WITH YOU
ENG ING ENG???



"Akhirnya selesai juga ya Kak, acara syukurannya, rasanya lelah sekali, dan entah kenapa badannya Kia akhir-akhir ini sering mudah capek", kata Kia sambil memijit-mijit pundaknya sendiri.


Karena mereka saat ini sudah berada dikamar mereka sendiri, dan tamu undangan semuanya benar-benar sudah pada pergi semua, termasuk kedua orang tua mereka masing-masing sekitar jam delapanan malam tadi.


Dan rumah Kia serta Qiyas pun sudah dibersihkan bebas dari bekas-bekas acara tadi siang. Para tamu undangan pun jika ingin ada yang membungkus makanan dibawa pulang, dengan senang hati Qiyas dan Kia memperbolehkannya, daripada sisa akan mubadzir fikir Kia dan Qiyas.


Jadi rumah Kia dan Qiyas sudah rapi, bersih dan kembali seperti semua. Semua itu berkat uang lebih yang dikeluarkan Qiyas untuk membayar lebih kepada pihak catering dan WO sekalian untuk membersihkan sisa-sisa acara.


Dan semua orang yang bekerja dirumahnya Qiyas serta Kia, mereka semua sangat beruntung karena mempunyai majikan yang sangat baik serta royal kepada para pembantu.


Kembali kekamarnya Qiyas dan Kia. Qiyas yang melihat Kia seperti sangat kecapekan, dia akhirnya inisiatif untuk memijat badannya Kia, akan tetapi ditolak Kia.


"Eh, Kakak mau ngapain?? ", tanya Kia kepada Qiyas yang tiba-tiba duduk dibelakangnya sambil memijat pundaknya. Karena saat ini Kia duduk diatas pinggiran ranjang.


"Ya mau mijitin kamu Balqis, kelihatannya kamu capek sekali", kata Qiyas kepada Kia.


"Tidak usah Kak, tidak secapek Kakak ko yang menyiapkan ini itu sendirian", jawab Kia kepada Qiyas.


"Beneran tidak apa-apa nih?? ", kata Qiyas lagi kepada Kia.


"Beneran tidak apa-apa Kak, cuman Kia merasa akhir-akhir ini badan Kia cepat lemas dan rasanya juga cepat capek Kak, tapi nanti dibuat istirahat juga baikkan", kata Kia kepada Qiyas lagi.


"Ya sudah kamu istirahat dulu saja yah, Kakak mau lihat keluar sebentar", kata Qiyas kepada Kia.


Kia hanya mengangguk memberi jawaban kepada Qiyas.


Qiyas langsung saja keluar untuk mengecek keadaan dirumahnya, sambil memberi perintah kepada para security dan bodyguard untuk benar-benar menjaga rumahnya dengan baik.


Setelah Qiyas keluar, Kia lalu berbaring diranjangnya. Kia sudah sholat isya' juga sudah selesai mebersihkan badannya.


Baru beberapa menit sekitar lima belas menitan Kia merebahkan badannya, kepala Kia tiba-tiba menjadi pusing sekali serta perut Kia rasanya mual sekali seperti ingin muntah.


Kia langsung saja berlari menuju kekamar mandi karena ingin muntah. Akan tetapi setelah masuk kekamar mandi Kia tidak bisa muntah dan hanya mengeluarkan lendir liur saja.


Dengan tertatih Kia kembali lagi keranjang sambil menahan rasa pusing dan mualnya.


"Apa jangan-jangan aku hamil ya, sebab sudah tiga bulan ini aku belum datang bulan", bathin Kia sambil memegangi kepalanya yang sangat pusing.


Karena tidak terasa ternyata cepat sekali pernikahan Kia dan Qiyas sudah berjalan tiga bulan. Serta ketika Kia dan Qiyas menikah, Kia baru saja selesai Haid, dan itu masa-masa yang sangat subur sekali bagi hormon seorang wanita.


"Mungkin ini karena kecapekan sebab syukuran hari ini", kata Kia untuk dirinya sendiri.


"Tapi untuk pastinya besok sajalah, aku tes, lagian aku juga sudah menyiapkan test pack", gumam Kia lagi untuk dirinya sendiri.


Kia lalu merebahkan badannya keranjang lagi, setelah meminum air putih untuk meredakan rasa mualnya. Dan dia berusaha untuk tidur supaya bisa menetralisir rasa mual serta pusingnya.


Kia sengaja tidak bilang kepada Qiyas karena takut Qiyas menjadi khawatir dengannya, dan karena takut juga kalau Qiyas terlalu berharap padanya.


Setelah perjuangan yang cukup sulit untuk meredakan rasa mual serta pusingnya, Kia akhirnya bisa benar-benar tidur karena kecapekan.


Qiyas lalu masuk kekamar mandi untuk bersih-bersih badannya dan berganti pakaian tidur.


Setelah selesai Qiyas lalu membaringkan tubuhnya disampingnya Kia, dengan memeluk Kia dari samping.


Sekitar jam satu malam, Kia tiba-tiba terbangun karena rasa mual itu tiba-tiba juga datang lagi. Dengan perlahan Kia menyingkirkan tangannya Qiyas yang ada diperutnya, setelah bisa menyingkirkan tangannya Qiyas, Kia dengan sedikit berlari menuju kekamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.


Lagi dan lagi hanya lendir liur yang bisa keluar dari mulutnya Kia. Kia lalu mencuci mulut dan membasuh mukanya. Setelah itu dia kembali lagi tidur diranjangnya.


Pada pukul jam tiga pagi, lagi-lagi rasa mual itu muncul dan sangat mengganggu Kia dalam tidurnya. Selalu lendir liur yang hanya bisa keluar dari mulut Kia. Kia malam itu benar-benar sangat tidak bisa tidur dan sangat terganggu dalam tidurnya.


Entah mungkin karena terlalu capek Qiyas mengurusi ini itu untuk acara syukuran rumahnya, hingga ketika Kia bolak balik kekamar mandi pun dia tidak sadar dan tidak mengetahuinya.


Kia juga ketika kemar mandi dia mengunci pintunya rapat-rapat agar Qiyas tidak mendengar ketika dia ingin muntah. Kia juga dengan sengaja tidak memberitahukan dan membangunkan Qiyas karena Kia benar-benar tidak mau membuat Qiyas sangat khawatir kepadanya. Sebab Kia melihat Qiyas sangat lelap dalam tidurnya.


Biasanya jika Kia berubah posisi pun Qiyas terasa dan sadar, ini Qiyas sama sekali tidak menyadari Kia bolak balik kekamar mandi.


Ketika Kia baru selesai dari kamar mandi, Kia lalu ingin membangunkan Qiyas untuk sholat tahajud bersama. Mungkin terlalu kecapekan, bahkan Qiyas sudah dibangunin Kia sebanyak dua kali, Qiyas hanya bergumam dan tidak terjaga sedikit pun matanya. Padahal selama menikah Qiyas selalu sholat tahajud, jika tidak itu menandakan Qiyas benar-benar sangat capek tubuhnya.


Akhirnya Kia menunaikan sholat tahajud dan witir sendirian pagi itu. Setelah menunaikan sholat itu, Kia sama sekali tidak bisa untuk tidur lagi karena rasa mual yang bukannya hilang malah semakin menjadi, hingga suara adzan subuh berkumandang pun Kia masih terjaga.


Kia lalu membangunkan Qiyas untuk sholat subuh, ketika panggilan yang keempat kalinya Qiyas baru bisa terjaga dari tidurnya dan langsung disuruh Kia masuk kekamar mandi untuk bersih-bersih dan menunaikan sholat subuh berjamaah.


Didekat parkiran mobilnya, Qiyas sengaja menambahkan mushola kecil untuk melaksanakan sholat berjamaah bersama para pekerja dirumahnya. Walaupun kecil mushola itu masih muat untuk menampung sekitar tujuh puluh jamaah. Dan bangunannya Qiyas rancang dan desain sebagus serta secantik mungkin, agar yang sholat disitu bisa nyaman dan betah.


Para pekerja yang bekerja dirumah Qiyas yang beragama Islam mereka sangat bersyukur difasilitasi tempat beribadah yang sangat bagus dan nyaman.


Walau hanya mushola didalam halaman rumah, Qiyas selalu berpesan kepada semua pekerjanya selalu ada kumandang adzan ketika sudah waktunya sholat tiba.


"Kakak sholat dulu ya sayang diluar", kata Qiyas kepada Kia ketika sudah selesai memakai baju koko, sarung serta pecisnya.


Kia hanya mengangguk menanggapi Qiyas. Setelah Qiyas keluar, Kia lalu dengan terburu-buru dia masuk kekamar mandi untuk muntah lagi. Karena Kia daritadi sudah menahan rasa mual ketika masih ada Qiyas didalam kamar.


Kia juga sudah menunaikan sholat subuh tadi, ketika Qiyas masih berada dikamar mandi.


Setelah acara muntah yang tidak bisa keluar itu, Kia lalu berjalan menuju kelemarinya untuk mengambil test pack yang sudah dia siapkan.


Kia lalu menampung urinnya dan langsung mencelupkan test pack sesuai petunjuk. Dan Kia menunggu sekitar tiga menitan untuk melihat hasilnya.


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


Bersambung ah, biar pada penasaran😅😂😂😂😂


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


***TBC***