BISSMILLAH WITH YOU

BISSMILLAH WITH YOU
RENCANA QIYAS



Hari berganti minggu Qiyas ternyata sudah dua minggu diIndonesia dan sudah menjalankan Perusahaan yang dulu dia tinggalkan.


Qiyas yang saat ini sedang berada dikantornya sedang memikirkan cara bagaimana mencari keluarga mantan mertuanya, karena sampai dua minggu ini dia belum mendapatkan hasil dari orang suruhannya. Seperti sengaja kepindahan Keluarga Ibrahim disembunyikan.


"Zidan keruanganku sekarang", kata Qiyas memencet alat yang langsung tersambung keruangan Zidan sekertarisnya.


Tanpa menunggu jawaban Zidan, Qiyas langsung mematikan sambungan tersebut.


Tok, Tok, Tok


Terdengar suara pintu diketuk, ketika Qiyas sudah mempersilahkan masuk. Zidan langsung masuk dan bertanya kepada Qiyas.


"Ada apa Tuan, apakah Tuan membutuhkan sesuatu?? ", tanya Zidan dengan sopan.


"Tolong kamu cari tahu tentang Perusahaan Ibrahim Company, mereka sedang melakukan kerjasama apa saja serta kepada siapa saja, dan sedang menjalankan proyek apa, saya ingin informasinya hari ini juga", kata Qiyas kepada Zidan.


"Baik Tuan, ada lagi yang harus saya kerjakan?? ", tanya Zidan kepada Qiyas.


"Sudah itu dulu, kamu boleh kembali keruanganmu, dan tolong kamu panggilan adik saya Aulian", kata Qiyas lagi.


"Baik Tuan, saya permisi", kata Zidan berpamitan sambil membungkukkan badannya.


Setelah Zidan pergi Qiyas seperti mendapatkan angin segar, dia berfikir kenapa tidak dari kemarin saja dia mencari tahu lewat perusahaannya.


"Semoga melalui Perusahaannya aku bisa mendapatkan informasi yang akurat", do'a Qiyas dalam hati sambil tersenyum lega.


Sekitar setengah jam akhirnya adiknya Aulian masuk keruangannya. Qiyas sekarang sedang menjabat sebagai Presdir, sedangkan posisi CEOnya dialihkan keadiknya Aulian.


Papah Ziyas sengaja Qiyas ditempatkan satu perusahaan dengan adiknya Aulian karena sekalian membantu Aulian mengelola Perusahaan, karena suatu saat Aulian juga disuruh Papah Ziyas memegang salah satu perusahaannya.


"Ada apa Kakak memanggilku kesini", tanya Aulian ketika dia sudah masuk keruangan Qiyas.


Aulian langsung saja masuk tanpa mengetuk pintu sedangkan Qiyas walaupun sedang membaca berkas-berkas tidak kaget lagi karena sudah terbiasa dengan kelakuan adiknya, karena cuman adiknya saja yang berani masuk ruangannya tanpa diketuk, bahkan kedua orang tuanya atau Kakak dan Kakak iparnya kalau masuk pasti mengetuk pintu dulu.


"Sebagai CEO seharunya kamu tahu jika masuk keruangan sesorang itu lebih sopan harus mengetuk pintu", tegur Qiyas lembut kepada adiknya.


"Yah Kakak khusus untuk ruangan Kakak pengecualian, atau jangan-jangan Kakak takut ketahuan jika sedang menyembunyikan perempuan ya, hayo ngaku", kata Aulian.


Qiyas langsung saja berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati Aulian yang sedang duduk dishofa ruangan Qiyas. Dan tiba-tiba......


"Aduh, Kakak kenapa menjitak kepalaku, nanti jika ada yang lihat seorang CEO yang ganteng paripurna ini kepalanya benjol kan bisa viral Kak", kata Aulian dengan cemberut sambil mengusap kepalanya.


Jika Qiyas adalah sosok yang teguh, tegas, disiplin, sholeh, dan selalu menjaga pandangannya dari wanita, berbeda dengan Aulian dia terkenal humoris dan bersahaja jika bersama keluarga, sedangkan diluar sana dia terkenal dingin, cuek dan acuh pada sekitar jika itu tidak bersangkut paut dengan dirinya.


Karena dia tidak mau dimanfaatkan oleh orang-orang yang mengetahui kekayaan keluarganya.


"Malah bagus itu, kan tidak ada judul novel yang judulnya CEO GANTENGKU YANG BENJOL KEPALANYA", canda Qiyas kepada adiknya.


"Iiish Kakak ini ada-ada saja, Kakak ini sebenarnya menyuruhku kemari ada apa sih?? ", tanya Aulian.


Qiyas yang saat ini sudah duduk berseberangan dengan Aulian langsung bertanya dengan muka serius.


"Bagaimana proyek yang sedang kamu tangani, dan kerjasama dengan Perusahaan tambang yang ada diKalimantan, sama kerjasama dengan Perusahaan tekstil itu bagaimana?? ", tanya Qiyas dengan muka serius.


"Proyek Aul yang itu baru berjalan 65% Kak, alhamduliah lancar", kata Aulian.


"Sedangkan kerjasama dengan Perusahaan Tambang yang diKalimantan sedang ada kendala Kak, serta yang Perusahaan tekstil itu jika keuntungan yang kita dapat tidak besar Aul tidak mau bekerjasama dengan Perusahaan itu Kak, karena sekertaris dari CEOnya sangat centil ketika melihatku, serta dia kalau berpakaian sangat membuatku tidak nyaman dan selalu sengaja memperlihatkan bahkan kadang berani mencoba menempelkan itu bukitnya kelenganku", jelas Aulian dengan serius dan cemberut.


"Itu namanya cobaan Aul, apakah kamu bisa melewatinya atau tidak, jika bisa insyaallah Allah menaikan derajatmu", nasihat Qiyas kepada Aul.


"Jika Proyek itu kamu menemui kendala jangan sungkan bertanya kepada Kakak dan itu kenapa dengan Perusahaan Tambang diKalimantan?? ", kata Qiyas lagi.


"Itu Kak, pekerja tambang disana pada demo, karena kata pekerja disana upahnya tidak sesuai dengan pekerjaan mereka yang berat, katanya terlalu sedikit, padahal dari Perusahaan kita sudah menyepakati upah pekerja 2x lipat dari UMR saat ini Kak, akan tetapi pekerja hanya menerima bayaran sesuai UMR, pekerja pada protes karena disurat kontrak kerja yang mereka tanda tangani harusnya mendapatkan upah melebihi UMR, itu Kak yang sedang Aul selidiki bersama orang kepercayaan Aul, kenapa mereka tidak mendapatkan upah sesuai kesepakatan, apakah ada yang korupsi diPerusahaan kita atau diPerusahaan Tambang itu", kata Aulian panjang lebar.


"Iya Kakak faham, kamu harus dengan segera menyelidiki dan harus lebih teliti lagi ya, dan Kakak akan membantumu mencari tahu masalah ini, Kakak akan mengirimkan orang-orang kepercayaan Kakak kepadamu, biar cepat selesai masalah ini, kamu tenang saja ya ada Kakak yang selalu dibelakangmu dan membantumu", kata Qiyas tersenyum sambil menepuk pundak adiknya Aulian.


"Baik Kak, terimakasih banyak, Aul belajar banyak dari Kakak, kalau gitu Aul kembali keruanganku dulu Kak, Assalamu'alaikum", kata Aulian sambil tersenyum.


"Iya, Wa'alaikumussalam", kata Qiyas membalas salam dan senyum adiknya


Baru beberapa menit Aulian keluar dan Qiyas pun belum beranjak dari shofa yang dia duduki, mendengar pintu yang diketuk.


*Tok


Tok


Tok


"Masuk*", sahut Qiyas sambil membaca koran yang ada dimeja dekat shofa.


Ternyata yang masuk adalah Zidan sekertarisnya. Mengetahui Zidan yang masuk Qiyas segera melipat koran yang dia baca dan menaruhnya diatas meja.


"Bagaimana Zidan, informasi apa yang kamu dapatkan?? ", tanya Qiyas dengan tidak sabaran.


Zidan langsung menjelaskan informasi apa saja yang dia dapat, beserta informasi beberapa proyek yang sedang dikerjakan oleh Perusahaan Ibrahim Company. Dan Zidan juga menyampaikan bahwa CEO Perusahaan Ibrahim Company bukan Tuan Ibrahim melainkan seorang wanita. Dan itu membuat Qiyas bertanda tanya besar, siapa wanita itu.


"Wanita, siapa wanita itu Zidan?? ", tanya Qiyas keZidan.


"Saya tidak diberitahu detailnya Tuan, jika ingin mengetahui siapa CEOnya Tuan bisa mengajukan kerjasama dengannya", usul Zidan.


"Emang itu tujuanku menyelidiki Perusahaan Ibrahim Company, Perusahaan mantan mertuaku, dan saya ingin kamu mengajukan proposal kerja sama kepada Perusahaan itu dan kalau bisa bikin Perusahaanku menanamkan saham kePerusahaannya, bikin mereka tidak bisa menolak ajakan kerjasama kita dan saham yang akan kita tawarkan. Saya tidak mau mendengar penolakan dan kata gagal. Faham Zidan!!? ", jelas Qiyas.


"Faham Tuan", kata Zidan.


"Kamu boleh kembali bekerja", kata Qiyas.


"Permisi Tuan", pamit Zidan sambil membungkukkan badannya.


"Semoga aku tidak menempuh jalan yang salah, dan semoga ini jalan yang bisa menyambung tali silahturahimku dengan Ayah Ibrahim yang pernah terputus", Bathin Qiyas sambil memejamkan mata.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


***TBC***